7. Hanya Sahabat

1047 Words
Ageng berusaha fokus pada pekerjaannya meskipun ia sebenarnya tidak bisa fokus usai percakapannya dengan Teddy. Ageng merasa takut kalau suatu saat nanti Teddy akan memisahkan dirinya dengan Levania, padahal ia sudah sangat berharap kalau ia dan Levania bisa bersama selamanya. Salahkah jika ia egois dengan mengharapkan Levania supaya tetap bersamanya di saat ia pun sudah berjanji pada Teddy kalau pernikahannya dengan Levania hanya berlangsung sebentar saja? Namun, Levania sama sekali tidak tahu tentang perjanjiannya dengan Teddy, mungkinkah bisa ia merubah pola pikir mertuanya itu supaya bisa menerimanya dan menganggapnya sebagai seorang menantu? Karena Ageng berpikir kalau ini adalah kesempatan yang bagus untuknya mendapatkan hati Levania, selagi wanita itu kini menjadi istrinya. Ageng masih berharap bisa mempertahankan Levania agar tetap berada di sampingnya, apapun yang terjadi nantinya. Hingga jam makan siang pun tiba, Ageng melirik jam di pergelangan tangannya, kalau begitu seharusnya ia pergi ke tempat Levania mengajar karena sebentar lagi wanita itu akan menyelesaikan jam belajarnya. Ageng pun mengirimkan pesan pada Levania kalau ia akan menjemput wanita itu, tak butuh waktu lama untuk Levania membalas pesan itu. [Aku tahu kalau kamu saat ini sedang sibuk, Geng, tidak perlu menjemputku tidak apa-apa.] Ageng membaca isi pesan dari Levania, ia sedikit kecewa saat membacanya, tetapi Ageng memutuskan untuk membalas pesan itu dengan cepat. [Aku sama sekali tidak sibuk, Nia, lagipula kalau nanti aku tak menjemputmu, kamu akan pulang bersama siapa? Biarkan aku menjemputmu sekalian nanti kita cari makan siang bersama.] Beberapa saat kemudian, Levania membalas pesan Ageng. [Baiklah, jika kamu memaksa. Aku akan tunggu kamu di depan gerbang sekolah.] Ageng tersenyum membaca pesan itu, ia menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya kemudian menjalankan mobilnya menuju sekolah di mana Levania mengajar. Levania sendiri yang baru saja membereskan peralatan mengajarnya, meminta anak-anak untuk berdoa. Kemudian ia menyuruh mereka meninggalkan tempat ini, Levania menghela napas kemudian pergi menuju kantor guru. Wanita itu menghentikan langkahnya sejenak ketika melihat beberapa guru yang belum pulang dan malah sedang mengobrol. "Nia? Kamu baru keluar dari kelas ya? Ayo, sini! Bergabung bersama kami!" Salah seorang guru melambaikan tangannya ke arah Levania. "Maaf, Bu, saya harus langsung pulang karena suami saya sedang perjalanan menuju ke sini," ucap Levania dengan wajah tak enak hati. Padahal, ia memang benar-benar tidak ingin bergabung bersama mereka. "Oh, saya lupa kalau kalian ini pengantin baru. Ya sudah tidak apa-apa, semoga langgeng bersama suami baru kamu ya." Levania hanya mengangguk, wanita itu menuju mejanya, menaruh barang-barangnya di sana kemudian berniat pergi dari sana sebelum seseorang memanggil namanya. "Eh, Nia, minta tolong boleh? Rajendra itu 'kan pimpinan perusahaan di bidang promosi. Sesekali boleh lah sekolah kita ini dipromosikan olehnya, siapa tahu nanti tahun ajaran baru, pendaftar semakin membludak," ucap seorang guru bertubuh tambun yang bernama Bu Santi. "Ibu jangan bicara begitu." Salah seorang guru lainnya menegur dengan menepuk pelan tangan Bu Santi. "Loh? Saya salah apa memangnya?" tanya Bu Santi tak mengerti. "Pernikahan Nia bersama Rajendra itu batal, dia menikah dengan sahabatnya sendiri." "Kenapa bisa begitu?" "Rajendra tidak hadir di acara pernikahan mereka, sampai saat ini tidak ada yang tahu alasannya." Levania terdiam ketika guru-guru itu membicarakan dirinya tepat di depan matanya sendiri, ia sudah lelah untuk menegur sehingga ia hanya membiarkan saja ibu-ibu itu membicarakannya. "Kenapa bisa begitu, Nia? Saya turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu. Apa Rajendra selingkuh sehingga dia membatalkan pernikahan kalian?" Levania terdiam mendengar pertanyaan Bu Santi, ia bingung ingin menjawab apa karena pada kenyataannya ia tidak tahu alasan Rajendra meninggalkannya. Bahkan, sampai saat ini nomor pria itu tidak bisa dihubungi. Setiap ada orang yang bertanya demikian, hati Levania terluka karena ia kembali mengingat kejadian di hari pernikahannya. Namun, ia berusaha kuat untuk tidak menangis di depan semua orang, karena itu akan menurunkan harga dirinya saja. "Saya tidak tahu, kalau begitu saya permisi dulu." Levania bergegas meninggalkan kantor guru, ia berjalan cepat menuju gerbang sekolah agar tidak ada yang menegurnya ataupun menanyakan hal-hal itu. Ageng hampir tiba di depan gerbang sekolah Levania, dari kejauhan Ageng melihat Levania yang berdiri di pinggir jalan depan gerbang sekolah. Ageng menjalankan mobilnya hingga akhirnya mobilnya berhenti telah di depan Levania, Levania tepat sedari tadi menunduk pun mendongak saat melihat mobil yang ia kenali. Ageng membuka kaca mobilnya untuk menyapa Levania. "Ayo, masuk!" ajaknya. Tanpa kata, Levania langsung memasuki mobil Ageng. Wanita itu duduk di samping kemudi, memasang safety belt-nya kemudian duduk tenang di sana. Ageng menjalankan mobilnya sesekali melirik ke arah Levania, ia menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan Levania. Wajah istrinya itu begitu murung, Ageng tidak tahu apa yang terjadi pada Levania. Tadi, saat ia mengantar Levania ke sekolah, wajah Levania tidak seperti ini. Meskipun terlihat ada kesedihan di sana, tetapi Levania tetap tersenyum. "Apa yang terjadi di sekolah?" Tak tahan, akhirnya Ageng bertanya membuat Levania menoleh ke arahnya. "Tidak ada apa-apa." Levania hanya menggelengkan kepalanya, tak mau jujur pada Ageng. "Jangan bohong, Nia, aku tahu kamu luar dalam. Pasti terus sesuatu 'kan saat kamu di sekolah?" tanya Ageng tepat sasaran. "Nggak terjadi apa-apa di sekolah, Ageng. Aku baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir," ucap Levania. Namun, Ageng sama sekali tidak melihat kalau Levania saat ini baik-baik saja, buktinya wajah wanita itu mengatakan yang sebenarnya. "Kalau kamu baik-baik aja, kamu nggak akan murung kayak gini, Nia. Bilang sama aku apa yang terjadi? Apa ada yang nyakitin kamu? Siapa orangnya? Biar aku kasih dia pelajaran." Levania hanya menggelengkan kepalanya. "Ageng, bisa stop nggak? Berhenti tanya-tanya kayak gitu. Aku bilang, aku baik-baik aja. Aku benar-benar baik-baik aja meskipun ada banyak orang yang mempertanyakan batalnya pernikahanku dengan Rajendra, aku benar-benar baik-baik aja. Aku baik, aku baik-baik aja. Aku ba—" Levania bahkan tidak bisa melanjutkan kata-katanya, wanita itu menangis dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya tangannya. Ageng yang melihat itu sontak saja langsung menepikan mobilnya, saat mobilnya sudah berhenti, Ageng menarik Levania ke dalam pelukannya hingga akhirnya Levania menangis di dalam pelukannya. "Jangan sedih, Nia, ada aku yang selalu berada di samping kamu. Meskipun si b******k itu pergi, kamu masih punya aku." Kalimat Ageng sebenarnya memiliki makna tersirat yang tak akan Levania mengerti, karena hanya dirinya yang mengerti itu. "Ya, ada kamu yang selalu ada untukku. Kamu memang sahabat terbaikku, Ageng. Makasih karena kamu, aku menjadi kuat sampai hari ini." Ageng tersenyum tipis, sejujurnya ia merasa sakit ketika Levania mengakuinya sahabat. Meskipun pada kenyataannya mereka memang bersahabat, tetapi saat ini Ageng adalah suami Levania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD