Bab 7

862 Words
Usai makan siang dan berpamitan ke rumah Pakde Subagyo aku dan Ibu berangkat ke Jember menggunakan bis antar kota antar provinsi, perjalanan yang cukup panjang menuju kecamatan Bangalsari, Jember memakan waktu hampir sembilan jam. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak saling bicara, Ibu lebih banyak diam seperti ada sesuatu yang menghantui fikirannya, aku bisa mengerti mungkin Ibu sedang memikirkan tentang kesehatan Simbah. Beberapa kali mencoba menghibur dan menguatkannya, hanya itu yang bisa kulakukan. Sedangkan perasaanku sendiri tetap sama, teringat yang jauh di sana.  Kami tiba di Jember sekitar jam sebelas malam. Malam sudah larut, saat kami tiba di rumah Bulek Ani. Alhamdulillah Om Mardi suami Bulek Ani menjemput kami di terminal dengan mobilnya hingga kami tidak perlu naik angkutan umum di tengah malam begini. Simbah menolak dirawat di rumah sakit, lebih nyaman di rumah katanya. Simbah juga berkilah kalau hanya sakit biasa karena faktor usia. Dengan takzim Ibu mencium tangan wanita yang telah melahirkannya tersebut, akupun turut melakukan hal yang sama. "Mbok, Rahayu sama Rayisa dateng. Simbok cepet sehat ya." ucap Ibu lembut sambil membelai tangan Simbah. "Kamu apa kabar Yu?" "Rahayu sehat Mbok." "Rayisa, kamu udah besar ya nduk, kamu cantik. mirip banget sama Bapakmu." ucap Simbah lirih sambil membelai lembut pipiku, aku tersenyum walau ada yang mengganjal di hati karena jelas aku sama sekali tidak mirip dengan almarhum Bapak. "Udah, Mbok. Simbok istirahat aja. udah malem." Cepat. Ibu menyela ucapan Simbah. "Rayisa, kamu tidur saja nduk. kamu pasti capek, malem ini Ibu mau tidur sama Simbahmu ya." imbuhnya. "Rayisa, kamu tidur di kamar tamu aja. biar Ibumu nemenin Simbok disini, Biarin mereka kangen-kangenan." Bulek Ani menimpali perkataan Ibu , aku hanya mengangguk lalu mengekori langkah Bulek Ani yang mengantarku ke kamar tamu. Kamar yang biasa aku tempati bersama Ibu setiap berkunjung kesini. Bulek Ani memiliki seorang anak perempuan usianya terpaut lima tahun lebih muda dariku, mungkin sekarang dia sudah tidur. +++ Aku sudah terbiasa bangun sebelum shubuh setiap harinya, tetapi hari ini aku terlambat bangun mungkin karena perjalanan yang melelahkan kemarin. Aku bergegas mandi dan mengambil air wudhu begitu melihat waktu sudah menunjukan pukul lima lewat lima belas pagi. di dapur tampak Ibu dan Bulek Ani sedang menyiapkan sarapan. "Mbak ...." "Astagfirallah ...." Ucapku spontan. Aku terkejut mendengar panggilan Dinda adik sepupuku. "Eh ... Maaf ya Mbak. Mbak jadi kaget ya Mbak berdoanya khusuk banget sih." ucapan Dinda sambil mencium punggung tanganku. "Iya, Dinda. nggak apa-apa, kamu mau berangkat sekolah?" tanyaku melihat seragam putih biru yang melekat di tubuhnya. "Iya, Mbak. kita sarapan bareng yuk." ajaknya. "Iya, 'yuk." jawabku setelah melipat sajadah dan mukenah lalu mengenakan jilbab berwarna biru muda. Di meja makan semuanya telah berkumpul, Ibu sedang menyuapi Simbah yang duduk di kursi roda. "Sini nduk, kita makan." kata Bulek Ani begitu melihat kami datang. "Simbah, makannya yang banyak ya. Biar cepet sehat." ujarku pada Simbah lalu duduk di kursi yang berada tepat di sebelah simbah. "Iya, nduk." jawab Simbah sambil mengulurkan tangan untuk kuraih dan kugenggam hangat. "Rahayu, kamu sudah jujur sama anakmu ini?" Tanya Simbah, mata tuanya tajam menatap Ibu yang tampak terkejut. Lalu berusaha menutupinya dengan menyendok nasi. "Ini Mbok, makannya di habisin dulu." kata Ibu yang terlihat gugup. "Jujur apa, Bu?" Tidak bisa kutahan penasaran ini. "Sstthh ... Simbah udah tua, udah mulai pikun dan ngelantur." Ibu berbisik sambil menaruh telunjuknya di depan mulut. Jelas aku tidak puas dengan jawaban yang Ibu berikan. Ini lah yang selalu kurasakan bila sedang berada di sini, selalu ada misteri yang tidak bisa terkuak. "Udah, ayo Rayisa sarapan dulu. nanti ikut Bulek kepasar ya sekalian jalan-jalan." Bulek memecah ketegangan antara kami. +++ menjelang senja, aku ditemani Dinda berjalan-jalan di desa yang asri ini. Udara berhembus sejuk, sesejuk hati yang terpesona oleh keindahan alam di lereng gunung ini. Beberapa tetangga tersenyum ramah dan menyapa. "Kamu anaknya Rahayu ya?" "Iya, Bu." jawabku sopan. "Kapan dateng?" "Kemarin." "Sama Ibumu?" "Iya. saya permisi dulu, Bu." aku meninggalkan gerombolan Ibu-Ibu yang sedang ngerumpi. Tidak jauh dari tempat Ibu-Ibu tadi pedagang makanan ringan. "Mbak, kita jajan dulu yuk." ajak Dinda. "Tapi rame banget Din, kayaknya ngantri deh." jawabku ragu melihat pedagang yang di kerumuni anak-anak tersebut. "Nggak apa-apa, Mbak. Mbak duduk aja di situ biar aku yang beli." kata Dinda sambil menunjuk bangku kayu yang berdekatan dengan Ibu-Ibu yang sedang ngerumpi tadi. Tiba-tiba aku jadi terfokus pada pembicaraan mereka karena tidak sengaja mendengar nama Ibuku disebut. "Kok bisa ya anaknya Mbak Rahayu cantik gitu mirip orang arab, padahal Ibu dan Bapaknya jawa tulen." tanya wanita yang mungkin usianya paling muda. "Hhmmm ... Kamu tuh anak kemaren sore! jadi nggak tau apa-apa." jawab Ibu yang mungkin usianya tidak terpaut jauh dari Simbahku. "Emang kenapa sih Mbok?" tanya Ibu yang lainnya penasaran, sama sepertiku. "Ealah, Mbok Darmi! nggak usah mbuka aib orang." kata Ibu yang lain. "Ayolah Mbok cerita, bikin aku penasaran aja." rengek perempuan muda yang mengawali pembicaraan tadi. "Yah, pokoknya Rayisa itu bukan jawa tulen seperti yang kamu bilang tadi lah Sri. udah sore nih Simbok mau pulang dulu." ucap Simbok yang ternyata bernama Darmi tersebut sebelum pergi meninggalkan gerombolannya. "piye tho? kok nggak ada yang mau cerita sama aku?" perempuan muda itu tersungut lalu disambut tawa Ibu-Ibu lainnya. Dan aku, tenggelam dalam lautan tanda tanya. ada apa ini sebenarnya? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD