Dela menatap foto undangan di hadapannya. Email yang baru dikirimkan Dio sahabatnya membuat airmatanya jatuh. Dio dan Rina, kedua sahabatnya akan menikah bulan depan. Tapi dia belum memutuskan untuk pulang dan hadir dalam acara tersebut.
Dio, sahabat Dela dari kecil yang tidak pernah pisah sampai Dela memutuskan untuk kuliah di Harvard. Sedangkan Rina sahabatnya sewaktu SMA yang menjadi tempat Dela mencurahkan semua isi hatinya. Bahkan sampai sekarang Dela masih curhat ke Rina meskipun lewat videocall. Mereka bisa berjam- jam ngobrol, meski perbedaan waktu siang dan malam tidak menjadi penghalang.
Lima tahun lamanya Dela meninggalkan Jakarta, kuliah di Harvard dan menetap disana. Entah kenapa berat rasanya untuk pulang ke Jakarta. Bukan dia tidak rindu dengan keluarga dan sahabatnya. Tapi Dela belum sanggup bertemu dengan dia. Dia yang terlalu dalam menorehkan luka.
Sejak setahun lalu, Dela sudah menyelesaikan kuliahnya, bahkan bunda datang menjemputnya untuk pulang ditolaknya mentah-mentah. Kerjaan yang sudah dia dapatkan menjadi alasannya untuk tidak pulang. Meski semua orang juga tahu bahwa Dela masih menghindari luka itu.
"Dela masih mau disini bun. Kerjaan Dela sudah enak disini."
"Kamu bisa bantuin usaha ayah di Jakarta, Del. Kamu anak satu-satunya ayah bunda. Mau berapa lama kamu biarin bunda dan ayah kesepian di Jakarta?"
"Bun, kalau Dela udah siap, Dela pasti pulang bun. Dela janji, bun."
"Del, kamu harus bisa melupakan masa lalu sayang. Lagipula bunda sudah bilang, kamu harusnya mau memberi kesempatan buat.."
"Bunda, cukup. Dela sudah sering bilang, Dela ga mau bahas soal itu lagi. Biar Dela kubur semuanya, jadi masa lalu Dela saja."
"Kalau kamu merasa dia masa lalu, kenapa fotonya saja kamu belum buang? Dela, bunda tahu kamu sayang, kamu ga bisa lupain dia. Lalu kenapa ga pulang dan selesaikan dulu. Kalaupun kamu dan dia tidak bisa bersama lagi. Setidaknya kalian sudah seleaai, dan kamu bisa buka hati kamu lagi, Del."
"Please bun, biarkan Dela siapkan hati Dela dulu. Biar tembok Dela kokoh dulu. Jadi Dela sanggup bun. Sanggup bertemu dengan semuanya di Jakarta. Dela janji, kalau Dela sudah siap, Dela akan pulang bun."
Tapi sampai saat ini janji itu belum bisa ia penuhi. Rasanya masih berat untuk Dela pulang. Entah rasa itu yang terlalu dalam, atau hati dia yang terlalu sakit.