Sudah seminggu berlalu sejak Sarah mulai bekerja sebagai sekretaris pribadi Benson Williams di Williams Corporation. Meski masih canggung, dia berusaha menjalani tugasnya dengan baik demi mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan adik lelakinya, Dino.
Pada suatu sore setelah jam kantor usai, Sarah tengah membereskan berkas-berkas di ruangan Benson. Sang CEO belum juga kembali dari rapat pentingnya. Hujan lebat mengguyur kota, membuat jalanan di luar tergenang dan berkabut.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar dan Benson masuk dengan terengah-engah. Wajahnya pucat pasi seperti habis melihat hantu. Tangannya gemetar menggenggam erat ponselnya.
"Sarah...cepat hubungi ambulans! Anakku...Michael mengalami kecelakaan parah!" serunya kalut.
Sarah terkesiap, ini pertama kalinya dia melihat Benson begitu rapuh dan kehilangan kendali diri. Dengan cekatan, dia menghubungi ambulans ke lokasi yang disebutkan Benson.
Beberapa saat kemudian, Benson dan Sarah bergegas menyusul ke rumah sakit dengan mobilnya yang dikendarai oleh supir pribadinya. Sepanjang perjalanan, Benson tampak cemas luar biasa.
"Kumohon...kumohon Michael tidak apa-apa," gumamnya berulang-ulang dengan tangan mengepal erat.
Sarah berusaha menenangkannya meski dalam hati dia juga merasa ngeri dengan apa yang terjadi pada anak Benson itu.
Sesampainya di rumah sakit, Benson langsung melesat masuk diikuti Sarah di belakangnya. Tampaklah Michael, putra semata wayang Benson, terbaring kritis dengan selang dan perban membalut tubuhnya.
Benson jatuh menyesakkan di sisi ranjang putranya dengan air mata berlinang. "Michael...Michael...bertahanlah nak!" Dia menggenggam tangan Michael yang terkulai lemas.
Dokter menghampiri dengan wajah muram. "Tuan Williams, keadaannya sangat kritis. Benturan di kepalanya amat parah akibat insiden itu..."
Sarah membekap mulutnya menahan isakan. Demi Tuhan, apa yang sebenarnya telah terjadi? Tampaknya ini lebih dari sekedar kecelakaan biasa.
Untuk pertama kalinya, Sarah melihat kehidupan mengintipnya dari balik kemewahan keluarga kaya. Di balik fasilitas serba ada, kebahagiaan sejati tidaklah mudah dicapai. Kecelakaan yang dialami Michael menyorongnya melihat kepedihan sejati yang juga bisa dialami kalangan berada.
Di sanalah dia berdiri, menyaksikan kehancuran seorang ayah yang melihat putranya tergeletak di ambang kematian. Membuatnya bertanya-tanya, akankah takdir kejam juga mengintai untuk merenggut kebahagiaannya kelak?
Benson tak henti-hentinya menangis di sisi ranjang Michael yang terbaring kritis. Sebagai seorang ayah, melihat putra semata wayangnya dalam kondisi seperti ini bagaikan mimpi buruk yang tak pernah dibayangkannya.
Sarah berdiri di sudut ruangan, memberi privasi kepada Benson untuk meluapkan emosinya. Matanya juga tidak dapat membendung air mata melihat pemandangan memilukan ini.
Dokter menghampiri dengan raut wajah prihatin. "Tuan Williams, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun kondisi Michael sangat kritis karena benturan hebat di kepalanya. Kemungkinan...untuk sembuh sangatlah kecil," ucapnya dengan nada berat.
Benson menggeleng keras mendengar vonis itu. "Tidak...tidak mungkin! Michael masih muda, dia pasti kuat! Lakukan apapun untuk menyelamatkannya, Dokter! Berapapun biayanya, akan kubayar!" serunya memohon dengan putus asa.
Sang dokter menghela nafas panjang. "Kami akan mencoba yang terbaik, Tuan Williams. Tapi kami juga tidak bisa memaksa jika kondisinya sudah...pada batasnya."
Benson kembali terisak di sisi Michael. Kondisi putranya benar-benar kritis akibat kecelakaan yang dimaksud dokter itu. Sarah penasaran, sebenarnya kecelakaan seperti apa yang dialami Michael?
Pemandangan menyayat hati ini membuatnya tersadar bahwa harta dan status tidak menjamin kebahagiaan. Benson yang kaya raya pun rapuh seperti manusia biasa menghadapi tragedy seperti ini.
Tiba-tiba saja, Michael melakukan gerakan kecil dengan mata sedikit terbuka. Melihat itu, Benson langsung menggenggam erat tangannya.
"Michael...Michael! Ayah di sini, nak!" serunya menahan isak tangis.
Dengan susah payah, Michael membuka mulutnya dan berbisik lirih, "Ayah...maafkan aku..."
"Tidak, tidak! Kau tidak salah, Michael! Bertahanlah, kau pasti kuat!" sahut Benson putus asa.
Sarah mengamati dengan jantung berdebar. Dia berharap ajalah belum menjemput Michael secepat ini.
"Ayah...ada yang ingin ku...katakan..." bisik Michael lagi dengan suara sangat lemah.
Benson mendekatkan telinganya, "Iya, katakan saja, Michael!"
Dengan nafas tersengal, Michael melanjutkan, "Ke...celakaan itu...bukan... kecelakaan biasa..."
Benson mengernyit bingung, diikuti sang dokter dan Sarah. Apa maksud ucapan Michael?
"Aku...di...sengaja... oleh..." Michael terbatuk hebat, memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Melihat itu, Benson panik luar biasa. "DOKTER! DOKTER! TINDAKAN CEPAT!"
Para medis langsung mengerumuninya, berusaha memberi pertolongan. Namun terlambat, alat pendeteksi detak jantung hanya menampilkan garis lurus. Michael telah tiada...
Dalam kepanikan itu, kalimat terakhir Michael terabaikan. "Aku...disengaja...oleh..."
Oleh siapa? Apa kecelakaan itu memang bukan kecelakaan biasa seperti yang diduga? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Sarah menyaksikan tragedi mengerikan ini.
Kepanikan melanda ruangan ICU itu. Para dokter dan perawat sibuk mengerahkan upaya terakhir untuk menyelamatkan nyawa Michael, tetapi sia-sia. Detak jantungnya sudah terhenti, meninggalkan garis lurus panjang di monitor pendeteksi detak jantung.
"Tidak...tidak! Anakku!" Benson menjerit histeris melihat tubuh putra semata wayangnya yang kini sudah mendingin. Air matanya mengalir deras membasahi wajah yang dihiasi raut kehancuran mendalam.
Sarah menitikkan air mata, turut merasakan duka yang mencekam ini. Sebagai seorang yatim piatu, dia bisa membayangkan betapa pedihnya kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Apalagi dengan cara tragis ini.
Dokter melepas alat bantu pernapasan dari wajah Michael dengan raut menyesal. "Waktu kematian, pukul 20.15. Kami sudah berupaya maksimal, tapi Tuhan berkehendak lain," gumamnya lirih.
Benson terisak seperti orang yang kehilangan pegangan hidup. Semua orang di ruangan itu turut berduka atas kepergian Michael yang begitu mendadak dan tragis.
Setelah para medis memberi waktu, Benson bangkit dengan lutut gemetar. Sorot matanya menyimpan kepedihan yang tak terlukiskan. Dengan lembut, dia membelai rambut Michael untuk yang terakhir kalinya.
"Anakku...putraku tercinta... Mengapa kau direnggut secepat ini?" desahnya pilu. Sarah tercekat melihat adegan mengharukan sekaligus menyayat hati itu.
Benson lalu menghampiri Sarah yang berdiri di sudut dengan mata sembab. "Sarah...kau dengar sendiri kan ucapan terakhir Michael tadi?" tanyanya dengan suara serak.
Sarah mengangguk pelan sambil menyeka air matanya. "I-iya, Tuan Williams. Michael bilang...kecelakaan itu disengaja oleh seseorang..."
Amarah serta tekad membalas dendam terpancar dari sorot mata Benson yang semula redup. "Ya, aku akan mencari tahu siapa yang berani-beraninya mempermainkan nyawa putraku!" gertaknya menggebu.
"Dan ketika aku menemukannya, akan ku buat dia menyesal untuk,selama-lamanya!" Benson mengepalkan tinjunya dengan sorot mata yang berkilat berbahaya.
Sarah bergidik melihat perubahan Benson yang semula rapuh kini diliputi aura mematikan. Tampaknya kematian Michael telah membangunkan sisi lain dalam diri CEO kaya raya itu. Sisi yang haus akan balas dendam...
Entah bahaya apa yang menantinya nanti dalam petualangan pembunuhan Michael ini. Yang pasti, kecelakaan tragis itu telah membawa perubahan besar dalam kehidupan Sarah yang tadinya tenang.