-LUCIEN POINT OF VIEW-
--------------------
Di dalam sebuah ruangan besar yang di penuhi oleh warna biru, aku duduk diatas singgasana. Sebelumnya ruangan ini di penuhi oleh warna putih tapi aku langsung merubahnya setelah mengetahui jika Minerva menyukai warna biru. Ah, aku selalu merindukan belahan jiwaku yang cantik itu meskipun aku baru saja berkunjung kerumahnya tadi malam.
Selama 5 tahun aku hanya memperhatikannya dari jauh dan datang padanya setiap malam saat dia tertidur. Aku sangat ingin mendekapnya tapi aku sadar aku harus menunggu sedikit lagi, setidaknya sampai gadisku benar-benar menjadi wanita dewasa yang cantik.
Saat ini pukul sembilan pagi, aku baru saja kembali dari rumah Minerva dan kembali ke mansion pack setelah Minerva telah bersama Charity -seorang warrior terbaik yang sudah kuangkat menjadi Delta 5 tahun yang lalu yang kutugaskan untuk selalu berada di sisi Minerva dan melindunginya- Charity bekerja cukup baik dalam menjaga Minerva dan berteman dengannya. Tentu saja dia harus menjaga Minerva dengan baik, dia adalah belahan jiwaku, ratu mereka. Aku tidak akan mentolerir jika wanita itu berbuat kesalahan sedikitpun.
"Kami sudah meninjau dan menjaga perbatasan selama satu bulan dengan sangat ketat, kami bisa memastikan jika bangsa vampir tidak akan bisa memasuki teritori The Depcrest Pack. Setidaknya kami bisa memastikan pack akan aman dari segala bentuk p*********n selama 3 bulan ini."
Benett -Gamma The Depcrest Pack- memberikan laporannya padaku. Bulan lalu para bangsa vampir masuk ke teritoriku untuk mencari mangsa, tentu saja dengan mereka masuk kedalam teritoriku sama saja dengan mereka mencari mati. Aku tidak bisa membiarkan para vampir itu berada di teritoriku untuk waktu yang lama, jadi aku mengambil langkah yang cepat untuk membasmi mereka. Apalagi saat ini aku memiliki Minerva, aku ingin memastikan semuanya terkendali dan Minerva aman.
"Apa kamu sudah memeriksa lagi tempat yang akan Minerva kunjungi bersama teman-temannya?" Tanyaku.
"Maaf, Alpha?"
Aku melirik Benett sekilas, wajah pria itu tampak kebingungan. Mungkin karena aku yang menanyakan tentang Minerva yang tiba-tiba saat dia sedang membahas keamanan teritori pack. Bukannya tidak peduli dengan urusan pack, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan Minerva. Sepertinya aku benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Ah, maksud saya. Saya sudah memeriksa teritori bagian utara sebanyak 50 kali selama 3 hari ini setelah Alpha memerintahkan saya untuk memastikan keamanannya." jawab Benett.
50 kali? aku tidak ingat aku menyuruhnya memeriksa kawasan itu sebanyak itu. Lalu kenapa juga dia menghitungnya?
"Lalu Alpha, sejauh ini perkembangan pelatihan wa--"
"Aku akan pergi." Kataku memotong kalimatnya. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak bisa bekerja seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa tenang, dan Aaron- Serigala yang bersemayam dalam tubuhku- juga sudah sangat ingin mendekap Minerva, belahan jiwa kami.
"Maaf?"
"Aku ingat seorang teman Minerva adalah belahan jiwa salah satu anggota pack. Bawa dia ke hadapanku," kataku.
Benett yang sejak tadi membungkukkan tubuhnya di hadapan ku kembali berdiri, "Baik, Alpha. Saya akan memanggil mereka secepat mungkin." katanya lalu berbalik hendak pergi setelah kembali membungkukkan tubuhnya sekilas padaku.
"Ah," aku ingat sepertinya anak itu juga memiliki seorang teman laki-laki yang juga berteman dengan Minerva.
Baru beberapa langkah dia berjalan, aku kembali menghentikannya, "Panggilkan juga temannya yang juga berteman dengan Minerva." kataku.
Benett menoleh, kembali membungkuk lalu berjalan lagi hingga menghilang dari balik pintu. Kini di dalam ruang singgasana hanya terdapat diriku, beberapa Omega dan guard yang berjaga di beberapa sudut mansion dan Hanon- Beta The Depcrest Pack- yang kutahu sedang berjalan kemari, aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang mendekat.
'Apa sekarang kita akan menemui mate?' Aaron memindlink ku, sepertinya dia sangat antusias dengan niat ku. Serigala itu sudah sangat sabar menunggu sama seperti diriku.
'Ya, sekarang mate sudah cukup dewasa. Kita akan menjemputnya.' balas ku memindlink Aaron. Tidak lama kemudian Aaron melolong membuat kepala ku sakit. Serigala itu benar-benar bertingkah seenaknya.
Aaron adalah sosok serigala yang sangat keras kepala, egois dan suka berbuat seenaknya, maka dari itu aku selalu menahan dirinya saat ingin mengambil alih tubuhku, dia adalah serigala yang kuat sehingga aku harus menahan dirinya sekuat mungkin, beberapa kali dalam sebulan dia membuatku dalam kesulitan karena sikapnya yang keras kepala.
Seperti dugaanku, Hanon masuk kedalam ruangan singgasana bersama dua orang warrior bersamanya. Dia menghormat padaku lalu bertekuk lutut. ah, dia memang selalu berlebihan. "Saya memberi salam, Alpha. Saya datang bersama kabar baik yang ingin saya sampaikan. Rencana pembangunan benteng di setiap sisi perbatasan telah selesai. Para penyihir pun telah memperkuat gerbang perbatasan antara dunia immortal dan mortal untuk keamanan dan bulan ini jumlah pendapatan pack meningkat sangat pesat. Ini berkat keputusan anda yang tidak pernah meleset. Para warga pun sangat puas dan tidak ada lagi warga yang miskin ataupun kekurangan." Hanon menyampaikan laporannya.
Sebenarnya tanpa ia lapor padaku aku sudah tahu tentang semua hal itu, apalagi mendengar laporan benett sebelumnya, aku sudah bisa menebak itu semua.
Brakk!!
Aku melirik kearah pintu di depanku yang dibuka dengan dramatis. Itu benar-benar mengangguku. Disana Benett dan dua orang laki-laki seumuran dengan Minerva berjalan kearahku. Dalam posisinya bertekuk lutut, aku bisa lihat Hanon sedikit menoleh kebelakangnya. Benett berdiri sejajar dengan Hanon lalu memberi hormat padaku, di belakang Benett dua laki-laki itu menundukkan kepalanya dalam. Tanpa sengaja aku melihat tangan kedua laki-laki itu yang gemetar.
Apa aku terlihat sangat menyeramkan dimata mereka? aku bahkan belum mengatakan apapun. "Mereka adalah belahan jiwa teman manusia Luna dan teman Luna." kata Benett.
Aku menghela nafasku malas, melihat mereka berdua, mengingatkan ku terhadap dua ekor anak anjing yang ketakutan. "Kalian pasti sudah tahu kenapa aku memanggilkan kalian kesini, bukan?"
Mereka diam.
Aku tidak tahu jika ternyata Belahan jiwa ku berteman dengan dua laki-laki yang bisu. Mereka benar-benar menyebalkan. Aku paling benci melihat orang-orang seperti mereka. Aku benci mengulangi ucapanku. Jika bukan karena mereka adalah teman Minerva, aku sudah menyeret mereka keluar.
Aku melihat mereka dengan malas, "Aku akan menemui belahan jiwaku. Kalian akan menjadi alasanku menemuinya, aku akan berpura-pura berteman dengan kalian." kataku. Aku kira penjelasan ku sudah sangat jelas sehingga mudah dimengerti bahkan oleh dua orang bodoh sekalipun.
"Ka-kami mengerti, Alpha."
Dan sekarang mereka menjawab, syukurlah mereka tidak benar-benar bisu. Aku akan repot jika mereka benar-benar bisu.
"Maaf menyela, Alpha. Tapi izinkan saya menemani anda." Hanon yang sejak tadi mendengarkan dalam diam membuka mulutnya.
"Tentu saja kamu akan pergi bersamaku." kataku. Tentu saja dia harus ikut. Untuk berjaga-jaga karena aku sudah lama tidak pergi ke dunia manusia, aku juga tidak mungkin bertanya pada dua orang yang bahkan tidak dapat melihat kearahku dan terus gemetar di hadapanku.
"Terimakasih Alpha."
Beberapa saat mereka hanya terdiam. Aku bangun dari kursi singgasanaku. Mereka segera memberiku jalan untuk turun. Aku berjalan turun dari tangga singgasana sambil melepaskan jubah besar berwarna hitam yang ku kenakan. Itu adalah jubah yang sama dengan jubah yang ku tinggalkan di rumah pohon bersama belahan jiwaku 5 tahun lalu di pertemuan pertama kami.
Setelah Minerva pulang kerumahnya, aku kembali kerumah pohon itu dan mengambil jubah yang kutinggal disana. Aku selalu membawa jubah itu bersamaku, terkadang aku memakainya untuk selimutku saat tidur ataupun ku kenakan seperti saat ini. Jubah itu membekas aroma vanila milik Minerva. Setidaknya itu sedikit membantuku menahan diri untuk membawanya bersamaku, karena saat aku mengendus aroma Minerva yang tersisa di jubah itu membuatku merasa jika aku sedang bersama Minerva.
Aku membuka beberapa kancing kemeja putih yang ku kenakan dan menggulung lengan panjangnya. "Ayo kita pergi." kataku berjalan keluar dari mansion. Hanon, dan kedua laki-laki itu segera mengikuti ku dibelakang.
'Belahan jiwa! akhirnya aku bertemu belahan jiwa! akhirnya belahan jiwa akan melihatku! aku akan membawa belahan jiwa bersamaku. Aku akan mengurung belahan jiwa di dalam mansion ku! aku akan---'
Aku memutus mindlink-ku dengan Aaron. Serigala itu sangat berisik dan bicara omong kosong lagi. Dasar serigala tidak tahu diri.
To Be Continue