Setelah puas bermain bersama anak-anak itu, Levania dan Ageng memutuskan untuk pulang. Ageng sangat senang karena Levania terlihat lebih baik ketika berada di panti asuhan. Tidak ada lagi kesedihan yang Levania perlihatkan melainkan kegembiraan ketika ia bermain dengan anak-anak dan itu membuat Ageng sangat senang. Ternyata rencananya menghibur Levania berhasil seratus persen, padahal ia sudah takut kalau hal itu akan membuat Levania tidak merasa senang. Nyatanya ia salah karena pada kenyataannya Levania merasa terhibur dengan keceriaan anak-anak itu. Mungkin jika Levania kembali merasakan kesedihan, maka ia akan membawa istrinya itu ke sini lagi.
"Anak-anak di panti asuhan tadi pada lucu dan pintar banget," ucap Levania saat mereka berada di dalam mobil.
"Iya," balas Ageng melirik ke arah Levania sambil tersenyum.
"Kamu senang tadi di sana?" tanya Ageng.
"Iya, aku senang banget. Soalnya gimana ya ngejelasinnya? Pokoknya suasana di sana tuh enak banget, bikin nyaman. Aku nggak pernah nemuin suasana seenak itu, anak-anaknya juga pada baik-baik. Meskipun mereka hidup dalam kecukupan, tetapi mereka bisa hidup dengan bahagia. Aku paling suka banget ngelihat anak-anak itu main bareng dengan keceriaan mereka, tanpa mikirin hal-hal yang mungkin aja seharusnya mereka pikirin. Meskipun mereka nggak tahu orang tua mereka di mana, tetapi mereka tetap menjalani hidup mereka dengan kebahagiaan. Terkadang aku merasa kalau aku suka nggak bersyukur jadi manusia, padahal aku diberikan keluarga yang lengkap dan bahkan harta yang cukup, tetapi aku selalu aja nggak bersyukur. Melihat mereka semua jadi membuka mata aku buat lebih bersyukur dan bahagia untuk diriku sendiri." Mendengarkan ucapan panjang lebar yang Levania katakan membuat Ageng tersentuh, ia merasa beruntung karena membawa Levania ke sana. Karena Levania terlihat seperti orang yang baru saat ini.
"Syukurlah, aku senang karena kamu sekarang mikirnya gitu. Kamu harus selalu menikmati kebahagiaan kamu, Nia," ucap Ageng.
"Pasti itu."
"Makasih ya kamu udah bawa aku ke sana." Levania tersenyum begitu tulus, membuat Ageng yang melihatnya ikut tersenyum. Levania saat ini terlihat sangat cantik, wanita itu memang selalu cantik di mata Ageng.
"Kita nanti mampir buat makan malam ya atau kamu mau langsung pulang?" tanya Ageng.
"Kita mampir makan dulu aja, aku takut nanti kamu kelaparan lagi, nanti nggak konsen nyetir mobilnya. Aku masih mau hidup ya, nggak mau mati," jawab Levania.
Ageng tertawa karena kata-kata Levania terlalu berlebihan, "Nggak mungkin aku kayak gitu, Nia. Kalau kamu memang mau langsung pulang, aku bisa nahan diri buat nggak makan. Kita lagi naik mobil, bukan naik sepeda yang perlu tenaga buat mengayuhnya," ucap Ageng.
"Tapi tetap aja, udah ah yang penting kita mampir aja dulu nanti."
"Bilang aja kamu khawatir sama aku 'kan, Nia?" tanya Ageng sambil tersenyum jahil.
Levania langsung memalingkan wajahnya, tak mau menatap Ageng. Ageng tertawa begitu lepas melihat reaksi Levania yang seperti itu, Ageng merasa sangat bahagia hari ini, istrinya berhasil menghiburnya hingga benar-benar merasa sangat senang.
"Mau makan di mana?" tanya Ageng.
"Ya di tempat yang jual makan lah, Ageng, nggak mungkin 'kan di bengkel? Kamu pikir kendaraan rusak?"
"Kamu kok jadi ngegas gitu? Aku 'kan cuma tanya doang. Lagian nanti kalau aku pilih yang nggak sesuai sama yang mau kamu makan, nanti salah lagi," ucap Ageng.
"Ageng, kamu itu udah kenal aku dari lama. Kamu pasti paham banget apa yang aku suka dan nggak suka." Benar juga apa yang Levania katakan, tetapi tetap saja ia memiliki kewajiban untuk bertanya karena kalau ia tidak bertanya, nanti ia salah.
"Iya aku tahu, tapi nggak ada salahnya 'kan aku nanya?"
"Iya nggak salah 'kan."
"Nah makanya itu, kamu mau makan apa?" tanya Ageng.
"Malam-malam gini kayaknya enak ya makan sate, aku mau sate taichan," jawab Levania yang akhirnya menyebutkan apa makanan yang ia inginkan.
"Kebetulan di depan sana ada rumah makan yang jual berbagai macam sate, kita mampir di sana aja ya."
"Iya."
"Eh ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tahu kalau di depan sana ada yang jual sate?" tanya Levania.
"Aku 'kan sering ke sini, pasti sering lewat jalanan ini juga," jawab Ageng.
"Aku sampai lupa kalau kamu emang sering ke panti asuhan," ucap Levania.
"Efek belum makan itu kayaknya," balas Ageng sambil terkekeh kecil.
"Emangnya itu kamu?"
"Kok jadi aku yang kena?"
"Ya 'kan kamu yang suka lupa kalau udah kelaparan, kita udah sahabatan dari lama ya. Jelas aja aku tahu kamu itu kayak gimana," ucap Levania yang membuat Ageng terdiam.
"Jadi diam 'kan kamu," sambung Levania mengejek Ageng.
"Bukan itu, aku diam itu karena lagi mikir. Kok bisa ya aku sahabatan sama cewek kayak kamu?"
"Kenapa emangnya dengan aku?" tanya Levania memasang wajah yang tak bersahabat.
"Kamu itu galak, terus kadang suka nyebelin, terus suka ngambek.
"Eh aku nggak kayak gitu ya, yang nyebelin itu kamu!"
"Nah, baru aja dibilang galak. Beneran 'kan?" Levania langsung terdiam.
"Tahu ah nyebelin!" Levania membuang mukanya tak mau menatap Ageng.
"Kan mulai ngambek sekarang, padahal aku tadi cuma bercanda aja loh," ucap Ageng.
Namun, Levania hanya diam, sepertinya wanita itu benar-benar jengkel pada Ageng. Hingga ketika mereka tiba di rumah makan yang Ageng sebutkan, Levania masih diam dan itu membuat Ageng merasa tak enak. Apakah tadi kata-katanya pada Levania terlalu keterlaluan?
"Nia, jangan diam aja dong. Aku minta maaf karena bilang kayak gitu tadi," ucap Ageng.
Tak tahan dengan keterdiaman Levania bahkan saat mereka menunggu pesanan mereka yang akan diantar.
"Nia cantik, bilang sesuatu dong jangan diam aja," ucap Ageng terus membujuk Levania agar wanita itu mau bicara.
"Kalau diam aja itu jélek loh, Nia cantik ayo buka suaranya."
"Apa sih, Geng?" tanya Nia kesal saat Ageng menoel-noel tangannya.
"Nah, ngomong sesuatu dong dari tadi," jawab Ageng sambil tersenyum.
Levania mendelik kesal melihat Ageng, "Nggak usah aneh-aneh! Diam di situ!" tukas Levania saat Ageng hendak berpindah duduk tempat dari yang semula berada di hadapannya dan ingin beralih ke sampingnya.
Bak anak kecil yang patuh pada ibunya, Ageng kembali duduk tenang di tempat semula. Hingga akhirnya makanan yang mereka pesan tiba, tak hanya sate yang mereka pesan melainkan juga sop daging dan juga makanan pelengkap lainnya.
"Mas-issge deuseyo!" ucap Levania begitu senang melihat makanan enak di hadapannya.
(Selamat makan)
"Hah? Kamu bilang apa, Nia?" tanya Ageng yang tak mengerti bahasa apa yang tadi Levania katakan.
"Selamat makan, itu bahasa Korea." Ageng menggaruk belakang kepalanya
"Udah ah, nggak usah banyak tanya. Makanya nonton drama Korea biar tahu banyak," ucap Levania langsung menghentikan Ageng yang hendak bertanya lagi pada Levania.
Akhirnya Ageng dan Levania menikmati makanan mereka, sesekali pria itu melihat ke arah sang istri yang kini makan dengan semangat. Ageng tersenyum, entah menyapa ia merasa kalau ia memiliki harapan untuk hubungannya dengan Levania ke depannya. Ia layak bahagia bersama Levania dan Levania layak bahagia bersamanya.