Hidup Sarah diselimuti kemalangan sejak kecil. Dia dilahirkan dari keluarga miskin yang tinggal di permukiman kumuh. Ayahnya meninggal saat dia masih bayi, meninggalkan ibunya sebagai tulang punggung keluarga dengan penghasilan rendah sebagai buruh cuci.
Sarah kecil tumbuh dalam kekurangan. Pakaian lusuh dan sepatu bekas adalah kesehariannya. Makanan seadanya menjadi santapan sehari-hari. Dia sering kelaparan dan harus berbagi sedikit makanan dengan adik lelakinya.
Meski hidup memprihatinkan, Sarah adalah anak yang cerdas dan pekerja keras di sekolah. Dia mendapat beasiswa untuk bersekolah meski harus berjuang melawan ejekan teman-teman kaya atas kemiskinannya.
Ibunya jatuh sakit saat Sarah menginjak remaja. Beban mencari nafkah jatuh di pundak Sarah yang masih muda. Dia bekerja paruh waktu sebagai pelayan toko setelah pulang sekolah untuk membiayai kehidupan mereka.
Cobaan makin berat ketika ibunya meninggal dan adiknya sakit-sakitan. Dengan penghasilan rendah, Sarah kewalahan membayar biaya pengobatan adiknya. Dia hampir menyerah pada kemalangan yang melingkupi kehidupannya.
Namun tekad kuatnya untuk keluar dari kemiskinan membuatnya terus bertahan. Sarah tak pernah membayangkan bahwa hari yang mengubah nasibnya akan segera tiba, mengawali babak baru dalam kehidupannya yang kelam.
Pada suatu sore seusai bekerja, Sarah berjalan kaki pulang dengan langkah gontai. Perutnya keroncongan karena dia tidak sempat makan siang hari ini. Upah rendahnya bahkan tidak cukup untuk membeli makanan bergizi.
Saat menyebrangi jalan, tiba-tiba dari kejauhan terdengar klakson mobil mewah yang memekakkan telinga. Sarah menoleh dan melihat sebuah Limousin hitam melaju kencang ke arahnya.
Dia membeku di tengah jalan, ketakutan melihat mobil itu tidak mengurangi kecepatan sedikit pun. Dalam kepanikan, Sarah menutup mata, bersiap untuk tertabrak.
BRRRAAAAAK!
Suara tubrukan keras terdengar, diikuti dengan decitan ban dan kepulan asap. Saat Sarah membuka mata, dia terkejut melihat Limousin mewah itu berhenti tepat di depannya, hanya berjarak satu meter.
Pintu mobil terbuka dan seorang pria paruh baya berpenampilan mewah keluar dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Dasar gadis bodoh! Apa yang kau lakukan di tengah jalan?! Kau berniat bunuh diri?!" bentaknya kasar.
Sarah hanya bisa tergagap ketakutan. Dia tidak pernah membayangkan akan diselamatkan dari mobil yang hampir menabraknya.
Lelaki itu melempar pandangan jijik pada penampilan compang-camping Sarah. "Cih, rupanya cuma gadis miskin tak berpendidikan."
Pria itu lalu masuk kembali ke mobilnya tanpa permisi dan mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan Sarah yang masih bergetar ngeri di pinggir jalan.
Tak disadarinya, kejadian kecil ini akan membawanya pada perubahan besar dalam hidupnya yang tak pernah dibayangkan.
Setelah kejadian mengerikan itu, Sarah tetap berjalan pulang dengan perasaan campur aduk. Dia masih shock karena hampir tertabrak mobil mewah tadi. Jika tidak membeku ketakutan, mungkin dia sudah terkapar di jalan dengan cedera parah, atau yang lebih buruk, tewas ditabrak.
Di sisi lain, hatinya juga terluka oleh hinaan yang dilontarkan pria kaya itu. "Gadis miskin tak berpendidikan". Kata-kata itu kembali mengingatkannya pada statusnya yang terpuruk. Meski dia bersusah payah bersekolah, tetap saja dia dianggap rendah hanya karena kemiskinannya.
Sesampainya di rumah kumuh mereka, Sarah mendapati adiknya Dino terbaring lesu dengan wajah pucat. Obat-obatannya masih berserakan di dekatnya. Seperti biasa, Sarah harus memastikan Dino meminum obatnya tepat waktu untuk penyakitnya.
"Kak, aku lapar... Belum makan dari tadi pagi," rintih Dino lemah.
Rasa bersalah menghantam Sarah. Dengan upah rendahnya, untuk makan pun dia masih kesulitan apalagi untuk membeli obat-obatan mahal. Air mata mulai menetes di sudut matanya.
"Maafkan kakak, Din. Kita kehabisan uang belanja lagi bulan ini," sahutnya parau. Dia lalu membaringkan tubuh pada kasur lusuh mereka tanpa mengganti pakaiannya yang kotor.
Menatap langit-langit reot rumah kumuh mereka, Sarah bertanya-tanya dalam hati, "Tuhan, kapankah penderitaan ini akan berakhir? Apa yang harus kulakukan untuk keluar dari kemiskinan terkutuk ini?"
Tanpa disadari, takdir sudah merencanakan jalan keluarnya. Sebuah kejadian mengejutkan akan segera terjadi, mengubah hidup Sarah untuk selamanya.
Keesokan harinya, Sarah kembali berangkat bekerja dengan langkah gontai. Perutnya keroncongan karena semalam mereka hanya makan seadanya, sebungkus mie instan untuk dibagi berdua.
Di tengah perjalanan menuju toko tempatnya bekerja, tiba-tiba hujan deras turun membasahi baju tipis Sarah. Dia tidak membawa payung dan terpaksa berlari mencari tempat berteduh.
Sarah berlindung di bawah jalur penyeberangan yang membuatnya terlindung dari guyuran hujan. Namun beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di dekatnya.
Jendela mobil kemudian terbuka dan seorang pria paruh baya menyembulkan kepalanya. Sarah terkejut, itu adalah pria kaya yang hampir menabraknya kemarin!
"Hei gadis miskin, sedang apa kau di sana? Cepat masuk!" Pria itu membentak dengan nada mengusir.
Sarah hanya melongo bingung. Untuk apa pria kaya ini menyuruhnya masuk mobil mewah itu? Jangan-jangan dia berniat menculiknya?
Melihat Sarah tidak bergerak, pria itu mendengus kesal. "Dasar bodoh, aku hanya berniat mengantarmu agar tidak kehujanan! Cepat masuk sebelum aku berubah pikiran!"
Agak ragu, Sarah akhirnya membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya dengan pakaian basah kuyup. Aroma harum mobil mewah itu membuatnya tidak nyaman.
Mobil itupun melaju meninggalkan jalanan yang dihujan lebat itu. Sarah menunduk dalam diam, bingung harus berkata apa.
Pria paruh baya itu meliriknya sekilas lalu berdeham. "Namaku Benson Williams, CEO Williams Corporation," ucapnya memperkenalkan diri.
Sarah tersentak kaget. Williams Corporation? Bukankah itu perusahaan konglomerat terkaya se-Asia? Bagaimana bisa dia berakhir di mobil milik CEO-nya?
"Aku melihatmu hampir tertabrak kemarin. Sebenarnya itu salahku karena mengendarai mobil dengan ugal-ugalan," lanjut Benson.
Sarah tidak menyangka pria angkuh ini akan mengakui kesalahannya.
Benson menghela nafas panjang. "Karena itu, aku ingin memberimu kompensasi atas kecerobohanku. Mulai besok, kau akan kuangkat sebagai sekretaris pribadiku di perusahaan."
Mata Sarah terbelalak lebar. Apa yang baru saja didengarnya? Seorang gadis miskin seperti nya akan bekerja di perusahaan sebesar itu? Semua terasa seperti mimpi!
"Ta-tapi... Kenapa aku? Aku bahkan tidak pernah kuliah!" Sarah tergagap tidak percaya.
Benson menyeringai tipis. "Kau akan melihat alasannya nanti. Untuk saat ini, nikmatilah karunia yang kudapatkan."
Jantung Sarah berdebar kencang. Entah keberuntungan apa yang membuatnya ditawari pekerjaan impian seperti itu. Namun di lubuk hatinya, ada firasat bahwa semua ini ada udang di balik batu. Takdir macam apa yang menantinya?