10. Dua Pendukung

2064 Words
Sudah satu minggu Levania tinggal bersama Ageng di rumah baru mereka, tak ada yang berubah dari hubungan mereka. Mereka tetap akrab kayaknya sepasang sahabat yang sudah saling mengenal lama, tidak seperti seorang istri dan suami. Ageng tak mempermasalahkan hal itu karena ia tahu kalau semua butuh proses dan kini Ageng tengah menikmati proses itu. Ia akan dengan perlahan membuat Levania jatuh cinta dengannya walaupun mungkin ini akan sulit karena Ageng tahu kalau Levania masih mencintai Rajendra. Namun, tidak ada salahnya ia berusaha, barangkali Tuhan ingin berbaik hati padanya dengan memberikan kesempatan untuknya mendapatkan hati Levania lagi. Hari libur yang cerah tanpa mendung dan hujan, Ageng dan Levania menikmati hari libur mereka berdua di rumah. Meskipun libur, tetapi sesekali Ageng mengecek ponselnya untuk membaca pesan yang berisi laporan grafik penjualan di beberapa restoran miliknya. Sementara itu, Levania yang berada di samping Ageng lebih memilih menonton televisi sambil menikmati setoples keripik kentang rasa balado kesukaannya. Hingga saat suara dering telepon terdengar, Levania mengalihkan pandangannya dari layar televisi dan lebih memilih mengambil ponselnya yang berada di atas meja. "Siapa yang telepon?" tanya Ageng sebelum Levania mengangkat teleponnya. "Mama," jawab Levania. Levania pun mengangkat panggilan dari sang mama, "Halo, Ma ...." sapa Levania. "Halo, Sayang." Sella membalas sapaan putrinya dari seberang sana. "Ada apa Mama nelepon Nia? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Levania. "Memangnya harus ada sesuatu yang penting dulu baru Mama telepon putrinya sendiri?" "Bukan itu maksud Nia, Ma, Nia cuma mau tanya aja." Di seberang sana, Sella terkekeh pelan mendengar kepanikan Levania. "Nggak usah tegang gitu, Mama cuma bercanda aja," ucap Sella. "Mama ini memang suka banget ya ngerjain aku." Levania sedikit kesal karena kelakuan mamanya tadi ia pikir kalau mamanya benar-benar berpikir begitu, 'kan ia jadi takut menyakiti hati mamanya. "Oh ya, kamu sekarang lagi ada di mana?" tanya Sella. "Di rumah, Ma, hari ini 'kan Nia libur ngajar." "Terus Ageng ke mana?" "Ada nih di samping Nia," jawab Levania. "Kalau kalian dua-duanya ada di rumah, kenapa nggak mau main ke sini? Udah seminggu loh kalian nggak ke sini semenjak kalian pamit pindah. Mama tuh kangen sama kalian," ucap Sella membuat Levania terdiam. Wanita itu menatap Ageng yang kini juga menatapnya. "Kenapa?" tanya Ageng tatkala Levania terus menatapnya. "Mama minta kita main ke sana, katanya beliau kangen sama kita," jawab Levania dengan suara pelan. "Oh ya udah, bilang aja kalau nanti sore kita main ke sana," ucap Ageng. "Beneran?" tanya Levania. "Iya, Nia. Lagian ternyata aku baru sadar kalau kita udah tinggal selama satu minggu di sini dan tanpa pergi ke rumah orangtua kamu. Menurutku hal yang wajar kalau Ibu kangen sama kamu," jawab Ageng. "Ya udah, aku bilang dulu sana Mama." Ageng hanya mengangguk. "Kalau nggak ada halangan, aku sama Ageng bakalan main ke rumah nanti sore, Ma," ucap Levania. "Nah, gitu dong dari tadi. Seharusnya kamu peka dengan apa yang Mama mau, ya udah Mama tutup dulu ya teleponnya. Mama tunggu kedatangan kalian nanti sore. Bye, Sayang!" "Iya, Ma." Tut. Panggilan pun diakhiri membuat Levania menatap ke arah Ageng yang kini sibuk dengan ponselnya. "Lagi balas pesan sama siapa tuh?" tanya Levania ingin tahu karena Ageng terlihat serius sekali membalas pesan itu. Levania yang penasaran pun mengintip di sebelah Ageng, wanita itu langsung tersenyum jahil ketika melihat ternyata orang yang berbalas pesan dengan Ageng itu merupakan seorang perempuan. "Wah, chatan sama cewek. Gebetan kamu ya, Geng?" tanya Levania tiba-tiba hingga membuat Ageng terkejut. "Bukan!" Tanpa sadar Ageng berteriak kemudian menyembunyikan ponselnya. "Kalau bukan juga biasa aja, Geng. Kalau iya juga nggak jadi masalah, santai aja," ucap Levania saat sikap Ageng yang aneh seperti itu. "Nggak mungkin aku punya gebetan, aku 'kan—" Ageng yang akan mengatakan kalau ia sudah memiliki istri yang tak lain adalah wanita yang ada di hadapannya ini pun menghentikan perkataannya, masih merasa takut mengakui statusnya sendiri. "Aku apa?" tanya Levania sambil menaikkan alisnya. "Bukan apa-apa!" Ageng menggelengkan kepalanya. "Siapa tadi? Beneran gebetan kamu ya? Sampai kamu sembunyiin segala. Kamu malu ya mau cerita sama aku? Padahal kalau cerita juga nggak jadi masalah." Levania terlihat antusias sekali. Ageng menatap Levania yang terlihat gembira. Entah mengapa hal itu membuat Ageng merasa sedih, seharusnya Levania merasa kecewa dan cemburu. Namun, Levania sama sekali tidak merasakan hal itu dan itu membuat Ageng sangat sedih, memangnya apa yang dia harapkan? Levania akan marah-marah hanya karena masalah sepele seperti ini? Tetapi Ageng ingin menikmati kecemburuan Levania yang tak bisa ia dapatkan. "Kenapa diam aja? Kamu malu ya? Ciee, Abang Ageng udah dewasa ya sekarang. Udah bisa main cinta-cintaan." Levania tak berhenti menggoda Ageng, tanpa tahu perasaan Ageng yang sebenarnya. Padahal, Ageng mengharapkan sikap lain yang Levania tunjukkan, tetapi ia tidak mendapatkan hal itu. Apakah Levania tidak menganggap pernikahan mereka benar-benar terjadi sehingga ia sebagai suami dari wanita itu dianggap wajar kalau memiliki gebetan? Ageng sedih dengan fakta itu. Apapun yang berhubungan dengan Levania selalu membuatnya menjadi sebagai seorang pria yang perasa, padahal seorang pria tidak boleh terlalu mengandalkan perasaan melainkan harus dominan pada logikanya. Namun, itu tidak berlaku bagi Ageng, khususnya pada Levania. "Siapa perempuan itu, Geng? Apa aku kenal sama dia? Kayaknya namanya nggak asing deh," ucap Levania. Ageng hanya diam, terlihat tak bersemangat menanggapi perkataan Levania dan itu membuat Levania berdecak kesal. "Ageng, kok malah diam aja sih?" tanya Levania. "Dia bukan gebetan aku, dia manager di restoran yang ada di Depok," jawab Ageng akhirnya. "Oh, si Rachel itu?" Ageng hanya mengangguk. "Dia lumayan cantik loh, Geng, kalaupun kamu jadian sama dia aku tuh setuju banget. Udah cantik, mandiri, cerdas pula. Cocok banget sama kamu yang juga kayak gitu," ucap Levania. Ageng berbalik, pria itu menatap Levania dengan tatapan yang sulit diartikan. Levania sendiri terkejut karena Ageng menatapnya seperti itu, "Kenapa kamu natap aku kayak gitu?" tanya Levania. "Kamu yakin bilang hal itu?" tanya balik Ageng. "Bilang apa?" "Bilang kalau aku dan Rachel itu cocok dan kamu ingin aku bisa dekat dengan dia." "Yakin lah, 'kan aku bicara apa adanya. Aku tuh udah kenal kamu dari lama, Geng, aku jelas tahu tipe cewek yang kamu suka itu kayak gimana." Ageng menghela napas mendengar perkataan Levania, kalau wanita itu tahu maka dia tidak akan mungkin mengatakan hal ini. Berniat menjodohkan Ageng dengan wanita lain itu sama saja dengan menyakiti hatinya, tidak tahukah Levania kalau dirinya sangat mencintai wanita itu? Kalau saja ia memiliki keberanian untuk mengatakan perasaannya, itu hanya kalau karena pada kenyataannya ia belum memiliki keberanian untuk mengatakan itu. "Aku pergi ke kamar dulu," ucap Ageng. Pria itu berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar, meninggalkan Levania yang kebingungan dengan sikap Ageng. "Dia kenapa?" tanya Levania pada dirinya sendiri karena hanya ada dia di sini setelah Ageng pergi ke kamar. "Mungkin Ageng mau ngerjain kerjaannya dan apa tadi candaanku terlalu berlebihan ya?" gumam Levania. *** Sore harinya, Ageng dan Levania segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah kedua orangtu wanita itu. Ageng berusaha bersikap biasa saja pada Levania, meskipun ia sedikit tersinggung saat tadi Levania menyuruhnya dekat dengan wanita lain di saat dirinya sendiri sudah menikahinya. Keduanya langsung memasuki mobil Ageng, pria itu menjalankan mobilnya menuju kediaman keluarga Levania. Tidak ada percakapan panjang yang terjadi saat ini, hanya ada percakapan singkat karena Ageng tak terlalu menanggapi kata-kata Levania. Ageng masih kesal pada Levania sehingga bersikap begitu. "Ageng, kamu kok dari tadi diam aja sih? Tiap ditanya juga jawabnya singkat-singkat. Kamu marah sama aku? Tapi aku salah apa sama kamu? Perasaan, aku nggak bikin kamu marah deh." Levania yang tidak tahan dengan sikap Ageng yang berubah pun buka suara. "Ih, Ageng. Jawab dong!" desak Levania sambil memukul lengan Ageng saat pria itu tak juga buka suara. "Aku nggak marah, Nia," ucap Ageng akhirnya. "Kalau kamu nggak marah, kenapa kamu bersikap kayak gini coba?" "Aku beneran nggak apa-apa, cuma lagi malas ngomong aja." Sepertinya kata-kata Ageng salah, karena setelah mengatakan itu, raut wajah Levania langsung berubah. "Kamu malas ngomong sama aku?" tanya Levania dengan suara serak menahan tangisnya. Ia selalu baper dengan kata-kata Ageng sehingga ketika Ageng mengatakan tadi, Levania menganggap kalau pria itu sudah malas berurusan dengannya. "Nggak gitu, Nia, kamu salah paham," ucap Ageng sedikit panik. Pria itu akhirnya menghentikan mobilnya di tepi jalan agar ia bisa fokus berbicara pada Levania. "Kamu yang bilang sendiri kalau kamu malas ngomong sama aku, aku salah apa sama kamu? Apa aku bikin sakit hati kamu tanpa sadar? Kalau iya aku minta maaf. Tapi jangan cuekin aku kayak gini, aku nggak bisa kamu cuekin, Geng." Levania memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja air mata mengalir di pipinya. "Hei, kenapa menangis? Jangan menangis, Nia." Ageng menyentuh kepala Levania dan memintanya agar menatapnya, kemudian pria itu mengusap pipi Levania yang basah karena air mata. "Aku sama sekali nggak marah, kamu jangan salah paham." Untuk semakin menenangkan Levania, Ageng membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Tanpa sungkan, Levania membalas pelukan Ageng dengan erat. Entah mengapa wanita itu benar-benar merasa takut kalau Ageng berubah, ia takut jika Ageng berubah maka pria itu akan meninggalkannnya. Ia tidak mau sahabat seperti Ageng pergi meninggalkannya, ia butuh Ageng berada di sisinya. "Aku takut kalau kamu berubah, kamu pergi, Geng. Maaf kalau sikapku suka bikin kamu kesal," ucap Levania. "Hei, nggak boleh ngomong gitu. Siapa yang akan pergi ninggalin kamu? Aku nggak akan pernah pergi, aku akan tetap ada di samping kamu." Akhirnya Levania tenang dalam pelukan Ageng, Ageng mengerti kalau Levania takut kehilangan untuk kedua kalinya setelah Rajendra pergi. Ia paham dengan sifat dan perasaan Levania. Meskipun ia tahu kalau ia akan menjadi yang kedua yang Levania cari, tetapi pria itu tetap memilih bertahan demi Levania. "Udah ya nangisnya, jangan nangis lagi. Malu sama anak kecil yang lewat," ucap Ageng kemudian melepaskan pelukan mereka. "Emangnya anak kecil itu bisa lihat aku? Kan kaca jendela mobilnya ditutup rapat," balas Levania. "Suara kamu nangis itu agak kencang, Nia, mereka dengar itu." "Serius!?" Ageng hanya mengangguk. "Masa iya ibu guru nangis karena dicuekin sama temannya? Kan nggak seru kalau murid-murid kamu tahu itu." "Ya makanya kamu jangan kasih tahu murid-murid aku lah!" "Aku nggak bisa janji ya, Nia, soalnya aku ada niatan mau kasih tahu mereka." Ageng tersenyum jahil, merasa sangat senang menggoda Levania. "Ageng!" teriak Levania kesal. "Aku cuma bercanda." Ageng terkekeh pelan kemudian memilih kembali menjalankan mobilnya menuju rumah orangtua Levania. Beberapa saat kemudian, akhirnya mobilnya tiba juga di halaman luas rumah milik mertuanya. Ageng dan Levania turun dari mobil, keduanya memasuki rumah besar itu. Hingga saat tiba di ruang keluarga, di sana sudah ada Teddy, Sella dan Anisa—nenek Levania dari sebelah ayahnya yang duduk sambil mengobrol di ruang keluarga. "Oma!" sapa Levania langsung menghampiri neneknya. "Cucu kesayangan Oma," ucap Anisa sambil memeluk Levania. "Baru ingat kamu kalau Nia masih punya keluarga di sini!?" Pertanyaan sinis yang dilontarkan Teddy pada Ageng pun membuat mereka semua langsung menoleh ke arah pria paruh baya itu. "Maaf, Pak. Akhir-akhir ini saya sibuk di restoran sehingga lupa membawa Nia main ke sini," ucap Ageng. "Alasan saja kamu! Pasti kamu sengaja 'kan melakukan itu? Kalau tidak ditelepon istri saya, mungkin kamu tidak akan membawanya ke sini!" tukas Teddy sinis. "Teddy, kamu itu apa-apaan? Kenapa bersikap begitu pada menantumu? Sini duduk, cucu menantu," ucap Anisa. Ragu-ragu, Ageng duduk di sebelah Levania setelah yang duduk di sebelah neneknya setelah menyalami semua orang tua yang ada di sini. Matanya masih menatap Teddy yang menatapnya dengan gahar, ia sadar kesalahannya yang tak membawa Levania ke sini sesuai janjinya. Makanya ia memilih untuk diam dan tak melawan karena di sini yang salah menang dirinya. "Oma kenapa nggak ngasih kabar kalau mau ke sini?" tanya Levania. "Sengaja mau ngasih kamu kejutan, Oma di sini juga nggak bakal lama. Mungkin cuma dua hari aja, setelah itu Oma harus pulang lagi ke Jogja," ucap Oma Anisa. "Kenapa begitu, Oma?" "Rumah di sana nggak bisa Oma tinggal lama-lama, nanti kalau Oma tinggal bisa-bisa diangkut orang itu rumahnya Oma," canda Oma Anisa sambil tertawa. "Oma ke sini itu mau lihat langsung suami kamu, waktu itu 'kan Oma berhalangan hadir di pernikahan kamu karena Oma harus dirawat di rumah sakit." Tatapan mata Oma Anisa mengarah pada Ageng yang hanya diam. "Suami kamu ini kelihatannya pria yang baik, Oma sangat setuju kamu menikah dengan dia. Oma harap kamu bisa menjaga cucu Oma dengan baik ya, Nak Ageng. Oma merasa sangat bahagia karena kamu yang jadi suaminya Nia, Oma berdoa semoga pernikahan kalian bisa langgeng sampai maut memisahkan." Ageng merasa senang karena ternyata Oma Anisa juga mendukung pernikahannya dengan Levania, itu berarti ia memiliki alasan yang semakin kuat untuk mempertahankan Levania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD