Saat membuka kedua matanya, hal yang pertama kali Ageng lihat adalah wajah Levania yang begitu dekat dengannya. Bahkan embusan napas wanita itu begitu terasa, Ageng bisa melihat wajah Levania yang begitu dekat. Serasa mimpi ia bisa melihat Levania dalam jarak yang dekat seperti ini. Ageng yang sudah bangun, memutuskan untuk diam sejenak untuk menikmati keindahan wajah Levania. Ragu-ragu, tangannya menyentuh pipi Levania dengan pelan, saat wanita itu bergerak, Ageng menarik tangannya. Namun, ketika dirasa kalau Levania sama sekali tidak terbangun dari tidurnya, Ageng menyentuh lagi wajah Levania. Pria itu mengusap lembut pipi Levania, senyumnya tidak dapat ditahan lagi.
Setelah lama memandangi wajah Levania, akhirnya Ageng turun dari tempat tidur. Pria itu memutuskan untuk mencuci mukanya kemudian mandi. Ketika keluar dadi kamar mandi, Levania masih belum bangun juga. Hingga akhirnya Ageng memutuskan pergi ke dapur setelah memakai pakaiannya, ia berniat memasak sarapan untuk mereka berdua.
Ageng memilih bahan-bahan makanan apa saja yang ia gunakan untuk membuat sarapan hari ini. Hingga pilihan Ageng jatuh pada roti tawar, daging dan juga sayuran. Ia memasukkan roti tawar itu ke dalam panggangan roti, sambil menunggui roti matang, ia pun memotong daging-daging itu menjadi irisan yang tipis-tipis. Ia akan membuat sandwich isi daging dan sayuran.
"Semoga Nia suka," gumam Ageng saat ia sudah selesai dan kini menghidangkan makanan itu di atas meja makan.
Ageng mengambil gelas dan mengisinya dengan s**u putih, ia menaruhnya di atas meja, s**u itu untuk Levania. Kemudian ia membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Saat ia sudah selesai dengan pekerjaannya dan kini menaruh secangkir kopi itu di atas meja, Levania memasuki ruang makan dengan wajahnya yang baru saja bangun tidur.
"Kamu masak sarapan?" tanya Levania duduk di salah satu kursi.
"Iya, ayo kita sarapan," ajak Ageng yang kini duduk di hadapan Levania.
"Kenapa kamu nggak bangunin aku? Harusnya aku yang masak buat kamu," ucap Levania.
"Tadi kamu tidurnya nyenyak banget, aku nggak tega banguninnya." Ageng menjawab dengan jujur, ia tidak enak membangunkan Levania hanya untuk meminta wanita itu untuk membuat sarapan.
"Lagian biasanya aku yang masakin buat kamu 'kan? Jadi, nggak ada masalah," sambung Ageng.
"Justru itu masalahnya, kamu selalu masakin aku. Aku malah merasa nggak enak jadinya!"
"Ya nggak apa-apa, kamu 'kan—" Ageng menghentikan kata-katanya sejenak, ingin menyebut dirinya sebagai suami Levania, tetapi sepertinya itu tidak akan baik bagi mereka.
"Kita 'kan sahabatan udah dari lama, nggak jadi masalah 'kan meskipun aku udah sering masakin kamu?" tanya Ageng sambil tersenyum dengan sedikit menahan rasa sakit di hatinya. Sejujurnya ia ingin menyebut dirinya sebagai suami Levania, tetapi ia sadar kalau pernikahan mereka ini bukanlah pernikahan yang Levania inginkan.
Ageng tahu kalau Levania masih mengharapkan Rajendra, ia mengetahui itu saat mendengar suara tangis dari dalam kamar mandi. Ia hanya pura-pura tidak tahu saja karena tidak ingin Levania merasa malu ketika ia tahu hal itu.
"Iya juga ya," ucap Levania.
"Kamu masak makanan kesukaan aku, kayaknya enak ini. Aku makan ya?" Ageng hanya mengangguk.
Levania pun mulai menikmati sandwich buatan Ageng, "Eum, masakan kamu emang paling the best deh. Rasanya selalu enak, nggak pernah mengecewakan. Pantas aja restoran kamu selalu laris," ucap Levania.
"Bagaimana kamu tahu kalau restoran aku banyak pengunjungnya?" tanya Ageng penasaran.
"Aku jelas tahu lah, aku 'kan sahabat kamu. Masa iya seorang sahabat nggak tahu tentang itu?" tanya Levania.
Ageng terdiam, sejujurnya tadi Ageng berharap kalau Levania akan menyebut kalau dirinya suami dari wanita itu. Namun, ternyata Ageng hanya terlalu berharap, karena pada kenyataannya Levania sama sekali tidak menganggapnya demikian. Levania masih menganggapnya sebagai seorang sahabat, tidak lebih dari itu.
"Ageng, kok kamu malah diam sih?" Levania menegur Ageng yang malah diam, padahal Levania berharap kalau Ageng bisa membalas perkataannya hingga bisa terjadi obrolan seru di antara mereka.
"Ah iya, maaf," ucap Ageng.
"Ayo dihabiskan sandwich-nya kalau kata kamu enak." Levania hanya mengangguk, ia memakan sandwich isi daging itu sesekali meminum s**u yang Ageng tuangkan untuknya.
"Nia ...." panggil Ageng tiba-tiba.
"Hmm?" Levania hanya bergumam
"Meskipun kamu belum ikhlas kalau pernikahan kamu dengan dia batal, tapi aku minta kamu jangan bersedih terus menerus. Hidup harus terus berjalan, Nia," ucap Ageng membuat Levania tertegun.
Wanita itu menatap Ageng yang kini balas menatapnya, Levania terkejut saat Ageng tahu kalau saat ini ia masih bersedih tentang itu. Pertanyaannya bagaimana Ageng bisa tahu itu? Bukankah ia menangis ketika Ageng tidak berada di dekatnya? Ia bahkan hanya menangis saat di kamar mandi saja. Itu pun dengan suara yang kecil, tidak mungkin 'kan Ageng mendengarnya?
"Siapa bilang kalau aku belum ikhlas? Aku sudah ikhlas dia pergi, Geng, sangat ikhlas."
"Kamu jangan bohong, Nia, aku tahu kamu diam-diam menangis di kamar mandi. Aku juga tahu kamu suka melamun sendiri, semua itu aku tahu. Kita sahabatan nggak cuma sebulan dua bulan, tapi udah dari lama. Aku tahu kamu orangnya seperti apa," ucap Ageng menyandarkan Levania kalau tidak seharusnya ia berbohong karena pada kenyataannya Ageng ini sahabatnya dan sudah mengenal dirinya sejak lama.
"Ya, kamu benar. Aku memang belum sepenuhnya ikhlas atas kepergian Rajendra, aku tidak tahu alasan dia pergi begitu saja. Padahal, aku sudah sangat berharap kalau kami bisa hidup berdua bahagia selamanya. Nyatanya semua itu tidak terjadi karena dia pergi, Geng, aku sangat sedih sekali. Aku kecewa!" Levania tidak tahan untuk tak menumpahkan air matanya, semua ini terasa sakit dan Levania tidak bisa menahan rasa sakit itu.
Ageng yang melihat Levania pun menghampiri Levania, pria itu langsung membawa Levania ke dalam pelukannya. Levania menangis di dalam pelukan Ageng, Ageng mencoba menenangkan Levania dengan mengusap punggung wanita itu.
"Jangan menangis lagi, Nia, meskipun dia sudah meninggalkanmu ada aku di sini bersamamu." Dalam kalimatnya, Ageng berusaha mengatakan kalimat penuh makna tersirat. Kalau ia tidak akan pernah pergi dari Levania, ia akan tetap bersama wanita itu apapun yang terjadi.
"Ageng, aku sedih karena Rajendra nggak bisa dihubungi. Padahal aku mau tahu alasan dia melakukan ini, aku salah apa coba sama dia? Kenapa dia ninggalin aku tanpa alasan yang jelas? Aku cinta dia, Geng. Aku udah berharap kalau dia akan jadi suami aku, tetapi ternyata malah kamu yang jadi suami aku. Aku nggak bisa terima fakta ini, kamu sahabatku, bukan suamiku. Karena Rajendra kita harus terjebak dalam pernikahan ini." Ageng merasa sedikit sakit mendengar perkataan Levania, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain berusaha menenangkan Levania.