Bab 5

1007 Words
Sudah tiga hari Ibu dirawat di rumah sakit, aku dan Mas Wahyu beserta Mas Aldo selalu bergantian menjaganya jika pagi aku ke sekolah maka Mas Wahyu dan Mas Aldo yang akan menjaga Ibu, kadang kala pakde Subagyo dan bude Nanik juga bergantian menjaga Ibu. Aku bersyukur sekali memiliki pakde Subagyo dan keluarganya yang sangat menyayangi kami. Pakde Subagyo adalah kakak satu-satunya almarhum Bapak, meskipun Bapak sudah lama meninggal dunia tapi mereka tetap menyayangi kami layaknya keluarga sendiri. Almarhum Bapak bukanlah orang kaya, semasa hidupnya beliau bekerja di tempat pengrajin batik tulis Pekalongan milik orang tua bude Nanik yang sampai saat ini masih menjadi mata pencaharian keluarga pakde Subagyo, sepeninggalan Bapak, Ibu harus bekerja serabutan kadang menenun, kadang membatik kadang menjadi asisten rumah tangga, beruntung Bapak meninggalkan sepetak tanah dan rumah tempat kami bernaung saat ini. Sejak Ibu dirawat, sepulang sekolah aku langsung ke rumah sakit untuk menjaga Ibu, kegiatanku berjualan terpaksa aku hentikan dulu. Begitupun siang ini, begitu jam sekolah usai aku langsung datang ke rumah sakit rencananya sore nanti Ibu sudah diperbolehkan pulang. Begitu sampai di ambang pintu ruang perawatan aku bisa melihat Ibu sedang berbincang-bincang dengan Mas Aldo, sedangkan Mas Wahyu asik tersenyum-senyum dengan gawainya. Sengaja aku tidak langsung masuk, untuk sedikit mencuri dengar apa yang sedang mereka bincangkan. "Terima kasih ya nak Aldo, udah mau jagain Ibu. Ibu jadi nggak enak, kamu di sini tamu tapi Ibu malah ngerepotin Nak Aldo," tutur Ibu lembut, diiringi senyum manisnya yang selalu terasa menyejukkan. "Enggak apa-apa kok, Bu. Aldo seneng bisa jagain Ibu," jawab Mas Aldo. "Jangan percaya Bulek. Aldo tuh modus! Dia cuma seneng karena di sini bisa ketemu Rayisa terus," celetuk Mas Wahyu tiba-tiba yang dibalas lemparan bantal ke wajahnya yang sedang tertawa cekikikan. "Enggak ... Nggak, Bu. Jangan percaya Wahyu dia suka ngasal kalo ngomong!" sanggah Mas Aldo menahan malu. "Udah-udah jangan bercanda terus! Berisik nanti dimarahin suster lho," ucap Ibu, melerai. "Assalammualaikum," salamku begitu masuk. "Waalaikum salam." jawaban kompak yang kudapat. "Udah makan, Nduk?" tanya Ibu. "Udah, Bu. Tadi di kantin sekolah," jawabku setelah mencium punggung tangannya. "Rayisa, kok sama Mas Aldo nggak cium tangan juga?" tanya Mas Wahyu sambil mengedipkan satu matanya menggodaku. "Nggak 'kan bukan muhrim," jawabku ringan. "Kalo gitu mau dong di jadiin muhrim, Aldo udah siap tuh." Lagi-lagi Mas Aldo berceloteh tidak jelas yang di sambut sebuah tinjuan di lengan kanannya oleh Mas Aldo "Apaan sih Yu! Sembarangan kalo ngomong!" Mas Aldo melirikku lalu berpaling menyembunyikan senyum terkulumnya. "Tapi bener 'kan!" Mas Wahyu terus terkekeh tertahan mungkin dia sadar tidak boleh berisik di rumah sakit. Ibu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah mereka, aku merasakan hangat menjalar di kedua pipiku lalu berpaling menyembunyikan rasa malu, tapi malah melihat Ibu yang sedang tersenyum geli melihat tingkahku. Aduh ... Aku jadi semakin malu. +++ Pagi di hari Minggu, rumah sedikit berantakan karena tak tersentuh selama tiga hari Ibu jadi pasien rumah sakit dan aku jarang pulang ke rumah, aku sedang menyapu sedangkan Ibu memasak untuk sarapan kami. Sebenarnya aku yang hendak memasak dan meminta Ibu tetap istirahat, tapi Ibu menolak beliau bilang sudah cukup lama beristirahat di rumah sakit, badannya justru pegal-pegal jika tidak beraktifitas. Usai sarapan kami mendengar suara pintu di ketuk, "biar Ibu aja yang buka," kata Ibu seraya berlalu sedangkan aku membereskan piring bekas makan tadi. "Nduk Rayisa, ayo ikut pakde nganterin Mas mu ke terminal, nanti pulangnya kamu yang bawa sepeda motor yang satunya lagi, bude-mu nggak bisa nganterin Wisnu nggak mau di tinggal," ajak pakde Subagyo begitu melihatku di ambang pintu hendak keluar guna melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Entah kenapa mendengar perkataan pakde, hatiku berdesir. Merasa ... Entahlah. "Mas Wahyu mau berangkat ke Jakarta lagi ya pakde?" tanyaku tak bersemangat. "Iya, besok mereka sudah harus mulai kuliah," jawab pakde, "Wahyu dan Aldo juga minta maaf nggak sempet pamitan kesini Yu," imbuh pakde kini berbicara pada Ibu. "Nggak apa-apa Kang, sampein sama mereka hati-hati." "Iya Yu," jawab pakde, "ayo nduk," ajak pakde membuatku menyusul langkahnya. Sepanjang perjalanan menuju terminal. Aku diam di boncengan sepeda motor pakde, sesekali jemariku saling meremas. Refleksi dari perasaan yang aku sendiri tidak tau apa namanya, sesekali pandanganku beradu dengan Mas Aldo yang berboncengan dengan Mas Wahyu ketika sepeda motor yang kami tumpangi harus berjalan sejajar. Ada yang aneh dengan lirikan matanya, seolah ada kata yang tak terucap. Atau bahasa yang tidak di mengerti. Aku berdiri di samping bus besar yang siap membawa penumpangnya meninggalkan kota ini, Mas Wahyu dan Pakde sedang membeli tiket. Angin pagi yang bertiup sepoi-sepoi membuat ujung jilbab berwarna jingga yang kukenakan sedikit melambai, aku terkesiap mendengan namaku di sebut dari belakang. "Rayisa ..." Seketika aku menoleh, membalikkan badanku hingga kami saling berhadapan dengan jarak yang tidak begitu jauh "Mas Aldo," sedikit bergetar lidahku menyebut namanya, aku gugup. Berusaha ku sembunyikan dengan mengalihkan pandangan, atau lebih tepatnya aku tidak kuat beradu pandang dengan sepasang netra berwarna coklat yang di dalamnya tersimpan sebuah rasa. Rasa yang entah apa, yang membuat seolah ada ribuan semut yang menggelitik hatiku bila bertemu dengannya. Rasa yang entah apa, yang membuat sekujur tubuhku menghangat jika teringat tentang dia. Bibirnya yang alami berwarna merah muda yang membuatku malu bila tak sengaja melihat senyumnya sedikit terbuka menandakan ada kata yang akan tercipta. "Rayisa, aku ...," kalimatnya tiba-tiba terhenti ketika lelaki yang selalu bertingkah konyol menyenggol lengannya dari belakang dengan sikunya, Mas Wahyu. "Udah, kalo emang jodoh juga nanti bakal ketemu lagi! Iya 'kan Pa'e!?" celetuknya yang meminta pembenaran dari sang Ayah. Pakde Subagyo hanya tersenyum mendengar perkataan anaknya. "Udah, ayok naik. Ntar ketinggalan bis, malah seneng kamu!" ucap Mas Wahyu sambil menarik lengan temannya yang sedari tadi hanya diam sambil senyum-senyum melihat tingkah anehnya. Lalu menyalami mencium tangan pakde Subagyo. "Assalammualaikum ... Rayisa," salam terakhir Mas Aldo di iringi senyum manisnya, yang mungkin akan aku rindukan. "Waalaikum salam ...," jawabku lirih, aku menunduk menyembunyikan wajahku yang kembali menghangat. Benar saja tidak lama setelah mereka naik, bus kemudian melaju perlahan meninggalkan terminal ini. Melihatku yang terus saja melihat bagian belakang bus yang semakin menjauh pakde Subagyo membelai lembut pucuk kepalaku, "udah nduk, bener kata Mas mu tadi. Kalo emang jodoh nanti pasti bakal ketemu lagi," ucapnya sambil tersenyum. "Apaan sih Pakde, Mas Wahyu kok di dengerin." jawabku malu. "Tapi emang bener lho ...," ucapnya ku sela, "udah Pakde, ayo kita pulang," ajakku mengalihkan perhatian, tidak tahan dengan pembicaraan yang membuatku salah tingkah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD