Setelah pulih dari rasa keterkejutannya, ia duduk di kursi yang sudah Yoga tarik untuknya. “Aku tidak menyangka kamu melamar di perusahaanku.” Pria itu memulai percakapan. Wajah Tif masih kaget tapi sudah sanggup mencerna semuanya. Ia menjawab pria itu. “Saya juga tidak menyangka kamu pemilik perusahaan ini.” Jika dipikir lagi, ia ingat sebelumnya pernah membaca dan mendengar bahwa pemilik perusahaan ini bernama Yoga. Tapi ia tidak mempunyai pikiran bahwa itu adalah Yoga yang sama dengan yang ia kenal. Bukan hanya yang ia kenal, tapi Yoga yang ini adalah Yoga yang sama yang pernah menjadi pacarnya. pacar pertama, dan juga cinta pertama. Pria itu menyunggingkan senyum saat mendengar jawaban kaku wanita di hadapannya. “Apa kabar?” Tif memandang pria itu, “Baik pak.” Yoga tertawa kecil

