Bis besar yang kutumpangi melaju pesat membuat pepohonan di kiri dan kanan jalan seolah melesat berkejaran seperti bayangan dan kenangan yang masih berkejaran di ingatan.
Bersandar di kaca jendela menyaksikan lalu lalang kegiatan di jalan raya sedikit menghibur hatiku yang sedikit merana sementara sahabat di sisiku terlelap dengan nikmatnya.
Rayisa sebuah nama yang tiba-tiba akrab menjadi sapa dan lekat di telinga, mungkin juga telah menjadi rasa?
Baru beberapa hari mengenalnya tapi kehadirannya telah menjadi candu yang memabukkan jiwa, Ah mungkin ini hanya emosi sesaat rasa yang akan segera hilang dan menguap.
Bukankah bagiku seorang Aldo Dyaksa wanita hanyalah hal biasa, biasa datang silih berganti mengelilingi, tapi rasanya Rayisa berbeda. Senyumnya selalu terlihat tulus berbeda dengan senyum wanita lain yang menutupi sebuah dusta.
"Aahh sial, perasaan apa ini?" gerutuku di dalam hati. lalu mengambil gawai membuka sebuah kontak dengan gambar gadis cantik berkerudung merah jambu tersenyum hangat, Rayisa nama yang tersemat.
Aku Aldo Dyaksa, pemuda yang kata orang tampan rupawan, kata orang nih ya ... masa iya mau muji diri sendiri, walaupun emang bener sih.
Anak sulung dari pengusaha kaya raya, Marlina Angelin Mamaku wanita cantik keturunan jawa tionghoa, sedangkan Papaku Indra Dyaksa lelaki gagah dan baik hati keturunan jawa arab.
Sudah bisa dibayangkan bagaimana kerupawananku karena memiliki darah blasteran dari kedua orang tua?
Aku memiliki seorang adik perempuan yang juga cantik mirip Mama, sama sepertiku orang bilang aku juga lebih mirip Mama. namanya Marissa Aulia sekarang kelas tiga SMA yah seumuran sama Rayisa 'lah. tuh 'kan keingetan Rayisa lagi!
Aku sekarang kuliah di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Jakarta bareng sama sahabat baikku yang sedikit gila ini, eh tapi karena dia aku jadi kenal Rayisa, hehehe Rayisa lagi ... Rayisa lagi!
Nggak tau kenapa fikiranku selalu tertuju pada dia, rasanya belum pernah ada wanita yang membuatku seperti ini, selama ini setiap wanita yang ada dalam hidupku hanya bagaikan semilir angin saja datangnya menyejukkan lalu hilang tanpa meninggalkan jejak.
[Hay Rayisa]
Sebuah pesan yang kuketik tetapi batal kukirimkan, rasanya malu juga karena belum juga genap sehari kami berpisah.
Tapi ... apa? malu? sejak kapan aku merasa malu pada seorang gadis? atau karena biasanya para gadis yang selalu menghubungiku lebih dulu. tidak seperti Rayisa, sejak memiliki nomerku belum sekalipun ia menghubungiku padahal biasanya seorang wanita pasti langsung berulangkali menghubungiku setelah mereka memiliki nomerku, entah darimana mereka mendapatkannya.
Baru kali ini aku bertemu seorang gadis seperti Rayisa yang selalu bisa menjaga harga dirinya, walapun kadang aku kerap memergokinya tengah mencuri pandang padaku, lalu berpaling arah dengan mengulum senyum jika pandangan kami saling beradu. Ah ... Senyuman itu yang membuatku merindu.
"Sudahlah mungkin nanti saja aku menghubunginya, akan ku cari alasan agar bisa ngobrol lagi dengannya."
Kembali kumasukan gawai ke saku celana.
+++
Padam.
Menyala.
Padam.
Menyala.
Begitu berulang-ulang, bukan tanpa sebab tapi karena berulang-ulang kubuka kontak bernama Mas Aldo lalu kembali kutekan tombol power di sisi kanan benda berlayar 6 inci tersebut. Belum genap sehari kepergiannya tetapi meninggalkan rasa kehilangan yang nyata. tapi buat apa? toh di antara kami tidak ada apa-apa.
Tapi perasaan aneh ini perlahan semakin terasa menyiksa, belum pernah aku merasakan rasa seperti ini, seperti perasaan yang menuntut agar aku selalu berada di dekatnya. Walau ketika berada di dekatnya jantungku akan terasa swperti mau meledak.
Helaan nafas dalam mengiringi tubuh yang kuhempaskan di atas kasur, telungkup kusembunyikan wajah di atas bantal.
Jantungku berdebar saat mendengar nada dering dari panggilan masuk di gawaiku, apa itu dia?
Segera kuraih gawai yang tergeletak di sudut ranjang, seketika rasa kecewa mendera melihat nama si pemanggil bukan dia yang kuharapkan. Bulek Ani adik perempuan Ibu.
"Assalammualaikum ... Bulek."
"Waalaikum salam Rayisa, Ibumu ada? Bulek mau ngomong."
"Iya Bulek, sebentar ya."
Segera kuhampiri Ibu yang sedang memasak di dapur.
"Bu, ini bulek Ani telpon."
Ku serahkan gawai pada Ibu, sedangkan aku menggantikan Ibu yang tengah menggoreng ikan.
Ibu tampak serius berbicara dengan Bulek.
"Rayisa."
Ibu menghampiri setelah selesai berbicara dengan Bulek, tampak kecemasan di wajahnya yang masih terlihat cantik, Ibuku memang masih muda usianya belum genap empat puluh tahun.
"Ada apa, Bu?"
"Simbahmu sakit, kita harus ke Jember sekarang."
"Tapi Ibu kuat perjalanan ke Jember? Ibu 'kan juga baru pulang dari rumah sakit."
"In shaa Allah Ibu nggak apa-apa, ayo selesain masaknya. habis makan kita berangkat ke Jember."
Titah Ibu yang segera kulaksanakan.
Ibuku memang asli kelahiran Jember, sejak menikah dengan almarhum Bapak beliau menetap di Pekalongan di desa Bapak.
Kami termasuk jarang pulang ke Jember, hanya setahun sekali kalau lebaran itupun kami tidak terlalu lama di sana. entahlah tapi aku merasa Ibu kurang nyaman berada di tanah kelahirannya tersebut.
Ibu pernah bilang seandainya sudah tidak ada Simbah mungkin Ibu tidak akan lagi pulang ke Jember, pernah kutanya kenapa tapi sepertinya pertanyaan itu membuat Ibu kurang nyaman.
Aku merasa seperti ada sesuatu yang beliau sembunyikan dariku.
"Bu, sekolah Rayisa gimana?"
Tanyaku saat kami sedang menikmati makan siang.
"Ibu bikinin surat izin ya, nanti biar besok di anterin Pakde Subagyo ke sekolah."
Aku mengangguk setuju.
"Udah abisin makannya, nanti setelah itu kamu kemasin barang-barang, mungkin kita akan menginap beberapa hari di sana."
"Iya, Bu."