15. Keadaan Hati

1014 Words
Ageng tidak bisa mengantarnya ke sekolah pagi ini karena pria itu sedang ada urusan mendadak, bahkan Ageng pergi lebih dulu ketimbang dirinya. Levania sama sekali tidak masalah dengan itu karena ia bisa naik taksi, lagipula tidak mungkin ia terus memberatkan Ageng dengan memintanya tetap mengantarnya di saat pria itu sedang sibuk-sibuknya. Sebisa mungkin Levania maklum karena yang menjadi tanggungjawab Ageng bukan hanya dirinya saja, melainkan juga restoran milik pria itu yang memiliki beberapa cabang dan mungkin saja sedang ada masalah saat ini. Saat ini ia sedang berada di dalam taksi yang mengantarnya ke sekolah, hari ini jadwalnya mengajarnya tidak terlalu padat karena ia hanya akan mengawasi anak-anak yang sedang mengikuti ujian akhir semester. "Pak, nanti berhenti di depan sekolah itu ya," ucap Levania pada sang sopir taksi. "Baik, Bu." Beberapa saat kemudian akhirnya mobil yang dikendarai sopir taksi yang mengantar Levania pun tiba di depan gerbang sekolah Levania. Wanita itu langsung turun dari taksi setelah membayar ongkosnya, kemudian ia memutuskan untuk memasuki area sekolah dasar yang menjadi tempatnya mengajar ini. "Nia!" panggil seseorang membuat Levania menoleh ke arahnya. Levania menghela napas, jujur ia tidak suka terlalu akrab dengan Devi—wanita yang memanggilnya. Devi ini masih muda, sama seperti dirinya, mungkin selisih usia mereka hanya beberapa bulan saja, lebih tua Devi. Namun, mereka sama sekali tak satu frekuensi, pembahasan mereka selalu saja tidak nyambung. Selain itu Devi suka ikut campur dengan urusan orang lain, itulah yang membuat Levania tidak menyukainya. "Ada apa, Bu Devi?" tanya Levania berusaha bersikap sopan meskipun ia tidak menyukai Devi. "Kenapa manggilnya Bu? Kan ini belum jam kantor, panggil aja nama. Kamu ini suka kebiasaan panggil ibu ya di saat bukan jam ngajar," ucap Devi sok akrab. "Saya hanya ingin membiasakan diri agar tetap sopan, Bu," balas Levania tenang. "Ah kamu ini memang suka begitu." "Kamu ngawas di kelas berapa?" tanya Devi. "Kelas lima C, Bu," jawab Levania. "Wah, berarti nanti kita sebelahan. Aku ngawas di kelas lima B," ucap Devi antusias padahal Levania sama sekali tidak bertanya balik padanya. "Oh ya, tadi aku lihat kamu naik taksi ya? Suami kamu tidak mengantarmu lagi hari ini?" Mulai sudah kekepoan tingkat dewa Devi dan itu membuat Levania langsung menatapnya tak suka, tetapi memang pada dasarnya Devi ini orang yang tidak peduli atau mungkin tidak tahu diri, ia seakan tidak mengerti arti dari tatapan Levania. "Iya, suami saya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tadi harus berangkat pagi-pagi sekali," jawab Levania. "Sesibuk apa sih sebenarnya suami kamu itu? Seharusnya meskipun dia sibuk, pasti bisa lah menyempatkan diri untuk mengantar istrinya. Dengar dari orang-orang, kamu menikah dengan suami kamu saat ini karena terpaksa ya? Aku dengar juga kalau calon suami kamu yang sebenarnya tidak hadir sehingga sahabat kamu yang menjadi penggantinya?" Levania hanya diam, kali ini pertanyaan Devi cukup lancang dan ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan itu. "Saya harus segera pergi, Bu, saya duluan ya." Sebelum Devi menjawab, Levania sudah lebih dulu pergi dari hadapan Devi. Biar saja ia dianggap tidak sopan karena meninggalkan wanita itu begitu saja, ia hanya ingin menghindari orang-orang yang mulai bertanya tentang hal itu dan jujur saja ia tidak nyaman untuk menjawabnya. Saat hendak memasuki kelas, tiba-tiba saja ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk. Levania langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya, wanita itu mengernyit ketika melihat nama Ageng yang tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya Levania mengangkat panggilan itu. "Ya kenapa, Geng?" tanya Levania. "Kamu udah sampai sekolah?" tanya Ageng dari seberang sana. "Iya, kenapa kamu nelepon aku? Katanya kamu lagi sibuk tadi." "Urusan aku bentar lagi kelar kok, nanti pulangnya aku jemput ya?" "Yakin urusan kamu udah kelar? Kalau memang belum, jangan paksain diri kamu buat jemput aku, Geng." Levania ingin menjadi orang pengertian di samping Ageng dengan tidak merepotkan pria itu karena ia sadar kalau Ageng sudah membantunya banyak hal. "Sebenarnya belum sih, mungkin hari ini kelar. Tapi aku mau ngajakin kamu makan siang," ucap Ageng. "Kalau gitu mendingan aku ke sana aja naik taksi pulangnya daripada kamu yang harus repot-repot ke sini 'kan?" Levania langsung memberi usul. "Tapi kamu nggak keberatan 'kan ke sini?" "Ya nggak lah, Ageng. Kamu ini kayak sama siapa aja sih? Sama sahabat sendiri juga. Aku mau masuk kelas nih, bentar lagi waktu ujian dimulai. Aku tutup ya panggilannya." "Tunggu dulu, Nia ...." Ageng menghentikan Levania yang hendak menutup panggilannya. "Apalagi, Ageng?" "Kamu yakin mau nyusul ke sini 'kan pulang dari sekolah?" tanya Ageng memastikan. "Iya." "Nanti kamu share aja alamat restoran cabang kamu biar pulangnya aku langsung ke sana." "Oke siap." Hingga akhirnya panggilan pun diakhiri. Levania menyimpan ponselnya kemudian memasuki kelas, di dalam kelas anak muridnya sudah duduk dengan rapi dan sesuai pada tempatnya masing-masing. "Selamat pagi, anak-anak!" sapa Levania. "Pagi, Bu." "Sebelum Ibu bagikan soal ujian dan lembar jawaban, Ibu minta ketua kelasnya memimpin doa terlebih dahulu," ucap Levania. Setelah selesai dengan urusannya di sekolah, Levania pergi menuju alamat yang Ageng kirimkan dengan menaiki taksi. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Levania tiba juga di restoran cabang yang baru dibuka selama beberapa bulan terakhir. Saat Levania memasuki area restoran itu, tidak ada yang menyapanya karena memang tak banyak yang tahu tentang dirinya. "Age .... ng." Levania mengecilkan suaranya ketika ia hendak memanggil Ageng dan ia melihat kalau Ageng tak sendirian di sana, melainkan ada seorang wanita cantik yang menemaninya. Entah mengapa ada yang tak beres dengan keadaan hatinya saat ini, ada ketidaksukaan ketika melihat Ageng dekat dengan wanita lain. Padahal, beberapa hari yang lalu ia sendiri yang meminta Ageng untuk memiliki seorang kekasih, tetapi saat melihat sendiri Ageng dekat dengan wanita lain ia malah tidak rela. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? "Nia, akhirnya kamu datang juga," ucap Ageng langsung menghampiri Levania dengan senyumnya. "Siapa dia, Geng?" tanya seorang wanita yang bersama Ageng, menatap Levania dengan tatapan penuh selidik. "Oh ya kenalkan ini Nia, sahabatku. Nia, kenalkan ini namanya Gendis, dia salah satu anak seorang investor yang mau membantuku mendirikan restoran di sini." Beberapa saat Gendis dan Levania saling pandang hingga akhirnya mereka berdua bersalaman. Entah mengapa hati Levania sedikit nyeri saat Ageng mempermainkannya sebagai seorang sahabat di depan Gendis dan bukannya seorang istri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD