Bab 21

1620 Words

 Rasanya masih berat kelopak mataku untuk terbuka setelah terpejam menjelang pagi, di luar sudah sepi berarti pagelaran wayang kulit semalam suntuk telah berakhir. Aku menoleh ke sisi kiri Marisa masih meringkuk lelap dalam mimpinya, mungkin dia terlalu lelah. Aku bergegas bangun teringat waktu shubuh sudah hampir terlalui. Keluar kamar dan melihat tiga lelaki terlelap di lantai beralaskan karpet tebal, aku mendekat berniat membangunkan mereka guna menjalankan kewajiban. Aku berjongkok di tengah menggoyangkan kaki Mas Wahyu yang hanya menggeliat. Di sebelahnya suamiku terlelap menutup matanya dengan lengan. Rasanya sungkan untuk menyentuhnya. Sedangkan Mas Aldo meringkuk dengan wajah lelah di sebelahnya, wajah itu yang selalu kuimpikan akan kupandang setiap bangun tidur di pagi h

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD