Bab 3

1093 Words
Aku sudah siap dengan seragam putih abu-abu membalut tubuhku. Tas punggung yang warnanya sudah mulai memudar terasa berat oleh buku-buku tugasku, Ibu sudah berangkat ke rumah majikannya setengah jam yang lalu. Aku mengunci pintu dan menyimpan anak kuncinya di saku terluar tasku. Sedangkan Ibu membawa anak kunci satunya lagi, untuk memudahkan kami memasuki rumah aku dan Ibu biasa membawa kunci sendiri-sendiri karena memang setiap hari tidak pasti aku atau Ibu yang akan pulang terlebih dahulu. Kuambil sepeda yang tersandar di dinding sebelah rumah, kunaiki sadelnya dan segera mengayuh dengan kecepatan penuh mengingat hari yang sudah mulai siang tetapi baru sampai halaman terdengar bunyi 'kletek...' dari bagian pedal sepeda yang kunaiki. Aku turun untuk memeriksanya, dan ternyata rantainya putus. Lokasi sekolah memang tidak begitu jauh dari rumah tapi akan membutuhkan waktu lumayan lama jika ditempuh dengan berjalan "lebih baik aku ke rumah Pakdhe Subagyo dulu untuk meminjam sepeda," aku bersenandika, tentu saja tidak ada yang bisa mendengarnya. Kusandarkan lagi sepeda di pagar halaman rumah yang terbuat dari anyaman bambu, saat kulihat Mas Aldo mengayuh sepeda milik Pakde Subagyo yang di kendarai Mas Wahyu saat menjemputku tadi sore. Dia menghentikan sepedanya di hadapanku yang sudah siap melangkahkan kaki menuju rumah Pakde Subagyo. "Rayisa? Mau berangkat sekolah ya?" tanyanya. "Sebenernya udah mau berangkat Mas, tapi rantai sepedaku putus, ini aku mau kerumah Pakde mau pinjem sepeda." terangmu. Namun, aku ragu melihat sapeda itu kini sedang dipakai Mas Aldo. "Pakde kamu, Bapaknya Wahyu 'kan! Ini sepedanya aku pake." katanya sembari menepuk stang sepeda. "Iya," jawabku sambil menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal. "Ya udah, ayo naik." ajaknya bersemangat. "Hah ... Naik kemana? " jawabku bingung. "Ya naik ke boncengan 'lah Rayisa, masa naik ke genteng! Ayo aku anterin." ucapnya meyakinkan. "Tapi ...," aku ragu, atau tepatnya malu. "Tapi kamu mau dimarahin guru karena terlambat sampai di sekolah?" katanya lagi. Tanpa banyak bicara akhirnya kuturuti niat baiknya untuk mengantarku kesekolah, perlahan Mas Aldo mengayuh sepeda terlihat sekali dia sangat menikmati udara sejuk pagi ini. udara sejuk yang katanya tidak pernah ia dapati di Jakarta. "kalau jalannya lambat begini,sama saja bohong! aku juga tetap akan terlambat tiba di sekolah." gerutuku dalam hati. "Mas, bisa lebih cepet lagi nggak jalannya? kalo lambat begini, aku bakalan telat juga." ujarku. Tanpa menjawab perkataanku tiba-tiba 'wwuuuss ...' Mas Aldo mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi, hingga aku yang belum siap dan tanpa berpegangan hampir terjengkang dibuatnya. maka spontan kulingkarkan lengan dipinggangnya berpegang dengan kuat dengan meremas jaket kain yang ia kenakan. tidak lama kemudian kayuhannya terhenti, kami sampai di tujuan. Aku melongok gerbang sekolah yang telah tertutup rapat, aku terlambat. "Ray ..." Mas Aldo menyebut namaku. "Rayisa!" ulangnya, karena tidak mendengar jawabanku yang sedang fokus memandang pagar sekolah. Astaga, aku baru sadar masih memeluk pinggangnya. Tiba-tiba terasa pipiku memanas mungkin sekarang warnanya sudah semerah kepiting rebus karena menahan malu. "Eh, maaf Mas. dan terima kasih udah nganterin," ucapku setengah berteriak sambil berlari menghampiri penjaga sekolah yang selalu menjaga pintu pagar, bisa kulihat Mas Aldo tercengang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan senyum. "Pak, Pak Gimin ... tolong bukain ya Pak, Please ...," ucapku pada penjaga sekolah dengan menangkupkan kedua tanganku di d**a. "Nggak bisa nduk, Bapak harus menjalankan tugas menjaga kedisiplinan sekolah, kalau sekarang Bapak bukain pintu buat kamu. itu bakal jadi contoh buruk bagi murid yang lainnya," jawab Pak Gimin tegas. "Sekali ini aja Pak, selama saya sekolah baru kali ini saya terlambat Pak." aku masih berusaha memelas pada Pak Gimin. Lalu terdengar suara dari balik gerbang, "biarkan dia masuk, Pak," itu suara Pak Budiman wali kelasku. Segera pintu gerbang sedikit terbuka, hanya cukup untuk tubuhku menyelinap masuk. "Terima kasih, Pak." ucapku pada Pak Gimin yang di balas dengan anggukan kepala. "Oh, pantes terlambat. dianterin pacarnya tho!" sindir Pak Budiman sambil melongokkan kepalanya keluar gerbang melihat seorang pemuda yang masih dengan setia berdiri sambil memegang sepedanya, Mas Aldo. mungkin menunggu memastikan kalau aku bisa masuk sekolah atau tidak. "Eh, enggak. bukan begitu, Pak. tadi sepeda saya rantainya putus makanya saya di anterin temen, tapi tetep terlambat juga." Terangku pada Pak Budiman yang berjalan cepat kedalam kelas tanpa mendengarkanku, tapi aku tidak perduli, yang penting aku sudah di izinkan masuk sekolah "Terima kasih, Pak." +++ "Ntan, aku nebeng kamu ya. aku nggak bawa sepeda," pintaku pada Intan yang berjalan di sampingku setelah keluar dari kelas setelah jam sekolah usai, dia memang selalu mengendarai sepeda motor bila kesekolah karena rumahnya yang lumayan jauh. "Emangnya kamu enggak di jemput sama pacarmu itu?" tanyanya meledekku. "Iisshh kamu ini, udah tak bilang dia bukan pacarku. wong kita juga baru kenal kok," tegasku. "Baru kenal tapi udah mau anter jemput, berarti calon pacar yang baik itu!" celetuknya. "Au ah gelap!" jawabku ngasal. "Pake lilin makanya biar nggak gelap!" jawab Intan sewot padaku yang lalu bergelayut manja di lengan sahabatku itu. Setelah mengeluarkan sepeda motor dari parkiran, aku memboncengnya. sampai di depan gerbang Intan menghentikan laju kendaraannya dan menjawil tanganku. "Ray ..." "Hheemm ..." "Rayisa! itu liat." Intan menunjuk seseorang yang tengah menungguku di atas sepeda motor matic milik Budhe Nanik istri Pakdhe Subagyo. Aku segera turun dari boncengan Intan dan memberikan helm padanya. "Cie ...," ledeknya sambil senyum-senyum. "Apaan sih!" jawabku menahan malu, karena tingkah kami menjadi perhatian murid-murid lain dan Mas Aldo juga tentunya. "Mas Aldo, ngapain? harusnya nggak usah repot-repot jemput aku. aku 'kan bisa nebeng temen." ucapku sesaat setelah berdiri di sampingnya. "Tadinya Wahyu yang mau jemput, tapi dia di suruh Ibunya ngupas kelapa," jawab Mas Aldo sambil terkekeh geli menceritakan sahabatnya yang sedang mengupas kelapa. "Oohh ...," jawabku. sembari menerima helm yang ia ulurkan. Kami banyak diam sepanjang perjalanan, bingung mau membicarakan apa, terlebih lagi karena kami menggunakan sepeda motor hingga perjalanan menjadi semakin singkat. "Terima kasih ya, Mas." ucapku sambil memberikan helm yang kupakai padanya. "Iya," jawabnya sambil tersenyum, senyum itu membuat hatiku berdegup semakin kencang. ada apa dengan hatiku? +++ "Monggo kue-nya Mbak, ada poci-poci, nagasari, klepon dan lainnya." tawarku pada setiap orang yang kutemui, baik yang sedang duduk-duduk santai ataupun yang sedang berjalan sambil bercengkrama dengan pasangan atau keluarga masing-masing. Aku melihat ke arah keranjang yang kubawa, hanya tersisa beberapa bungkus saja, tapi rasanya sayang jika kubawa pulang lebih baik aku menunggu sebentar lagi, siapa tau ada orang yang akan membelinya. Aku tersenyum lega saat mendengar, "Mbak, saya mau beli semua kue-nya ya," tapi suaranya sangat kukenal. aku mendongak demi melihat siapa yang berdiri di hadapanku. Mas Wahyu, nyengir kuda melihatku. "Ekspresi macam apa itu! nggak seneng liat Mas disini?" gerutunya sambil mengambil kue onde-onde dan memakannya lalu duduk di sebelahku. Sedangkan didepanku Mas Aldo melihatku dengan ekspresi yang aneh. "Aku sudah banyak bertemu wanita, tapi baru kali ini bertemu dengan wanita seperti dia, selain fisiknya yang nyaris sempurna dimataku, dia juga wanita yang luar biasa. kuat, mandiri, baik hati dan sederhana. entah kenapa walau baru beberapa hari bertemu tapi rasanya seperti sudah lama sekali mengenalnya, rasany mudah sekali baginya menjadi penghuni hatiku." suara hati Aldo yang hanya terekspresi lewat senyuman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD