13. Canggung

2041 Words
Setelah insiden itu, Ageng dan Levania sama sekali tidak saling bicara. Sebisa mungkin mereka menghindari kontak mata satu sama lain, suasana di antara keduanya pun berubah menjadi canggung. Padahal, saat ini keduanya masih berada di kediaman rumah orangtua Levania, sehingga sikap yang aneh dari mereka pun disadari oleh Sella yang memang sedari tadi memperhatikan putri serta menantunya. Wanita paruh baya itu keheranan dengan sikap diam Ageng dan Levania, padahal kemarin kelihatannya Ageng dan Levania baik-baik saja. Sama sekali tidak ada ketidakberesan dalam hubungan mereka, mungkinkah semalam mereka bertengkar? Tetapi semua itu karena apa? Sella terlalu mengkhawatirkan keadaan pernikahan putrinya karena meskipun Levania berusaha ikhlas menerima pernikahan ini, tetapi ia tahu kalau sejujurnya Levania sama sekali tak sepenuhnya ikhlas. Meskipun Ageng adalah sahabat Levania, tetapi ia tahu kalau Levania tidak mencintai Ageng. Lain halnya dengan Ageng sendiri yang ia tebak kalau pria itu mencintai putrinya, semua itu bisa ia ketahui dari tatapan mata Ageng ke Levania yang terlihat berbeda saat ia menatap Levania. Sejujurnya Sella merasa tenang dan senang karena Ageng yang menikah dengan Levania, ia memang lebih setuju kalau yang menikahi Levania adalah Ageng karena ia tahu kalau Ageng merupakan pria yang baik dan pastinya bisa menjaga Levania. Sudah lama keluarganya mengenal Ageng, bahkan saat pria itu masih duduk di bangku sekolah. Ageng merupakan pria pekerja keras, ia tidak pernah menyerah dalam menggapai impiannya. Sehingga kini pria itu berhasil membangun beberapa restoran dari kerja kerasnya sendiri. Namun, sayangnya suaminya tidak menyukai Ageng karena suaminya terlalu berselera tinggi dalam urusan menantunya. Ageng tidak masuk ke dalam menantu yang suaminya inginkan, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti suaminya akan bersikap baik pada Ageng. "Kenapa kalian saling diam?" tanya Sella pada akhirnya yang tak tahan dengan keterdiaman Ageng dan Levania. Saat ini mereka semua sedang berada di ruang makan, bersama dengan Oma Anisa juga. Mereka sedang sarapan bersama sebelum Oma Anisa diantar ke bandara. Tidak ada obrolan yang terjadi karena mendadak Levania yang ceriwis menjadi pendiam, Sella memperhatikan sedari tadi baik Ageng maupun Levania saling curi pandang. Entah apa yang tengah keduanya pikirkan saat ini. "Mau fokus sarapan aja, Ma," jawab Levania akhirnya. "Tumbenan banget, biasanya juga ada aja cerita yang kamu omongin, Nia. Pasti terjadi sesuatu ya di antara kalian," ucap Sella memperhatikan wajah Ageng dan Levania bergantian. "Sudahlah, Sel, namanya juga pasangan pengantin baru. Wajar aja kalau sikapnya begitu," tutur Oma Anisa yang sedari tadi hanya diam. "Betul juga apa yang Oma bilang, kenapa juga Mama harus nanyain hal kayak gitu? Nggak menjaga pribadi kalian banget," kekeh Sella. Diam-diam, Teddy memperhatikan Levania dan Ageng. Pria itu menatap tajam Ageng, merasa tidak terima kalau sampai Ageng melakukan hal semacam itu pada Levania. Pria paruh baya itu mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya, kemudian ia mengetikkan sebuah pesan dan mengirimkannya pada Ageng. Ageng yang merasakan ponselnya bergetar pertanda ada pesan masuk pun mengambil ponselnya dari atas meja, ia membuka layar kunci ponselnya hingga muncullah notifikasi pesan masuk dari papa mertuanya. Ageng langsung membaca pesan itu, seketika ia merasa diultimatum secara langsung oleh sebuah pesan. Apalagi ketika ia sempat melirik ke arah Teddy, pria itu menatapnya begitu tajam. [Kamu harus ingat kalau kamu itu suami pengganti, berhentilah bersikap seperti suami sungguhan. Kalau sampai kamu melakukan hal-hal aneh pada Nia, maka kamu akan menerima akibatnya. Ingat itu!] Ragu-ragu Ageng mengetikkan balasan pada Teddy, ia mengetik pesan itu secara hati-hati. Takut kalau Levania melihat ke arah layar ponselnya dan wanita itu akan tahu perjanjiannya dengan Teddy. [Tidak perlu Bapak ingatkan lagi karena pasti saya akan terus mengingatnya. Bapak tidak perlu khawatir tentang itu, tidak terjadi apa-apa antara saya dan Nia. ] Ageng kembali menyimpang ponselnya setelah membalas pesan dari Teddy, Teddy yang membaca pesan dari Ageng pun merasa lega. Namun, ia tak sepenuhnya lega karena ia harus terus mengawasi Ageng, khawatir kalau pria itu mencari kesempatan dalam kesempitan pada Levania. Levania sendiri sejujurnya penasaran dengan Ageng yang beberapa menit fokus pada ponselnya saat di meja makan, padahal ia tahu kalau Ageng tidak melakukan hal itu kalau bukan karena hal penting. Namun, ia tidak mempunyai keberanian untuk bertanya karena insiden tadi pagi, andai saja kejadian tadi pagi tidak terjadi maka semudah membalikkan telapak tangan ia bertanya pada Ageng. Sayangnya, Levania harus menyembunyikan rasa penasarannya itu di balik sikapnya yang pagi ini tak acuh dan lebih fokus pada makanan di hadapannya. "Ageng ...." panggil Sella pada Ageng. "Iya, Bu?" "Nanti Mama minta tolong ya anterin Oma ke bandara, soalnya Papa nggak bisa nganterin karena ada rapat penting yang nggak bisa ditinggal," ucap Sella. "Iya, Bu, saya pasti akan mengantar Oma," balas Ageng sambil tersenyum ramah. Setelah sarapan, Levania membantu omanya berkemas-kemas. Kemudian ia mengajak Oma Anisa keluar dari rumah dengan ia yang membawa tas, Ageng sudah menunggu di dekat mobilnya. Hingga saat ia melihat Levania mengangkat tas Oma Anisa, ia berjalan menghampiri wanita itu. Awalnya Ageng bingung ingin mengatakan apa karena pada kenyataannya ia dan Levania masih diselimuti suasana yang canggung. "Biar aku bantu bawa," ucap Ageng dengan suara yang kentara sekali kalau ia sedang gugup. "Nggak usah, biar aku sendiri aja. Lagian ini nggak berat kok," balas Levania tak kalah gugup. Wanita itu berjalan melewati Ageng menuju bagasi mobil dan menaruh barang omanya ke sana. Setelah Levania dan Oma Anisa memasuki mobilnya, Ageng pun ikut memasukinya mobil. Pria itu mengemudikan mobilnya menuju bandara, sepanjang perjalanan banyak pertanyaan yang diajukan Oma Anisa padanya dan dengan sopan pula Ageng menjawab setiap pertanyaan yang wanita paruh baya itu tanyakan padanya. "Wah, luar biasa ya. Nia, kamu harus beruntung punya suami pekerja keras seperti Ageng ini. Sangat jarang orang sukses karena usahanya sendiri," komentar Oma Anisa saat pertanyaannya dijawab oleh Ageng. "Saya belum sehebat itu kok, Oma, masih banyak hal yang harus saya pelajari dan lakukan." "Dia memang suka merendah gitu, Oma, padahal Ageng ini memang hebat banget. Nia yang jadi saksi perjuangan Ageng, gimana dia berjuang dari nol buat mengumpulkan modal terus bisa membangun beberapa restoran sampai sekarang," ucap Levania begitu antusias. "Semua ini juga berkat kamu, Nia, 'kan kamu yang memberi aku motivasi supaya aku jadi pemilik restoran aja," balas Ageng membuat Levania seketika menjadi tanggung ketika Ageng yang membalasnya. "Benar begitu, Nia?" Levania menoleh ke arah omanya. "I-iya, Oma, soalnya aku 'kan suka makan terus pernah tuh Ageng masakin sesuatu buat aku. Rasanya tuh enak banget, aku kasih saran aja dia bangun restoran di saat dia udah punya modal. Alhamdulillah, sekarang restorannya udah banyak dan bahkan selalu laku, hebat banget memang dia itu." Hati Ageng berbunga-bunga saat Levania memujinya, pria mana yang tidak akan merasa senang saat dipuji oleh wanita yang sangat dicintai? Maka itulah perasaan Ageng saat ini. "Itu berarti kalian saling mendukung satu sama lain, Oma benar-benar beruntung karena kamu mendapatkan pria yang tepat untuk kamu, Nia. Oma berharap kamu dan Ageng selalu bahagia selamanya dan jangan lupa cepat-cepat kasih Oma cicit ya. Oma udah nggak sabar mau gendong cicit dari kalian," ucap Oma sambil terkekeh pelan. Baik Levania maupun Ageng kini terdiam mendengar perkataan Oma Anisa, Levania jadi mengingat kembali insiden tadi pagi. Seketika saja wajahnya langsung memerah, ia merasa sangat malu. Saat ini ia hanya ingin mencoba memberanikan diri, tetapi pada kenyataannya suasana canggung itu tidak dapat ditutupi. "Loh? Kenapa pada diam? Nggak mau ngaminkan doanya Oma?" tanya Oma Anisa saat keduanya hanya diam. "Eum, kabarnya Kak Rianti di sana gimana, Oma? Aku dengar Kak Rianti hamil lagi ya?" Levania mengalihkan pembicaraan karena tidak bisa menjawab kata-kata omanya tadi. "Alhamdulillah Rianti baik, iya dia memang sekarang lagi hamil lagi. Duh, Oma senang banget rasanya karena bentar lagi Oma dapat cicit lagi." Meskipun sudah tua, tetapi Oma Anisa fisiknya sangat kuat dibandingkan dengan orang-orang tua lainnya. "Sebenarnya aku pengen banget main ke sana ketemu sama Kak Rianti dan lainnnya, tetapi aku lagi nggak libur." "Nanti liburan kamu bisa ke tempat Oma sekalian bulan madu sama suami kamu," ucap Oma Anisa. Sepertinya Levania salah bicara, menyesal sudah ia mengatakan hal itu kalau pada ujungnya omanya membahas tentang hal yang sedikit sensitif baginya yang masih merasa malu ini. "Kamu mau 'kan bawa Nia bulan madu ke Jogja, Geng?" tanya Oma Anisa pada Ageng yang sedari tadi hanya diam saja. "Bulan madu itu nggak usah jauh-jauh, yang dekat juga bisa. Apalagi Jogja itu nggak kalah indah dari tempat wisata lainnya, banyak loh tempat wisata yang harus kalian kunjungi kalau ke sana. Pokoknya Oma tunggu kehadiran kalian di sana," sambung Oma Anisa. "Iya, Oma, kalau aku dan Nia tidak sibuk, kami akan ke sana sekalian liburan," jawab Ageng sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian akhirnya mobil yang Ageng kendarai tiba juga di bandara, mereka berdua mengantar Oma Anisa menuju tempat pengunjung menunggu. Ageng dan Levania ikut menunggu di sana sampai pesawat yang Oma Anisa tumpangi akan berangkat. "Oma hati-hati ya, semoga selamat sampai di Jogja," ucap Levania memeluk omanya dengan erat. "Iya, kamu bahagia di sini ya. Jadi istri yang baik buat suami kamu, jangan membangkang kalau dia minta kamu melakukan kebaikan. Oma sayang banget sama kalian berdua." "Nia juga sayang banget sama Oma." Setelah lama berpelukan, akhirnya keduanya melepaskan pelukan itu. Kini, tatapan Oma Anisa mengarah pada Ageng, "Kamu jaga cucu Oma baik-baik, bahagiakan dia selalu. Jangan sampai kamu menyakiti cucu Oma karena kalau sampai Nia sakit, yang pertama kali Oma cari adalah kamu." "Insyaallah saya akan menjaga Nia dengan baik, Oma tidak perlu khawatir. Semoga Oma sehat selalu sampai nanti bisa melihat cicit Oma yang baru," ucap Ageng. "Kamu ini tahu aja apa yang Oma inginkan, Oma juga menunggu kabar baik itu dari kalian." Setelah selesai berpamitan, Oma Anisa segera menuju pesawatnya berada karena beberapa menit kemudian pesawat akan take off. Ageng dan Levania berjalan menuju parkiran di mana mobil pria itu berada, di perjalanan itu tak ada percakapan yang terjadi. Suasana canggung masih menyelimuti keduanya, tidak ada yang berniat bicara terlebih dulu baik itu Ageng maupun Levania. Keduanya seakan tidak punya mulut dan bibir untuk berbicara. Sesekali mereka saling lirik satu sama lainnya kemudian ketika terciduk sedang melirik, mereka langsung memalingkan wajah satu sama lain karena salah tingkah. Saat sudah berada di dalam mobil pun tetap sama, keadaan di dalam mobil terasa sunyi. Tidak seperti ketika ada Oma Anisa, setidaknya ada pembicaraan yang terjadi melalui beliau. Lain halnya dengan saat ini, seperti dua orang yang saling tak mengenal saru sama lain. Padahal, mereka merupakan teman dekat sejak lama, aneh memang. "Ehem." Ageng berdehem pelan untuk mencari perhatian Levania. "Kamu mau mampir atau langsung pulang?" tanya Ageng saat keterdiaman mereka yang membuatnya sedikit terganggu. "Langsung pulang aja," jawab Levania tanpa melihat ke arah Ageng. Ageng mengangguk, kemudian suasana kembali hening lagi. Ageng benar-benar tidak tahan dengan suasana aneh ini, ia merasa seperti berada di tempat yang asing saja. "Nia, aku ingin membicarakan tentang kejadian tadi pagi. Kita harus meluruskan hal ini, aku tidak tahan dengan suasana canggung yang terjadi di antara kita. Aku minta maaf tentang itu, sumpah aku sama sekali tidak melihatnya secara menyeluruh, aku—" "Bisa nggak kamu lupain aja hal itu? Jangan diingat-ingat lagi!" tukas Levania dengan wajah yang memerah. Ageng memperhatikan wajah Levania dari samping, pria itu memperhatikan dengan detail. Seketika ia khawatir pada Levania, "Nia, wajah kamu memerah. Kamu sakit?" tanya Ageng khawatir. Saat pria itu hendak menyentuh pipi Levania, refleks Levania menepis tangan Ageng hingga membuat pria itu terkejut. "A-aku nggak sakit, Ageng!" "Terus kenapa?" Levania melirik sekilas ke arah Ageng yang penasaran dengan jawabannya, wanita itu meremas kedua tangannya. "A-aku ...." Ageng menunggu apa yang akan Levania katakan. "Aku malu, stop bahas hal itu. Anggap aja tadi pagi nggak terjadi apa-apa, anggap kamu nggak lihat apa-apa." Levania harus memberanikan dirinya untuk mengatakan hal itu, jantungnya bahkan berdebar lebih cepat ketika mengatakan hal itu. "Baiklah." Ageng mengangguk paham. Ia sengaja merespon dengan singkat, mencoba memahami perasaan Levania yang merasa malu padanya. Ageng tidak bisa memaksakan Levania karena itu akan membuat Levania merasa malu dan tidak nyaman, ia ingin Levania merasa nyaman saat bersamanya. "Di depan sana nanti ada kedai es krim, ada salah satu es krim kesukaan kamu. Kamu mau kita mampir sebentar?" tanya Ageng mengalihkan suasana canggung yang terjadi. "Boleh," jawab Levania. "Kadang aku heran sama kamu, Nia, kamu nggak terlalu suka makanan manis, tetapi kamu suka banget sama es krim," kekeh Ageng mencoba menghapus suasana canggung yang sempat terjadi di antara mereka. "Biarin aja, lagian es krim enak kok dingin-dingin gimana gitu di mulut," balas Levania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD