bab 3 Penyelamatan tak terduga

1246 Words
Seminggu telah berlalu sejak tragedi mengenaskan yang merenggut nyawa Michael, putra Benson Williams. Sejak saat itu, atmosfer di kantor Williams Corporation terasa suram dan kelam. Benson sendiri hampir tidak pernah keluar dari ruangannya sejak pemakaman Michael. Sarah merasa sangat prihatin melihat Benson yang dulu angkuh dan arogan, kini seperti kehilangan nyawa dalam raga kurusnya. Pria paruh baya itu menghabiskan hampir seluruh waktunya mengurung diri, mencari petunjuk atas kematian Michael yang diduga bukan kecelakaan biasa. Pada suatu siang yang mendung, Sarah membawakan makan siang ke ruangan Benson seperti biasa. Namun seperti hari-hari sebelumnya, makanan itu hanya akan diabaikan oleh Benson yang terlalu tenggelam dalam kegundahan hatinya. "Tuan Williams, saya mohon Anda harus tetap makan dan beristirahat. Tidak baik untuk kesehatan jika terus-terusan seperti ini," nasihat Sarah selembut mungkin. Benson menghela napas panjang tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas di mejanya. "Kau tidak akan mengerti rasa kehilangan seperti yang kualami, Sarah..." desahnya parau. Sarah menunduk sedih. Meski dia juga tidak memiliki orang tua, tentu tidak sebanding dengan kehilangan anak seperti yang menimpa Benson. "Aku akan mencari tahu pelakunya, Sarah. Aku harus membalaskan dendam Michael, anak laki-laki satu-satunya yang sangat kucintai," lanjut Benson dengan sorot mata menyala-nyala penuh tekad. Sebelum Sarah sempat menjawab, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan kasar. Seorang pria bersetelan formal berwajah sangar menerobos masuk diikuti beberapa anak buahnya. "Akhirnya aku menemukanmu, Benson Williams!" serunya mengancam sambil menodongkan pistol ke arah Benson. Sarah memekik ketakutan melihat aksi itu. Astaga, mereka hendak menyandera Benson! Benson berdiri dengan wajah tenang seolah sudah menduga hal ini akan terjadi. "Danny O'Casey. Jadi kaulah dalang di balik tragedi yang menimpa putraku?" tanyanya datar. Pria bernama Danny itu menyeringai. "Ya, aku yang menyuruh anak buahku untuk menabrak mobilnya minggu lalu. Membuat perhitungan bisnis kita impas dengan begitu!" Sarah terkesiap mendengar pengakuan keji itu. Ternyata Danny-lah yang menyebabkan kecelakaan mengerikan yang merenggut Michael! Pantas saja Benson sangat frustrasi mencari pelakunya selama ini. Dengan gerakan cepat, Danny mengarahkan pistolnya ke kepala Benson. "Dan sekarang, giliranmu untuk membayar seluruh hutang padaku!" ancamnya kejam. Jantung Sarah serasa berhenti berdetak menyaksikan aksi itu. Apakah Benson juga akan berakhir seperti anaknya? Tidak, itu tidak boleh terjadi! Tanpa pikir panjang, Sarah meraih vas bunga di meja terdekat dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Danny, tepat mengenai kepalanya. PRANGGGG! BUKK! Danny terhuyung dan pistolnya terlepas dari tangannya. Benson sigap mengambil pistol itu dan mengarahkannya pada Danny yang tersungkur dengan kepala berlumuran darah. "Tak kusangka Sarah yang menyelamatkanku," gumam Benson tak percaya. Dia lalu menatap tajam para anak buah Danny yang masih syok. "Sekarang angkat tangan kalian atau kujamin akan kutembak!" ancamnya mengacungkan pistol dengan tangan bergetar menahan emosi. Para anak buah itu gemetar ketakutan lalu mengangkat tangan mereka dengan patuh. Sarah terpana melihat Benson yang untuk pertama kalinya mengambil tindakan heroik seperti ini. Tak lama kemudian, polisi datang dan menangkap Danny beserta anak buahnya. Sarah menghela napas lega karena akhirnya ketegangan itu mereda. Benson menghampiri Sarah dengan sorot mata teduh. "Sarah, kau telah menyelamatkan nyawaku. Terima kasih, aku benar-benar berhutang padamu," ucapnya tulus. Sarah hanya tersenyum simpul. "Saya hanya tidak ingin kehilangan majikan lagi seperti Michael, Tuan Williams." Seulas senyum tipis terkembang di wajah Benson untuk pertama kalinya seminggu terakhir ini. Sebuah senyum yang menyiratkan harapan untuk melanjutkan hidup setelah kepedihannya. Tanpa diduga, penyelamatan kecil Sarah membawa perubahan berarti dalam diri Benson. Sejak saat itu, Benson bertekad bangkit dari keterpurukan dan mengungkap dalang sebenarnya di balik kematian Michael sekali dan untuk selamanya. Peristiwa mencekam itu membuat Benson tersadar dari kelamnya kehancuran. Upaya penembakan brutal dari Danny O'Casey telah mengingatkannya bahwa bahaya masih mengintai di setiap sudut. Dia harus segera bangkit untuk mengungkap dalang utama di balik tragedi mengerikan yang menimpa putranya. Keesokan harinya, Benson tampak segar dengan setelan rapih saat memasuki kantornya. Sarah yang melihatnya merasa lega menyaksikan perubahan positif pada atasannya itu. "Selamat pagi, Tuan Williams. Anda tampak jauh lebih baik hari ini," sapa Sarah. Benson mengangguk singkat. "Ya, aku sudah terlalu lama larut dalam kesedihan. Sudah waktunya aku bangkit untuk mencari keadilan atas kematian Michael." Sarah tersenyum melihat tekad membara di mata Benson. Rupanya kejadian kemarin telah menyadarkan Benson akan tanggung jawabnya. "Kejadian kemarin membuatku sadar, Sarah. Kematian Michael bukan sekedar kecelakaan, tapi pembunuhan yang terencana dengan baik," Benson mengepalkan tangannya dengan sorot mata mengeras. "Danny hanyalah bidak kecil yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Michael. Pasti ada dalang utama yang merancang semua ini untuk menghabisi kami," sambungnya dengan nada menggebu. Sarah mendengarkan dengan saksama. Dia sendiri penasaran siapa gerangan oknum yang begitu kejam hingga berniat membunuh ayah dan anak tanpa perasaan. "Tapi, dengan tertangkapnya Danny, setidaknya kita mendapat petunjuk untuk melacak dalang sebenarnya," Benson mengambil sebuah map dari laci meja kerjanya. "Inilah data lengkap mengenai Danny dan aksi kriminalnya selama ini. Kita pasti akan menemukan benang merah yang menuntun pada dalang sesungguhnya," Benson menjelaskan dengan semangat yang telah lama padam dari dirinya. Sarah mengangguk paham. Sepertinya Benson telah menemukan kembali tekad kuatnya untuk mencari kebenaran. Momen kepahitan yang dia alami kemarin telah membuatnya menyadari prioritas sejatinya dalam hidup. "Kalau begitu, mari kita selidiki lebih lanjut siapa dalang di balik kematian Michael, Tuan Williams," sahut Sarah tak kalah bersemangat. Benson mengulas senyum tipis. "Terima kasih atas bantuanmu, Sarah. Aku sungguh bersyukur kau ada di sisiku dalam masa-masa berat ini." Senyum Sarah pun mengembang lebar mendengarnya. Dia bahagia bisa memberi kekuatan pada Benson untuk keluar dari keterpurukannya. Sarah bertekad akan membantunya hingga mencapai keadilan sejati yang dinantikannya. Kini, Benson bukan lagi hanya seorang CEO Williams Corporation. Melainkan seorang ayah yang menuntut pembalasan atas kematian tragis putranya. Dengan begitu, babak baru perjuangan mereka pun dimulai. Semangat baru membara di d**a Benson dan Sarah. Perjuangan mereka untuk mengungkap dalang di balik pembunuhan Michael baru saja dimulai. Dengan berbekal data-data terkait Danny O'Casey, mereka mulai menelusuri benang merah kasus ini. "Dari data ini, Danny telah lama terlibat dalam kejahatan seperti pemerasan, penyelundupan, bahkan pembunuhan," Benson menjelaskan dengan dahi berkerut serius. Sarah membelalak ngeri membaca deretan aksi kriminal Danny. "Astaga, tak kusangka dia adalah penjahat sekelas itu!" "Ya, tapi kali ini dia sepertinya hanya dijadikan boneka untuk melaksanakan pembunuhan terhadap Michael," Benson menggebrak meja dengan ekspresi mengeras. "Pasti ada dalang utama yang lebih berbahaya dan sadis di balik semua ini! Aku harus menemukan k*****t itu!" serunya berapi-api. Sarah merasakan sorot mata Benson yang membara dengan dendam dan tekad mengalahkan ketakutan di hatinya. Dia salut melihat atasannya ini bangkit dari keterpurukan dengan semangat baru yang begitu kuat. Tiba-tiba ponsel Benson bergetar, menandakan panggilan masuk. Dengan kerutan di dahi, Benson mengangkatnya. "Ya, halo?" Sesaat raut wajahnya berubah pucat pasi mendengar suara di seberang sana. Tangannya sampai gemetar memegangi ponselnya. "A-apa?! Bagaimana bisa...?!" Sarah menatap Benson dengan cemas melihat perubahan sikapnya yang drastis. Setelah beberapa saat, Benson memutuskan panggilan itu dengan wajah diliputi ketakutan luar biasa. Sarah tak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi. "Ada apa, Tuan Williams? Kenapa Anda seperti melihat hantu?" tanyanya cemas. Benson menjawab dengan suara bergetar. "Danny O'Casey...dia berhasil melarikan diri dari penjara beberapa jam yang lalu!" Sarah membekap mulutnya, ngeri membayangkan akibat yang mungkin terjadi. Penjahat berdarah dingin seperti Danny pasti tidak akan tinggal diam setelah gagal membunuh Benson. "Ja-jadi...apa yang akan dilakukannya sekarang?" Sarah memberanikan diri bertanya dengan jantung berdebar kuat. Benson menatapnya dengan sorot mata ketakutan mendalam. "Bisa dipastikan...dia akan mengincar kita berdua untuk membalas dendam!" Keduanya saling terpaku dengan ketakutan yang sama-sama mereka rasakan. Gara-gara keberanian Sarah kemarin, Danny pasti telah menjadikan mereka target buruan terbarunya. Sarah meringis ngeri. Sepertinya masa-masa sulit benar-benar baru saja dimulai bagi mereka. Akankah mereka mampu menandingi Danny O'Casey yang dikenal sebagai pembunuh sadis dan kejam?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD