Saat ini mereka berada di sebuah kedai es krim yang cukup ramai pengunjungnya, mereka duduk di salah satu kursi yang kosong. Mereka sudah memesan es krim yang diinginkan, tinggal menunggu pesanan mereka diantar. Ageng memesan es krim vanilla yang dipadukan dengan es krim coklat, bersama topping choco chips yang melimpah, juga cake coklat yang lembut. Sedangkan Levania memesan es krim rasa strawberry dengan topping buah-buahan segar seperti strawberry, anggur, jeruk dan lain sebagainya. Levania lebih suka es krim dengan sedikit rasa asam, makanya dia memilih es krim dengan topping buah-buahan yang segar.
"Tempat ini ramai banget ya," ucap Levania sambil memperhatikan pengunjung yang ramai. Belum lagi ada pengunjung baru yang berdatangan ke tempat ini sehingga tempat yang sudah ramai ini jadi semakin ramai saja.
"Iya." Ageng menganggukkan kepalanya.
Pria itu melihat-lihat sekeliling seakan tengah menilai sesuatu, Levania yang melihat Ageng nampak serius memperhatikan tempat ini mengernyit. Wanita itu menyentuh lengan Ageng hingga membuat pria itu kini menatapnya.
"Dari tadi kamu ngelihatin apa sih?" tanya Levania.
"Aku cuma lagi melihat tempat ini aja, selain tempatnya yang strategis mungkin saja rasa es krimnya enak," jawab Ageng.
"Terus buat apa kamu harus tahu semua itu?"
"Barangkali dengan melihat ini, aku jadi bisa buka menu baru di restoranku," ucap Ageng.
Mendengar perkataan Ageng, Levania berdecak kesal. Di mana-mana, Ageng tak lepas memikirkan tentang bisnisnya. Bagus sih itu, tetapi tidak saat mereka sedang menikmati tempat ini. Bukankah ada saatnya kapan Ageng harus survei dan kapan pula pria itu harus menikmati waktunya?
"Kita ini lagi mau senang-senang dengan makan es krim, bukan lagi survei buat menu baru di restoran kamu, Geng," tukas Levania.
"Iya aku tahu itu, tetapi apa salahnya kalau sekalian melakukan survei? Sambil menyelam minum air bukankah bagus?" tanya Ageng.
"Bagus sih, tetapi aku nggak suka kamu begitu. Kalau kamu mau menikmati waktu ya udah nggak usah sambil-sambilan gitu, kalau kamu mau survei ya silakan. Aku mau pulang aja." Levania berdiri dari duduknya, wanita itu hendak pergi dari tempat ini. Namun, sebelum itu terjadi, tangannya dicekal oleh Ageng yang ternyata ikut berdiri dan kini berada di sampingnya.
"Jangan pulang, es krimnya sebentar lagi sampai." Wanita itu sama sekali tidak menggubris perkataan Ageng, ia hanya diam saja.
"Aku nggak akan melakukan survei lagi, aku janji." Setelah mendengar itu, Levania pun kembali duduk dengan tenang di tempatnya tadi.
"Nah gitu dong dari tadi, urusan bisnis nggak ada hubungannya sama aku. Aku nggak mau di saat aku pergi sama kamu, kamu sekalian kerja. Itu sama sekali nggak menyenangkan tahu!" tutur Levania.
"Iya aku tahu, maaf, Nia."
"Nggak perlu minta maaf, tetapi lain kali kamu harus ingat ini. Gimana nanti kalau kamu punya pacar? Bisa-bisa ditinggalin tuh kamu sama pacar kamu karena saat pergi bareng dia, kamu sekalian kerja," oceh Levania.
"Pacar?" tanya Ageng tak mengerti.
"Iya pacar, setiap orang itu harus punya pasangan. Memangnya kamu mau hidup sendiri terus?" tanya balik Levania.
Ageng mematung mendengar perkataan Levania, mengapa wanita itu berpikir demikian? Apakah Levania sama sekali tidak mengakui status mereka yang adalah suami istri?
"Tapi bukannya kita sudah menikah, Nia, kamu nggak salah minta aku punya pacar?" tanya Ageng memberanikan dirinya.
Mendengar pertanyaan Ageng, Levania terdiam sejenak. Hingga kemudian wanita itu menatap Ageng sambil tersenyum, "Aku tahu kamu nikahin aku karena terpaksa, Geng. Aku nggak mau karena keberadaan aku, kamu jadi nggak bisa bersama dengan orang yang kamu cintai. Meskipun kita menikah, tetapi itu hanya status. Sampai kapanpun kita adalah sahabat, kalau suatu saat nanti kamu menemukan wanita yang menjadi kebahagiaan kamu. Maka, aku akan mundur dari status ini," ucap Levania kemudian mengulas senyumnya.
Levania terlihat santai saat mengatakannya, tetapi tidak bagi Ageng yang mendengarnya. Tidak tahukah wanita itu kalau Ageng merasa senang dengan status mereka karena sebenarnya wanita yang ia cintai adalah Levania dan ia tidak akan pernah berpaling dari cintanya. Namun, bagaimana bisa Levania tahu tentang perasaan Ageng saat pria itu tidak ada niatan memberitahunya, Ageng terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya sendiri. Levania adalah sumber kebahagiaan sekaligus kelemahannya, ia bisa menjadi sangat bahagia dan lemah secara bersamaan ketika berhadapan dengan wanita itu.
"Geng, kamu kok diam aja? Apa kata-kataku ada yang salah atau ada yang membuat kamu tersinggung?" tanya Levania.
Baru saja Ageng hendak menjawab, seorang pelayan membacakan pesanan mereka.
"Dimakan es krimnya, nanti mencair," ucap Ageng ketika melihat Levania yang akan kembali berucap.
Levania mengangguk kemudian menikmati es krimnya, begitupun juga dengan Ageng. Bedanya, Ageng tak berselera memakan es krimnya karena mengingat perkataan Levania yang membuatnya merasa sedikit terluka karena ternyata saat ini wanita itu tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat. Padahal, posisinya saat adalah suami sah Levania.
'Sebegitu sulitnya kah meminta kamu untuk menganggap aku adalah suamimu dan bukannya sahabat kamu lagi, Nia?' batin Ageng merasa tersiksa dengan perasaannya sendiri.
"Kenapa diam? Es krimnya nggak enak?" Ageng tersentak saat mendengar pertanyaan Levania.
"Es krimnya enak kok," ucap Ageng kemudian mulai memakan es krimnya.
Usai menghabiskan es krim masing-masing dan membayarnya, Ageng dan Levania kembali ke mobil pria itu. Ageng menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia merespon perkataan Levania yang mengajaknya bicara.
"Kayaknya bahan makanan di rumah udah habis, nanti kita mampir ke supermarket depan itu sebentar ya," ucap Ageng.
"Iya." Levania menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, mobil Ageng berhenti tepat di depan supermaket. Pria itu mengajak Levania memasuki supermarket, Ageng mengambil trolli belanja dan mendorongnya menyusuri bagian bahan makanan mentah. Ageng mengambil ikan, udang, cumi-cumi, daging ayam potong, dan daging sapi untuk stok di kulkas. Setelah selesai memilih bahan makanan protein, Ageng mendorong trolli belanjanya menuju tempat sayuran berada. Ia mengambil sawi hijau, kol putih, wortel, kentang, paprika, cabe-cabean, brokoli, labu dan lain-lain.
Melihat Ageng yang begitu telaten memilih dan mengambil bahan makanan membuat Levania tercengang. Sepertinya posisi mereka saat ini terbalik, Ageng lebih ahli daripada dirinya dalam urusan ini. Padahal, ia adalah wanita dan Ageng pria, tetapi justru Ageng lah yang lebih handal. Bukan berarti Levania tidak bisa memasak, ia bisa memasak, tetapi sepertinya tidak sejago Ageng. Ia hanya bisa memasak, tetapi juga tidak pandai dalam memilih bahan masakan seperti yang saat ini sedang Ageng lakukan.
"Kamu mau buah yang mana?" tanya Ageng.
Levania yang sedari tadi memperhatikan Ageng tak sadar kalau saat ini mereka sudah berada di tempat buah-buahan segar berada. Ia bahkan tadi sempat terkejut ketika Ageng bertanya padanya, tetapi dengan cepat Levania kembali bersikap seperti biasanya.
"Ini aku boleh pilih buah-buahan yang aku suka?" tanya Levania memastikan.
"Iya." Ageng menganggukkan kepalanya.
Levania menatap buah-buahan yang begitu banyak macamnya itu, hingga ia mengambil strawberry, jeruk, dan apel kemudian memasukkannya ke dalam trolli yang Ageng dorong.
"Udah," ucap Levania.
"Cuma tiga?" Levania hanya mengangguk.
Ageng menggelengkan kepalanya, pria itu mengambil buah-buahan lain yang tidak Levania ambil seperti buah kiwi, semangka, pir, dan anggur.
"Kok banyak banget, Geng?" tanya Levania.
"Buat stok, ayo ke tempat bumbu-bumbu dapur!" ajak Ageng kemudian berjalan terlebih dulu meninggalkan Levania.
Setelah selesai belanja, Ageng mengantri di depan kasir bersama dengan pembeli lainnya.
"Mendingan kamu nunggu di mobil aja, ini kayaknya bakalan lama," ucap Ageng pada Levania.
"Aku nunggu di sini aja bareng kamu, Geng," balas Levania.
"Nggak, kamu ke mobil aja. Lebih nyaman. Kalau kamu di sini nanti kaki kamu pegal karena kelamaan berdiri."
"Tapi—"
"Tunggu di mobil aja, Nia." Ageng mengatakan itu dengan nada rendahnya, tetapi Levania tahu kalau Ageng tidak mau dibantah.
"Oke, aku tunggu di mobil ya." Ageng hanya mengangguk dan membiarkan Levania pergi ke mobilnya.
Setelah berbelanja, Ageng keluar dari supermarket dengan membawa barang belanjaan yang sangat banyak. Sebenarnya agak kesulitan Ageng membawanya sendiri, tetapi ia bisa melakukannya. Ageng menaruh semua barang itu di dalam bagasi mobilnya, setelah selesai menyusun barang-barang itu di belakang, ia pun memasuki mobilnya.
"Nia?" panggil Ageng sambil menggoyangkan lengan Levania dengan pelan.
"Lah? Tidur dia?" gumam Ageng sambil menggelengkan kepalanya.
Pria itu tersenyum kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah mereka. Beberapa saat kemudian, mobil yang Ageng kendarai tiba juga di halaman rumahnya. Levania masih belum terbangun dari tidurnya dan itu membuat Ageng menggendongnya dan membawanya menuju kamar mereka, ia tidak tega membangunkan Levania yang terlihat begitu lelap. Setelah menidurkan Levania di atas tempat tidur mereka, Ageng tak lantas meninggalkan Levania begitu saja. Pria itu duduk di tepi ranjang samping Levania, tangannya terulur mengusap kepala Levania dengan sayang.
"Walaupun kamu menganggap kalau aku hanya sahabat kamu dan pernikahan kita ini hanya sementara, aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu, Nia," gumam Ageng.
Sebelum meninggalkan Levania, Ageng mengecup kening istrinya itu dengan penuh rasa sayang kemudian ia benar-benar pergi dari kamar itu kembali ke mobil untuk mengambil barang-barang yang tadi dibeli di bagasi mobilnya. Ageng membawa barang-barang itu menuju dapur, menyusun semua bahan makanan di dalam kulkas dia pintu tersebut.
Karena bosan ingin melakukan apalagi setelahnya, Ageng yang melihat buah semangka itu memutuskan untuk membuat es krim semangka. Apalagi ketika ia melihat ada bahan-bahan yang mendukungnya untuk membuat itu.
Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya es krim yang ia buat selesai, ia pun menaruh es krim yang sudah selesai ia buat ke dalam kulkas agar es krimnya tidak mencair. Bertepatan dengan itu juga, Levania yang baru bangun pergi menuju dapur untuk mengambil minum.
"Kenapa kamu tadi nggak bangunin aku? Kamu pasti kerepotan tadi harus gendong aku ke kamar," ucap Levania.
"Kamu tadi tidurnya pulas banget, aku nggak tega buat bangunin kamu," balas Ageng.
Levania duduk di sebuah kursi meja makan kemudian meminum air putih yang ia ambil hingga tandas.
"Kenapa kamu pakai apron? Kamu habis bikin apa?" tanya Levania.
"Tadi aku iseng aja mau coba bikin es krim semangka dan akhirnya jadi, es krimnya ada di dalam kulkas. Kamu mau coba? Kalau mau biar aku ambilin."
"Mau dong! Aku penasaran sama es krim yang kamu buat," ucap Levania begitu antusias.
"Sebentar, aku ambilin dulu." Ageng berjalan menuju kulkas dan membawakan es krim itu untuk Levania, ia menaruh es krim yang ia buat di depan Levania.
"Aku coba ya?" Ageng hanya mengangguk dan membiarkan Levania mencobanya.
"Eum, enak banget. Aku nggak nyangka kalau kamu bisa bikin es krim, ini nggak kalah enak dari es krim yang sempat kita makan. Bahkan ini lebih enak, Geng," ucap Levania memuji es krim buatan Ageng.
"Syukurlah kalau kamu suka."
"Oh ya, Nia ...." Ageng mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya kemudian mendorong benda itu hingga berada di depan Levania.
"Apa ini, Geng?" tanya Levania saat Ageng memberikan kartu ATM padanya.
"Ini untuk keperluan sehari-hari kamu, kamu bisa pakai buat apapun itu," jawab Ageng.
"Geng, nggak usah repot-repot. Aku punya penghasilan sendiri buat keseharian aku, kamu nggak perlu ngasih aku ATM kayak gini. Kamu pegang aja ya," ucap Levania mencoba mengembalikan ATM itu pada Ageng.
"Meskipun kita menikah karena suatu alasan, tetapi aku punya kewajiban untuk menafkahi kamu, Nia. Maka dari itu aku minta kamu menerimanya ya, uang kamu biar kamu simpan saja dan untuk keperluan sehari-hari kamu. Kamu pakai uang dari aku," tutur Ageng membuat Levania terdiam beberapa saat.
Levania tersentuh dengan sikap Ageng, kedewasaan Ageng dan perhatian Ageng. Merasa beruntung memiliki sosok sahabat sebaik Ageng yang pengertian dan selalu menghibur dirinya saat dirinya sedang sedih. Wanita itu menunduk, menatap kartu ATM yang Ageng berikan untuknya dengan hati yang bergetar.
"Mungkin uang di kartu ATM itu nggak seberapa, kalau misalnya kamu merasa kurang, kamu bisa bilang sama aku. Biar nanti aku transfer lagi," ucap Ageng membuat Levania kini menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Untuk sandi ATM-nya tanggal lahir kamu, Nia, aku sengaja ambil tanggal itu supaya nanti kamu nggak kesulitan," sambung Ageng.
"Geng, kadang aku berpikir. Kenapa ya aku nggak jatuh cinta aja sama kamu? Kamu itu pria yang begitu baik. Kamu suka membantu aku saat aku sedang dalam kesulitan meskipun kamu sendiri belum tentu bisa melakukan kesulitan yang aku alami." Mendengar perkataan tiba-tiba dari Levania, membuat Ageng menatap wanita itu.
Andai saja Levania mencintainya, Ageng pasti akan menjadi pria paling bahagia karena cintanya dibalas oleh wanita yang benar-benar ia cintai. Sayangnya hal itu tidak terjadi karena Levania mencintai pria lain.
"Dan kini kamu memberikan ini pada aku yang jelas-jelas bukan istri kamu sepenuhnya, aku benar-benar nggak bisa menerima ini, Geng."
"Nggak, Nia, kamu harus menerimanya. Aku merasa berdosa kalau kamu menolaknya karena sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan kamu nafkah itu," ucap Ageng.
"Tapi aku—"
"Aku mohon terima itu, Nia," pinta Ageng.
Levania menghela napasnya kemudian mengangguk, "Makasih ya, Geng."