12. Insiden

1021 Words
Hal yang paling membahagiakan bagi Ageng adalah, ketika ia terbangun dari tidurnya maka wajah Levania lah yang menjadi hal pertama yang ia lihat. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang pria, ketika ia melihat seorang wanita yang ia cintai terlelap di sampingnya dengan wajah pulasnya. Ageng merasa kalau Tuhan teramat baik padanya karena memberikan takdir seperti ini padanya. Dulu, ia sempat meminta pada Tuhan agar pernikahan Levania dengan Rajendra batal saja karena ia tidak kuat menahan rasa sakit ketika melihat wanita yang ia cintai sejak lama menikah dengan orang lain dan Tuhan mengabulkan doanya itu. Kini, Levania menjadi istrinya, meskipun ia tahu kalau untuk mencapai kebahagiaan bersama Levania, maka ia harus berjuang dengan keras lagi. Namun, kali ini Ageng tidak akan lagi menyerah ataupun mundur lagi, ia akan maju untuk mendapatkan kebahagiaan bersama Levania. Ia sudah banyak mengalah saat dulu dan ia tidak ingin mengalah lagi, biarkan ia menikmati kebahagiaannya dengan Levania yang teramat ia cintai. Jika dianggap ia adalah pria yang egois, maka ia akan menyangkal itu. Ia sama sekali tidak egois karena pada kenyataannya ia sudah memberikan kesempatan pada seorang pria untuk mendekati Levania dan membahagiakannya, tetapi nyatanya pria itu malah menyakiti hati Levania dan itu membuat Ageng menyesal karena sempat membuat Levania terbuai dengan segala rayuan buaya b***t itu. "Aku senang karena menjadi orang pertama yang melihat kamu bangun di pagi hari," gumam Ageng tersenyum ketika melihat wajah Levania yang tetap cantik dalam lelapnya. Jari tangan Ageng terulur untuk menyentuh pipi Levania, saat jarinya berada di pipi Levania, ia terdiam sejenak hingga kemudian ia mengusap pipi halus Levania dengan ibu jarinya dengan pelan. Levania yang merasa sentuhan di pipinya pun merasa terganggu dari tidurnya, hingga perlahan-lahan matanya membuka. Levania terkejut ketika jarak wajahnya dengan wajah Ageng begitu dekat, apalagi saat sadar kalau ibu jari pria itu berada di pipinya. "Kamu mau ngapain, Geng?" tanya Levania. Ageng tersentak saat Levania tersadar dan membuka suaranya, pria itu gelapan kemudian sontak menjauhkan tangannya dari wajah Levania. "T-tadi ada nyamuk di pipi kamu," ucap Ageng memberi alasan yang tidak logis hingga membuat Levania mengernyitkan dahinya. "Nyamuk?" tanya Levania. "Kayaknya nggak mungkin deh di kamar aku ada nyamuk, aku selalu pasang obat nyamuk listri kok," ucap Levania. Sekarang Ageng jadi gelagapan karena ulahnya yang ceroboh hingga membuat dirinya saat ini mati kutu ketika Levania berhasil membuat alasan yang ia berikan menjadi semakin tidak logis. "Ada tadi, mungkin obat nyamuknya kurang ampuh. Buktinya aku tadi lihat dia ada di pipi kamu." Sudah tahu salah, tetapi Ageng tetap beralasan hal itu karena ia memang tidak memiliki alasan lain. Tidak mungkin juga ia memberi alasan lain karena itu akan membuat Levania curiga dengan alasannya yang ganti-ganti. "Hmm, mungkin aja gitu kali ya," ucap Levania tidak mau ambil pusing. "Kamu udah bangun dari tadi?" tanya wanita itu sambil menatap suaminya. "Iya, belum lama kok." Ageng berbohong karena pada kenyataannya ia terbangun sudah sedari tadi, ia bahkan sudah sangat lama menatap wajah lelap Levania yang tidak akan cukup membuatnya puas menatap wajah cantik itu meskipun sudah lebih dari tiga puluh menit. "Kamu mau ke mana?" tanya Ageng saaf Levania beranjak dari tempat tidurnya. "Ke kamar mandi, mau ikut?" Sengaja Levania menawarkan itu karena Ageng pasti tidak akan mau, ia hanya sengaja menjahili Ageng saja. "Memangnya boleh?" tanya Ageng polos. "Ih, Ageng! Kamu mah mésum!" pekik Levania kemhdian bergegas menuju kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. "Loh? Bukannya tadi dia yang menawarkan ya," gumam Ageng sambil menggaruk belakang kepalanya. Entah siapa yang salah di sini, Ageng sungguh tidak tahu. "Ageng! Tolong ambilin handuk dong!" teriak Levania dari dalam kamar mandi. Ageng yang sedang memainkan ponselnya pun terperanjat dengan teriakan Levania yang begitu membahana itu. Cklek .... Pintu kamar mandi Levania terbuka sedikit, wanita itu menyembulkan "Ageng! Kamu dengar aku nggak? Tolong ambilin handuk," ucap Levania ketika Ageng tak merespon teriakannya tadi. "Iya sebentar." Ageng berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju lemari Levania untuk mengambilkan wanita itu handuk. "Kamu itu kebiasaan kalau mau mandi nggak sekalian ambil handuk dan baju, aku juga sekarang yang kerepotan," omel Ageng sambil menyerahkan handuk itu ke tangan Levania. "Ya habisnya aku lupa, lagian repot gimana sih, Geng? Cuma nolong ambilin handuk kamu bilang repot. Perhitungan banget kamu sama sahabat sendiri." "Bukan masalah itu, Nia, tapi—" "Tapi apa?" tanya Levania kesal karena Ageng tak cepat melanjutkan kata-katanya. "Bukan apa-apa." Ageng hendak berbalik untuk meninggalkan Levania menuju balkon, tetapi ia terkejut ketika tiba-tiba saja Levania menarik tangannya erat. "Ageng, aku kepeleset!" teriak Levania menarik tangan Ageng hingga membuat pintu kamar mandi terbuka dengan sempurna. BRUKKK Keduanya jatuh di atas lantai, Levania berada di atas tubuh Ageng sementara punggung Ageng mengenai kerasnya lantai keramik kamar mandi Levania. Beberapa saat mereka terdiam dengan posisi seperti itu, hingga tiba-tiba saja Levania tersadar kalau ia belum memakai apa-apa dan bahkan handuk yang tadi Ageng berikan entah terlempar ke mana. Wajah Ageng menjadi memerah ketika ia tak sengaja melihat sesuatu yang menggantung di bawah leher Levania, karena posisi mereka yang berhimpitan, Ageng dapat melihat dengan jelas pemandangan itu. Ageng langsung memalingkan wajahnya, wajah Levania pun sama seperti Ageng yang memerah bahkan hampir seperti kepiting rebus. Saat akhirnya sadar, Ageng membawa tubuh Levania untuk duduk tanpa melihat ke arah Levania yang nampak menggiurkan itu. Awalnya ia ragu karena takut kalau nanti ia salah memegang, tetapi kemudian Ageng berhasil melepaskan diri dari Levania. "A-aku pergi dulu." Ageng langsung pergi dari kamar Levania, pria itu kini berada di luar kamar Levania sambil mengambil napas banyak-banyak. "Tapi tadi Nia—" "Ah, apaan sih yang kamu pikirkan? Nggak boleh mikir hal yang aneh-aneh, Ageng!" Ageng mengacak-acak rambutnya frustasi saat bayangan tubuh Levania yang polos membayangi pikirannya yang menjadi kotor karena kini memikirkan hal yang iya-iya. Sementara itu, Levania langsung memasuki kamar mandinya dan menguncinya. Wajahnya masih memerah, ia sangat malu sekali karena Ageng melihat apa yang tak seharusnya pria itu lihat. "Bodoh kamu Nia, kenapa juga tadi narik tangannya Ageng." Levania merutuki kebodohannya itu sambil memukul kepalanya sendiri. "Mau taruh di mana mukaku saat berhadapan dengan Ageng nantinya?" gumam Levania. Wanita itu benar-benar merasa malu saat ini, mencoba tak mengingatnya lagi sangat sulit bagi Levania karena kejadiannya baru beberapa menit yang lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD