Udara tidak pernah terasa hangat, aroma lembab, pohon dan bangunan tua itulah yang mendeskripsikan kota ini. Minerva mengeratkan jaket yang ia kenakan, hari ini dia mengenakan jaket yang lebih tebal dari biasanya karena saat ini mendekati musim hujan dan temperatur menjadi lebih dingin dari biasanya, bahkan di dalam ruangan sekalipun.
"Kamu kedinginan?"
Minerva menoleh kesampingnya dimana Charity berdiri sedang melihatnya. "Sedikit," jawab Minerva, matanya memindai pakaian yang Charity kenakan, perempuan itu hanya mengenakan seragam tanpa satupun mantel hangat atau sekedar sebuah syal. "Apa kamu tidak kedinginan? kamu tidak mengenakan pakaian hangat apapun."
"Aku?" Charity menunjuk dirinya sendiri. Minerva menghela nafasnnya lalu mengangguk malas. Memangnya siapa lagi selain dirinya? Emma, Noah, Benjamin, Lyra dan Cassa sudah pulang lebih dulu dan hanya Charity yang masih bersamanya, katanya perempuan itu ingin mengantar dirinya, awalnya Minerva menolak tapi Charity bersikukuh dengan berkata jika rumahnya tidak jauh dari rumah Minerva.
Tapi memangnya perempuan itu tau dimana rumahnya? Minerva sangat ingat betul bahwa hari ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Aku sangat hangat." jawab Charity.
Minerva tidak peduli dengan jawaban Charity. Toh, dia memang sudah menduga jawaban perempuan itu. Tentu saja dia tidak merasa kedinginan, jika dia merasa dingin pasti dia telah memakai pakaian hangat yang tidak sengaja Minerva lihat di dalam tas-nya saat perempuan itu sedang merapikan barang-barangnya di kelas.
Angin berhembus sangat kencang, minerva memegang kedua pipinya yang terasa dingin. Kepalanya mendongak menatap langit yang terlihat lebih gelap dari biasanya karena mendung. Sekarang masih pukul 7 malam tapi langit terlihat seperti saat ini sudah pukul 9 malam.
"Apa kamu mau mengenakan mantel ku?"
Minerva melihat Charity dengan tatapan aneh, "Kenapa aku harus mengenakan mantel milikmu?"
"Kamu bisa memakainya dobel dengan mantel mu."
"Itu tidak perlu, tapi terimakasih."
Sejak melihat Charity, Minerva memang berniat untuk berteman dengan perempuan itu tapi ia tidak tahu jika perempuan itu dengan sendirinya mendekatinya bahkan bertingkah seolah dia sudah mengenal dirinya sebelumnya, Minerva sangat penasaran dengan alasan perempuan itu, Minerva melirik Charity, perempuan itu tampak tenang tapi entah kenapa Minerva merasa jika perempuan itu bahkan tidak tenang sama sekali, ujung mata wanita itu yang tajam seakan sedang mengawasi sekelilingnya, kenapa dia seperti itu? "Charity."
"Ada apa, Minerva?" ia bertanya, perempuan itu kini bersikap seolah dia menaruh perhatian penuh pada ucapan yang akan dirinya katakan, Minerva melihat itu dengan sangat jelas.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Melakukan apa maksudmu?"
"Ya, Aku sangat yakin jika hari ini adalah pertemuan pertama kita, tapi kamu sangat terobsesi mengejarku, apa aku benar?"
"Aku tidak mengerti maksudmu." balas Charity.
"Kamu sengaja duduk di sebelah ku, kamu mengikuti ku ke kantin bahkan kamu mengantarku pulang. Aku tahu kamu berbohong soal rumahmu yang tidak jauh dari rumah ku. Rumah ku berada di paling ujung, dan sejak kapan kita bertetangga?"
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening, Minerva maupun Charity berhenti berjalan dan Minerva masih menunggu jawaban charity. Sebenarnya dia tidak ingin bertanya pada Charity tentang hal ini dan memutuskan untuk membiarkannya berlalu karena dia tidak merasa dirugikan oleh sikap Charity tapi rasa penasarannya tidak bisa ditolong.
Charity jelas akan mudah memiliki teman karena dia anak baru yang memiliki penampilan yang mempesona dan aura yang menyenangkan, jadi Minerva ingin tahu kenapa perempuan itu justru memilih dirinya yang bahkan terlihat tidak tertarik atau menghampiri dirinya?
Rambut Minerva yang tergerai berterbangan terkena hembusan angin, suara binatang malam, bulan purnama, langit yang gelap dan aroma hutan yang lembab. Minerva memejamkan matanya, "Kamu tahu? aku tidak bisa membiarkanmu terus mengikutiku seperti ini."
Charity tertegun, "Apa? Kenapa?" ia bertanya.
Bukankah itu hal yang sudah jelas? itu karena....
"Aku tidak tahu kenapa kamu melakukan ini. Aku memiliki beberapa pengalaman dalam berteman, dan beberapa dari mereka hanya memanfaatkan ku." Minerva menatap wajah Charity, perempuan itu terlihat kebingungan dan khawatir? takut? Minerva tidak tahu kenapa perempuan itu menunjukkkan ekspresi seperti itu. "Dan mereka yang melakukan itu, mendekatiku dengan cara yang sama dengan yang kamu lakukan saat ini, jadi kumohon hentikan. Awalnya aku memang ingin berteman denganmu. Tapi mungkin aku berubah pikiran."
Minerva tahu jika dia mengatakan ini pada Charity maka hubungan pertemanan mereka akan menjadi canggung apalagi Charity juga berteman dengan Emma dan keempat teman barunya yang lain. Tapi Charity benar-benar anak yang aneh melebihi kelima teman barunya. Minerva tidak tahu kenapa dia berakhir bersama mereka.
Minerva hendak kembali berjalan namun Charity tiba-tiba membuka mulutnya, "Tolong Minerva, aku tidak tahu jika aku telah melakukan sesuatu yang membuatmu kesal. Aku melakukan ini karena aku sangat ingin berteman denganmu." Charity menahan tangan Minerva.
Ada perasaan kasihan saat dirinya melihat ekspresi wajah Charity, Minerva tidak tahu kenapa dia merasa kasihan pada perempuan itu? Tapi saat ini wajah Charity terlihat seperti orang yang sangat putus asa.
Apa yang harus ia katakan jika seseorang memohon untuk berteman dengannya? suatu hal yang sangat jarang orang lakukan, yah, jika Minerva adalah satu-satunya orang yang hidup di bumi selain dirinya mungkin Minerva akan mewajarkannya. Lebih baik jika Charity menyangkal ucapannya dengan berkata jika dia adalah orang yang sangat percaya diri, narsis, delusional atau apapun itu dibanding memohon seperti yang perempuan itu lakukan saat ini. Setidaknya itu adalah reaksi yang lebih normal ditujukan seseorang yang berada di situasi Charity saat ini. Dengan perempuanitu memohon justru terlihat lebih aneh lagi.
Charity menempatkan Minerva pada situasi yang sulit sampai Minerva bahkan tidak tahu harus menjawab perempuan itu seperti apa, dilihat bagaimanapun, Minerva tidak merasa jika dirinya salah karena mengatakan kata-kata itu walau mungkin terdengar agak kasar, tapi dia mengatakannya karena dia khawatir dengan dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu kenapa kamu sangat ingin berteman dengan ku, kamu yakin jika kamu bukan lesbian?"
"Apa?! tentu saja tidak. " jawab Charity cepat.
Minerva kembali berpikir, "Lalu kenapa?"
"Karena aku kagum denganmu. Sebelum datang ke sekolah aku mendengar tentang dirimu dan aku sangat penasaran dan ingin berteman dengan dirimu."
"Hanya karena itu? Karena kamu penasaran dengan ku?"
"Mungkin iya."
"Lalu apa pendapatmu setelah bertemu dengan ku?"
"Kamu adalah orang yang luarbiasa,"
Keheningan kembali melanda, Charity berusaha keras untuk tetap tenang meskipun perasaanya saat ini sedang sangat gelisah. Bagaimana tidak? tepat di depannya, di balik pohon-pohon rindang yang terlihat sangat sunyi itu, dirinya sedang diamati oleh beberapa warriors packnya. Dan disini dia berdiri menunggu ucapan Minerva yang bagaikan penentu hidupnya. Yah, dengan menempatkan beberapa warriors yang masih berjaga disekitar Minerva meski dirinya sedang berada di dekat Minerva, itu berarti Alphanya tidak sepenuhnya percaya pada dirinya. Charity bisa mewajarkan hal itu, bagaimanapun Minerva adalah belahan jiwa Alpha-nya yang telah pria itu tunggu selama ratusan tahun.
Charity memang seorang warriors terbaik di packnya, dia bahkan sudah dilantik menjadi seorang delta dan inilah tugas pertamanya sebagai delta, menjaga calon Lunanya. Bukan, tapi calon Queen of werewolf, apa ada pekerjaan yang lebih berat dan lebih mempetaruhkan keselamatannya daripada pekerjaannya saat ini?
Charity berandai jika dia salah bicara, mungkin saja hidupnya segera tamat saat itu juga. Dia ingin sebaik mungkin menjaga ucapannya tapi justru itu membuat dirinya sangat gugup dan mengatakan kata-kata yang aneh. Yah, bukankah itu wajar? ini adalah pengalaman pertamanya menjadi delta dan harus membuat dirinya dekat dengan seseorang yang bahkan tidak pernah dia lakukan sebelumnya sebagai warriors wanita terkuat di pack yang sangat disegani.
Suara tawa Minerva memecah lamunan Charity, Charity terkejut dengan respon Minerva yang diluar perkiraannya tapi dia sedikit lega, "Kamu terdengar seperti seorang penggemar fanatik, apa kau tahu itu?"
"Apa itu buruk?" tanya Charity hati-hati.
"Tidak juga, hanya saja itu terdengar aneh." Minerva tersenyum miring, "Aku mengerti rasa penasaran itu, aku juga terkadang tidak bisa menahan rasa ingin tahuku dan tidak jarang berakhir tidak bisa tidur jika tidak rasa penasaran ku tidak terpenuhi."
Charity masih terdiam, "Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan hal ini padamu, baru kamu yang aku beritahu tentang rahasia kecilku ini. Jadi jangan beritahu siapapun, mereka bisa sangat merepotkan jika tahu."
Minerva mendengus melihat Charity yang masih mematung, lalu dia kembali berjalan dan Charity masih kebingungan di tempatnya. "Kamu tidak jadi mengantarku pulang?" Minerva menoleh sekilas kebelakang, kearah Charity.
Mata Charity berbinar, sebisa mungkin dia bersikap tenang meskipun hatinya berteriak kegirangan. 'aku berhasil! akhirnya aku berhasil! aku tidak jadi mati? aku berhasil!'
Dengan senyum lebar, Charity kembali mengikuti Minerva dan berjalan di sampingnya, "Jadi kamu ingin berteman dengan ku?"
"Mungkin. Alasanku sebelumnya memang sedikit kekanakan tapi selain alasan itu, aku tidak memiliki alasan lain untuk tidak berteman denganmu, jadi..."
"Ya, mari berteman."
To Be Continue