11. Alasan

1024 Words
Ageng dan Levania dipaksa menginap oleh Oma Anisa karena Oma ingin sebelum ia kembali ke Yogyakarta, ia ingin sarapan bersama cucu dan suami dari cucunya itu. Ageng dan Levania pun tak mungkin menolak keinginan Oma Anisa, apalagi Oma Anisa sangat jarang ke sini. Hingga mereka akhirnya menyetujui ajakan menginap itu dan tentunya Ageng sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menolak meskipun sejujurnya ia tidak nyaman dengan tatapan Teddy yang selalu tajam bila menatapnya. Tidak mungkin hanya karena ketidaknyamanannya itu, ia memaksa Levania untuk pulang. Sebenarnya bisa saja ia pulang sendiri dan membiarkan Levania sendiri di sini, tetapi rasanya itu tidak etis. Sebagai seorang menantu, meskipun hanya seorang pengganti, tetapi Ageng memiliki kewajiban untuk menjaga sopan santunnya di hadapan keluarga istrinya. "Maaf ya, atas sikap Papa yang sinis gitu sama kamu," ucap Levania pada Ageng ketika keduanya berada di kamar Levania. Tadi, setelah mengobrol, Levania mengajak Ageng menuju kamarnya karena merasa obrolan di antara Ageng dan papanya mulai tidak beres. Ia peka kalau Ageng merasa tidak nyaman dengan setiap pertanyaan papanya, maka dari itu ia mengajak Ageng pergi lebih dulu meninggalkan keluarganya. Beruntung tadi mamanya sangat pengertian sehingga mengizinkan dirinya membawa Ageng ke kamarnya, mamanya seperti tahu situasi yang terjadi sudah tidak kondusif lagi. "Nggak apa-apa, Nia," ucap Ageng sambil tersenyum. "Kamu bisa-bisanya senyum kayak gitu ya di saat kata-kata Papa sedikit nyinggung kamu." "Terus aku harus gimana? Apa aku harus nangis-nangis sambil teriak gitu?" tanya Ageng. "Ya, nggak gitu juga. Maksudnya kamu itu terlalu sabar jadi orang, Ageng, seharusnya sesekali kamu balas kata-kata Papa. Jangan nurut-nurut aja kayak tadi," jawab Levania. "Nia, Papa kamu itu sudah banyak menolongku. Aku berutang budi pada beliau, kalau saja beliau tidak membawaku dari panti asuhan dan membiayai semua pendidikanku. Aku tak mungkin bisa menjadi orang seperti sekarang, orangtua kamu sudah aku anggap seperti orangtua sendiri. Mana mungkin 'kan melawan kata-kata orangtua? Jatuhnya aku jadi anak yang durhaka," ucap Ageng. "Ya, aku tahu itu, Geng. Tapi kata-kata Papa itu kadang suka keterlaluan, kamu bisa balas dengan kata-kata yang sopan yang bisa membuat Papa jadi sadar. Kalau kamu diam aja gitu, Papa semakin nggak menghargai kamu." Levania sangat tahu betul kalau ayahnya memang tidak menyukai Ageng sedari dulu, ia bingung juga mengapa ayahnya menikahkannya dengan Ageng. Mungkin saja karena keluarganya tidak ingin menanggung malu itu sehingga akhirnya dengan terpaksa ayahnya meminta Ageng menggantikan Rajendra sebagai mempelai prianya. "Aku nggak apa-apa, Nia, kata-kata papa kamu itu termasuk hal yang wajar kok. Nggak usah khawatir," ucap Ageng sambil meraih tangan Levania, mencoba meyakinkan wanita itu kalau ia baik-baik saja. "Kamu yakin?" tanya Levania. "Yakin, kamu pikir aku cowok yang lemah?" "Bukan masalah lemahnya, Ageng, ih kamu mah nggak paham apa yang aku bilang kayaknya deh!" decak Levania kesal. "Aku paham, Nia, intinya kamu khawatir sama aku 'kan? Nggak usah khawatir, aku baik-baik aja kok," ucap Ageng sambil tersenyum. "Kenapa tuh senyum-senyum!? Sekarang ini bukan saatnya senyum ya, Ageng!" "Terus apa, Nia? Kamu mau aku marah-marah terus kayak kamu? Nanti aku cepat tua dong. Aku nggak mau ikutan tua kayak kamu." Ageng sengaja meledek Levania agar wanita itu tak terlalu serius memikirkan permasalahan kecil yang terjadi. "Ih, Ageng! Kamu kok nyebelin banget sih!? Kayaknya dari tadi kamu tuh suka banget bikin aku kesal!" "Kamu aja yang gampang kesal, padahal 'kan aku ngomong biasa aja, Nia. Sama sekali nggak ada niatan bikin kamu marah." Ageng menatap Levania dengan raut wajah tak bersalahnya. "Terserah kamu!" Levania beranjak, wanita itu berjalan menuju balkon kamarnya. Langkah Levania itu tak lepas dari perhatian Ageng, pria itu jelas saja tidak akan membiarkan Levania pergi. Ia berjalan menyusul Levania yang tengah menatap pemandangan di bawah sana. "Jangan dekat-dekat sama pembatas, nanti kalau kamu jatuh aku yang disalahin." Mendengar itu, Levania menatap Ageng sinis. "Kamu takut disalahin? Bukannya merasa khawatir sama aku yang kenapa-kenapa kalau jatuh?" "Salah satunya itu juga sih," ucap Ageng sok-sokan benar-benar tidak terlalu peduli pada Levania padahal kalau terjadi apa-apa pada Levania, maka ia lah orang pertama yang akan merasakan sakit itu. "Terserah kamu!" Levania yang mulai lelah meladeni Ageng pun memilih mengabaikan pria itu. Entah mengapa tiba-tiba jadi mengingat kembali hari pernikahan itu, kalau saja Ageng tidak menjadi suami penggantinya, maka apa yang akan terjadi pada dirinya? Sampai saat ini, Levania masih memikirkan hal itu. Sepertinya akan sangat sulit menerima Ageng sebagai suaminya karena bahkan sampai saat ini meskipun mereka tidur di ranjang yang sama, Levania tetap menganggap Ageng sebagai sosok sahabat dan kakak yang membuatnya merasa nyaman, tidak lebih. Levania akui kalau ia menyayangi Ageng, tetapi kalau cinta, maka dengan jujur ia mengatakan kalau ia tidak mencintai Ageng karena yang ia cintai masih Rajendra. Meskipun Rajendra meninggalkannya, tetapi sangat sulit melupakan pria yang bertahun-tahun sudah menjadi kekasihnya itu. Sampai sebelum Levania tahu alasan Rajendra meninggalkannya, maka Levania akan menyimpan rasa cinta itu sampai ia benar-benar bisa lupa. "Kan malah melamun, mikirin apa hayo?" Levania tersentak ketika mendengar suara Ageng yang tepat di sebelah telinganya. "Ageng, kamu bikin aku kaget aja!" Refleks Levania memukul bahu Ageng. "Siapa yang melamun? Orang aku lagi mandang taman itu kok," ucap Levania. "Kamu kaget karena kamu melamun, karena kalau kamu nggak melamun kamu pasti nggak kaget kayak gini. Lagi mikirin apa?" tanya Ageng. "Nggak ada." Levania memalingkan wajahnya dari Ageng. "Jangan bohong, lagi mikirin apa?" Levania menghela napas kemudian kini menatap Ageng. "Geng, sampai sekarang aku belum tahu alasan kamu yang mau jadi pengganti dia di hari pernikahanku. Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu mau jadi pengganti dia? Kenapa kamu mau menikahiku?" Ageng membisu saat mendengar pertanyaan itu, ia belum siap menjawab pertanyaan itu. Tidak mungkin ia menjawab kalau ia mencintai Levania maka dari itu ia mau menikahi Levania, karena kalau sampai ia mengatakan itu, maka pastinya Levania akan menjauhinya. Ia tidak mau hal itu terjadi, ia masih ingin tetap berada di samping Levania. "Geng, kenapa kamu diam aja? Apa alasannya?" desak Levania. "Itu karena aku punya utang budi sama keluarga kamu, aku nggak mau keluarga kamu menanggung malu atas apa yang Rajendra perbuat. Makanya aku melakukan itu," ucap Ageng akhirnya. Setelah mendapat jawaban itu, entah mengapa Levania masih merasa tidak puas dengan jawaban Ageng. Seakan dirinya tengah menunggu jawaban lain dari Ageng, Levania sama sekali tidak mengerti dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD