Bab 4

995 Words
Siang ini sepulang sekolah aku mampir ke rumah Bu Ita, bukan untuk mengambil kue seperti biasanya tapi untuk bilang sore ini aku tidak bisa berjualan. sore mungkin hingga malam nanti aku harus ikut bantu-bantu di rumah Budhe Nanik, mempersiapkan hajatan khitanan Mas Wisnu, adik semata wayangnya Mas Wahyu. Mas Wisnu memang baru kelas lima sekolah dasar, tapi karena dia adalah kakak sepupuku maka aku biasa memanggilnya Mas, begitulah adat dan tradisi disini. Ibuku juga hari ini tidak berangkat berkerja, sedari pagi beliau sudah berada di rumah Budhe Nanik. Membantu para rewang memasak untuk acara prasmanan dan walimahan. Setelah mengganti pakaian aku segera pergi ke rumah Budhe Nanik, di sana sudah ramai oleh para tetamu yang datang silih berganti dan para tetangga yang sengaja datang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Aku segera ke dapur menemui Ibu, berniat juga membantu meringankan pekerjaannya. "Rayisa, kamu udah pulang sekolah nduk?" sapa Ibu begitu melihatku. "Iya, Bu. sini Rayisa bantu Bu." ucapku sambil mengambil alih pisau dapur yang sedang Ibu gunakan untuk memotong lontong sebagai pelengkap tauto atau soto tauco khas pekalongan. "Udah, bantunya ntar aja. sekarang kamu makan dulu sana." perintah Ibu, beliau memang sangat pengertian, "tau aja aku udah laper," bisikku dalam hati. "Rayisa! sini." panggil Mas Wahyu melihatku yang celingukan mencari kursi kosong sambil membawa sepiring nasi. Aku segera mendekat dan menduduki kursi kosong di sebelahnya, "Mas Wahyu udah makan?" tanyaku berbasa-basi, padahal dalam hatiku sudah tau dia pasti sudah makan atau mungkin tidak berhenti makan sejak pagi, mengingat semua makanan kesukaannya terhidang disini, seperti tauto, megono, garang asem dan pindang tetel. juga berbagai kue tradisional seperti serabi, apem kesesi, kue lumpang dan teman-temannya. bisa menggendut seketika dia! "Heh, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Mas Wahyu sambil menjentikkan jari di depan wajahku. "Ah nggak-nggak apa-apa kok," kilahku. "padahal aku sedang membayangkan Mas Wahyu yang tiba-tiba gendut karena kebanyakan menikmati kelezatan makanan khas Pekalongan ini." aku terkikik dalam hati. "Mas," panggilku, Mas Wahyu segera menoleh. "Iya, Ada apa?" jawabnya. "Mas Aldo mana? kok nggak keliatan?" Alis Mas Wahyu naik satu, "kenapa kangen ya?" ledeknya. "Ih ... nggak!" "Nggak apa? nggak salah lagi?" Mas Wahyu terus meledekku kini satu sisi alisnya di gerakan naik dan turun dengan bibirnya yang tersenyum lebar, menggemaskan. membuatku ingin melemparnya dengan tempe mendoan yang baru setengah kumakan. "Tuh, dia di sana," Mas Wahyu mengacungkan jarinya pada lelaki yang sedang duduk bersila di samping para panjak--penabuh gamelan dalam pagelaran wayang. "Serius banget nontonnya kayak ngerti bahasanya aja!" celetukku melihatnya yang sangat serius melihat dalang yang sedang melakonkan wayang-wayangnya. "Terus mau kamu, dia seriusnya sama kamu aja gitu?" kembali Mas Wahyu meledekku. "Ih apaan sih Mas Wahyu, dari tadi nggak jelas!" sewotku meninggalkan Mas Wahyu yang kini tertawa geli setelah puas meledekku. +++ Semakin malam suasana di rumah ini semakin ramai, para tamu tetap datang silih berganti di tambah lagi tamu Pakdhe Subagyo yang kebanyakan memang baru datang di malam hari membuat kami para rewang semakin sibuk dibuatnya. Aku sedang menyusun gelas yang siap diisi dengan teh hangat untuk para tamu saat mendengar kegaduhan di dapur, "Ada apa sih di dapur rame banget?" aku bertanya-tanya dalam hati. "Rayisa, Ibumu pingsan." pekik Mbak Daryuni tetangga kami yang sedang rewang masak bersama Ibu. Aku segera berlari ke dapur guna memastikan keadaan Ibu, tapi kakiku terasa lemas, sepertinya tulangku lunglai karena kecemasan. "Bu, bangun Bu! Ibu kenapa?" tak terasa airmata mengalir dari sudut mataku. Suasana dapur seketika menjadi riuh, Budhe Nanik memeluk menenangkanku. Mas Wahyu dan beberapa tetangga membopong tubuh Ibu menuju mobil, saat itu juga Ibu dibawa ke rumah sakit. Saat-saat seperti ini waktu terasa lambat sekali berjalan, aku duduk bersama Mas Wahyu dan beberapa tetangga kami di ruang tunggu IGD. aku seketika mendekat saat seorang dokter keluar menemui kami. "Keluarga Ibu Rahayu?" tanya dokter cantik tersebut. "Saya anaknya dok ... bagaimana keadaan Ibu saya?" cecarku pada wanita yang berdiri di hadapanku. "Bu Rahayu tidak apa-apa, hanya tekanan darahnya saja rendah. dan sepertinya beliau kelelahan. beliau harus dirawat beberapa hari di sini," terangnya sambil tersenyum. "Alhamdulillah ...," ucapku lega. "Bu Rahayu akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. hanya boleh dua orang saja yang menunggu ya. saya permisi dulu." pamit dokter itu pada kami. "Iya, terima kasih banyak dok ..." ujarku yang di balas anggukan dan senyum manisnya. "Kalian pulang aja, di rumah 'kan lagi repot," ucapku pada Mas Wahyu dan yang lainnya. "Tapi kamu gimana nduk?" tanya Mbak Daryuni mencemaskanku. "Aku sendiri juga nggak apa-apa Mbak," jawabku. "Mas temenin ya dek?" tawaran dari Mas Wahyu. "Jangan dong Mas, di rumah 'kan lagi hajatan. masa Mas Wahyu nggak di rumah," tolakku halus. "Udah Yu, kamu sama yang lain pulang aja, biar aku yang nemenin Rayisa di sini." Mas Aldo yang sedari tadi diam memperhatikan kini angkat bicara. dan mendapat persetujuan dari semua. "Mas Aldo nggak apa-apa nemenin aku di sini?" tanyaku mengawali pembicaraan karena sejak tiba di ruang perawatan Ibu, kami hanya diam. sementara Ibu sudah terlelap mungkin pengaruh obat tidur yang dokter berikan agar Ibu bisa istirahat total. "Ya nggak apa-apa, emang kenapa? atau kamu yang keberatan? kamu nggak nyaman deket-dekat sama aku?" jawabnya dengan banyak pertanyaan. "buset deh nih cowok! dikasih satu pertanyaan malah di bales banyak banget pertanyaan, ngelebihin emak-emak deh!" geturuku, tentu saja dalam hati. "Eemm ... nggak bukannya begitu Mas, aku nggak enak aja ngerepotin kamu." jawabku pelan. "Nggak apa-apa Rayisa, aku seneng bisa nemenin kamu. aku nggak tega ngebiarin kamu jagain Ibu kamu sendirian." katanya di susul sebuah senyuman hangat, sehangat hatiku menerima perhatiannya. Lalu ... hening. Airmataku menganak sungai di pipi melihat Ibu yang terbaring lemah, fikiranku melayang sebuah kecemasan merasuk dalam kalbu. "Rayisa? kamu baik-baik aja?" tanya Mas Aldo lembut melihatku menangis. "Aku takut Mas, aku takut Ibu nggak akan baik-baik aja," pandanganku menerawang. "Tadi 'kan kamu dengar sendiri dokter bilang kalau Ibu kamu akan baik-baik aja." jawab Mas Aldo. "Aku takut, di saat waktu yang aku miliki bersama Ibu tidak akan lama lagi, tapi aku belum bisa membahagiakannya. kamu tau Mas, hal yang paling membuatku takut adalah mengecewakan Ibu." aku menguntai cerita. "Rayisa, Ibu kamu pasti bangga punya anak seperti kamu." "Iya, karena hanya aku yang Ibu miliki. dan hanya Ibu yang aku miliki." "Kamu salah Rayisa, kamu punya keluarga Wahyu. mereka juga sangat menyayangi kamu." "Iya Mas, Aku tau." "Dan ..." "Dan apa Mas?" "Kamu punya aku ..." "..." Hening ... Hanya kupu-kupu merah jambu yang seketika berterbangan di hati keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD