bc

Hitman In Love

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
family
HE
opposites attract
badboy
kickass heroine
decisive
mafia
heir/heiress
drama
bxg
serious
bold
campus
city
enimies to lovers
love at the first sight
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Tugasmu hanyalah memburu dan melenyapkan, bukan untuk jatuh cinta! Leon terpaku, mengingat perjanjian yang sudah ia sepakati, melenyapkan semua target, setelah itu tamat! Hatinya dingin dan beku. Tiada ampun untuk siapapun yang sudah menjadi target utamanya, demi nyawa Elena, sampai akhirnya pesona seorang Maya membuatnya harus mengambil keputusan penting, nyawa atau cinta!

chap-preview
Free preview
Bab 1. Sandera
"Elena ...!" panggil Leon, saat ia masuk ke dalam apartemennya, malam itu, dengan pakaian yang basah kuyup, karena ia berhasil menerobos hujan, diantara pekatnya malam, demi untuk bisa segera bertemu sang adik tercintanya. "El! Kakak kedinginan nih, bisa tolong buatin coklat panas?" seru Leon, saat ia lewat di depan kamar Elena, yang pintunya tertutup rapat. Ia mengira jika adiknya itu tertidur tanpa menunggunya. Ia sengaja tidak mengabari Elena karena ingin memberi kejutan. Leon bersenandung kecil di dalam kamar mandi. Ia mendongak dan memejamkan kedua mata dibawah kucuran air shower yang baginya terasa begitu segar. Penatnya hilang perlahan. Misinya sudah berakhir malam ini, meskipun sedikit mengecewakan. Besok pagi ia akan mengajak Elena pergi berlibur dan bersenang-senang. Malam ini ia ingin bersantai dan beristirahat, di temani Elena dan secangkir coklat panas, minuman kesukaannya. "El ..., mana coklat panasnya?" Leon melangkah ke dapur, namun tidak melihat siapapun disana. Hanya ada sunyi dan suara getaran kulkas yang menyambutnya. "El ...! Ck, mulai lagi nih isengnya," gerutu Leon. Sudut bibirnya terangkat, ia tersenyum sembari mencari sosok Elena di semua sudut gelap, namun nihil. Senyumnya seketika lenyap, ia mulai panik. Tidak biasanya Elena begini. Elena selalu menyambutnya dengan hangat dan satu pelukan, penawar penat buatnya. Tetapi, malam ini terasa aneh dan berbeda. Nalurinya yang sudah cukup terlatih merasakan satu hal yang ganjil, yang membuat jantungnya berdegup kencang. Cepat Leon melangkah ke kamar Elena dan membuka pintu dengan perasaan cemas. "El, kamu sakit?" tanya Leon. Tidak ada jawaban, karena ternyata kamar itu kosong. "El ...! Kamu dimana?" teriak Leon, yang lalu mencari sosok adiknya di setiap sudut ruangan, namun tetap tidak ada. Ia pun lantas mengeluarkan ponsel dan menghubungi adiknya itu namun sia-sia. Ponsel Elena tidak aktif. Leon kembali masuk ke kamar Elena. Ia curiga saat melihat posisi bantal yang bertumpuk miring, meskipun kondisi tempat tidur sangat rapi, karena Elena selalu menempatkan bantal berjajar, untuk mendiang sang mama, katanya, jika suatu saat datang dan tidur bersamanya. Leon menyambar satu bantal dan tertegun saat melihat kancing baju berwarna hitam, dengan tulisan logo merk, berwarna keemasan di permukaannya. Dibawahnya terlihat sobekan kertas kecil bertuliskan, "teman!" Leon mengernyit, memerhatikan. "El! Apa yang terjadi? Apa aku sudah melewatkan sesuatu?" gumam Leon. Wajahnya terlihat gusar dan pias. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa Elena, satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini. Jantung Leon terasa berhenti berdetak, ketika ia menghidu aroma anyir, seperti logam berkarat. Aroma yang tidak asing baginya, yang selalu mewarnai setiap aksinya saat bertugas. "Elena!" teriak Leon. Kedua matanya mulai merah dan basah, terlebih saat ia menemukan amplop hitam dengan noda darah di salah satu ujungnya. Tangannya gemetar tak karuan saat membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar foto. "Tidak! Elena ...!" Leon kembali berteriak. Perasaan sedih, takut dan putus asa yang mendalam kini memenuhi benaknya saat melihat tubuh adiknya terikat dengan mulut yang tersumpal kain lusuh, di dalam foto itu. Ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop itu, bertuliskan; "Tugasmu dimulai sekarang. Lenyapkan mereka satu persatu, atau raga kosong tak bernyawa milik Elena, yang akan kembali padamu!" Di bawahnya terlihat deretan foto beberapa orang, dilengkapi dengan nama dan alamat, lengkap dengan catatan kecil tentang status, profesi dan kegiatan mereka sehari-hari. Tulisan dan deretan foto itu diakhiri dengan satu huruf besar - R - , yang menurut Leon adalah inisial nama sang pelaku, yang berkaitan dengan tulisan Elena di bawah bantal. "Sial!" umpat Leon. "Elena!" teriaknya, memanggil nama sang adik berkali-kali. "Siapa R ini?" gumamnya, geram. Kedua matanya berkilat, saat teringat seseorang, yang selama ini sering mengganggunya. "Apakah itu kau, Rafael?" desisnya. "Dasar pengecut!" teriaknya sembari memukul dinding dengan sangat keras, hingga buku-buku jemarinya merah dan terluka. Rafael, sahabat yang sudah berubah menjadi musuh bebuyutan, dan satu-satunya orang yang mengetahui kelemahannya. Leon jatuh terduduk dengan lemas. Mau tidak mau ia harus menjalankan pesan itu satu persatu. Merubah statusnya, dari seorang agen rahasia, menjadi seorang "pembunuh bayaran!" Bukan dibayar dengan uang, melainkan dengan nyawa Elena! Ia tidak punya pilihan, ia hanya punya cinta, untuk Elena, satu-satunya hal berharga yang masih ia miliki. Dering ponsel miliknya memecah kesunyian, saat Leon terdiam, menekuri nasibnya dan Elena. Leon mengerutkan kening saat melihat deretan angka tak dikenal, yang saat itu menghubunginya. Ia langsung menggeser ikon berwarna hijau, menjawab panggilan itu tanpa bicara sedikitpun, hanya diam dan mendengarkan. "Bagaimana, rapi juga 'kan aksiku? Tenang lah, aku tidak merusak apartemen mahal mu! Aku hanya menjemput dan meminjam Elena sebentar darimu!" "Apa maumu sebenarnya? Kau cuma bermasalah denganku, tetapi kenapa kau malah menculik dan menyandera Elena? Dasar pengecut!" Terdengar derai tawa di ujung panggilan. "Apa kau tidak bisa membaca?" tegurnya. "Semua sudah jelas, aku mau nyawa mereka lenyap satu persatu, sesuai urutan!" "Tapi ...." "Tidak ada tapi-tapi, kau harus penuhi dan jalankan semua dalam waktu singkat!" "Itu sangat tidak mungkin! Kau tahu aku ini se–" "Lupakan statusmu! Sekarang kau hanyalah seorang pecundang, yang harus patuh pada perintah!" "Sial!" umpat Leon, kesal dan geram. "Awas kalau sampai adikku terluka! Kau harus berjanji untuk tidak menyentuhnya, selagi aku jalankan semua tugas kotor ini!" Tidak ada jawaban lagi. Hanya derai tawa yang kembali terdengar, setelah itu sunyi, karena Rafael telah memutus panggilan secara sepihak. *** Leon mengarahkan bidikannya ke wajah seorang pria yang memakai setelan jas hitam mewah, dalam sebuah acara pertemuan megah kalangan pengusaha dan pejabat ternama. Pria itu dikelilingi beberapa bodyguardnya, tetapi Leon berhasil menemukan celah kosong dan mengunci posisinya, tepat mengarah wajah pria itu. "Target pertama, on process, maaf, aku hanya menjalankan tugas, disana kau bersenang-senang, sementara nyawa adikku jadi taruhan!" desisnya, sembari mempertajam penglihatannya melalui ujung teropong kecil dari sebuah senjata api laras panjang, dari jendela kamar apartemen, yang ia sewa untuk satu minggu. Leon sedikit mengerutkan kening saat pandangannya terhalang seseorang yang membelakanginya, yang saat itu sedang bicara dengan targetnya. Sosok wanita berambut panjang, hitam dan ikal, juga ..., cantik! Leon sedikit terpaku, ia seperti mengenal wajah itu, namun ia kembali fokus pada wajah targetnya yang kembali berdiri sendirian diantara empat bodyguardnya yang siaga. "Tiga ...!" Leon mulai menghitung mundur aksinya. "Dua ...!" Hening sesaat, Leon memberi jeda selama beberapa detik, sebelum akhirnya menekan pelatuk dalam satu gerakan cepat dan tegas, melesatkan peluru dengan cepat, tanpa suara, dan tepat mengenai titik tengah bagian dahi target. Pria itu pun ambruk seketika, membuat suasana menjadi kacau. Leon sempat melihat seorang bodyguard yang melihat ke arahnya dalam beberapa detik. Cepat ia pun membereskan peralatannya dan menyimpan senjata laras panjang itu dengan rapi, di dalam tas raket, yang sudah ia rubah bentuknya, agar cukup ia jadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tanpa harus menarik perhatian dan membuat orang lain curiga. Leon membersihkan kamar dan jendela. Ia tidak meninggalkan jejak dan bekas apapun disana. Sebagai seorang agen rahasia, ia sudah terbiasa, namun tidak untuk membunuh. Leon meninggalkan apartemen setelah mengembalikan kunci kamar. Ia memakai penyamaran agar tidak dikenali. Ia pergi sembari tersenyum hambar. Ia lega, tugas pertamanya berjalan lancar, meskipun menyisakan rasa penyesalan dalam hatinya, karena telah melenyapkan nyawa seseorang, yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya. Ponsel Leon berdering nyaring, saat ia tengah melaju kencang bersama mobil hitam kesayangannya. Ia melihat nama Rafael dan dengan malas menjawab panggilan itu. "Bagus! Tugas pertama selesai dan lanjutkan! Elena masih hidup, untuk sementara ...."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.3K
bc

Kali kedua

read
221.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook