Bab 3

1004 Words
Flashback on "Dela!!", teriak Rina dari pintu kelas. mereka masih kelas XII. "Apaan sih Rin? Teriak pagi pagi?", ucap Dela santai. Dia sudah tahu satu sekolah ramai membicarakan murid baru pindahan pagi ini. "Del, katanya ada murid baru di kelas kita. Cowok pula.", kata Rina antusias. "Lalu?", Dela masih santai mengeluarkan barangnya dan menaruh di laci mejanya. "Yaelah Del, satu sekolah heboh sama cowok ganteng, lu malah cuma bilang lalu?", Rina tahu Dela memang dari kecil belum mengenal arti cinta. Suka sama cowok aja belum pernah. Semua cowok yang menyatakan suka padanya ditolak langsung sama dia. "Rin, Rin, kayak ga tau Dela aja. Jangan cowok ganteng lewat. Artis korea pujaan lu lewat juga dia bodo amat. Jadi lu ga usah heboh sama anak baru itu.", ucap Dio mendekat ke meja Dela. Dela hanya tertawa geli. Bel sekolah berbunyi. Ibu Risma, wali kelas Dela masuk ke kelas. Dan seorang cowok tinggi, tegap dan tampan mengikutinya dari belakang. Tapi dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas dengan tatapan cueknya. Meski banyak tatapan terpesona dari cewek-cewek di kelas, dia malah menatap cewek berambut sebahu yang menarik bukunya dari cowok yg duduk di sebelahnya tanpa peduli riuhnya kelas. "Pagi anak-anak!", ucap Ibu Risma, walikelas yang disukai oleh anak-anak di sekolah, karena kebaikannya. "Seperti yang kalian ketahui, hari ini kita kedatangan murid baru dari Bandung. Kamu boleh memperkenalkan diri." "Nama saya Alexander Dafta Wijaya. Panggil saya Afta saja.", ucapnya. Diantara semua mata yang memandangnya. Hanya satu yang menarik perhatiannya. Cewek berambut sebahu yang daritadi menarik perhatiannya. Dia terlihat santai dan namun menyimak dari tempatnya. "Baik, kamu bisa duduk di depan Dela. Dia ketua kelas di kelas ini. Dan juga dia juara umum di sekolah ini. Kamu boleh bertanya padanya. Dela bantu Afta supaya bisa beradaptasi di sekolah ini.", Dela hanya membalas dengan anggukan dan senyuman di bibirnya. Dela, cewek yang daritadi menarik perhatiannya, tidak ada mata terpesona yang terpancar dari matanya. Hanya tatapan tulus dari mata itu. Entah mengapa itu membuat Afta ingin mengenal sosok tersebut. Tapi dia juga harus menjaga jarak lebih dahulu, mencari tahu mana teman yang bisa dipercaya. "Dela.", dengan menyodorkan tangannya saat Afta sampai di depannya. Afta tidak membalas namun hanya tersenyum. Dela hanya membalas senyuman dan menarik tangannya kembali. Sepanjang hari ini, semua sibuk membicarakan Afta. Dia langsung jadi calon gebetan semua siswi di sekolah Tunas Bangsa. *** "Af, lu pemain basket? Postur lu kaya pemain basket soalnya.", tanya Dio di sela istirahat. Entah mengapa Afta bisa cepat berbaur dengan Dio dan Bambang. Tapi dengan para cewek yang memuja dia selangit, dia malah menjauh dari mereka. "Dulu di sekolah lama gue main basket sih. Kenapa?" "Kalau gitu, lu ikut masuk tim basket aja, Af. Kita juga lagi butuh orang gantiin si Rio. Tuh anak lagi cedera, malah nanti siang kita ada tanding sama sekolah Cerdas Bangsa.", Timpal Bambang. "Emang boleh gue langsung masuk gitu aja?" "Bolehlah. Boleh kan Del?", Dio menatap Dela. Dela hanya mengangguk, "Iyah. Boleh kok. Asal seterusnya lu ikut latihan juga." "Kok tanya ke Dela? Emang Dela maen basket juga?", tanya Afta. "Dia ketua tim eskul basket. Tuh anak masuk tim basket cewek di sekolah kita. Trus jadi ketua tim basket.", Bambang menimpali pertanyaan Afta. "Oh lu anak basket juga, Del?" "Kenapa gue ga ada tampang buat bisa maen basket?" "Iyah, Lu lebih keliatan kayak anak cewe yang lebih suka dandan dan shopping.", Dio langsung tertawa mendengar perkataan Afta. "Boro- boro, Af. Itu muka jarang didempul. Mana pernah dia dandan. Yang ada cuek bebek sama penampilan dia." "Masa sih? Gue meragukan itu." "Yaudah, nanti siang lu ikutan aja.Lu liat nih anak main basket. Anak cewe juga tanding soalnya. Gimana?", kata Dio. "Okelah gue ikut." ... Setelah pertandingan selesai, satu persatu anggota tim dan murid yang ikut menonton mulai meninggalkan sekolah. Dela masih menunggu jemputan pak Slamet. Pak Slamet memang menelepon Dela, mengatakan dia akan telat sampai karena abis anterin bunda ke salon. Rina sudah ikut dengan Bambang pulang duluan, karena rumah mereka searah. Jadi tinggal Dela sendirian menunggu Pak Slamet di pos satpam depan sekolah. "Hai Del!", sapa anak Cerdas Bangsa yang Dela ga kenal siapa namanya. "Hai.", Dela hanya membalas dengan senyum. "Nunggu siapa?" "Nunggu jemputan." jawab Dela. "Ikut gue aja.", ucap cowok dengan paras lumayan tampan. "Ga usah. Aku nunggu aja disini.", tolak Dela dengan halus. "Ayuk ikut gue aja. Gue anterin sampai depan rumah." "Ga perlu repot-repot.", ucap Dela. Tiba-tiba motor Afta berhenti di depan Dela. "Yuk Del, naik.", ucap Afta. Dela yang tahu kalau Afta mau menolong dia dari paksaan cowok-cowok itu, dia langsung naik ke motor Afta. "Sorry ya.", ucap Dela. "Duluan ya.", ucap Afta meninggalkan mereka tanpa menunggu jawaban mereka. "Rumah lu dimana?", tanya Afta ditengah jalan. "Permata Buana, Af." "Blok?" "Blok B." "Pegangan." "Jadi beneran lu emang jago basket. Gue ga nyangka sih. Kalau lu bisa main basket." "Makanya jangan suka nilai orang dari mukanya. Tapi kenalan dulu. Mana bisa sih lu nilai orang dari mukanya doang." "Iyah sorry. Soalnya yang gue lihat, muka lu itu kalem gitu. Mana tahu malah sanggar di lapangan basket.", Dela tertawa mendengar kata- kata Afta. "Eh depan rumah gue, Af. Yang pager cokelat." Akhirnya Afta berhenti tepat sepan rumah. "Makasih ya Af, sorry jadi repotin. Mau masuk dulu ga?" "Nggak apa, Del. Daripada lu digangguin sama cowok tadi. Kalau ada cowok udah maksa ikut, jangan pernah mau Del. Kalau perlu tolak kasar aja. Takutnya niatnya ga baik. Gue langsung balik deh. Gue belum ijin sebenarnya." "Lah kenapa lu ga telepon aja tadi. Yaudah pulang sana. Entar orang rumah nyariin lagi Rumah lu jauh ya?" "Kagak. Rumah gue di komplek ini juga.", jawab Afta. "Ohya?", Afta hanya tersenyum. "Beda berapa blok doank kok. Yaudah gue balik dulu ya." "Hati-hati ya Af. Thankyou.", ucap Dela. Setelah motor Afta jalan meninggalkan rumah Dela, Dela masuk dan disambut pak Slamet. "Eh non, baru pak Slamet mau jemput. Kok udah pulang aja sih non? Non naik apa? " "Tadi ada temen Dela yang anterin pak. Dia rumahnya dekat sini juga pak. Dela masuk rumah dulu ya pak. Mau mandi, udah gerah." "Iyah non." ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD