Saat ini Levania, Ageng dan Gendis duduk di sebuah tempat dengan makanan yang ada di atas meja. Levania sedikit kecewa pada Ageng karena pria itu mengajak Gendis makan siang bersama mereka, padahal tadi ia mengira kalau mereka akan makan siang berdua saja. Ia berusaha menyembunyikan rasa kecewanya itu, tetapi tidak bisa. Melihat Ageng yang begitu akrab mengobrol dengan Gendis membuat Levania merasa cemburu, tak dapat dipungkiri kalau wanita itu cemburu setiap kali Ageng dekat dengan seorang wanita. Aneh memang, karena dia sendiri yang meminta Ageng dekat dengan wanita lain dan bahkan berpacaran, giliran saat ini ia dekat dengan wanita lain, Levania malah merasa cemburu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ageng pada Levania.
"Apa aja yang ada di sini," jawab Levania singkat.
"Biasanya kamu suka udang goreng tepung 'kan? Mau yang itu?" Levania hanya mengangguk.
"Ini coba lihat buku menunya, aku takut salah nanti." Ageng memberikan buku menu di restoran ini pada Levania yang langsung menerimanya.
Setelah memberikan buku menu itu pada Levania, kini tatapan Ageng mengarah pada Gendis. Berhubung Gendis adalah anak dari salah satu investor yang cukup berpengaruh bagi restorannya, maka dari itu ia harus bersikap baik pada Gendis. Meskipun ada beberapa sikap yang tidak disukai Ageng dari Gendis, tetapi Ageng berusaha untuk menahan dirinya agar tidak membuat Gendis tersinggung.
"Kamu mau apa, Gen? Kebetulan di sini ada menu baru, apa kamu mau coba itu?" tanya Ageng.
"Boleh deh, aku mau yang itu aja." Ageng kemudian memanggil pelayan dan mengatakan apa yang mereka pesan, hingga setelah memesan pelayan itu pergi untuk membawakan pesanan mereka.
"Dekorasi restoran kamu ini cukup unik ya," ucap Gendis sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Apa yang bikin kamu milih dekorasi kayak gini?" tanya Gendis.
"Mungkin karena aku suka alam ya, jadinya aku memadukan antara alam dan makanan. Aku nggak nyangka kalau keduanya itu cocok," jawab Ageng.
"Iya, memang cocok sih. Aku bisa lihat itu."
"Aku tuh kagum tahu sama kamu, kamu itu masih muda, tetapi bisa bangun restoran yang udah ada beberapa cabang kayak gini tanpa bantuan orangtua. Sedangkan aku masih bergantung sama orangtua, sukses sendiri sama sukses yang dibantu orangtu itu beda loh rasanya," ucap Gendis memuji kegigihan Ageng dalam berbisnis.
"Kamu bisa saja, seharusnya kamu beruntung karena kamu punya keluarga lengkap yang mendukung kamu. Aku hanya yatim piatu yang kebetulan dibesarkan oleh sebuah keluarga, kalau bukan karena mereka aku nggak mungkin ada di sini."
Mereka terus saja mengobrol hingga mengabaikan Levania, Levania yang merasa bosan pun memainkan ponselnya. Walaupun sebenarnya telinganya panas mendengar percakapan antara Ageng dan juga Gendis, ia tidak suka Ageng mengobrol begitu akrab dengan wanita lain. Tanpa disadarinya, saat ini Levania begitu bergantung pada Ageng dan takut kehilangan pria itu. Levania takut kalau sampai Ageng dekat dan jatuh cinta pada wanita lain, maka ia akan ditinggalkan. Levania tidak ingin sendiri, setelah kepergian Rajendra membuatnya merasa trauma dan takut jika akan ditinggalkan untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu dan Levania ini sahabat yang kenal dari mana? Maksudnya sahabat ketemu gede apa dari kecil?" Mendengar namanya disebut membuat Levania melirik sekilas ke arah Gendis.
"Oh, kebetulan orangtua yang aku ceritakan itu adalah orangtuanya Nia. Jadi aku dibesarkan oleh mereka dan aku sudah mengenal Nia sejak lama," ucap Ageng.
"Oh, jadi begitu. Berarti kalian udah kayak adik-kakak ya, seru juga punya kakak lain orangtua. Aku dari dulu pengen banget punya kakak, sayangnya aku tuh ditakdirkan menjadi anak tunggal," kekeh Gendis.
"Aku ke toilet sebentar," ucap Levania berdiri dari duduknya kemudian pergi.
Percuma saja ia di sana jika tidak dianggap, lebih baik ia pergi saja. Hingga ketika makanan mereka tiba dan Levania juga kembali dari toilet, Ageng dan Gendis masih terlibat obrolan yang menyenangkan. Saat ini Levania jadi merasa kalau ia adalah nyamuk yang sedang mengganggu dua sejoli yang sedang berpacaran. Padahal Ageng baru mengenal Gendis, tetapi bisa ya pria itu akrab sekali dengannya.
"Makanannya enak banget, pantas aja restoran kamu laris gini, Geng," ucap Gendis saat mencoba makanan di restoran Ageng.
"Syukurlah kamu suka, tadi aku takut kalau kamu nggak suka sama makanannya."
"Mana mungkin aku nggak suka makanannya, makanannya enak gini kok. Lagian kamu tahu nggak? Aku tuh suka makan, makanya aku minta Papa supaya bisa ikutan jadi investor di beberapa restoran. Selain berbisnis, hitung-hitung aku bisa makan enak secara gratis," kekeh Gendis.
Ageng hanya tertawa, pria itu melirik ke arah Levania yang sedari tadi hanya diam. Pria itu mengernyit karena sedari tadi Levania hanya diam, tak ada suara yang wanita itu keluarkan. Padahal, Levania itu bukan orang yang pendiam, Levania bahkan tergolong orang yang ramah dan bahkan mudah bergaul. Apa mungkin mood-nya saat ini sedang buruk sehingga tidak mau ikut nimbrung dengan obrolannya bersama Gendis?
"Nia, apa makanannya kamu kurang suka?" tanya Ageng pada Levania.
"Ah, nggak kok. Ini enak." Levania menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kenapa makanannya nggak kamu makan? Dari tadi aku lihat kamu cuma ngaduk-ngaduk makanan itu," ucap Ageng.
"Aku tadi udah makan soalnya, jadi agak kenyang." Levania berdalih, padahal kenyataannya ia belum makan siang. Ia mengatakan itu agar Ageng tak bertanya lagi padanya.
"Kenapa kamu nggak bilang? Kalau kamu bilang, tadi nggak aku pesanin makanan banyak-banyak. Jatuhnya nanti bisa mubazir," ucap Ageng.
"Udah sih, Geng, lagian cuma dikit yang kebuang. Itu kalau sisa ya tinggal kasih ke orang di pinggir jalan, gitu aja kok kamu persulit?" Levania yang terlanjur kesal pada Ageng pun kini menatap pria itu dengan raut wajah tak bersahabat.
"Bukan itu maksud aku, Nia, aku—"
"Sudahlah, sana kamu ngobrol lagi sama dia. Kasihan dia dari tadi diabaikan sama kamu, yang ada nanti dia pergi aku yang disalahin," potong Levania cepat sebelum Ageng menyelesaikan perkataannya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa, Nia?" tanya Ageng.
"Aku nggak apa-apa, aku baik-baik aja. Sama sekali nggak ada yang salah dari aku," jawab Levania.
"Aku udah selesai makan, aku nunggu di mobil kamu aja. Kalau kamu masih lama, kamu telepon aku aja biar nanti aku pulang sendiri naik taksi." Tanpa menunggu jawaban dari Ageng, Levania langsung pergi meninggalkan pria itu.
Ageng menatap kepergian Levania dengan tanda tanya besar di kepalanya, pria itu merasa heran dengan sikap Levania yang hari ini sangat aneh. Sepertinya mood Levania begitu buruk hari ini, kira-kira apa yang menjadi penyebabnya? Ageng jadi penasaran.