Levania langsung memasuki mobil Ageng, ia akan menunggu Ageng di mobil saja sampai pria itu selesai dengan urusannya. Tadi Ageng memberinya kunci mobil pria itu sehingga ia bisa masuk mobil ini, Karen kalau tidak bagaimana mungkin ia bisa masuk? Levania tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, yang jelas ia kesal saat diabaikan oleh Ageng meski pria itu sedang membahas pekerjaan dengan orang lain. Yang jelas, jika orang lain itu adalah perempuan, maka kekesalannya akan semakin bertambah. Seharusnya ia tidak merasa kesal seperti ini karena justru bagus jika Ageng dekat dengan wanita lain, bukannya ini yang ia mau? Tetapi saat melihatnya secara langsung, Levania tidak dapat menyembunyikan rasa kesalnya.
Beberapa saat kemudian, Ageng keluar dari restoran miliknya kemudian menghampiri Levania yang ada di mobilnya setelah berpamitan dengan Gendis. Ageng tak mungkin membiarkan Levania menunggu lama, apalagi sepertinya keadaan hati Levania saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu karena ia sudah mengenal Levania sejak lama, jelas ia tahu luar dalamnya Levania. Bagaimana saat ia bahagia dan bagaimana ketika ia merasa kesal, Ageng mengetahui itu dan bisa membacanya lewat ekspresi wajah Levania.
"Tadi kamu makanannya dikit banget, Nia, mau aku minta pelayan nganter bungkus makanan buat dimakan saat sampai di rumah?" tanya Ageng ketika ia sudah memasuki mobilnya, tepatnya duduk di bangku kemudi.
"Nggak perlu, aku udah kenyang!" Ageng mengernyit saat ternyata Levania ternyata tidak berubah sejak keluar dari restorannya tadi.
"Kamu kenapa, Nia?" tanya Ageng membuat Levania menoleh sekilas ke arah Ageng kemudian malah membuang mukanya.
"Aku ada salah sama kamu? Kalo iya, aku minta maaf." Levania mendengkus keras, percuma saja Ageng minta maaf kalau pria itu bahkan tidak tahu apa kesalahannya. Permintaan maaf itu hanya sia-sia saja bagi Levania.
Ageng menghela napas, hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk menjalankan mobilnya. Meninggalkan area restoran cabang miliknya menuju rumah mereka, sesekali Ageng melirik ke arah Levania yang diam seribu bahasa. Levania bahkan lebih memilih menatap keluar jendela mobil ketimbang menatapnya yang sedari tadi suka curi pandang.
Ageng berusaha memikirkannya kesalahan yang mungkin saja ia lakukan sehingga membuat Levania marah, tetapi sekeras apapun ia berusaha mencari tahu itu, ia tidak mendapatkan kesalahan dari dirinya. Ageng tidak menganggap kalau dirinya sempurna sehingga sama sekali tidak merasa bersalah, tetapi pada kenyataannya ia tak merasa ada yang salah dengan sikapnya tadi sehingga bisa membuat Levania marah.
Hingga ketika akhirnya mereka sudah tiba di rumah, Levania langsung turun dari mobil meninggalkan Ageng memasuki rumah terlebih dulu. Kunci rumah dipegang oleh Levania sehingga wanita itu tidak perlu repot-repot menunggu Ageng membukakan pintu rumah jika ia ia ingin masuk. Ageng menghela napasnya, ia turun dari mobil dan ikut memasuki rumah untuk menyusul Levania. Baru saja ia hendak menyusul Levania, tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari salah satu manager restoran miliknya.
"Iya, ada apa, Budi?" tanya Ageng.
"Hari ini ada investor yang ingin bertemu dengan Bapak, tadi saya sudah bilang kalau saya akan mewakilkan Bapak, tetapi beliau ingin bertemu dengan Bapak langsung dan membahas ini secara personal. Kalau Bapak tidak datang, dia katanya tidak jadi berinvestasi di restoran kita, Pak," jawab Budi di seberang sana.
Ageng menghela napas, pria itu melirik ke arah pintu kamarnya bersama Levania yang tertutup rapat. Padahal, ia hendak bertanya pada Levania tentang sikap anehnya hari ini, tetapi mendadak ada pertemuan mendesak yang tak bisa ia tinggal.
"Baiklah saya akan segera ke sana sekarang," ucap Ageng akhirnya pada Budi.
"Iya, Pak, saya akan beritahu Pak Dave untuk menunggu Bapak."
Setelah panggilan terputus, Ageng segera pergi menuju kamarnya dan Levania. Pria itu mengetuk pintu, "Nia, aku ada pertemuan mendesak dengan salah satu investor. Aku harus pergi sekarang, kalau kamu butuh apa-apa. Kamu hubungi aku ya." Beberapa detik Ageng menunggu, tetapi tak ada respon dari Levania. Ageng menghela napas kemudian memutuskan untuk pergi dari rumah setelah berpamitan pada Levania.
Sedangkan di dalam kamar, Levania berdecak kesal karena Ageng berpamitan padanya untuk pergi lagi. Padahal, Ageng belum selesai membujuknya, tetapi bisa-bisanya pria itu pergi begitu saja. Entah mengapa Levania merasa ingin dibujuk, padahal Ageng sama sekali tak melakukan kesalahan apa-apa padanya. Ralat, Ageng melakukan kesalahan yaitu mengabaikan dirinya hanya karena seorang wanita bernama Gendis dan itu membuatnya merasa terabaikan karena Ageng selalu menjadikannya nomor satu karena ia adalah orang terdekat pria itu.
"Ageng benar-benar menyebalkan!" gerutu Levania memilih keluar dari kamar.
Percuma saja ia berada di dalam kamar kalau tak ada Ageng di rumah, tidak ada yang perlu ia hindari. Levania berjalan menuju dapur, mengambil beberapa cemilan di dalam kulkas dan membawanya menuju ruang keluarga. Ia menyalakan televisi kemudian mulai menikmati cemilan yang ia bawa, sejujurnya ia masih lapar saat ini. Maka dari itu ia makan cemilan untuk menunda lapar, wajar saja ia masih merasa lapar karena ia tadi hanya makan sedikit karena sudah terlanjur badmood dengan keberadaan Gendis.
Sedang asyik-asyiknya menonton siaran televisi dengan ditemani cemilan, ponsel yang ia letakkan di atas meja berbunyi. Pertanda ada panggilan masuk, Levania langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo," sapa Levania terkesan judes.
"Hai, Nia. Masih siang kenapa sih jutek begitu? Seharusnya pengantin baru itu merasa bahagia dong, terdengar dari nada suaranya. Tapi kok lo nggak sih?" Mendengar suara yang cukup ia kenal, membuat Levania mengecek siapa yang meneleponnya.
"Diandra?" tanya Levania.
"Of course! Ini gue, Nia! Lo tega banget sih? Nikah nggak ngundang-ngundang gue, mentang-mentang gue lagi di Aussie," ucap wanita bernama Diandra itu sedikit mendumel.
"Gue nggak mau bikin lo pulang di saat study lo belum kelar, makanya gue nggak ngundang lo, Didi. Sekalian gue mau kasih surprise saat lo nanti wisuda."
"Kebiasaan lo suka manggil gue Didi sih? Nama gue tuh Diandra, jangan diubah-ubah," gerutu Diandra.
"Nama lo belibet, enakan manggil Didi lebih simpel."
"Oh ya, gimana sama studi lo?" tanya Levania.
"Bentar lagi kelar, gue tinggal nunggu panggilan buat wisuda aja nih." Mendengarnya membuat Levania tersenyum.
"Wah selamat, gue ikut senang dengarnya."
"Makasih, gue juga ikutan senang karena lo udah nikah sekarang. Lo nikah sama Rajendra 'kan? Udah gue duga sih kalian bakal nikah, soalnya Rajendra kelihatan serius sama lo." Mendengar itu membuat Levania terdiam, pada kenyataannya pria yang dikira serius justru meninggalkannya di hari pernikahan mereka sehingga ia menikah dengan sahabat sendiri.
"Oh ya, lo bisa tebak nggak gue sekarang ini lagi ada di mana?" tanya Diandra, menyadarkan Levania dari lamunannya.
"Ya mana gue tahu, gue aja nggak pernah ke Aussie. Mana gue tahu sekarang lo ada di mana, kecuali kalau gue cenayang," jawab Levania membuat Diandra berdecak kesal.
"Ck, nyebelin banget lo. Padahal tinggal nebak asal juga nggak masalah," dumel Diandra.
"Ya udah deh, gue kasih tahu aja sekarang ini gue ada di mana. Tapi lo jangan terkejut ya," ucap Diandra membuat Levania mengerutkan alisnya.
"Emangnya lo lagi ada di mana?" tanya Levania.
"Gue sekarang ada di Indonesia! Gimana? Lo pasti terkejut 'kan?"
"Bohong, mana mungkin lo ada di Indonesia." Levania tidak mau asal percaya dengan perkataan Diandra karena wanita itu terkadang suka sekali ngeprank dirinya.
"Yaelah, ngapain juga gue bohong. Gue beneran ada di sini. Ini gue kirim fotonya biar lo percaya sama gue."
"Nah, udah gue kirim tuh. Lo coba cek chat dari gue." Saat membuka pesan foto yang Diandra kirimkan, Levania terkejut karena Diandra tidak berbohong.
"Kapan lo balik? Kok nggak ngabarin gue sih?"
"Ya kayak yang lo bilang tadi, kalau lo nggak mau ngasih tahu gue tentang pernikahan lo karena lo mau kasih surprise. Sama kayak gue juga yang mau kasih surprise ke lo," ucap Diandra.
"Oh ya, kalau lo udah nikah berarti lo nggak tinggal di rumah orangtua lo lagi dong ya? Gue pengen nih ke rumah baru lo, boleh nggak sekalian kita meetup berdua? Semingguan lagi gue harus balik ke Aussie lagi," sambung Diandra.
"Boleh lah, ya kali gue nggak ngebolehin lo ke sini." Lagipula saat ini Levania kesepian karena tidak ada Ageng, mungkin meminta Diandra ke sini tidak akan menjadi masalah. Niatnya ia sekalian menceritakan masalah yang saat ini tengah ia alami.
"Gue kirim alamatnya ya, lo harus datang. Gue tungguin lo, awas kalau lo nggak jadi datang."
"Iya, ayo cepatan kirim. Mumpung gue masih di jalan nih." Beberapa saat kemudian akhirnya Levania mengirimkan alamat rumahnya bersama Ageng pada Diandra.
"Wih, kebetulan gue lagi dekat di jalan ini. Ya udah gue tutup dulu nih teleponnya, gue mau segera otewe ke sana."
"Iya, hati-hati." Tut.
Sambil menunggu Diandra datang, Levania kembali menonton siaran televisi. Hingga beberapa saat kemudian terdengar bel rumah yang ditekan, Levania mengernyit.
"Udah sampai dia? Kok cepat banget?" gumam Levania beranjak dari duduknya menuju pintu rumah.
Cklek ....
"Diandra kok lo—" Levania tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika ternyata bukan Diandra yang saat ini sedang berdiri di depan pintu rumahnya, melainkan Gendis. Iya, Gendis yang tadi makan siang bersamanya dan juga Ageng, wanita yang membuat moodnya hancur.
"Hai," sapa Gendis sambil tersenyum.
"Ini benar alamat rumah Ageng ternyata, aku pikir bukan." Gendis menyengir, Levania hanya memandang datar wanita itu.
"Oh ya, aku cuma mau ngasih ini aja buat kalian. Anggap aja sebagai salam kenal sesama tetangga," ucap Gendis sambil memberikan sebuah bingkisan yang Levania yakini kalau itu adalah makanan.
Levania tak langsung menerima, ia hanya diam saja. Dalam hati ia bingung dengan maksud dari perkataan Gendis, tetangga katanya? Sejak kapan mereka bertetangga?
Menyadari kalau Levania sedang kebingungan, Gendis pun langsung menjelaskan, "Rumah kosong di sebelah kanan itu rumahmu sekarang, aku baru pindah hari ini. Nggak nyangka ternyata kita bertetangga ya hehehe."
"Ya, terima kasih ya." Levania terpaksa menerima bingkisan itu karena tidak enak jika menolak.
"Oh ya, Ageng mana?" tanya Gendis.
"Dia lagi pergi, katanya ketemu sama klien." Levania memang sengaja tidak ingin mengajak Gendis masuk karena ia tak mau berbasa-basi ataupun mengobrol lama dengan wanita itu.
"Oh begitu, Ageng ternyata orang yang cukup sibuk ya. Aku tuh salut sama Ageng, dia nggak kayak cowok yang kebanyakan aku kenal. Dia cowok yang suka kerja keras dan memulai semuanya dari nol, kalau aku jadi istrinya aku pasti bangga banget punya suami kayak Ageng." Hati Levania mendidih mendengar Gendis yang memuji Ageng tepat di hadapannya, mana wanita itu berandai-andai kalau misalkan Ageng menjadi suaminya lagi. Benar-benar menyebalkan.
"Eum, apa ada yang mau dibicarakan lagi? Soalnya saya mau masuk, saya harus masak buat makan malam suami saya nanti," ucap Levania memaksakan senyumnya.
"Oh begitu, aku juga nggak bisa lama-lama. Aku pergi dulu ya, mungkin kapan-kapan aku mampir ke sini lagi." Gendis melambaikan tangannya ke arah Levania.
"Iya, hati-hati!" Levania balas melambaikan tangannya sambil tersenyum paksa.
"Nggak usah mampir sekalian! Sudi amat dimampirin situ!" gerutu Levania sambil menutup pintu rumah agak kencang.
Levania berjalan dengan langkah lebar menuju ruang keluarga, ia melirik ke arah tangannya yang memegang bingkisan dari Gendis. Wanita itu segera menaruh bingkisan itu di atas meja dengan agak kasar, kemudian memilih pergi menuju kamarnya sambil membawa ponselnya.
Sesampainya di kamar, Levania langsung mengetikkan sebuah pesan untuk Diandra.
[Di, lo nggak usah ke sini deh. Besok aja ke sininya, gue lagi badmood nerima tamu.]
Diandra yang membaca pesan dari Levania mengernyitkan alisnya, "Lah gue baru aja mau sampai jalan depan rumah dia," gumam Diandra.
[Tapi gue bentar lagi sampai, Nia. Tega banget lo ngusir gue yang mau bertamu, lo nggak kangen sama gue.]
Levania membaca pesan dari Diandra dengan malas.
[Ya kangen, tapi besok aja ya lo ke sininya. Mendingan lo putar balik, ke mana kek. Yang penting jangan ke sini.]
"Dasar temen ngeselin!" gerutu Diandra yang akhirnya memilih putar balik.
***
Ageng baru saja sampai di rumah saat sore tiba, ketika memasuki rumah ia mengernyit melihat sebuah bingkisan yang ada di atas meja. Ageng tak lantas mengecek bingkisan itu dan memutuskan untuk pergi mencari Levania yang ternyata ada di dapur, wanita itu sedang memasak makan malam untuk mereka.
"Nia, tadi aku lihat ada bingkisan di atas meja, itu dari siapa?" tanya Ageng.
"Dari cewek yang namanya Gendis, dia tetangga baru kita," jawab Levania setengah hati.
"Oh, Gendis ternyata jadi pindahan ke rumah sebelah kita hari ini ternyata ya," ucap Ageng membuat Levania menoleh ke arah Ageng dengan tatapan kesalnya.
"Kenapa memangnya? Kok kamu serba tahu tentang dia sih? Kamu dekat banget ya sama dia? Sejak kapan kalian dekat? Jangan-jangan dari lama ya?" tuding Levania.
Mendapati pertanyaan Levania yang seperti itu, bukannya kesal karena dituduh macam-macam, Ageng malah tersenyum. Entah mengapa ia merasa senang Levania seperti ini.
"Kamu cemburu?" tanya Ageng sambil tersenyum geli membuat Levania langsung melotot kesal.
"Nggak lah! Gíla aja aku cemburu, buat apa juga aku cemburu? Kamu itu hanya sahabat aku, Ageng, nggak ada hak buat aku cemburu!" Levania memalingkan wajahnya karena merasa malu.
Sadar atau tidak, perkataan Levania begitu menyakiti hati Ageng. Karena pada kenyataannya, Ageng mengharapkan kalau Levania akan mengaku cemburu maka kemungkinan besar ia bisa mengakui perasaannya pada wanita itu, tetapi sayangnya apa yang Ageng harapkan tak terjadi. Nyatanya Levania seakan menekankan kalau dirinya hanyalah sahabat bagi Levania, tidak lebih dari itu.