14. WHAT

1957 Words
-MINERVA POINT OF VIEW- ------------------------ Hawa panas dan keringat memenuhi dahiku membasahi pakaianku. Matahari sudah sangat terik tepat berada di jarum angka 12, terhitung sudah 2 jam kami berjalan di dalam hutan yang entah dimana letak ujungnya. Aku melirik Lyra dan Charity yang membawa cukup banyak barang-barang kami. Meskipun mereka berdua membawa barang-barang yang begitu banyak, anehnya mereka berdua tidak terlihat lelah sama sekali. Berbeda dengan diriku dan Cassa yang sudah lesu karena lama berjalan, padahal aku dan Cassa hanya membawa sekantung bahan-bahan makanan yang tidak terlalu berat.  Aku ingin membantu membawakan sedikit barang yang diangkut Charity ataupun Lyra tapi tangan dan kaki ku sudah sangat pegal. Meskipun merasa tidak enak karena tidak membantu membawa barang-barang, aku tidak bisa berbuat apapun. Kaki ku rasanya seperti ingin terlepas karena terlalu pegal.  "Charity, Lyra, Cassa, apa kalian ingin beristirahat sebentar?" Aku bertanya dan mereka berhenti berjalan lalu menoleh kearah ku.  "Kamu sudah lelah?" Charity justru bertanya balik. "Bukan aku, tapi apa kalian tidak lelah? dibanding diriku, kalian mengangkut lebih banyak barang."  "Aku dan Lyra sama sekali tidak lelah, ini bukan apa-apa bagi kami." jawab Charity dan Lyra mengangguk tanda setuju dengan Charity, lalu aku melirik kearah Cassa.  Cassa tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukan kepalanya, "Aku juga tidak lelah, Noah sering mengajakku berjalan-jalan di hutan jadi aku sudah terbiasa." Jawabnya. Bohong. Mereka pasti berbohong. Apa mereka sudah gila? kita sudah berjalan selama 2 jam tanpa istirahat, dan mereka bilang bahwa mereka tidak lelah?  Apa hanya aku yang merasa lelah seperti ingin mati rasanya?  Aku berusaha tersenyum,"Baiklah, kalau begitu ayo kita jalan lagi, lebih cepat lebih baik, bukan?" kata ku, dan itu adalah omong kosong lain yang pernah kuucapkan. Aku sangat ingin beristirahat! "Ya, kamu benar, aku tidak sabar, aku ingin bermain di pantai."  "Apa masih jauh?" tanyaku Lyra menggeleng, "Tidak, kita sudah sampai."  Setelah itu tidak lama aku melihat cahaya yang sangat terang dan suara ombak pantai yang cukup keras. Kami sudah berada di ujung tebing. Untuk sesaat aku terpaku ditempatku terpesona dengan pemandangan di hadapan ku. Laut yang berwarna biru tidak terlihat ujungnya dikelilingi oleh bukit-bukit yang indah dan hijau. Angin yang berhembus kencang.  Aku tidak pernah tahu jika di kota ini ada pemandangan seindah ini.  "Aku tidak pernah tahu jika disini ada sesuatu yang seindah ini." kata ku sambil menoleh kearah Lyra. "Ya, tidak banyak orang yang tahu dan bisa kesini." jawab Lyra, sebenarnya aku tidak terlalu mendengarkan jawaban Lyra karena masih terpesona dengan pemandangan di depanku. Rasanya perjalanan kami dari tengah kota dan berjalan di hutan selama 2 jam terbayar oleh pemandangan ini. "Ayo, kita turun mencari tempat yang lebih rendah dan membangun tenda." kata Charity. Charity dan Lyra berjalan lebih dahulu, sedangkan aku dan Cassa berjalan di belakang mereka dengan sedikit tertinggal karena sebelumnya aku masih memandangi pemandangan cukup lama dan Cassa sibuk memotret pemandangan.  Charity dan Lyra pandai mencari jalan, jadi aku dan Cassa tidak kesusahan mengikuti mereka, jalanan yang mereka pilih cukup mudah meskipun kami harus tetap berhati-hati agar tidak terjatuh, mau semulus apapun, jalanan yang kami lalui hanyalah jalan tanah basah yang bisa longsor dan licin.  "sepertinya tempat ini sudah cukup." kata Lyra.  Aku memandangi sekitar ku, kini kami berada di tebing yang lebih rendah dari sebelumnya tepat di bawah kami. sekitar 10 meter terdapat sebuah pantai dengan hamparan pasir yang luas dan ombak yang tenang. tidak ada tanda atau jejak apapun diatas hamaparan pasir yang luas itu seakan memang tidak ada yang mengunjungi untuk waktu yang cukup lama. aku merasa aneh tempat seindah ini tapi tidak banyak orang yang tau bahkan mengunjunginya, walaupun merasa aneh tapi aku bersyukur karena aku bisa menikmatinya tanpa khawatir merasa terganggu oleh kehadiran banyak orang. Lyra dan Charity sibuk mengeluarkan barang barang dan tenda dari dalam tas besar yang sebelumnya mereka bawa, kemudian mereka mulai memasang tenda. kami membawa dua buah tenda karena tenda yang kami bawa berukuran kecil sehingga tidak akan muat jika kami berempat berada di satu tenda sekaligus. sementara Lyra dan Charity memasang tenda untuk kami, "aku akan mencari potongan kayu untuk api unggung nanti malam." kata ku.  "Aku akan ikut denganmu!" Seru Cassa sambil mengikuti ku yang bejalan kearah pinggir hutan untuk mencari kayu bakar.  "Tolong jangan pergi terlalu jauh." Charity berteriak dari tempatnya. aku hanya mendengar teriakan Charity tanpa berniat merespon nya dan mulai mengumpulkan potongan potongan kayu yang kering. "Minerva, apa kamu tahu apa yang aku bawa di dalam tas ku?" Cassa mendekat kearahku dengan beberapa potongan kayu di tangannya.  Aku menggelengkan kepala ku tak acuh. Cassa semakin mendekatkan dirinya, perlahan dia berbisik di telingaku, "Minuman alkohol." katanya dengan bangga. Aku mengernyit dalam, "Apa? kenapa kamu membawa itu?" aku tidak mengerti kenapa Cassa membawa hal seperti itu, padahal jelas sekali niat kami datang kesini untuk bersenang-senang. "Bagaimana bisa kita bersenang-senang tanpa minum?"  Apa dia sudah gila?  Aku tersenyum miring, "Apa Noah tahu kamu membawa barang seperti itu kesini?"  Cassa menggeleng, "Kita tidak akan ketahuan, jadi tenang saja."  "Kita?" "Ya, karena kita akan bersenang-senang, makanya kamu akan tidur di tenda yang sama denganku sedangkan Lyra dan charity di tenda lainnya. Aku tidak bisa minum jika aku berada di dalam tenda yang sama dengan Lyra dan aku tidak mungkin satu tenda dengan Charity si wanita menyeramkan." Cassa bergidik saat mengatakan itu. Aku terkekeh pelan seraya menggelengkan kepalaku. "Lalu bagaimana kalau kita ketahuan saat sedang minum?"  Cassa menyeringai licik, "Tenang saja, Charity dan Lyra tidak akan mengatakan apapun jika kamu berkata kamu minum karena keinginanmu sendiri. Lagipula kita berdua sudah dewasa."  "Tapi aku minum karena kamu menghasutku." Cassa mendengus, kemudian memasang wajah memelas, "Ayolah Minerva, aku sangat ingin mencoba minuman itu. Sudah 20 tahun aku penasaran dengan rasanya, selama ini aku menahan diri karena Noah selalu memperhatikanku." Aku menghela nafasku, "Baiklah." jawabku. Mendengar jawabanku, Cassa terpekik kegirangan bahkan sampai memeluk tubuhku dengan kayu-kayu ditangannya yang bisa kutebak mengotori pakaianku. "AAHHH!! Rasanya senang sekali."  "Sekarang lanjutkan mengumpulkan kayu bakarnya!"  Cassa terkekeh, "Baik!"  Setelah kami mengumpulkan cukup banyak potongan kayu bakar, aku dan Cassa menyusunnya menjadi tumpukan seperti gunung. Lyra dan Charity juga sudah selesai membuat tenda dan sedang merapihkan barang-barang ke dalam tenda. "Tunggu! berhenti! aku akan tidur bersama Minerva nanti malam, jadi kau dan Lyra tidur di tenda yang lain."  "Apa? memangnya kenapa?" tanya Charity "Memangnya kenapa? memangnya kenapa kalau aku ingin tidur bersama Minerva?" Timpal Cassa sambil bersedekap d**a.  Charity menatap Cassa tajam, "Kalian tidak bisa. Aku yang akan tidur bersama Minerva."  "Memangnya aku tidur dengan Minerva dan kamu tidur dengan Minerva apa bedanya? ngomong-ngomong kamu selalu menempel dengan Minerva, jadi kali ini aku yang bersama Minerva!"  "Bukan begitu, aku harus menjaga Minerva." "Menjaga? maksudmu aku berbahaya?" Cassa bertanya dengan jengkel.  "Iya, kamu dan semuanya, aku tidak percaya pada siapapun." "Apa? dasar aneh."  Astaga aku tidak percaya ini, mereka benar-benar bertengkar hanya karena hal sepele dan mengatakan omong kosong. Aku memijat pangkal hidungku pelan, menoleh kearah mereka, aku bangun dari posisi jongkok ku dan berjalan kearah mereka.  "Astaga, hentikan! aku akan tidur bersama Cassa nanti malam." kataku. "Tapi--" Suara helaan nafas terdengar dari mulut Charity, "Baiklah." kata Charity, wanita itu langsung pergi dari hadapan kami, kembali sibuk dengan barang bawaannya.  Charity terlihat agak sedikit murung karena keputusan ku sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa wanita itu sangat ingin terus dekat dengan ku. Yang dikatakan Cassa sebelumnya ada benarnya. Mereka berempat berteman, tapi Charity hanya menempel padaku. Bukan aku keberatan tapi terkadang aku sedikit tidak nyaman dengan sikapnya yang seperti itu.  Aku menghembuskan nafasku panjang, "Aku akan mengambil udara segar sebentar." kata ku.  "Tolong jangan pergi terlalu jauh, kami akan kesulitan menemukanmu nanti." Kata Lyra, aku mengacungkan jari ku yang membentuk huruf O.  Aku berjalan dengan perlahan menuruni bukit yang tidak terlalu tinggi, rumput-rumput disekitar sini tanpa di duga sangat pendek jadi aku mudah melihat jalan. Begitu turun dari bukit, kaki ku langsung menginjak pasir pantai. Saat ini aku memakai sepatu bot kulit, aku harap sepatu ini tahan air.  Aku berjalan santai di pinggir pantai. Angin yang berhembus kencang terasa sangat menyegarkan, aku membiarkan rambutku yang tergerai di tiup oleh angin. "Minerva! tunggu aku!" Suara teriakan Cassa dari belakang, membuatku menoleh. Disana aku melihat Cassa yang sedang berlari kearahku.  Nafasnya terengah-engah. "Kenapa kamu kesini?" "Sebentar, biarkan aku mengambil nafas dulu." katanya, tubuhnya menunduk, dengan satu tangan yang memegang d**a dan tangannya berada di pinggang.  "Charity, jangan tinggalkan aku sendirian. Charity menatapku dengan sangat menyeramkan."  Menyeramkan? aku tertawa cukup keras. aku tidak tahu kenapa Cassa menyebut Charity 'wanita menyeramkan' dan aku bahkan tidak ingat sejak kapan Cassa memanggil Charity seperti itu. Aku tidak tahu apa yang Charity lakukan pada Cassa hingga Cassa menyebutnya begitu.  "Bukankah Lyra juga bersama kalian?" "Lyra tidak bisa membantu ku jika wanita menyeramkan itu mengamuk." Kata Cassa dengan polosnya.  Mengamuk? Apa sekarang Cassa menyamakan Charity dengan binatang buas atau monster? anak itu sepertinya benar-benar tidak bisa akur dengan Charity.  "Tapi Cassa, bukankah sebaiknya kalian---"  Ucapanku terpotong oleh suara teriakan Cassa yang melengking, "NOAHH!!!"  Noah? Mata wanita itu melewati ku, tangannya terangkat, saat aku ingin menoleh kebelakangku, kearah dimana Cassa meneriaki nama Noah, wanita itu langsung berlari dengan cepat melewatiku. Menghambur kepelukan Noah.  Begitu aku sudah berbalik, aku melihat Cassa yang sudah berada di pelukan Noah, disana juga ada Benjamin dan dua orang laki-laki lain yang terlihat asing. Aku menatapi Cassa yang terlihat sangat senang dengan kedatangan Noah yang entah datang darimana, sedangkan Noah sepertinya sedikit aneh, biasanya pria itu akan memeluk Cassa dengan erat bahkan sampai menggendong wanita itu tapi sekarang Noah hanya membalas pelukan Cassa dan tersenyum kecil.  Perasaan ini, dimana aku merasa jika seseorang sedang mengamatiku. perasaan yang sama dengan yang aku rasakan setiap malam selama 5 tahun belakangan ini. Aku menoleh mencari asalnya. Lalu aku bertemu dengan mata coklat salah satu pria asing yang datang bersama Noah sedang menatap kearahku. Wajah pria itu luar biasa tampan. Alis tebal, hidung mancung, bibir tipis dan rahangnya yang tegas dengan beberapa jambang yang tipis di sekitar rahangnya. Jujur saja, dia sangat seksi. dan Dia menatapku seakan-akan ingin melahap ku saat ini juga, tubuhku terasa panas tanpa alasan. Lalu pandanganku turun kearah tubuh pria itu, saat itu pria yang belum aku ketahui namanya hanya memakai sebuah celana panjang berwarna putih dan kemeja putih tanpa di kancing membuat tubuh dan otot-otot di tubuhnya terlihat dengan jelas berbentuk 8 pack abs di kulitnya yang eksotis. Terdapat sebuah tato di dadanya, sepertinya sebuah kata tapi aku tidak bisa membacanya karena itu tulisan dan bahasa asing.  Wajahku terasa sangat panas, aku berdehem untuk mengurangi kegugupan ku yang bahkan tidak jelas karena apa, yang jelas tidak mungkin kan karena pria itu? pria yang bahkan baru aku temui dan tidak aku ketahui namanya. Lalu aku mengalihkan wajahku. Tatapan pria itu sangat berbahaya, aku merasa sangat tidak berdaya hanya karena melihat tatapannya. Anehnya aku merasa sangat familiar dengan tatapan itu.  Kembali pada kenyataan, Cassa kembali menghampiri ku setelah berpelukan cukup lama dengan Noah. "Kami sedang berkemah disini, Lyra dan Charity sedang merapihkan barang-barang di tenda." kata Cassa entah pada siapa yang pastinya hal itu sudah diketahui Noah karena pasti Cassa sudah meminta izin pada Noah sebelumnya.  "Wah, Noah! aku baru sadar, kamu bersama teman-temanmu? aku belum pernah melihat mereka." kata Cassa, aku senang karena Cassa bertanya pertanyaan yang hendak aku tanyakan juga.  Aku kembali menoleh kepada kedua pria asing itu, pria yang sebelumnya menatapi diriku itu tersenyum tipis, dan saat itu juga rasanya jantungku ingin meledak. Astaga! ada apa dengan diriku? Ini bukan pertama kalinya aku melihat pria tampan, yah, walaupun pria di hadapanku ini lebih tampan daripada pria-pria yang biasa kutemui. Dia seperti model ternama, apa mungkin dia memang seorang model? tapi aku belum pernah melihat wajahnya dimajalah apapun ataupun di tv. Seharusnya wajah seperti dia, pasti sangat terkenal.  "Namaku Lucien dan dia Hanon, senang bertemu dengan mu." katanya, matanya tidak lepas terus menatapku.  Lucien. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tunggu. Dia bilang namanya Lucien?!  To Be Continue 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD