13. TRIP

2093 Words
5 Tahun Kemudian "Jadi kamu memutuskan untuk berkuliah?"  Suara meja yang dipukul dengan keras terdengar menggema di ruangan serba kayu yang di penuhi aroma kopi dan roti. Kafe St. Borke, kafe tempat Emma bekerja. Untung saja saat ini kafe sedang sepi karena masih pagi. Minerva duduk di salah satu meja berkapasitas 4 orang, di depannya Charity sedang setengah berdiri. Kedua tangannya masih menempel di meja setelah memukul meja sebelumnya. Mereka sedang menunggu yang lainnya. Lyra dan Cassa.  "Kira-kira seperti itu, aku sudah menundanya selama 2 tahun, kau tahu? jadi kupikir inilah saatnya aku kembali belajar demi masa depanku."  Charity kembali duduk, "Kamu tahukan, kuliah bukanlah satu-satunya cara agar kamu bisa sukses. Maksudku..."  "Aku tahu, tapi aku ingin berkuliah untuk belajar dan menambah ilmu yang saat ini sudah kumiliki, aku juga lebih mudah mendapat pekerjaan jika mendapat gelar sarjana." Charity menatap Minerva untuk beberapa saat, "Baiklah kalau itu keputusanmu aku akan mencari informasi tentang universitas terbaik disekitar sini, aku tahu beberapa diantaranya." Charity segera mengambil ponsel miliknya yang disimpan di dalam saku. Untuk beberapa lama Charity sangat sibuk dengan ponselnya, dan Minerva hanya memperhatikan Charity.  "Ah! aku tahu! universitas ini. ini adalah universitas terbaik di kota ini." Charity menyodorkan ponselnya pada Minerva namun Minerva menolak menerimanya.  "Ada apa?"  Minerva tersenyum canggung, "Sepertinya aku akan mendaftar di universitas diluar kota." Minerva merasa tidak enak untuk mengatakan hal ini, tadinya ia ingin mengatakannya saat Cassa dan Lyra sudah datang agar mereka bisa mendengarnya juga. Bagaimana pun mereka sudah berteman selama 5 tahun, bahkan mungkin saat ini mereka sudah bisa dibilang sebagai sahabat. Dan mengatakan hal seperti dia akan pergi meninggalkan mereka secara tiba-tiba, Minerva yakin mereka pasti merasa sedih. "Kenapa? Maksud ku... bukankah disekitar sini juga banyak universitas yang bagus?"  Suasana mendadak hening, Minerva menghembuskan nafasnya pelan. Dengan gerakan lambat ia mengusap ujung cangkirnya dengan jari telunjuk. "Sebenarnya aku sangat ingin kembali ke kota sebelum aku tinggal di kota ini. Disana aku memiliki banyak teman yang juga peduli padaku. Ibu dan ayahku berjanji padaku jika kita akan kembali dalam waktu yang singkat, namun sepertinya aku ditipu oleh mereka lagi. sudah 10 tahun. dan aku pikir dengan adanya alasan ini aku akhirnya bisa kembali kesana dan hidup sendiri, toh, aku sudah dewasa. Itu juga alasan ku mengapa menunda kuliah, aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian sedikit lebih lama disini, karena aku mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat, atau bahkan tidak akan kembali lagi. Setelah aku lulus, aku akan mencari pekerjaan yang layak dengan bayaran yang bagus disana. Dan aku akan membawa kedua orangtua ku, aku harus menjaga mereka bukan?"  "Lalu bagaimana dengan kami? Bagaimana dengan Alpha? Alpha tidak akan membiarkan hal ini..."  "Aku akan.... ......dibunuh." Minerva tidak bisa mendengar suara gumaman Charity yang tidak jelas, tapi ia bisa meihat wajah wanita itu yang sedikit pucat dan gelisah. Selalu seperti ini, Minerva selalu merasa aneh melihat reaksi Charity yang selalu seperti orang yang ketakutan saat dia marah, menangis, menghindarinya ataupun berkata ingin pergi, seperti ini. Minerva selalu memperhatikan wanita itu selama 5 tahun berteman dengannya. Minerva bahkan pernah menduga-duga jika wanita itu memiliki kepribadian ganda.  "Kapan kamu berencana untuk daftar kuliah?"  Minerva menyesap sedikit kopinya, "3 bulan lagi, tahun ajaran baru."  Setelah itu suasana kembali hening, Charity masih diliputi rasa gelisah, dia sedang memikirkan cara agar membuat Minerva tidak pergi di kepalanya membuat dirinya tanpa sadar termenung cukup lama.  "Mineva jika...." Ucapan Charity terpotong karena kedatangan Cassa dan Lyra yang tiba-tiba, "Minerva! Charity!" panggil mereka, kemudian menghampiri Minerva dan Charity dan duduk di bangku yang disisakan.  "Kalian sangat lama."  Cassa terkekeh mendengar protesan Minerva, "Ma-maaf, Noah mencegahku pergi, tapi untunglah setelah aku mengatakan jika aku pergi dengan kalian, dia langsung mengizinkan."  Minerva tertawa, "Kalian sudah berpacaran 5 tahun, tapi Noah masih sangat posesif padamu. Sepertinya hubungan kalian benar-benar baik, ya?"  Cassa mendengus, dia melipat kedua tangannya di d**a dan menyombongkan diri, "Tentu saja, kami ini pasangan yang sudah ditakdirkan bersama."  "Apa? hahaha, kalian masih belum berubah, sangat kekanakan." Minerva tertawa geli mendengar ucapan Cassa, bagi Minerva perkataan Cassa tentang dia dan Noah adalah 'pasangan takdir' hanyalah sebuah lelucon yang biasa Cassa katakan untuk menyombongkan diri dengan hubungannya dengan pacarnya, Noah. Jadi setiap kali Cassa mengatakan hal-hal aneh seperti itu, Minerva tidak pernah menganggapnya serius ataupun penasaran lagi seperti sebelum-sebelumnya.  "Aku benar-benar serius! kamu tidak percaya padaku, Minerva?"  Minerva masih tertawa geli bahkan sampai menintikkan air nata. Minerva mengusap sudut matanya yang berair kemudian mencoba untuk berhenti tertawa meski terkadang suara tawanya masih keluar dari mulutnya. "Ya,ya,ya. Tentu saja aku percaya."  'Tentu saja aku tidak percaya, omong kosong.' itu yang sebenarnya yang ingin Minerva katakan pada Cassa, tapi tentu saja dia tidak akan berkata seperti itu.  "Kalian datang sangat lambat, jadi apa yang mau kalian pesan?" Emma datang menghampiri meja mereka dengan membawa sebuah buku kecil untuk menulis pesanan.  "Astaga, aku bahkan belum bernafas tapi kamu sudah menagih pesanan." Cassa mencibir.  "Ya, tempat ini bukan milik nenek moyangmu sehingga kamu bisa disini dengan gratis."  Cassa mendengus mendengar ucapan tajam Emma, "Baik,baik, aku pesan satu caramel macchiato dan satu red velvet cake."  "Aku pesan satu Matcha Latte." Lanjut Lyra. "Sudah itu saja?" tanya Emma setelah selesai menulis pesanan Cassa dan Lyra.  "Tunggu, aku juga ingin 1 red velvet cake." tambah Minerva.  Sebelum Emma sempat menulis pesanan tambahan Minerva, Charity dengan cepat menyela, "Tidak, jangan di tambahkan."  "Apa?"  "Kamu alergi kacang bukan?" kata Charity mengingatkan. "Benarkah? kalau begitu kamu tidak boleh memakan red velvet di kafe ini." sahut Lyra. "Ya, topping red velvet cake disini menunggunakan kacang." kata Emma.  "Memangnya tidak bisa jika toppingnya diganti?"  "Tidak bisa, untuk persediaan kita sudah memanggang 3 loyang red velvet cake hari ini."  Minerva mendesah pasrah, "Baiklah, aku pesan satu espresso lagi."  Cassa dan Lyra tertawa, "Astaga, kamu pasti sangat menginginkan kue itu. Bagaimana jika kamu mencoba punyaku, aku akan memakan bagian atas toppingnya dan kamu bagian bawah?"  "Aku--" Charity memotong ucapan Minerva yang ingin menjawab tawaran Cassa, "Apa yang kamu katakan? itu sangat beresiko, lebih baik Minerva tidak memakannya sama sekali. Bagaimana jika dia tanpa sengaja memakan kacang yang tersisa?"  Cassa mendengus, "Aku kan hanya menawarkan."  CHarity masih menatap Cassa dengan tajam karena ucapan Cassa sebelumnya, Minerva terkekeh pelan. "Astaga, kalian sangat serius sekali, itu bukan masalah besar. Aku pikir aku akan menolak tawaranmu, aku tidak bisa merebut kue mu dan membiarkanmu hanya memakan toppingnya saja kan?"  Charity menghela nafasnya, "Setelah ini kita akan pergi, jadi lebih baik kamu habiskan kue mu dengan cepat." kata Charity ketus. Ia masih kesal dengan Cassa, selain itu mereka juga memang sudah sangat mundur dari jadwal yang seharusnya karena Lyra dan Cassa yang datang terlalu terlambat. "Ya,ya,ya!"  Tidak lama pesanan mereka pun datang, sesuai perintah Charity, Cassa dengan cepat menyambar sepotong besar kue red velvet miliknya. "Ngomong-ngomong, aku sudah membeli beberapa makanan ringan di mobil, aku juga membawa peralatan yang dibutuhkan." "Aku dan Minerva juga sudah membawa perlengkapan kami di mobil." "Aku sudah selesai!" teriak Cassa dengan piring yang sudah kosong. Padahal belum sampai 10 menit, tapi dia menghabiskan kuenya seakan kue yang besar itu hanya sebuah permen. Minerva selalu terkejut dengan kecepatan makan Cassa, padahal dia sudah sering melihat itu selama 5 tahun ini.  Minerva bahkan baru menghabiskan gelas kopi sebelumnya dan belum menyentuh gelasnya yang baru. "Wah, kamu cepat."  "Tentu saja, aku selalu cepat!" "Kecuali saat janjian." Timpal Charity menyindir.  Cassa mengerucutkan bibirnya, "Heh, kamu selalu saja mencari-cari kesalahan ku." "Karena kamu memang salah."  Minerva menggeleng-gelengkam kepalanya melihat perdebatan kedua orang itu yang tidak ada habisnya, dia mengambil gelas espressonya dan menenggaknya hingga habis dalam sekali tenggakan.  "Sudah-sudah, ayo! kita sudah sangat terlambat." Minerva beranjak dari kursinya, menyambar tas selempang kecilnya yang ia letakan diatas meja. Sebuah tas berwarna biru muda yang Charity berikan beberapa hari yang lalu. Charity sering memberikan Minerva hadiah tanpa dirinya pinta bahkan wanita itu memberinya hadiah tanpa alasan yang jelas. Charity selalu beralasan, 'aku pikir itu akan cocok untukmu.' selalu seperti itu. Dan barang-barang yang di beli Charity bukanlah barang-barang yang murah.  Minerva heran, ia pernah menduga-duga, mungkinkah Charity adalah anak seorang konglomerat? dalam seminggu, terhitung Charity bisa memberikan hadiah untuknya sebanyak 2 sampai 3 kali. Tapi saat bertanya pada Emma, Cassa dan Lyra. Mereka berkata  Charity bukanlah anak dari konglomerat, bahkan Charity tidak memiliki sebuah mobil. Sedangkan barang-barang yang Charity berikan padanya dalam sebulan bisa membeli satu buah mobil yang cukup mewah.  Minerva bertanya pada Charity tentang darimana wanita itu bisa membeli barang-barang yang dia berikan padanya. Saat itu Charity menjawab, "Seseorang yang aku kenal memberikannya padaku, aku pikir itu akan cocok untukmu, jadi aku memberikannya padamu." Jadi Minerva menerimanya begitu saja, meskipun dia pernah menolak beberapa kali karena barang yang Charity berikan terlalu mahal tapi setelah itu besoknya Charity akan datang lagi dan membawa barang lain bersamanya untuk diberikan pada Minerva, jika Minerva menolaknya lagi, maka besoknya lagi dia akan membawa barang yang berbeda lagi sampai Minerva menerima barangnya.  "Tu-tunggu sebentar!" teriak Cassa, dia buru-buru menyambar gelas caramel Macchiato miliknya dan menenggaknya hingga tandas. Minerva berjalan menuju meja kasir untuk membayar minumannya dan yang lainnya dengan Charity yang mengikutinya sedangkan Lyra dan Cassa langsung berjalan menuju pintu keluar.  Saat itu kafe sudah mulai ramai dengan beberapa pelanggan yang berdatangan dan pegawai kafe sudah mulai sibuk, termasuk Emma. "Kamu benar tidak akan ikut?" tanya Minerva sambil melihat kearah Emma yang sedang membantunya untuk membayar tagihan pesanannya.  Emma menghela nafasnya, "Ya." jawab Emma seadanya, dia tahu jika Minerva hanya sedang berbasa-basi dengannya, mungkin karena tidak enak meninggalkan dia sendirian sementara mereka akan bersenang-senang.  "Sampai jumpa, Emma!" teriak Cassa dari pintu keluar, tangannya melambai kearah Emma sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.  "Aku akan membawakan sesuatu untukmu nanti."  "Ya, aku sangat menghargainya." balas Emma sambil mengembalikan kartu debit Minerva setelah menyelesaikan pembayarannya.  Minerva menerima kembali kartunya sambil tersenyum setelah mendengar jawaban Emma, "Baiklah, sampai jumpa, Emma."  Kata Minerva, lalu berjalan keluar kafe. Di parkiran, Cassa dan Lyra sudah menunggu sambil bersandar di mobil milik Cassa. "Aku akan menuntun jalan." kata Cassa pada ketiga temannya lalu masuk kedalam mobil.  Tepat disebelah mobil Cassa, mini cooper Minerva terparkir. Itu adalah hadiah ke-18 Minerva dari kedua orangtuanya. Mini Cooper berwarna biru muda. Belakangan ini Minerva menyukai warna biru terutama biru muda. Setelah Cassa dan Lyra masuk kedalam mobil, Minerva dan Charity menyusul. Tidak lama mereka pun mulai menjalankan mobil. Mereka akan pergi berkemah di sebuah tebing dekat hutan dan pantai, Lyra yang tahu tempat itu dan memotret tempatnya, jadi mereka memutuskan untuk berkemah disana. Meskipun awalnya Minerva sedikit ragu karena takut disana terdapat binatang buas tapi Charity memastikan jika disana tidak ada yang seperti itu dan menjamin keamanan lokasinya.  Dengan mengendarai mobil, mereka sudah menghabiskan waktu perjalanan selama 30 menit dengan melalui jalan berliku yang curam menanjak tebing, Cassa maupun Minerva sangat pelan dan hati-hati mengendarai mobil mereka. "Astaga jalanan ini sangat bebahaya, jika aku salah sedikit saja kita bisa jatuh dari tebing, apalagi dipinggir jalannya tidak ada pembatasnya." gumam Minerva. "Tenang saja, aku sudah mengecek jalannya sebelumnya, kita tidak akan jatuh."  "Tapi tetap saja aku masih khawatir."  "Maaf, lain kali aku akan memperhatikan hal seperti ini lebih baik lagi." Minerva melirik Charity sekilas, "Ayolah, tidak perlu seserius itu, aku hanya membicarakannya. Lagipula itu sama sekali bukan salahmu. kenapa kamu minta maaf?" Minerva tertawa pelan, tawa yang sedikit dipaksakan.  Setelah itu mereka hanya saling diam sampai mobil Cassa di depannya berheti di puncak tebing dengan halaman yang cukup luas di dekat hutan yang cukup lebat. Cassa memarkirkan mobilnya di halaman itu, begitupun Minerva yang mengikuti Cassa.  Cassa dan Lyra keluar dari dalam mobil langsung membuka bagasi mereka dan mengeluarkan barang-barang bawaan mereka. Melihat itu Minerva dan Charity ikut keluar. "Dari sini apa kita harus berjalan lagi?"  "Ya, kamu benar. Kita akan berjalan sampai ujung hutan, disana kita akan menemukan pantai tepat dibawang tebing, jadi mungkin kita akan sedikit turun untuk mencari tebing yang lebih rendah agar lebih mudah untuk bulak-balik ke pantai. Kita akan bakar-bakar di pinggir pantai nanti malam bukan?"  "Tentu saja, tapi berjalan sampai ujung hutan itu terdengar sedikit melelahkan." keluh Minerva. Lyra dan Cassa tertawa, "Astaga, kamu sudah mengeluh, kita bahkan sama sekali belum masuk kedalam hutan." "Aku akan keluarkan dan membawa barang-barang mu, Minerva." kata Charity. "Apa? itu tidak perlu, aku akan membawa barang-barangku sendiri. Kamu juga membawa banyak barang."  "Tidak, aku tidak membawa terlalu banyak barang. Aku bisa membawa semua ini sendirian, aku sangat kuat." Charity mengangkut barang-barang Minerva dan miliknya sendiri di pundak dan kedua tangannya.  "Tapi itu sangat berat."  "Baiklah, kamu bisa membawa ini." Charity menyerahkan sekantung persediaan makanan yang berisi sosis dan bahan makanan lainnya untuk bakar-bakar nanti malam. "Tapi bukannya kamu masih kesulitan," "Ini benar-benar bukan apa-apa." "Benarkah?" "Iya." "Kalau begitu terimakasih Charity."  To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD