bc

Bud*ak Wanita Kesayangan Raja

book_age18+
22
FOLLOW
1K
READ
HE
drama
like
intro-logo
Blurb

Adara anak Perdana Menteri Negara Amiera di Mediterania Timur pada abad pertengahan.

Ia dipingit sejak kecil, dipersiapkan sang ayah-Perdana Menteri Bayezid agar kelak menjadi ratu yang hebat.

Pangeran Zayan sang Putera Mahkota Kerajaan Amiera mengatakan keinginannya menjadikan Adara ratunya kelak sejak dirinya masih kanak-kanak.

Namun, Adara jatuh cinta pada lelaki lain yang. Apa yang akan terjadi? Apakah Adara akan menjadi istri pangeran Zayan dan menjadi Ratu Amiera?

chap-preview
Free preview
Bab 1 Selalu Mengganggu
Prolog ... Aku adalah wanita terhormat. Tak pernah satu kali sekali pun angin yang berhembus menyentuh langsung kulitku. Tak pernah satu kali pun teriknya mentari menyentuh wajahku dan tak pernah sekalipun aku mengarahkan mata indahku melihat paras lelaki. Harumnya berita tentang diriku menyebar ke seluruh penjuru kota. Namun, harumnya tubuhku selalu tersembunyi rapi dalam tembok rumahku. Hingga suatu hari pertemuan tak sengaja dengannya memaksaku mengangkat pandanganku dan melihat wajahnya. Aaah ... wajah lelaki pertama yang tak sengaja kulihat dengan saksama selain ayahku. Aku adalah wanita baik-baik, tapi kabar mengatakan dia punya rahasia gelap bersama sang malam. Bukankah wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik? Lalu kenapa aku diberikan rasa yang murni kepada dia yang katanya bukan orang baik? *** "Tidak … tidak!” ucap Adara ketakutan. Napasnya memburu dan terasa sesak. Air mata membasahi kedua pipinya. Ia terus berlari dengan kencang. Butiran pasir yang dia pijak membenamkan kedua kakinya, semakin memperlambat langkahnya yang terseok. Telapak kaki Adara yang halus begitu sakit dan perih tak terkira sebab terbakar di dalam timbunan pasir yang panas tanpa alas kaki. Tenggorokan Adara sangat kering, sejauh mata memandang hanya hamparan gurun pasir yang tampak di kedua mata indahnya yang menyiratkan ketakutan. Nanar sepasang netra gadis cantik itu menatap semesta yang seakan penuh minyak, mengkilap saking teriknya matahari. Adara menyingsingkan pakaian hingga sebetis. Gaun panjang merah bersulam benang emas yang dikenakannya beberapa kali terinjak. Membuatnya jatuh tersungkur. Gemerincing gelang tangan yang beradu saat ia berlari seakan alunan musik pengantar kematian yang disenandungkan malaikat pencabut nyawa. Ia menoleh, dua orang lelaki berkuda berpakaian serba hitam yang sejak tadi mengejarnya, semakin mendekat. Adara kian ketakutan. Di sepanjang pipinya yang kemerahan karena terbakar matahari terbentuk dua alur hitam, disebabkan oleh celaknya dilunturi air mata. Derap langkah kaki kuda terdengar semakin mendekat, memecah hamparan pasir, terbawa angin kencang membumbung ke udara. “Tidaaaak!” desahnya dengan bibir yang gemetar dan pecah-pecah. Dahaga melemahkan tubuhnya. Ia tersungkur di pasir dalam keputusasaan dan ketidakberdayaan. Ketakutan mengisi setiap hela udara di dalam paru-parunya. Kedua mata Adara terpejam, mencoba menghalau pasir yang beterbangan dibawa angin, keras menampar wajahnya. Masuk ke dalam netranya yang indah sehijau zamrud. “Tuan Putri Adara. Tidak ada lagi tempatmu berlari,” ucap salah seorang lelaki turun dari kuda. Gelak tawa menjijikan dari mulutnya laksana sambaran petir di telinga Adara. “APA MAU KALIAN?!” bentak Adara dengan napas tersengal ketakutan dan kelelahan. Nyalang iris zamrudnya bergantian memandangi kedua lelaki itu. Cadar merah bersulam benang emas yang menyembunyikan kecantikan Adara terlihat melekat ketat di wajahnya. Terhisap kuat hela tarikan napas Adara yang tersengal. Peluh dingin membanjiri kening dan punggungnya. “Hahahaha!” Mereka berdua hanya tertawa terbahak-bahak tidak menjawabnya. Kain penutup di kedua wajah lelaki itu yang berfungsi sebagai pelindung terik matahari dan badai pasir, mengahalangi penglihatan Adara untuk mengenali siapa mereka. Namun, aura bengis menyeruak dari bahasa tubuh mereka. Kedua telapak kaki, b o k o n g dan kedua telapak tangan Adara merayap menapaki pasir. Ia berusaha menjauhi mereka dengan sisa tenaga yang dimilikinya. “Hahahaha! Tuan Putri Adara .... Seluruh penduduk negeri, tembok di jalanan, bahkan hingga jalanan di sepanjang Mediterania membicarakanmu. Konon katanya, kecantikanmu membuat malu para bidadari surga," ucap lelaki itu sambil tersenyum c***l. "Mari kita lihat dan buktikan!” Salah seorang dari mereka mendekat. Air liur hampir mentes dari mulutnya. Kedua lelaki itu tak ubahnya seperti serigala lapar. “Tidak! Jangan nistakan aku seperti ini! Ayah dan kakakku akan memenggal kepala kalian!” ancam Adara dengan garang. “Ayahmu sang Perdana Menteri, bukan? Kakakmu Panglima Perang, bukan begitu?” ucapnya dengan nada menyanjung, “sayangnya mereka tidak ada di sini. Aku rela menukar hidupku asalkan sudah merasakan halusnya kulitmu yang konon sehalus sutra.” Dada Adara bergemuruh dengan hebat. Bagaimana mungkin dirinya bisa dia dihina seperti ini? Dengan tangan yang gemetar Adara menggenggam pasir erat-erat hingga ruas jarinya memutih, menyalurkan kemarahan yang terasa panas membakar dadanya. Kedua lelaki itu dengan kurang ajarnya kian mendekat. Lancang sekali tangan kotornya mencoba menarik cadar merah bersulam emas di wajah Adara. “Terkutuklah kalian! Semoga kalian abadi di neraka!” pekik Adara sembari melemparkan pasir di tangannya pada wajah kedua lelaki itu. Ia memalingkan wajah, mengelak tangan b***t yang menyentuh dirinya. “AAAAH!” teriak salah seorang dari lelaki itu. Matanya kemasukan pasir. Ia mundur beberapa langkah lalu meraih tempat minum yang terkait di pinggang kemudian membasuh matanya. Lelaki yang satunya maju, “KURANG AJAR!” Dia menampar pipi Adara sekuat tenaga. Lalu merenggut kain merah penutup wajah gadis itu. “Aaah!” pekik Adara dengan suara tertahan. Rasa nyeri, asin dan juga dan aroma amis darah menyebar di dalam mulutnya. Air mata Adara menetes, harga dirinya terkoyak. “HEEEEIII!” teriak seorang lelaki dengan suara dalam, berat, sedikit serak, sarat wibawa. Derap kaki kuda yang dikendarai seseorang yang tiba-tiba muncul itu mengisi keheningan gurun pasir. Pada tangannya tergenggam pedang berwarna putih mengkilat, menyilaukan mata saat memantulkan cahaya matahari. “BERANINYA KALIAAAN!” pekiknya penuh amarah. Adara memalingkan wajah, mencari tahu siapa gerangan sang pemilik suara. Ia melihat seorang lelaki berpakaian serba hitam. Penutup kepala hitam dan kain penutup wajahnya pun hitam. Lelaki itu memacu kudanya lebih kencang. SRAAAAK! Tebasan pedangnya seketika memutuskan tangan lelaki yang sudah berani menyentuh wajah Adara. SRAAAAAAK!!! Lagi lelaki asing itu penebaskan pedangnya. Kepala lelaki itu terguling di hamparan pasir. Tubuhnya menggelepar, lalu terkapar. Adara memejamkan mata, percikan darah mengotori wajahnya. Seluruh tubuhnya gemetar. Pasir yang semula berwarna kuning kecokelatan kini berwarna merah menyala. Lelaki satunya yang pada awalanya masih sibuk membersihkan mata karena terkena pasir yang dilemparkan Adara, kini berusaha membuka matanya lebih lebar. Tidak paham apa yang baru saja terjadi. Betapa terkejutnya ia melihat kepala temannya teronggok di dekat kakinya. Belum sempat dia memahami apa yang terjadi ... SRAAAAK!  Tebasan pedang mengenai batang leher lelaki yang tadi melecehkan Adara. Lalu kepalanya terguling, berhenti tepat di hadapan kedua kaki Adara. Adara menendang kepala lelaki itu, “Membusuklah kalian di neraka!” makinya penuh kemarahan. “Tuan Putri, Anda tidak papa?” tanya sang penolongnya dengan nada suara penuh kecemasan. Dia turun dari kuda lalu menyarungkan pedangnya. “Ya. Aku tidak papa.” Adara mengangguk pelan. Ia beringsut lemah, berusaha memungut cadarnya di pasir. “Aku akan mengantarkanmu pulang.” Lelaki itu mendekati Adara. Lalu, dia mengambilkan cadar merah bersulam benang emas yang berusaha digapai Adara dengan susah payah. “Ini, Tuan Putri.” Ia berlutut di pasir, memberikannya kain penutup wajah itu kepada anak perempuan sang Perdana Menteri. Adara mengambilnya dengan tangan gemetar. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. “Tuan Putri, maafkan kelancangan hamba, jika diperbolehkan, hamba ingin membersihkan darah di wajah Tuan Putri,” ucap lelaki itu sopan, bahkan dengan nada rasa bersalah. Adara mengangkat wajahnya. Menatap ke wajah lelaki yang sudah menolongnya. Lelaki itu memakai penutup wajah, menyisakan matanya yang berwarna cokelat keemasan, berbinar hangat. Jelas sekali terlihat tidak ada sorot mata kejahatan di sana. Lelaki itu menundukkan pandangannya saat Adara mengamatinya. Tidak kuasa bertatapan langsung dengan sepasang manik hijau zamrud milik Adara yang menyiratkan perasaan terluka. “Terima kasih, Tuan telah menolongku. Siapakah Tuan yang berhati mulia ini? Aku akan menyampaikan kepada ayah dan kakakku tentang kebaikanmu ini. Aku pastikan, ayah dan kakakku akan membalas jasamu. Aku berhutang kepadamu, Tuan." Adara meletakkan tangan ke d**a dan sedikit mendundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan dan rasa terimakasih. “Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya pedagang dari negeri tetangga.” Lelaki itu juga membungkukkan tubuhnya, membalas penghormatan yang diberikan Adara. “Beritahu siapa namamu?” desak Adara tak sabar. Lelaki itu membuka penutup wajahnya, “Nama hamba …” Mata Adara memicing … wajah lelaki itu sangat bersinar, sangat tampan. Lalu, tiba-tiba Adara membuka kedua matanya selebarnya. Peluh dingin membanjiri kening dan seluruh tubuhnya. “Tidak! Jangan lagi!” desah penuh kesedihan. Seorang pelayan berdiri di sisinya menatap dirinya dengan cemas, “Tuan Putri.” Adara segera duduk di tepian kasur sambil menjuntaikan kedua kaki ke lantai, “Mimpi yang sama lagi,” ucap Adara dengan suara lemah. “Tuan Putri mimpi buruk lagi? Anda terus mengigau dan berteriak-teriak,” ucap Dameshia-pelayan kepercayaan Adara. Adara mengangguk lemah, “Ya … mimpi buruk itu akhir-akhir ini sering menggangguku.” “Mungkin Tuan Putri hanya cemas saja, mengingat Putra Mahkota Pangeran Zayan ingin melihat Tuan Putri, dan akan segera datang berkunjung ke sini.” Dameshia menyurungkan gelas berisi air. “Mungkin saja. Semoga benar begitu.” Adara tersenyum lemah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.1K
bc

TERNODA

read
200.8K
bc

Kali kedua

read
220.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook