Pagi ini adalah tugas piket Keyra. Setelah empat hari ini bersekolah di SMA Garuda ternyata cukup melelah kan. Lebih banyak tugas daripada saat ia SMP dahulu. Meskipun sekolah nya hanya sampai siang hari, tugas selalu ada dan menghantui. Baik itu di sekolah maupun di rumah.
Keyra menghembus kan nafas nya malas. Ia harus pergi ke gudang untuk mengambil sapu dan lap pel karena kelas mereka belum membeli nya.
Sial nya, alat kebersihan itu tidak ada di gudang kelas sepuluh karena menurut kabar stok alat kebersihan di sana sudah habis. Jadi, alat kebersihan itu ada di gudang kelas sebelas yang mengharus kan Keyra berjalan menyebrang lapang basket untuk sampai ke gedung kelas sebelas. Belum lagi ia harus naik turun tangga, bisa-bisa betis nya mirip seperti tukang becak.
Double s**l, teman-teman Keyra tidak ada yang berani untuk menemani nya. Keyra yang merasa tanggung jawab nya untuk piket hari ini tidak ada pilihan lain.
Ia berjalan atau lebih tepat nya berlari menyebrang ke lapang. Waktu masih pagi dan ia rasa cukup untuk piket sekarang mengingat pelajaran selanjut nya adalah pelajaran olahraga.
Triple s**l. Saat ia sedang mengatur nafas nya, ia melirik ke arah tangga kelas sebelas yang di sana ada tiga kakak kelas nya. Ketiga nya berpenampilan urakan dan selalu menggoda perempuan yang lewat di depan mereka.
Keyra melirik ke sana kemari berharap ada jalan lain untuk menuju gudang yang letak nya di atap sekolah. Tetapi nihil, hanya itu satu-satu nya jalan menuju ke atas.
Ia merutuki sekolah ini yang membuat sebuah gudang berada di paling atas. Memang, tiga gedung untuk tiga angkatan. Tiga lantai untuk tiga kelas.
Kelas Bahasa berada di lantai pertama, Kelas IPS berada di lantai kedua, dan kelas IPA berada di lantai paling atas.
Keyra menarik nafas nya dalam-dalam lalu membuang nya. Ia berucap doa dalam hati dan berjalan mantap ke arah tangga.
"Wiihh adek kelas nih."
"Cakep juga, siapa nama nya?"
Keyra tersenyum kikuk. "Permisi Kak, Aku mau lewat."
"Kalau mau lewat, jadi pacar gue dulu," ucap laki-laki yang memakai topi secara terbalik sehingga karet nya berada di depan.
"Aku mau lewat," ucap Keyra berusaha mengabaikan ucapan dan godaan dari mereka.
"Jadi pacar gue dulu. Baru boleh lewat," keukeuh nya sambil tersenyum jahil.
"Kak—"
"Minggir!!"
Keyra dan ketiga laki-laki itu sontak menoleh ke asal suara. Mereka semua sukses di buat bungkam tanpa bisa berkedip saat melihat tubuh jangkung itu. Apalagi saat melihat wajah tampan tersebut di hiasi beberapa luka yang membuat nya tambah sangar tetapi tetap tampan.
Bahkan, Keyra diam-diam meringis kecil seperti merasakan sakit dari luka yang cukup parah itu.
"Minggir!!" tekan laki-laki itu sekali lagi membuat tiga cowok yang menghalangi tangga itu menyingkir dengan patuh.
Keyra hanya diam mematung di tempat nya karena masih tidak dapat berpikir jernih sambil memperhatikan laki-laki tersebut berjalan menaiki tangga.
Sedangkan laki-laki berbandana hitam di lengan kiri nya itu menghentikan langkah nya di tangga dan berbalik menatap Keyra yang masih saja diam.
Terdengar decakan keras dengan mata berotasi malas.
"Cepet!!"
Keyra mengerjap kan mata nya. "Hah?"
Terdengar decakan lagi dari sana. "Lo mau lewat, kan?"
Seakan mendapat kesadaran nya kembali, Keyra mengangguk cepat membuat rambut yang ia kuncir kuda bergerak. Ia lalu berjalan menaiki tangga melewati tiga kakak kelas nya tadi dengan mudah.
Ia berjalan di belakang laki-laki tadi yang di punggung nya menggendong tas berwarna hitam dengan brand ternama. Bahu nya tegap dan punggung nya bergitu kokoh. Dari belakang saja laki-laki itu terlihat sangat tampan, apalagi dari depan.
Tunggu!!
Keyra menggelengkan kepala nya beberapa kali menghapus semua pesona laki-laki tadi. Tidak biasa nya ia seperti ini kepada orang asing.
BRUK!!
"Aduh!!"
Keyra mengusap kening nya yang menabrak sesuatu. Ia membuka mata nya lalu mendongak menatap laki-laki tadi yang ternyata berhenti mendadak membuat nya menabrak punggung itu.
"Kemana?" tanya suara berat tersebut tanpa membalik kan badan.
Keyra mengerutkan kening nya. Ia mengedarkan padangan nya dan ia melihat bahwa mereka sudah berada di lantai kelas IPA sekarang. Tidak terasa karena sedari tadi ia terus melamun.
"Eh, Aku mau ke gudang."
Terlihat laki-laki tersebut mengangguk dan berjalan terus ke atas. Keyra menggaruk kepala nya yang tak gatal dan memilih mengikuti nya dari belakang.
Langkah kakak kelas nya itu berhenti kembali membuat Keyra dengan sigap langsung berhenti agar tidak terantuk punggung itu lagi.
"Ujung."
Sempat tak mengerti. Namun, Keyra akhir nya paham saat melihat tatapan laki-laki jangkung itu yang menunjuk sebuah ruangan di ujung atap tersebut.
Keyra mengangguk lalu tersenyum. "Makasih, Kak!!" ucap nya riang.
Ia tahu dan ingat wajah laki-laki di hadapan nya ini. Tentu saja, ia adalah orang yang mengacangi nya dulu saat bertanya kelas. Namun ia lupa nama nya, padahal sering di perbincangkan oleh sahabat-sahabat nya. Ia mempunyai kelemahan mengingat nama seseorang.
Ah, tapi itu tidak penting.
"Hm."
Keyra berjalan menuju gudang tersebut dan mengambil beberapa sapu juga lap pel. Kebetulan di sana ada ember, jadi sekalian saja ia meminjam ember nya juga.
"Buset, dah. Gue gimana bawa nya kalau sebanyak ini?" gumam Keyra sambil melihat ada tiga sapu, tiga lap pel, dan dua ember yang harus ia bawa.
"Gue bakal demo ke si Raju buat beli alat kebersihan segera," ucap Keyra. Tangan mungil nya membawa semua barang itu dengan susah payah.
Saat sampai di luar pintu atap, Keyra terpekik terkejut karena melihat laki-laki yang merupakan Kakak kelas nya tadi masih ada di sana sedang berdiri menyender ke tembok dengan kedua tangan di masuk kan ke saku celana.
"Kaget!!" ucap Keyra sambil mengusap d**a nya. Ia kembali mengambil sapu dan lap pel yang jatuh tadi.
Tapi, dua tangan besar menghentikan itu. Keyra menatap kakak kelas nya tersebut dengan pandangan bingung.
"Gue bantu," ucap nya lalu berjalan turun meninggalkan Keyra dengan dua ember di tangan nya.
"Dia bantu gue?" cengo nya.
Keyra segera berlari menyusul laki-laki tadi yang sangat cepat berjalan. Ia menatap kedua tangan laki-laki itu yang sama sekali tidak kesusahan membawa tiga buah sapu dan lap pel tersebut.
"Minggir!!" ucap laki-laki itu kepada tiga cowok yang masih setia mejeng di tangga.
Keyra berjalan mendekat dan berlindung di belakang laki-laki tersebut hingga turun. Ia takut akan di goda lagi nanti.
"Udah Kak, sampe sini aja," ucap Keyra sedikit tak nyaman karena di tatap sedemikian rupa oleh semua orang karena berjalan berdampingan dengan laki-laki ini.
Sangat kentara bagaimana populer nya laki-laki di samping nya sekarang. Memang terlihat jelas sekali, wajah tampan rupawan dengan tubuh yang proposional sangat mengagumkan.
Tak mejawab pertanyaan Keyra. Laki-laki tersebut terus saja berjalan membuat Keyra menghela nafas nya.
"Kelas?"
Keyra tersentak kaget. "Hah?"
"Kelas mana?"
Keyra ber-oh ria. "Kelas X IPA 2."
Mereka berdua meneruskan langkah nya hingga ke kelas X IPA 2. Lumayan menguras tenaga di pagi ini. Keyra sedikit berkeringat dan ikatan rambut nya tak serapih sebelum nya. Ada beberapa anak rambut yang keluar dari kunciran nya. Namun, itu malah membuat Keyra semakin cantik dimata laki-laki.
"Makasih, Kak. Udah capek-capek bantuin aku."
Laki-laki itu mengangguk lalu melenggang pergi dengan kedua tangan yang di masuk kan ke saku celana. Pekikan dari beberapa kelas terdengar saat laki-laki tersebut melewati nya.
Keyra menatap laki-laki tadi yang raga nya menghilang di balik belokan tangga. Ia menggendik kan bahu nya lalu berjalan masuk kelas. Ia terkejut saat melihat semua teman sekelas nya terutama perempuan menatap nya tanpa berkedip. Mereka semua berdiri di atas meja dan tengah membungkuk ke arah jendela persis seperti orang yang tengah mengintip.
"Keyra."
"Lo.."
"Lo.."
"Keyra."
Keyra mengerut kan kening nya. "Kalian semua kenapa si?"
"KOK LO BISA SAMA KAK GARKA SIH??!!"
****
Aldi melihat Garka masuk ke kelas dengan wajah andalan nya. Datar dan dingin. Apalagi luka di wajah nya membuat siapapun pasti meneguk ludah nya. Semua teman sekelas nya menatap Garka dengan pandangan takut dan menegang kan.
Sebenar nya Garka tidak suka saat suasana kelas yang tadi nya gaduh dan ceria menjadi sepi dan senyap seperti ini. Tapi, ia tidak mau ambil pusing dengan semua itu.
"Abis dari mana lo? Dami bilang lo ke atap tadi."
Dami mengangguk sambil tangan nya menulis cepat beberapa angka yang terdapat di buku berbiodata kan Aiden itu. "Iya. Tadi gue liat lo lurus aja ke atap sama cewek. Gue kira lo mau bolos lagi."
Ilo dan Aldi mengerutkan kening nya mendengar tuturan Damian. Laki-laki itu baru memberitahu mereka perihal cewek. Sebelum nya Dami hanya bilang jika Garka ke atap, tidak ada cewek nya.
"Cewek?" ucap mereka berbarengan.
"Iya. Dari garis di baju nya si anak kelas sepuluh."
"Dede emes?" ucap Ilo. Ia lalu menunjuk Garka yang tengah duduk di samping Aiden dengan tangan nya.
"Hayoo.. Kecantol pesona dede emes."
"Ngawur!" ucap Garka lalu menenggelam kan kepala nya di antara lipatan tangan nya yang berada di atas meja. Ia sempat mendesis saat merasakan kembali perih pada luka di sudut bibir nya.
Sebenar nya mereka semua bahkan Aiden pun penasaran dengan ucapan Dami tentang seorang cewek itu. Karena selama ini, Garka tidak pernah di gosip kan dekat apalagi berpacaran dengan siapapun.
Jangan di ragukan, yang menyatakan cinta kepada Garka itu sangatlah banyak. Semua perempuan yang mengorban kan harga diri mereka untuk menyatakan perasaan nya kepada Garka, ia tolak dengan satu kalimat dingin. 'Gak.'
Tidak main-main pesona Garka. Ia bahkan di tembak oleh ratu SMA Garuda yaitu Kania. Di sebut ratu karena cewek itu sangat cantik dan mempunyai tubuh ideal sebab ia juga seorang model. Di saat semua laki-laki mengejar Kania mati-matian, cewek itu malah mengorban kan harga diri nya untuk mengemis cinta Garka. Hingga saat ini ambisi nya untuk mendapat kan Garka masih besar.
"Adik kelas siapa?" bisik Ilo sambil memukul tangan Dami yang sedang menulis membuat tulisan yang sudah seperti ceker ayam itu semakin jelek.
Dami mendengus kesal. "Mana gue tau. Yang gue liat tuh adik kelas rambut nya di kuncir satu kebelakang terus cantik," bisik Damian. Mereka tidak mau ambil resiko babak belur karena mengganggu Garka.
"Garka suka ke adik kelas?" gumam Aldi.
Aiden yang sedari tadi berfokus pada laptop nya kini menatap mereka semua. "Garka ketauan sama adik kelas bukan berarti dia suka kan? Bisa aja dia nolongin tuh adik kelas atau apapun," bisik Aiden juga sambil mencondongkan tubuh nya menjauhi Garka.
"Bener juga." Ilo berdecak kesal. "Padahal gue pengen Pak Ketua punya Bu Ketua. Seru juga, kan?"
Aldi terkekeh. "Bener. Gue pengen liat Garka jatuh cinta sama cewek," ucap nya yang di setujui oleh Dami dan Ilo. Mereka bertiga tertawa kecil menggosip kan Garka. Sedangkan Aiden hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah laku mereka yang menggosip kan seseorang tepat di hadapan mereka.
Ah, bukan nya bagus? Membicarakan orang lain di hadapan nya. Bukan di belakang kayak maling.
Garka menggeram. "Gue denger!"
Sontak ketiga nya menghentikan tawa nya lalu meringis kecil.
Habis lah mereka!!