Setelah sarapan bersama, Levania dan Ageng memutuskan untuk ke kamar. Ada yang ingin Ageng bicarakan pada Levania, sehingga ia meminta wanita itu untuk ikut ke kamar bersamanya. Di sini mereka berada, duduk saling bersampingan. Ageng ragu ingin mengatakan hal ini pada Levania, ia takut kalau Levania tidak akan setuju. Namun, Ageng harus mengatakannya, karena tidak mungkin ia tidak mengatakan hal yang sangat penting ini.
"Nia ...." panggil Ageng membuat Levania menoleh ke arah sahabat yang beberapa jam lalu sudah resmi menjadi suaminya.
"Kenapa?"
"Apa kamu setuju kalau hari ini kita pindah dari sini?" Ragu-ragu Ageng bertanya demikian, ia sengaja tidak terlalu panjang dalam berucap karena ia ingin melihat respon Levania lebih dulu.
"Maksudnya kamu akan membawaku pindah dari rumahku ini untuk ikut tinggal bersamamu?" tanya Levania memastikan.
Agung hanya mengangguk.
Levania menghela napas, "Apa tidak bisa kita tinggal di sini saja?" pinta Levania.
"Bukannya aku ingin memisahkan kamu dengan orangtuamu, hanya saja aku merasa tidak nyaman jika tinggal di sini. Aku harap kamu bisa mengerti alasanku, Nia," ucap Ageng menatap Levania yang kini menatapnya.
"Pasti karena papa, ya?" tanya Levania tiba-tiba.
Levania jelas tahu kalau ayahnya tidak terlalu menyukai Ageng, hal itu bisa Levania ketahui atas sikap papanya pada Ageng.
Ageng hanya mengangguk karena memang itulah alasannya, ia tidak ingin terus ditatap seperti itu pada ayah mertuanya. Ageng harap Levania mau memahaminya.
"Baiklah, kita akan pindah asalkan papa dan mama mengizinkannya," ucap Levania membuat Ageng menatap Levania tidak percaya.
"Benarkah kamu setuju untuk ikut aku pindah?" tanya Ageng tidak percaya.
"Iya, kamu sudah membantu keluargaku. Tidak mungkin aku egois ingin tinggal di sini sedangkan kamu sendiri merasa tidak nyaman ada di sini," ucap Levania.
"Jangan bicara begitu, justru keluarga kamu yang lebih banyak membantuku, kalau bukan karena keluarga kamu, aku tidak akan menjadi seperti ini." Ageng meraih tangan Levania untuk ia genggam, Ageng merasa senang ketika Levania sama sekali tidak menolaknya.
Setelah berbicara berdua di kamar, Ageng dan Levania memutuskan untuk keluar dari kamar. Keduanya langsung menghadap orangtua Levania, Ageng ingin meminta izin membawa Levania ikut bersamanya walaupun ada rasa sedikit takut kalau Teddy tidak akan mengizinkannya membawa Levania pergi.
"Saya tidak izinkan kamu membawa Nia pergi dari sini," ucap Teddy tegas setelah Ageng mengatakan niatnya itu.
"Pa," protes Levania menatap ayahnya kesal.
"Nia ini anak kami satu-satunya, mana mungkin kami biarkan dia pergi dari sini." Teddy melanjutkan perkataannya, seakan memberi alasan mengapa ia tidak bisa membiarkan putrinya dibawa pergi oleh suaminya.
"Jangan begitu lah, Pa, biarkan saja Ageng membawa Nia pergi. Lagipula sekarang ini Nia sudah resmi menjadi istrinya Ageng, jadi biar bagaimanapun juga Nia harus ikut ke mana suaminya pergi." Sella angkat bicara membuat sang suami menatap dirinya tajam, tetapi Della sama sekali tidak gentar.
"Iya, apa yang Mama katakan itu benar, Pa. Papa sendiri yang memberi usul kalau Nia harus menikah dengan Ageng, kenapa sekarang Papa malah berat membiarkan Nia ikut Ageng?" tanya Levania.
Teddy menatap Ageng tajam, ia lupa membicarakan tentang ini pada Ageng sehingga pria itu bisa membawa putrinya pergi. Namun, percuma saja ia menolak, karena ia telah kalah suara. Hingga akhirnya, mau tidak mau Teddy mengizinkan juga Ageng pergi bersama Levania.
"Baiklah, saya akan izinkan kamu membawanya pergi. Asal kamu harus ingat ini baik-baik, kalau sampai Nia kenapa-kenapa. Kamu sendiri yang akan mendapatkan akibatnya karena tidak becus menjaga putri saya!" tukas Teddy.
"Saya akan menjaga Nia dengan baik, Pak, saya akan pastikan kalau dia tidak akan merasa sedih saat bersama saya." Itulah yang Ageng pegang untuk dirinya sendiri, ia tidak akan membuat Levania menangis.
Hingga akhirnya setelah berkemas, Ageng membawa Levania ikut bersamanya. Saat ini mereka sedang berada di mobil, perjalanan menuju rumah baru Ageng yang akan ia tinggali bersama Levania. Ageng merasa senang karena apa yang ia kira tidak seperti yang terjadi saat ini. Awalnya ia mengira kalau sesulit itu membuat Levania menerima dirinya, tetapi ternyata Levania menerimanya.
"Geng, ini kita mau ke mana? Kok jalannya beda?" tanya Levania yang begitu hafal arah jalan ke apartemen Ageng.
"Nanti juga kamu tahu, Nia, tunggu aja ya," ucap Ageng sambil tersenyum misterius.
"Ah kamu mah! Suka bikin penasaran aja, bilang dong kita ini mau ke mana?"
"Jangan-jangan kamu pindah ke apartemen yang baru ya?" Ageng hanya menggelengkan kepalanya.
"Terus apa?"
"Kita sudah sampai," ucap Ageng memberhentikan mobilnya di dalam halaman rumah minimalis yang terlihat masih baru.
"Ini rumah siapa, Geng?" tanya Levania saat melihat ke arah luar jendela kaca mobil.
"Ayo turun!" ajak Ageng yang sudah melepaskan safety belt-nya.
Dengan pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya, Levania pun ikut turun dari mobil Ageng. Wanita itu menyusul Ageng yang ternyata sudah berjalan menuju depan pintu rumah baru ini.
"Geng, kok kamu asal buka pintu rumah orang aja sih?" tanya Levania saat Ageng malah mendorong pintu rumah itu kemudian mengajaknya masuk.
"Ini rumah yang aku bangun dari setahun lalu, rumah ini baru jadi bulan lalu," jelas Ageng yang menjawab kebingungan Levania.
"Rumah kamu?" tanya Levania tidak percaya.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kok kamu nggak mau ngasih tahu aku sih kalau kamu bangun rumah?" protes Levania.
"Kejutan," ucap Ageng menyengir.
"Jadi sekarang kita tinggal di sini? Nggak di apartemen kamu?" tanya Levania.
"Iya." Ageng mengangguk.
Levania berkeliling di ruangan rumah ini bersama Ageng yang mengikutinya. Wanita itu mengernyit ketika merasa ada yang aneh dengan rumah ini.
"Geng, tunggu dulu ... rumah kamu ini kok desainnya mirip sama rumah impianku yang sempat aku kasih tahu ke kamu ya?" tanya Levania membuat Ageng terdiam sejenak kemudian tersenyum.
"Niatnya rumah ini nanti aku kasih buat hadiah pernikahan kamu nanti," ucap Ageng.
"Tapi berhubung karena kamu jadinya nikah sama aku, nggak apa-apa 'kan kalau aku ikut tinggal di sini? Di apartemen soalnya nggak terlalu nyaman lagi," kekeh Ageng.
"Geng, kamu serius awalnya mau ngasih hadiah rumah ke aku?" Ageng hanya mengangguk.
Levania menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ageng sebaik itu padanya, Levania beruntung memiliki sahabat sebaik Ageng.
"Geng, makasih," ucap Levania tulus.
"Kamu mau lihat kamarnya?" tanya Ageng mencoba mengalihkan dari situasi haru yang bisa membuat Levania menangis.
Levania mengangguk hingga akhirnya keduanya menaiki anak tangga menuju kamar utama.
"Kamar di rumah ini ada tiga, kamar di lantai atas ada dua dengan kamar utama yang ini. Kamar di lantai satu ada satu. Nia, kamu keberatan kalau kita berada di satu kamar yang sama? Atau jika kamu keberatan, kamu boleh memilih salah satu dari tiga kamar ini," ucap Ageng membuat mereka kini saling berhadapan.
"Kita berada dalam satu kamar yang sama aja, lagian kamu nggak mungkin ngejahatin aku 'kan kalau kita berada di kamar yang sama? Aku percaya kamu, Geng," ucap Levania membuat Ageng tertegun.