Bab 2

459 Words
"Mau sampai kapan Del? Lu ngumpet disono dan nggak mau balik ke Jakarta?", tanya Dio yang saat ini sedang videocall bersama Rina disampingnya. "Yo, One day pasti gue pulang. Tapi bukan sekarang. Gue belum siap. Sorry gue ga bisa datang di pernikahan lu berdua." Dela menatap kedua sahabatnya lewat skype dengan perasaan bersalah. Dia tahu betul kalau sahabatnya ingin dia hadir menyaksikan pernikahan mereka, dia pun ingin. Tapi untuk melihat dia, bertemu dia kembali rasanya sulit. Lima tahun Dela menata hati, mencoba melupakan semua sakit tapi rasanya itu masih nyata dihadapan dia. Rasa sakit itu terus ada di benaknya, di hatinya. "Del, sejak hari pertama lu sampai di Harvard, gue selalu bilang, apa yang lu lihat ga semua sesuai dengan prasangka lu. Afta mau jelasin semuanya nanti kalau dia ketemu lagi sama lu langsung. Dan gue ga berhak cerita apapun ke lu sampai dia yang ngomong langsung ke lu.", Dio terdiam sejenak. "Mungkin memang akan sulit, tapi dia terima apapun hukuman yang akan lu berikan ke dia. Tapi jujur dia sayang sama lu, Del. Dan kalau gue sebagai cowo, gue akan lakukan sama yang Afta lakukan. Satu hal yang lu harus tahu. Dia ga selingkuh. Cuma itu yang bisa gw katakan." Dela terdiam sesaat, dia menatap bingkai foto di mejanya. Foto lima tahun yang lalu, foto yang hanya menampakkan punggung dua orang remaja menatap pantai dengan berpegangan tangan. Orang yang sangat dia cintai, orang yang pertama kali masuk dalam hatinya, orang yang pertama kali menyakiti hatinya pula. Meski rasa sakit dia rasakan, tapi entah kenapa Dela belum sanggup membuang foto itu. "Udahlah yang. Ga usah paksa Dela. Kita sama-sama tahu hasilnya pasti sama.", Rina tersenyum. "Yang penting doa lu ya, Del. Gue tahu lu sayang sama kita berdua dan gue juga tahu hati lu bagaimana. Jadi ga perlu paksain diri lu, Del. Hanya jangan terlalu lama menutup hati kamu, rugi di lu, Del. Lu berhak bahagia dengan atau tanpa Afta. Hanya dari penjelasan yang gue terima, memang Afta ga salah. Tapi gue ga berhak cerita apapun dan gue udah janji akan tepati jnaji gue ke Afta." "Thankyou Rin, doa gue pasti kok untuk kalian berdua. Gue juga berharap bisa disana. Tapi gue masih ga bisa janji terlalu banyak saat ini." "Iya Dela Putri Kusuma. Udah sana tidur, disana udah jam tiga pagi kali. Lu besok kan masuk kerja, jangan sampai mata lu kaya panda. mana ada cowok bule yang bakal naksir kalau lu jelek.", canda Rina. Dela tertawa kecil mendengar candaan Rina. Mereka mengakhiri pertemuan virtual mereka. Dela masih menatap foto di samping laptop. Menatap punggung laki-laki yang bersama dia saat itu. Apakah dia siap bertemu dengannya lagi. Apakah dia sanggup memaafkan dia. Dela membuka laptopnya kembali, karena dia tahu dia ga akan bisa lelap tidur malam itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD