Garka menatap pintu berwarna putih di hadapan nya. Tangan nya yang bergetar terulur membuka knop pintu. Dengan sangat pelan dan hati-hati, Garka masuk ke ruangan gelap tersebut.
"Ma.."
Garka menekan saklar lampu menjadikan ruangan yang berantakan itu terang. Terlihat di sana ada seorang wanita dengan rambut acak-acakan duduk di kasur dengan kedua tangan terikat rantai di kepala kasur.
"Ma.."
Wanita yang tadi nya menunduk itu kini mendongak. Garka sampai menahan nafas nya saat mata mereka bertemu. Terlihat wajah Mama kandung nya yang lelah dan terlihat sakit itu.
"Gevan? Itu kamu, Nak?"
Garka meneguk saliva nya lalu berjalan mendekat ke arah Hera—Mama nya.
"Ini Garka, Ma."
Hera menggeleng lemah. "Kamu Gevan."
"Ma.." Garka mengusap wajah tirus Hera. Sebulir bening jatuh di kedua mata Hera yang langsung di hapus oleh Garka dengan hati-hati.
"Garka kangen Mama."
Hera menatap putra bungsu nya itu. Ia melihat ada kesedihan dan kesakitan terpancar dari mata tajam yang sekarang tengah menatap nya lembut. Wajah babak belur Garka di mata nya seakan menghilang tergantikan wajah Garka yang dulu selalu tersenyum bahagia menanti nya setelah pulang bekerja.
Perasaan nya tidak karuan. Kini ia merasa sadar dan kemarahan sedang tidak hinggap di memori nya. Ia seratus persen tau dan sadar bahwa laki-laki di hadapan nya kini adalah Garka.
"Mama juga kangen kamu, Garka."
Garka tak dapat membendung nya lagi. Air mata yang sedari tadi ditahan nya kini keluar. Ia memeluk erat tubuh ringkih Mama nya.
"Mama kenapa jadi gini? Mama harus sembuh."
Hera hanya bisa menatap kosong ke arah jendela. Setelah kematian Gevan, Hera menjadi depresi dan hampir melakukan percobaan bunuh diri. Ia selalu membanting dan melempar apapun yang ada di hadapan nya seperti kemarin menjadikan nya harus di rantai seperti ini.
Jika di tanya apa yang membuat Garka bertahan hidup. Jawaban nya adalah Mama nya. Ia menyayangi Mama nya meskipun ia dalam kondisi seperti ini.
Garka melepas kan pelukan nya dan beralih mengusap kepala Mama nya itu. Tak ada lagi senyum bahagia seperti dulu saat melihat Garka dan Gevan memenang kan lomba. Tak ada raut wajah serius saat Mama nya sedang sibuk dengan pekerjaan nya.
Ia tidak peduli bahwa dulu Mama nya ini selalu mengacuh kan nya. Ia mencoba melupakan semua kesalahan Hera. Karena alasan nya yaitu Garka menyayangi Hera.
Jika orang dapat membaca pikiran, mungkin sekarang yang ada di benak Hera adalah menyesal. Dulu ia terlalu sibuk bekerja hingga menelantarkan kedua anak nya. Kini, setelah salah satu dari buah hati nya tiada, Hera baru menghentikan kesibukan nya dan itu pun karena depresi.
"Gevan."
Garka membenci ini. Ia benci melihat Mama nya yang selalu melamun dan menggumam kan nama Gevan. Ia benci melihat Mama nya yang selalu berkelakuan tidak normal. Ia juga benci kepada orang yang mengatakan bahwa Mama nya gila.
Garka berani bersumpah bahwa Mama nya tidak gila. Mama nya hanya merasakan duka yang sangat dalam pasca meninggal nya Gevan. Rasa bersalah nya menutup akal sehat Hera hingga ia selalu di bayangi itu.
Tak kuasa melihat Mama nya menderita seperti ini. Garka melihat jam tangan yang melingkar di lengan nya. Ia menghela nafas berat lalu berdehem pelan guna mengurangi kesedihan nya.
"Ma.. Garka pergi dulu, nanti Garka ke sini lagi." Garka mengusap pelan pipi Hera. "Mama cepat sembuh, ya. Biar bisa main bareng Garka lagi."
Hera diam tak merespon. Bahkan melirik saja tidak. Ia masih melamun dan tenggelam dalam dunia nya sendiri.
"Garka pamit," ucap nya lalu mencium kening Mama nya dan berjalan pergi.
Garka menutup pintu kamar Hera dengan pelan. Ia turun ke bawah dan berjalan mantap tanpa menatap Reno yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Mau kemana lagi kamu?!"
Garka tak menghirau kan pertanyaan itu. Ia terus melangkah keluar dengan pandangan yang tidak bersahabat.
"Garka!! Kamu mau kemana?!"
"Apa urusan buat Papa??!! Garka mau pergi kemana pun Papa tidak peduli, kan??!"
Reno terhenyak. Ia menatap tajam anak sulung nya itu. "Ya!! Bagus lah. Pergi dan jangan kembali lagi!!"
Garka sebisa mungkin menahan rasa sakit nya. Ia mati-matian menahan semua kepedihan nya hanya untuk bertahan demi Mama nya.
"Garka juga gak sudi ke sini. Garka kesini karena Mama," ucap nya datar lalu berjalan menaiki motor nya.
Terdengar suara deruman motor. Reno hanya diam berdiri di tempat semula sampai suara motor itu hilang tertelan bumi.
Wajah tua dan lelah dari Reno membuktikan bahwa ia juga merasa sedih. Hanya saja, ia menutupi itu agar terlihat kuat di mata semua orang.
"Hati-hati, Nak," gumam Reno pelan.
****
Aiden tengah memasangkan sebuah manekin di distro itu baju. Ia menoleh saat mendengar deruman mesin motor yang terparkir di depan distro.
"Muka lo," ucap Aidan syok saat melihat Garka masuk ke distro dengan raut muka menyeramkan.
Bagaimana tidak syok. Saat terakhir ia bertemu dengan Garka, laki-laki itu meskipun terdapat luka sehabis berantem dengan Bimo, tidak separah ini. Luka yang tadi siang sudah mengering kini kembali terbuka.
"Biasa," ucap Garka sangat santai lalu masuk ke sebuah pintu yang di dalam nya adalah sebuah ruangan tempat mereka bermalam.
Aiden menatap iba kepada Garka. Meskipun ia anak broken home, Ia masih bersyukur kedua orang tua nya tidak kasar kepada nya.
Di dalam ruangan yang mereka sebut Markas terlihat di sana sudah ada Dami, Aldi, dan juga Ilo yang tengah mengurut kan beberapa baju distro untuk di bungkus.
Mereka bertiga sontak melihat Garka dan ekspresi mereka kentara sekali bahwa mereka sangat terkejut.
"Garka, muka lo."
Garka hanya menggendikan bahu lalu berjalan menuju kamar mandi. Di dalam ruangan itu hampir mirip sebuah ruangan besar lengkap dengan kamar mandi dan juga tempat gym. Ditambah ruangan lain tempat biasanya Garka melakukan pemotretan model. Di ruangan itu juga terdapat dua buah kasur berukuran King dan dua buah sofa plus meja kayu jati. Ada juga peralatan elektronik yang sangat lengkap seperti kulkas, AC, televisi, dan lain-lain.
"Di amuk lagi sama bokap nya?" tanya Aldi sambil melipat baju distro.
"Gak tau. Kasian gue liat nya."
Ilo memukul pundak Dami. "Garka kalau denger lo ngasihani dia, bakal kena bogem lo. Garka gak suka di kasihani."
"Ya tapi, lo liat sendiri—"
"Gue liat." Ilo menghela nafas nya. "Itu urusan pribadi Garka. Selagi dia bisa ngatasin nya sendiri, kita yang sahabat nya cuma bisa dukung. Kalau Garka udah gak kuat dan butuh bantuan kita, baru kita bantu."
"Lo bener."
"Kita masing-masing punya masalah pribadi. Gue tau Garka kayak gimana, dia itu orang yang gak mau ngebagi beban hidup nya ke orang lain. Dia itu tipe orang yang mendam sendiri kesakitan nya biar gak ngefek ke yang lain."
Dami dan Aldi mengangguk paham. Ia mengerti perasaan Garka selama ini. Tingkah menyeramkan dan brutal itu hanya topeng untuk menutupi kesedihan nya. Kadang mereka juga salut kepada Garka karena laki-laki itu kuat menahan beban nya selama beberapa tahun belakangan ini sendirian.
Mereka juga malu sebenar nya saat melihat keluarga Garka yang seperti itu, tetapi laki-laki itu tetap kuat. Sedangkan mereka, di berikan keluarga harmonis dan damai tetapi masih mengeluh karena kedua orang tua mereka memarahi nya yang kadang lupa untuk pulang.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Garka melihat sendiri pantulan diri nya di cermin. Ia meringis kecil saat melihat luka-luka yang cukup parah ada di wajah nya. Pantas saja sahabat-sahabat nya itu terkejut.
Garka menyalakan keran lalu membasuh wajah nya. Terasa perih menjalar di sekitar wajah nya. Namun, tetap saja semua luka itu tak sebanding dengan luka di hati nya.
"Sebegitu benci kah Papa sama Garka?" gumam laki-laki itu sambil memejamkan mata nya.
"Gevan, kenapa lo lakuin itu?"
Garka tertawa sumbang mengingat kejadian sekitar dua tahun lalu atau pada saat ia masih kelas sembilan. Gevan terpaut beda satu tahun saja dengan nya yang arti nya Gevan sudah kelas satu SMA pada waktu itu.
Kejadian yang sebenar nya tidak pernah di inginkan Garka. Sebenar nya kata-kata Papa nya benar. Gevan meninggal karena diri nya. Gevan berusaha menyelamatkan nya, namun berakhir Gevan lah yang celaka.
Tapi, itu juga bukan semua salah nya. Gevan selalu bercerita bahwa Papa dan Mama nya selalu sibuk, mereka berdua memang selalu ditinggal berdua di rumah. Gevan yang mengidap penyakit Anemia itu merasa selalu kesepian dan lelah.
Garka yang notaben nya adik Gevan selalu menghibur abang nya itu. Beberapa kali Gevan bilang pada Garka bahwa ia hidup hanya merepotkan mereka saja, Gevan tidak mempunyai alasan untuk hidup. Mama dan Papa nya tidak menginginkan nya.
Semua nya berjalan begitu saja hingga suatu insiden membuat nyawa Gevan melayang. Seharus nya yang mati itu bukan Gevan, melain kan diri nya. Benar kata Papa.
"Gevan. Maafin gue," ucap Garka lirih.
****
TOK TOK TOK
"Keyra."
"Iya, Bunda?"
"Ada teman kamu di bawah."
Keyra bangkit dari duduk nya lalu membuka pintu. Di sana ada Bunda nya dengan seragam khas melekat di tubuh nya.
"Siapa, Bunda?"
"Anin sama siapa ya, bunda juga gak tau." Cika melihat jam di tangan nya yang menunjuk kan pukul satu siang. "Bunda mau ke rumah pasien. Ayah belum pulang, dia ada jadwal operasi. Abang kamu masih di kamar nya, dia jadwal sore kata nya."
"Ada eskrim gak?" tanya Keyra.
"Ada. Bunda kemarin udah beli, kasih juga ke teman-teman kamu." Keyra mengangguk.
"Bunda berangkat, ya," ucap Cika lalu mengecup kening Keyra membuat gadis itu tersenyum.
"Hati-hati, Bunda."
Cika mengangguk lalu turun ke bawah. Ia berangkat menggunakan mobil setelah pamit kepada teman-teman Keyra.
"Anin? Riri? Kok lo berdua ke sini?"
Anin dan Riri beralih menatap Keyra yang memakai pakaian casual. Jika saja Riri dan Anin adalah laki-laki, mungkin mereka akan terpesona melihat penampilan Keyra yang sangat cantik memakai pakaian itu.
"Riri kata nya mau tau rumah lo. Dia juga udah tau rumah gue."
Riri mengangguk. "Iya, biar kapan-kapan gue main ke rumah kalian."
Keyra mengangguk lalu duduk di sofa berhadapan dengan Riri dan Anin. "Mona gak di ajak?"
"Dia gak mau."
Keyra mengangguk lalu berjalan ke dapur mengambil eskrim yang kata Bunda nya ada di kulkas.
"Rumah lo gede. Tapi bau obat sama bau rumah sakit," ucap Riri sambil mengedar kan pandangan nya di ruang tamu berdominasikan cat berwarna putih bersih itu. Terdapat banyak foto besar berisikan empat orang berbeda generasi disana. Keyra termasuk dalam semua foto itu. "Abang lo ganteng."
"Wajar lah. Nyokap nya psikolog, Bokap nya dokter ahli bedah, Abang nya dokter spesialis penyakit dalam," ucap Anin.
Riri melebar kan mata nya. "Serius?!! Wihh, keren!!"
Keyra kembali ke hadapan sahabat-sahabat nya dengan membawa tiga bungkus eskrim di dalam wadah besar.
"Iya, makanya gue cinta kebersihan," ucap Keyra sambil menyuap kan sesendok eskrim rasa coklat ke mulut nya.
"Nyokap lo yang tadi? Cantik banget," ucap Riri.
"Iyalah. Anak nya juga cantik."
"Dih jijik."
Mereka semua tertawa bahagia sambil menikmati eskrim sampai matahari berganti menjadi kegelapan.