6. Hanya Suami Pengganti

1032 Words
"Kamu mau ngajar hari ini?" tanya Ageng setelah ia berhasil menenangkan Levania. "Iya, aku pergi ke kamar dulu. Mau mandi terus siap-siap," ucap Levania. Ia pergi dari ruang makan kemudian menaiki anak tangga menuju kamar mereka, Ageng menatap kepergian Levania sambil menghela napas. Pria itu memutuskan untuk membereskan bekas makan mereka. Ageng menunggu Levania di ruang keluarga sambil membalas pesan yang manager di salah satu restoran miliknya kirimkan. Hingga beberapa saat kemudian Levania akhirnya selesai dan kini menghampirinya. "Kita berangkat bersama saja ya? Kamu tunggu aku, aku akan bersiap-siap dengan cepat," ucap Ageng yang langsung beranjak dari duduknya menuju kamar mereka. Levania yang sudah siap pun menunggu Ageng dengan duduk di sebuah sofa, hingga beberapa saat kemudian Ageng datang menghampirinya dengan memakai celana bahan dan juga kemeja berwarna hijau sage. "Ayo!" ajak Ageng membuat Levania berdiri kemudian mereka berjalan keluar rumah. "Seharusnya aku berangkat sendiri aja, pasti akan sangat merepotkan kamu kalau kamu harus ngantar aku dulu ke sekolah," ucap Levania saat keduanya sudah berada di dalam mobil Ageng. "Nggak apa-apa, kamu bukan orang asing bagiku, Nia. Kamu sama sekali nggak merepotkanku kok, aku malah senang bisa mengantarmu," balas Ageng sambil tersenyum. "Kamu yakin?" tanya Leganya meyakinkan. "Iya." "Makasih, Ageng, kamu memang sahabatku yang paling baik." Ageng terdiam mendengarnya, padahal ia berharap setidaknya Levania mengakuinya sebagai seorang suami maka ia pasti akan merasa senang. Beberapa saat kemudian akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba juga di depan gerbang sekolah di mana Levania mengajar. Levania pun melepaskan safety belt yang ia pakai kemudian menatap Ageng yang sedang tersenyum ke arahnya. "Aku pergi dulu ya, makasih udah nganterin aku." "Iya, semangat ngajarnya," ucap Ageng masih tersenyum. "Makasih." Levania balas tersenyum. "Nah, kalau kamu senyum gitu 'kan nambah cantik," ucap Ageng. "Kamu bisa aja, udah ah jangan bikin aku salting." Ageng terkekeh pelan, pria itu membiarkan Levania keluar dari mobilnya. "Kamu hati-hati ya di jalan, ingat jangan ngebut. Nanti kalau kamu mati, aku kehilangan sahabat terbaik kayak kamu," ucap Levania. "Kamu doanya buruk banget," balas Ageng. "Doaku nggak buruk, aku cuma ngingetin kamu aja supaya nggak ngebut. Udah ah sana buruan pergi, aku mau masuk." "Ya udah aku pergi dulu," ucap Ageng. "Hati-hati!" teriak Levania saat Ageng akhirnya pergi dari gerbang sekolah ini menuju restorannya. Setelah mobil Ageng tidak terlihat lagi, Levania pun memasuki area gerbang sekolahnya. Saat ia hendak menuju kelasnya berada, seorang wanita yang satu profesi dengannya memanggil dirinya. "Loh, Nia? Kamu kok langsung ngajar hari ini? Bukannya kamu udah ambil cuti ya?" tanya wanita bernama Dita itu pada Levania. "Iya, tapi aku nggak jadi ambil cuti. Semalam juga udah bilang sama Pak Ridho," jawab Levania. "Oh iya, aku lupa. Pernikahan kamu sama calon suami kamu itu 'kan batal ya? Upss, maaf aku nggak sengaja bilang," ucap Dita menutup mulutnya seakan menyesali perkataannya. "Ah iya, aku juga dengar walaupun pernikahan kamu dengan calon suamimu itu batal, tetapi pernikahan kamu masih terjadi 'kan? Ageng yang menggantikannya 'kan? Hmm, kamu beruntung sih, Nia, kelihatannya Ageng itu pria yang sangat baik. Nggak bakalan nyesal kamu menikah dengan Ageng," ucap Dita panjang lebar. Levania hanya diam saja, sama sekali tidak merespon perkataan Dita. "Permisi, aku harus segera pergi ke kelas. Jam mengajar sebentar lagi dimulai," ucap Levania kemudian berlalu dari hadapan Dita menuju kelas tiga. "Dasar tidak sopan, orang lagi mau bicara ditinggal gitu aja. Pantas ditinggal sama calon suaminya!" umpat Dita yang masih dapat didengar oleh Levania. Levania terdiam mendengar umpatan itu, sejujurnya ia sedih mendengarnya. Namun, Levania berusaha untuk kuat, wanita itu mengusap sudut matanya yang sempat mengeluarkan air mata kemudian bergegas memasuki kelasnya. Di sisi lain, Ageng baru saja sampai di restoran pusat yang ia kelola. Saat ia melewati para pegawainya, mereka menyapanya sambil mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Levania. Ageng hanya tersenyum menanggapinya, sejujurnya ia tidak terlalu merasa senang dengan ucapan selamat itu karena pada kenyataannya pernikahannya dengan Levania sama sekali tidak diharapkan oleh wanita itu. Ia menikah hanya sebagai suami pengganti saja, hubungan pernikahannya seterusnya ia tidak yakin apa yang akan terjadi nantinya. Yang jelas saat ini Ageng masih berusaha untuk meluluhkan hati Levania, agar wanita itu menganggapnya sebagai seorang suami dan bukannya sahabat. "Selamat ya, Pak, atas pernikahan Bapak dengan Bu Nia," ucap salah seorang pelayan restoran di sini. "Terima kasih, Cika." Ageng tersenyum tipis kemudian memasuki ruangannya. Ageng duduk di kursinya, ia membuka buku laporan yang pegawainya sempat taruh di sini. Hingga suara ketukan pintu ruangannya terdengar, "Masuk!" seru Ageng mempersilakan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk. "Permisi, Pak, di luar ada yang mencari Bapak. Katanya ia ingin bertemu," ucap salah satu pelayan itu pada Ageng. "Siapa?" tanya Ageng. "Saya tidak tahu, Pak, tetapi sepertinya dia orang penting. Tadi dia membawa mobil yang begitu mewah." Ageng mengernyit mendengarnya. "Ya sudah, saya akan segera ke sana. Terima kasih sudah memberitahu," ucap Ageng. "Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Setelah kepergian pelayan itu, Ageng keluar dari ruangannya. Pria itu terkejut ketika melihat ternyata pria yang pelayannya tadi maksud adalah Teddy, ayah mertuanya. "Pak Teddy," sapa Ageng membuat Teddy menoleh ke arahnya. "Silakan duduk, Pak," ucap Ageng. "Kamu, tolong bawakan secangkir kopi dan hidangan di meja ini," ucap Ageng meminta pelayannya itu membawakan apa yang ia mau. "Tidak perlu repot-repot, saya tidak akan lama di sini," tukas Teddy. "Sama sekali tidak repot kok, Pak." Ageng memberi kode pada pelayannya agar segera pergi untuk melakukan apa yang ia minta. "Saya permisi dulu, Pak." Ageng dan Teddy duduk berhadapan di sebuah kursi, mata Teddy menatap tajam Ageng sedangkan pria itu sendiri ketar-ketir ingin mendengar perkataan ayah mertuanya. "Saya dan istri saya belum tahu kamu membawa Nia tinggal di mana kemarin," ucap Teddy. "Saya membawa Nia pergi ke rumah baru saya, Pak, kebetulan rumah barunya sudah jadi sebulan yang lalu," balas Ageng. "Kalau Bapak berkenan, Bapak dan Ibu bisa mampir kapan-kapan ke rumah saya dan Nia," sambungnya sopan. "Tanpa kamu suruh pun aku pasti akan ke sana," tukas Teddy congkak. "Saya ke sini hanya ingin mengingatkan kamu lagi, bersikaplah sesuai batasanmu. Sejujurnya saya tidak setuju kamu membawa Nia pergi, tetapi berhubung anak saya itu mau ikut bersamamu. Saya bisa apa? Satu hal yang harus kamu ketahui kalau kamu itu hanya suami pengganti, bukan suami seutuhnya untuk anak saya!" Usai mengatakan itu, Teddy berdiri kemudian pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD