Suara langkah kaki dan tetesan air yang jatuh membasahi lantai terdengar di dalam ruangan sepi dan gelap. Ruangan itu hanya diterangi 2 bola lampu yang redup yang terdapat di samping kanan dan kiri sisi ranjang. Pintu balkon yang tidak tertutup rapat dan hordeng yang sedikit berterbangan karena di hembus angin.
Sepasang kaki jenjang yang putih itu mendatangi sebuah kasur sehabis keluar dari dalam kamar mandi yang masih bersambung dengan kamarnya. Meletakan handuk yang ia kenakan di atas rambutnya yang basah ke atas meja dengan asal lalu duduk di sisi ranjang. Hari memang sudah sangat larut, tapi dirinya tidak bisa tidur tanpa mandi terlebih dahulu. Rasanya tidak nyaman apalagi dia berkeringat setelah seharian sekolah dan berjalan kaki.
Rambutnya masih setengah basah, dan dia masih mengenakan mantel mandinya yang berukuran besar menutupi tubuhnya hingga bawah lutut. Minerva menyalakan saklar lampu tengah ruangannya yang berada belakang lampu tidurnya, seketika ruangan menjadi terang. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya. Tangannya mengambil sebuah jubah tidur berwarna cokelat berbahan satin yang digantung di dalam lemari lalu mengenakannya.
Minerva melirik kearah jam dinding yang terbuat dari kayu berbentuk bulat dengan hiasan seekor burung menunjukkan pukul 10 malam, awalnya Minerva berniat untuk langsung tidur namun tiba-tiba ia teringat tugas sekolah yang harus ia kerjakan. Minerva berjalan kearah meja komputernya yang juga merupakan meja belajarnya lalu mengeluarkan buku tugas dari dalam tas yang ia taruh di bawah meja. Itu adalah tugas matematika dan terdiri dari 5 soal, meski hanya sedikit tapi Minerva yakin jika tugasnya akan memakan waktunya cukup lama.
Selama mengerjakan, di dalam kamar sangat sunyi hanya terdengar suara gesekan kertas dan pena, jarum jam dan hembusan angin yang menerbangkan hordeng. Ruangan menjadi dingin karena udara yang semakin kencang dan dingin seiring bertambah larutnya hari. Minerva masih tidak merasakan udara dingin karena terlalu fokus mengerjakan tugasnya.
Krak! Krak! Krak!
Suara aneh terdengar seperti sebuah cakar yang digesekan pada benda keras terdengar, suara itu cukup menakutkan bagi Minerva sampai ia berhenti mengerjakan tugasnya, dia bahkan lupa jika dia sedang menghitung apa sebelumnya. Matanya menoleh cepat kearah pintu balkon yang sedikit terbuka dengan horor. Minerva terus menatap pintu itu cukup lama, namun ia kembali mengerjakan tugasnya lagi setelah meyakinkan dirinya bahwa yang ia dengar sebelumnya bukanlah apa-apa.
Tap! Tap! Tap!
Kini suara langkah kaki terdengar dari luar pintu kamarnya, suara langkah kaki itu sangat pelan namun masih bisa terdengar di telinga Minerva karena ruangan yang sangat sunyi dan tidak kedap suara. Minerva mengernyit dalam, ia yakin jika kedua orang tuanya sedang pergi tadi saat ia pulang, Minerva juga mendapat pesan jika mereka tidak pulang hari ini dan menginap dirumah neneknya. Kedua orang tua Minerva memang sering berkunjung ke rumah nenek dari ibunya, mungkin bisa 2 kali dalam seminggu, rumah nenek Minerva berada di luar kota jadi kedua orang tua Minerva pasti akan menginap. Kakek Minerva dari ibunya sudah meninggal dan neneknya hanya tinggal bersama seorang perawat, jadi ibu Minerva merasa memiliki kewajiban untuk sering berkunjung dan merawat ibunya walaupun dia bukanlah anak satu-satunya yang memiliki kewajiban itu.
Minerva mengepalkan kedua tangannya dengan erat, ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menenangkan diri. Dia ingat jika dirinya sudah mengunci pintu dan jendela dengan benar. Di dalam hatinya, dia terus meyakinkan dirinya jika yang ia dengar bukanlah apa-apa dan hanya halusinasi.
Minerva meletakan penanya dan bukunya kembali ke dalam tas, tugas sekolahnya hampir selesai, hanya tersisa 1 soal lagi tapi ia merasa tidak bisa melanjutkannya lagi karena tidak ingin mendengar suara-suara aneh yang hanya membuatnya ketakutan sendiri. Setelah merapihkan bukunya, Minerva berjalan perlahan kearah balkon. Ia membuka pintunya lalu melihat ke sekeliling. Tepat seperti yang ia duga, tidak ada siapapun disana. Dibawahnya hanya terdapat halaman rumahnya yang terdapat beberapa macam tumbuhan dan di seberangnya pohon-pohon besar, tapi itu saja. Tidak ada seorangpun disana. Minerva menghembuskan nafasnya lega.
Namun begitu hendak berbalik dan kembali masuk, untuk sesaat Minerva merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya, untuk sesaat dari ujung matanya ia melihat sepasang mata yang sedang menatapnya dari halaman rumahnya. Tapi begitu ia kembali melihat untuk memastikan, tidak ada siapapun. "Aku pasti berhalusinasi." gumamnya, wajahnya kini terlihat pucat pasi dan tangannya terasa dingin. Buru-buru Minerva masuk dan menutup pintu balkon dan tidak lupa menguncinya. Hordeng yang menutupi pintu kaca balkon ia tahan dengan kursi meja belajarnya agar tidak bergerak kemanapun dan terus menutupi balkon tapi celah.
Tubuh Minerva merinding, ia langsung berlari keatas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai pagi.
______________
"Minerva, apa kamu sudah dengar?" Minerva menoleh kesampingnya dimana Cassa duduk, tubuh Cassa mencodongkan tubuhnya kearah Minerva dan berbicara dengan suara yang pelan.
"Dengar apa?" tanya Minerva
"Ah, jadi kamu belum mendengar kabarnya?" Cassa balik bertanya yang justru membuat Minerva bingung seperti telah melewatkan sesuatu. Lagipula bagaimana dirinya bisa memikirkan hal lain jika sejak bangun tidur yang ia pikirkan hanyalah kejadian tadi malam yang masih menghantui pikirannya hingga sekarang.
Kedua orangtuanya belum kembali dan mungkin akan kembali nanti siang, Minerva bangun pagi-pagi dan sarapan sendiri. Sejak pindah ke kota ini Minerva selalu senang memiliki rumah besar seperti tuan putri tapi kali ini, untuk pertama kalinya dia tidak menyukai rumah besarnya. Dia mungkin akan lebih bersyukur jika rumah yang ia tinggali berukuran sedikit lebih kecil dari rumahnya saat ini. Bukan apa-apa, dia hanya merasa was-was dan takut jika kejadian semalam terjadi lagi.
Minerva bersumpah, dia akan menjadi anak yang berbakti dan belajar lebih giat asalkan kesialannya tidak berlanjut. Minerva tidak tahu apa yang telah ia lakukan di kehidupan sebelumnya sampai membuatnya terus berada di situasi yang membuat jantungnya berdetak sangat keras.
"Kelas kita akan kedatangan anak baru." kata Cassa.
Minerva yang mendapat berita itu tidak tahu harus bersikap seperti apa, dia sudah sangat lelah karena terus berpikir dan jujur saja Minerva juga bukan tipe anak yang sangat aktif bersosialisasi jadi dia tidak memiliki energi lagi untuk penasaran siapa anak baru itu.
Minerva melirik sekeliling kelasnya, dia baru sadar jika hari ini kelas menjadi lebih ramai dari biasanya, dan salah satu alasan mengapa kelas menjadi ramai tidak lain karena kabar kedatagan anak baru itu. Telinga Minerva terus mendengar perbincangan teman-temannya tentang anak baru dan tebak-tebakan mereka walaupun Minerva tidak ingin mendengarnya.
Minerva menghembuskan nafasnya panjang, matanya terlihat begitu kelelahan dan kurang tidur. Cassa melirik Minerva lalu ikut menghela nafasnya.
Selang beberapa menit bel sekolah tanda kelas dimulai pun berbunyi, tidak lama guru perwalian kelas datang, guru itu bernama Joshua, mereka biasa memanggilnya 'Mr. Josh' selain sebagai guru perwalian mr.Josh juga mengajar pelajaran fisika.
"Selamat pagi murid-murid!"
"Selamat pagi mr.Josh!" sambut anak-anak kelas serempak.
"Baik, saya tahu beberapa di antara kalian sudah tahu tentang hal ini." Kata mr.Josh dan semua anak mengangguk.
"Kita kedatangan teman kelas baru, saya harap kalian bisa membantunya menyesuaikan diri di sekolah barunya ini.
"Baik mr.Josh," jawab mereka.
Mr Josh melirik kearah pintu, disana sudah berdiri seorang perempuan terlihat sebaya dengan mereka, melihat aba-aba dari mr Josh yang menyuruh perempuan itu untuk masuk, anak perempuan itupun akhirnya masuk ke dalam kelas. Seketika kelas menjadi sangat hening.
Perempuan itu berdiri di depan kelas, seorang perempuan cantik berambut ombre abu-abu dan berkulit sawo matang. Dia memiliki tubuh tinggi dan proposional, bahkan tubuhnya lebih tinggi daripada tubuh Minerva yang mereka bilang setinggi model.
Mata Minerva tidak lepas melihat perempuan di depannya, ia tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak terus menatap perempuan itu, untuk pertama kalinya Minerva merasa sangat tertarik untuk berteman dengan seseorang.
Namun beberapa saat kemudian, Minerva baru menyadari jika perempuan itu sedikit aneh, matanya terus melihat kearah sekeliling kelas seakan sedang mencari sesuatu, Minerva mengernyit dalam, 'apa yang anak itu cari?' ia penasaran dan tanpa sadar mengikuti perempuan itu melihat-lihat sekeliling kelas.
'Tidak ada yang salah,' pikir Minerva tentang kelasnya setelah menyusuri ruangan kelas.
Minerva kembali melihat kedepan tempat dimana anak baru itu berdiri, dan saat itu juga dia terkejut saat wajah anak baru itu sedang menatapnya dengan pandangan yang anehnya sama terkejutnya seperti dirinya. Minerva menoleh ke kanan dan kekiri memastikan jika dia hanya salah paham namun tidak, perempuan itu memang benar-benar sedang menatapnya. Minerva mengernyit melihat ekspresi aneh perempuan itu sebelum akhirnya perempuan itu menunduk dan mengalihkan pandangannya, lebih tepatnya menghindari tatapan Minerva. Menurut Minerva perempuan itu sangat aneh.
"Namaku Charity Lingercia, mohon bantuannya." kata perempuan itu yang mengaku bernama Charity.
Perempuan itu memang terlihat sebaya dengannya namun entah kenapa Minerva merasa aura perempuan itu tidak seperti anak-anak lain, dia terlihat sangat dewasa.
To Be Continue