GUA YANG SAKIT LU YANG MARAH

1128 Words
Nadio seketika tersadar dan buru-buru melangkah menuju mobil lalu masuk. Dia mengambil botol air mineral dari dalam tas, membuka tutupnya lalu meminum separuh isinya. Tampak pria berparas oriental itu mengembuskan napas dan memandang taksi yang membawa Karmila telah menjauh. Di otak Nadio sekarang, hanya ada satu keinginan. Dia harus berbicara empat mata dengan Karmila. Keputusannya mengajak makan siang di luar dan membahas hal tersebut, tak tepat. Ponsel Nadio berbunyi, dia melihat nama penelepon. “Ya, gimana pesanan saya?” Seorang wanita dari seberang telepon berkata,”Sudah saya packing, Pak. Maaf, boleh tahu nomor telepon penerima?” “Okey, saya kirimkan alamatnya. Tolong dirahasiakan nama saya,” jawab Nadio yang memutuskan hubungan langsung. Jemari tangannya segera mengetik nama dan nomor kontak lalu mengirimkannya. Tak berapa lama pesan telah dibaca dan dibalas. Kini, Nadio gegas masuk mobil lalu memacunya ke arah kantor. Sesampai ke tempat parkir, Nadio melihat mobil yang mengantar Karmila barusan beranjak pergi. Pria berambut gondrong tersebut buru-buru turun dari mobil lalu berlari masuk lobby. Tak dihiraukannya para karyawan yang menyapanya. Nadio langsung menuju bagian divisi advertising. Tampak Vivian sedang sibuk dengan beberapa kru. Bos muda ini segera menghampiri dan semua terpaku melihat kedatangannya. “Selamat siang, Pak,” sapa Vivian dengan wajah cemas. Dia yang telah khawatir dengan pemanggilan Karmila dan kini, sang bos mendatanginya. “Selamat siang. Ruang Karmila di mana?” tanya Nadio dengan wajah khawatir. Seketika Vivian dengan para kru semakin tak enak hati. Wanita energik ini segera berpamitan ke yang lain untuk mengantar si bos. “Mari saya tunjukkan, Pak. Mungkin dia sedang menyelesaikan tugas. Begitu sampe, dia minta semua tugas dia untuk hari ini dan besok,” jelas Vivian sambil mengiringi langkah Nadio. Namun, begitu sampai ke ruangan Karmila langkah kaki mereka terhenti. Di dalam ruangan tampak Karmila sedang bertengkar dengan Lisa. “Mila, maafin gua ...gak maksud gua jerumusin lu. Gua gak tahu menahu soal semalam, percaya gua!” Lisa menggenggam erat telapak tangan Karmila dengan kedua tangannya. “Apaan, sih!” Karmila mengibaskan tangan Lisa, “kaga usah pakai mengelak segala. Gua tau, lu akrab dengan tuh bodyguard semalam. Ngomongin harga jual gua? Apalagi? Lu udah tahu, hari ini gua masuk kerja, udah telepon bodyguard, belum? Tega, lu! Kita berteman sedari orok.” Tatap mata tajam Karmila persis ke manik bola mata Lisa. “Mila, please ... gua kaga tau soal itu. Gua kaga kenal tuh bodyguard, ketemu semalam doang. Itu pun saat lu kabur, gua ikut panik. Gua udah panggil lu, mau tanya ... ada apa dengan, lu?” Lisa memeluk tubuh sang sahabat, tetapi Karmila mengurai pelukannya. “Gua, mau ambil barang-barang di kamar kos. Hari ini juga, gua mau boyongan.” “Mila ... Elu mau pindah ke mana? Bukannya tuh kamar udah kita bayar setahun.” “Kaga perlu lu tahu, di mana gua tinggal. Gua udah kaga nyaman tinggal ama lu. Ambil sisa sewa buat lu!” Vivian geleng-geleng kepala mendengar pertengkaran kedua krunya. Nadio tersenyum kecil lalu mendapat ide untuk memisahkan pertengkaran mereka. “Silakan kembali ke tempatmu. Ini biar saya yang urus,” ucap Nadio kepada Vivian. “Baik, Pak. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” balas Vivian dengan menunduk. “Gak papa. Masalah saya hanya dengan Karmila.” “Baik, Pak. Permisi,” pamit Vivian. Wanita ini segera berlalu. Tinggal Nadio dengan deretan rencana dalam otaknya. Pria berambut gondrong mengetuk pintu pelan lalu memberi berucap,” Selamat siang. Kalo pengen ribut, silakan di luar.” Kedua wanita yang sedang bersitegang langsung kaget. Karmila yang memang sudah bertumpuk rasa emosinya langsung menangis lalu keluar ruangan menuju pantry. Kebetulan siang ini, keadaan sedang sepi. Tak ada OB maupun OG yang berada di sana. Karmila telungkup di kichen set sambil menangis sesengukan. Vivian datang lalu mengusap rambut Karmila lembut. “Gua kaga tau, ada masalah apa antara elu sama Lisa. Tapi, lu disuruh menghadap Pak Nadio sekarang,”ucap Vivian. Karmila segera mendongak dan mencoba tersenyum. Dengan suara terbata-bata, wanita berambut ikal ini berucap,”Baik, Kak. Maafin gua telah bikin salah. Kerjaan sampe besok, akan gua kerjakan hari ini. Gua mau resign.” “Gua kaga salah denger? Lu bilang mau dapat bonus akhir taon. Kaki pincang pun maksain kerja. Segawat itukah masalah proposal kita? Lu kaga perlu resign, gua yang harus tanggung jawab. Kita menghadap berdua,” tegas Vivian sambil melihat dua bola mata Karmila yang berkabut. “Ini bukan masalah proposal, Kak. Kami berdua ada masalah lain.” “Elu sama Bos ada masalah? Kalian saling kenal sebelumnya?” Karmila mencoba tersenyum, tetapi sakit di hati tak bisa membuatnya muncul di bibir. “Gua ke Bos sekarang. Kalo pun gua harus resign, itu bukan karena proposal. Masalah pribadi kami. Gua ke sana dulu, Kak.” “Moga bisa terselesaikan dengan baik,” ucap Vivian dengan pikiran bingung. Dia bilang masalah pribadi? Hanya kalimat tanya ini yang tersisa di benak Vivian. Dia yang lebih senior daripada Karmila, sampai tak tahu jika salah satunya punya hubungan pribadi dengan bos muda. Selama ini, Karmila adalah gadis polos, tak tampak punya hubungan khusus dengan lawan jenis. Namun sekaarang, wanita lugu tersebut punya masalah pribadi dengan bos muda. Sementara itu, Karmila yang kacau saat hendak masuk lift menuju lantai tempat ruangan Nadio. Tak sengaja kedua matanya melihat penampakan salah satu bodyguard yang ngobrol dengan Lisa di indekos pagi tadi. Pria berbadan gempal tersebut sedang berada di ruang tunggu lobby. Karmila buru-buru masuk lift lalu berdoa dalam hati, semoga bodyguard tersebut tak melihatnya. Beruntung, kursi roda yang dibelikan oleh Nadio adalah elektrik. Sangat memudahkan untuk cepat bergerak. Akhirnya Karmila sampai di depan ruangan direktur utama. Wanita ini mengetuk dan memberi salam. “Masuk.” Terdengar suara Nadio dari dalam. Karmila pelan-pelan membuka pintu lalu berucap,”Permisi, Pak.” “Tutup pintunya!” perintah Nadio yang sedang sibuk mengetik di komputer tanpa melihat ke arah Karmila. “Baik, Pak,” jawab Karmila lalu menutup pintu. Wanita ini masih terpaku di tempat. Dia bingung, antara rasa hormat sebagai karyawan atau kemarahan yang menggumpal karena perilaku absurb Nadio. “Ngapain diam? Maju sini!” perintah Nadio kembali. Tetap, tanpa melihat ke Karmila. Reaksi Nadio tersebut membuat Karmila jengkel. "Yaudah. Kaga jadi. Apa pun masalah lu ama gua, udah finish. Gua resign. Permisi,” ucap Karmila yang putus asa sekaligus marah. Wanita berambut ikal ini lelah dengan persoalan yang sedang dihadapinya sekarang. Dia ingin hidup tenang. Akhirnya, Karmila membuka pintu. Tiba-tiba kursi rodanya terhenti dan tubuh Nadio telah mendekapnya. “Tahu gak? Gua khawatir lu hamil. Pikiran gua kalut, untung semalam sempat simpen nomor lu. Lega banget saat terhubung tadi pagi.” Nadio semakin mendekap erat tubuh Karmila. “Apaan sih, gua kaga bisa napaass ...!” teriak Karmila sambil mengurai dekapan Nadio. “Lu tau, gua marah karena apa?” tanya Nadio sambil mendorong kursi roda ke arah sofa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD