Ageng memutuskan untuk membawa Levania ke suatu tempat untuk menghibur istrinya itu yang sedang bersedih. Meskipun Levania saat ini sudah jauh lebih tenang, tetapi Ageng tahu kalau Levania membutuhkan hiburan. Ageng sama sekali tidak memberitahu Levania mereka akan pergi ke mana, wanita itu juga sama sekali tidak menanyakan apa-apa mengapa ia mengambil arah yang berbeda dan bukannya arah yang sama seperti arah alamat rumah mereka. Sesekali Ageng melihat ke arah Levania yang sepertinya sedang melamun, pria itu menyentuh tangan Levania hingga membuat wanita itu akhirnya tersadar. Ageng mengingatkan Levania agar ia jangan melamun, karena itu tidak baik bagi dirinya.
"Aku sama sekali nggak ngelamun kok," ucap Levania menyangkal kalau saat ini ia sedang melamun.
"Jangan bohong, aku tahu sedari tadi pikiran kamu sedang kosong, Nia. Kalau ada sesuatu yang mengganjal hatimu, kamu bisa cerita sama aku, jangan malah melamun."
"Aku baik-baik aja, Ageng. Hati aku sekarang ini udah sedikit lega, 'kan aku tadi udah ngeluarin semua uneg-uneg hati aku ke kamu," ujar Levania.
"Oh ya, ngomong-ngomong kita mau ke mana ini? Arahnya bukan ke arah rumah, aku baru sasar. Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Levania mengalihkan pembicaraan ketika ia tersadar kalau jalan yang mereka lewati bukan jalan pulang ke rumah.
"Aku mau bawa kamu ke suatu tempat, aku yakin kamu pasti bakalan suka kita ke tempat itu. Tapi, sebelum itu kita mampir dulu ya ke supermarket, aku mau beli beberapa barang dulu," jawab Ageng.
Meskipun penasaran, tetapi Levania hanya mengangguk dan sama sekali tidak mendesak Ageng untuk memberitahunya tempat mana yang ingin mereka tuju. Hingga beberapa saat kemudian, mereka tiba juga di depan sebuah supermarket. Levania ikut memasuki supermarket itu bersama Ageng karena ia penasaran barang apa yang ingin Ageng beli.
"Kenapa kamu ambil s**u kotak sebanyak itu?" tanya Levania keheranan saat Ageng memasukkan banyak kotak s**u ke dalam keranjang belanjanya, mungkin kalau dihitung sampai lah dua puluh kotak s**u.
"Nanti kalau kita udah sampai ke tempat itu, kamu bakalan tahu ini untuk apa," jawab Ageng sambil tersenyum.
"Kamu tuh nyebelin banget ya, Geng, orang penasaran bukannya dikasih tahu malah dibikin tambah penasaran," decak Levania yang membuat Ageng tertawa.
"Kamu juga nggak kalah nyebelin, Nia, selalu aja nggak sabaran. Pengen terus cepat-cepat tahu apa yang bikin kamu penasaran," balas Ageng.
"Eh, aku nggak kayak gitu ya!" tukas Levania tidak terima dengan tuduhan Ageng.
"Yakin nggak kayak gitu? Buktinya kamu tadi desak aku loh," ucap Ageng membuat Levania membisu, wanita itu diam tak berkutik.
"Tau ah! Nyebelin banget jadi orang!" Levania berdecak sebal.
Ageng hanya terkekeh pelan, setelah mengambil banyak kotak s**u ia mengambil beberapa cemilan manis dan gurih yang jumlahnya juga sangat banyak. Membuat Levania semakin bertanya-tanya sebenarnya mereka ini mau ke mana.
"Kita mau piknik ya? Kamu mau ngajakin aku piknik?" tanya Levania.
"Tapi kalau piknik juga nggak mungkin bawa makanan sebanyak itu," sambung Levania.
"Siapa bilang kita mau piknik?" tanya Ageng.
"Aku nggak bilang, tapi aku nanya sama kamu."
"Nggak, kita nggak akan piknik kok. Kita mau ke tempat lain." Levania sangat gemas pada Ageng yang saat ini malah tersenyum misterius, ia itu butuh jawaban dan tak butuh senyum Ageng yang entah mengapa terlihat menyebalkan.
"Kamu ada sesuatu yang mau dibeli?" tanya Ageng.
Levania hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah sudah selesai memilih, Ageng mendorong troli belanjanya dan membawanya menuju kasir.
"Kamu tunggu aja di mobil, ini kayaknya bakalan lama deh," ucap Ageng.
"Nggak, aku tunggu di sini aja." Levania menolak usul Ageng yang memintanya menunggu di mobil.
"Lagian kamu aneh, wajar aja kalau lama karena barang yang kamu beli itu banyak banget. Untuk apa sih? Untuk stok di rumah kita? Kamu 'kan tahu aku nggak terlalu suka cemilan yang manis-manis. s**u mungkin oke lah aku suka, tapi ya nggak sebanyak itu juga," ucap Levania.
"Sekali lagi kamu nanya begitu, kamu dapat piring cantik, Nia." Refleks, Levania memukul lengan Ageng.
"Orang nanya serius juga kamu bercanda mulu, Geng. Tahu nggak? Itu sangat menyebalkan!"
"Aku nggak tahu, 'kan aku nggak ngerasain jadi kamu." Levania makin kesal, tetapi tidak ada yang bisa ia perbuat. Wanita itu hanya bisa menghela napas untuk menjaga dirinya agar tetap sabar dan tidak memukuli Ageng sejadi-jadinya, meskipun keinginannya untuk melakukan itu sangatlah besar.
Cukup lama mereka menunggu antrian karena memang dari tadi antrian di depan kasir cukup panjang, hingga akhirnya mereka mendapat bagian itu.
"Kayaknya kamu cocok deh jadi kasir supermarket, soalnya kamu sabar banget ikut aku nunggu antrian yang cukup panjang," ucap Ageng membuat Levania menoleh ke arah pria itu.
"Apa hubungannya coba sama sabar nunggu antrian? Omongan kamu makin aneh aja, Geng."
"Ck, nggak aneh tahu, Nia! Lagian ada hubungannya, seorang kasir itu harus punya kesabaran. Karena kalau kesabarannya nggak ada, gimana coba dia mau melayani pengunjung yang banyak? Belum lagi mendadak ada customer yang nyebelin. Kalau orang itu nggak sabar, pasti udah diusir tuh yang nyebelin." Levania menatap Ageng dengan tatapan anehnya, Ageng itu suka begini, selalu menyambungkan hal yang sebenarnya tidak terlalu nyambung.
"Ya, itu 'kan memang pekerjaannya, Ageng. Kalau dia jadi kasir marah-marah, bisa-bisa nggak ada pelanggan yang datang dan ujungnya dia lah yang dimarahin sama bosnya,' ucap Levania.
"Iya juga ya apa yang kamu bilang." Levania menggelengkan kepalanya, merasa kalau Ageng ini sangatlah aneh hari ini.
Entah sengaja atau tidak, tingkah Ageng benar-benar konyol. Tak seperti biasanya, karena biasanya ia lah yang bersikap konyol. Ageng biasanya selalu bersikap dewasa dengan tidak terlalu menganggap serius yang terjadi di dunia ini, entah mengapa mendadak Ageng menjadi seperti ini.
"Biar aku bantu bawa," ucap Levania berniat mengambil salah satu belanjaan Ageng.
"Nggak usah, kamu jalan duluan aja, Nia. Ini berat," balas Ageng menolak bantuan dari Levania.
"Justru karena berat, Ageng, makanya aku bantuin. Sini aku bantuin biar kamu nggak keberatan," ucap Levania, tetapi Ageng menolaknya.
"Kamu pikir aku ini pria yang lemah? Aku kuat, Nia. Udah ah jangan ngajakin aku debat mulu, kamu jalan duluan aja." Akhirnya Levania mengalah, wanita itu berjalan menuju mobil Ageng lebih dulu diikuti oleh Ageng.
Levania memasuki mobil, sementara itu Ageng pergi meletakkan barang belanjaan di dalam bagasi mobilnya. Setelah beres, Ageng memasuki mobilnya dan duduk di bangku kemudi. Ia menjalankan mobilnya menuju tempat di mana ia ingin membawa Levania ke sana.
"Tempatnya apa masih jauh, Geng?" tanya Levania.
"Nggak terlalu jauh kok, bentar lagi juga kita bakalan sampai," jawab Ageng.
Lalu, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka hingga akhirnya mobil Ageng tiba juga di suatu tempat yang dulunya merupakan tempat tinggalnya sebelum bertemu dengan keluarga Levania. Saat Levania menatap keluar jendela, wanita itu tercengang karena tempat ini adalah tempat pertemuan pertamanya dengan Ageng. Levania tidak menyangka kalau Ageng akan membawanya ke sini, sudah lama sekali ia tidak ke sini. Wanita itu sama sekali tidak kepikiran kalau Ageng akan membawanya ke sini.
"Ageng, kita ke sini?" tanya Levania sambil menatap Ageng yang kini tersenyum padanya.
"Ayo, kita turun!" ajak Ageng.
Levania dan Ageng pun turun dari mobil, Ageng menuju bagasi mobilnya untuk mengeluarkan barang-barang yang ia bawa sementara Levania masih terpaku dengan panti asuhan yang sudah sangat lama tak ia kunjungi. Levania menatap sekeliling, menjelajah tempat itu dengan matanya. Semuanya sudah banyak berubah, kalau dulu panti asuhan ini terlihat tak terawat dengan bangunan yang sudah sangat tua, tetapi kini bangunannya terlihat baru direnovasi.
"Aku nggak nyangka kamu bakalan bawa aku ke tempat ini," ucap Levania pada Ageng yang berada di sampingnya dengan semua barang yang ada di kedua tangan pria itu.
"Kenapa? Kamu nggak suka aku bawa kamu ke tempat ini?" tanya Ageng sedikit menyimpulkan.
Levania langsung menggeleng dengan cepat, "Kamu suka nyimpulin sesuatu yang belum tentu terjadi. Siapa bilang aku nggak suka? Aku masih merasa speechless aja, nggak nyangka kamu bakalan bawa aku ke tempat ini. Meskipun udah lama banget, tapi aku masih ingat kalau tempat ini adalah tempat di mana kita pertama ketemu," ucap Levania.
"Kamu masih ingat? Aku pikir kamu udah lupa." Tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, Ageng langsung tersenyum. Merasa bahagia karena Levania setidaknya mengingat kenangan itu.
"Nggak mungkin aku lupa, meskipun saat itu aku masih kecil, tetapi ingatan aku itu kuat," ucap Levania.
"Ayo kita masuk, Ibu pasti suka aku bawa kamu ke sini." Levania mengernyit, tetapi ia mengikuti Ageng berjalan menuju rumah panti asuhan itu.
"Ibu siapa, Geng?"
"Ya ibu, dia itu pengurus panti asuhan ini. Beliau berjasa banget bagi aku karena waktu sebelum aku ketemu keluarga kamu, ibu yang ngurusin aku sama anak-anak lainnya," ucap Ageng.
"Oh gitu." Levania langsung mengangguk paham.
"Assalamualaikum, Ibu." Beberapa saat kemudian ada seorang wanita paruh baya yang keluar dari sebuah rumah tua yang meskipun usia rumah itu sudah lama, tetapi masih sangat awet dan tak ada tanda-tanda kalau rumah itu buruk.
"Waalaikumsalam. Ya Allah, Nak Ageng?" Ibu Lestari langsung memeluk Ageng ketika melihat keberadaan pria yang sudah ia anggap sebagai putra kandungnya sendiri.
"Kamu kenapa nggak ngabarin Ibu kalau mau ke sini?" tanya Bu Lestari sambil melepas pelukannya.
"Sengaja mau bikin surprise buat Ibu sama anak-anak," jawab Ageng sambil tersenyum.
"Kamu ini suka kebiasaan emang ya." Bu Lestari menepuk bahu Ageng pelan, hingga tatapannya mengarah pada Levania yang sedari tadi tersenyum melihat interaksi Ageng dan wanita paruh baya itu.
"Kamu bawa siapa ini, Geng?" tanya Bu Lestari.
"Ibu pasti nggak nyangka aku bawa siapa, dia ini Nia, Bu. Anak dari orangtua yang bawa aku daru sini," jawab Ageng.
"Nia ya? Tunggu sebentar, Ibu agak lupa tapi sedikit ada ingatan tentang kamu." Bu Lestari menatap Levania dengan seksama, mengingat-ingat wanita dewasa yang tak asing baginya.
"Nia anaknya Pak Teddy dan Bu Sella?" tanya Bu Lestari.
"Iya, Bu," jawab Levania sambil tersenyum.
"Ya ampun, kamu Nia yang itu? Duh, Ibu sampai pangling karena kamu berubahnya cukup banyak." Levania tersentak ketika tiba-tiba saja Bu Lestari memeluknya, tetapi kemudian wanita itu membalas pelukan wanita paruh baya itu.
"Kamu dulu tuh kecil banget, seringnya mau nginap di sini dan nggak mau pulang sampai-sampai mama sama papa kamu ngerasa pusing." Bu Lestari melepaskan pelukannya.
"Katanya nggak ada teman di rumah dan lebih betah di sini karena banyak temannya," sambung Bu Lestari.
Itulah yang membuat Ageng diurus oleh keluarga Levania, karena mereka ingin putri mereka memiliki seorang teman.
"Ya ampun, Ibu sampai lupa minta kalian duduk. Ayo, duduk dulu. Ibu ke belakang dulu ya, mau ambilkan minum untuk kalian," ucap Bu Lestari.
"Nggak perlu repot-repot, Bu."
"Nggak repot kok, Ibu pergi sebentar ya."
Ageng dan Levania kini duduk di sebuah kursi yang ada di depan rumah Bu Lestari.
"Anak-anak di sini pada ke mana? Kok kayaknya sepi banget," ucap Levania.
"Mereka pada sekolah, rata-rata yang ada di panti asuhan ini jarang yang masih kecil, pasti udah sekolah meskipun itu TK." Levania mengangguk mendengar penjelasan Ageng.
"Kamu sering ke sini ya?" tanya Levania.
"Iya, paling sering tiap minggu. Tapi karena belakangan ini aku sering sibuk, udah sebulan aku belum ke sini," jawab Ageng.
"Kak Ageng!" Mereka menoleh saat mendengar teriakan ramai-ramai dari bocah-bocah yang memakai seragam sekolah, anak-anak itu menghampiri Ageng dan Levania.
"Kak Ageng kapan datang?" tanya seorang anak laki-laki yang lebih besar dari mereka semua. Mamanya Toni, Ageng cukup dekat dengan anak itu karena ia sering menitipkan anak-anak lainnya agar Toni bisa menjaga mereka.
"Baru aja, kalian baru pulang ya?" tanya Ageng.
"Iya, Kak."
"Kak Ageng! Itu siapa, Kak?" tanya Lira yang paling kecil dari lainnya. Anak itu menatap Levania malu-malu, Levania yang melihat itu pun tersenyum. Ia berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Lira.
"Hallo, nama Kakak, Nia, kamu namanya siapa?" tanya Levania.
"Hai, Kak Nia, aku Lira."
"Wah, Lira. Nama yang bagus," ucap Levania sambil mengusap kepala Lira dengan lembut.
"Kak Nia cantik banget, kayak princess yang ada di kartun yang Lira tonton video," ucap Lira polos.
"Kamu lebih cantik," balas Levania terlihat begitu senang berbicara dengan anak bernama Lira itu.
"Oh ya, ini Kakak beliin kalian s**u sama cemilan. Toni, ini tolong dibagiin rata sama anak-anak lainnya ya," ucap Ageng.
"Iya, Kak."
"Horeee! Kak Ageng bawain kita s**u!" teriak salah satu anak yang disusul oleh anak lainnya.
"Horeee!"
"Ayo, baris yang rapi, biar Bang Toni bisa bagiin ini semua ke ke kalian," ucap Toni. Tanpa menunggu waktu lama, mereka semua langsung berbaris rapi di depan Toni.
"Anak-anaknya pada nurut ya, Geng? Mereka lucu-lucu banget," ucap Levania pada Ageng.
"Iya, kamu benar." Tatapan mata Ageng mengarah ke Levania yang tersenyum sambil menatap anak-anak itu, Ageng merasa senang karena Levania terhibur ketika ia ajak ke sini.