Author POV
"Masih panjang yah perjalanan kita? Gue capek sumpah !!"
Keluh Clara pada dirinya sendiri, ia sesekali berhenti dan berjongkok ria. Arnol juga sedari tadi berhenti menunggui Clara untuk berdiri.
"Lo gak apa apa kan? Atau lo mau gue gendong ?"
Clara hanya mendongkak melihat wajah Arnol yang berdiri didepannya sedari tadi jongkok.
"Mana mungkin gue cepat capek, gue merasa gak enak feeling.. Apa gak bisa apa kembali ke villa aja !!", batin Clara gelisah.
"Cla? Lo gak apa apa kan?"
Clara hanya menatap Arnol lekat dan senyumannya pun terukir, ia berdiri dan menepuk bahu Arnol yang sudah sejajar didepannya.
"Enggak gue masih kuat. Gue mau pulang, perasaan gue gak enak, liat aja tuh .... Langit aja mendung padahal gak beberapa lama tadi cerah !"
Ucapan Clara membuat Arnol terkekeh kecil dan tersenyum pada Clara seperti ia ngerti.
"HEI SEMUANYA KITA PULANG AJA YUK... HARI KAYAKNYA MAU HUJAN !!!"
Teriak Arnol dan disahut mereka dengan semangat dan ada yang mengeluh. Mereka mendekati Arnol dan Clara tersenyum tipis.
"Iya nih kayaknya mau hujan."
"Yaah udah agak jauh malah pulang!"
"Gak papa lah, daripada kita kehujanan nanti!"
Mereka pun berbincang bincang sambil berjalan, Andre menarik Clara sedikit jauh dari mereka. Tetapi Arnol melihat Andre dan Clara dengan intens.
"Kenapa kak?"
Tanya Clara bingung dan hanya bisa mengikuti.
"Gue mau ngomong!"
Gumam Andre yang hanya bisa didengar dirinya dan Clara. Mereka berjalan dan sesekali Clara bingung pada kakaknya yang ini.
"Lo udah taken sama Arnol?"
Clara mengernyitkan dahinya mendengar ucapan kakaknya itu lebih tepat pertanyaan.
"E.. enggak!"
"Enggak atau belum ? "
Andre melihat Clara dengan tatapan keyakinan.
"Eh kak lo kenapa sih?"
Clara sedikit merasa aneh pada kakaknya itu, apa dia lupa begitu saja saat Andre pernah memaksa Clara bilang sesuatu yang Clara rencanakan itu.
"Gue gak kenapa napa sih! Gue kan cuma tanya ke elo!"
Clara tampak sedang memikirkan sesuatu dan menatap Andre, dan melihat Demian juga Steven yang mendekati Clara dan Andre sedari tadi.
"Lomba lari yuk !!"
Ajak Clara sedikit berteriak, ketiga kakaknya saling bergantian tatapan dan mereka lari.
"Eh CURANG !"
Teriak Clara ketika sadar sudah ditinggal lari, ia pun berlari kencang untuk menyusul ketiga kakaknya dan melupakan masih ada teman temannya dibelakang.
"Tonight girl !", batin Arnol .
Arnol tersenyum tipis dan menatap dingin ke arah Clara.
•••••
Clara POV
Yah gue yang pertama nyampe ke villa ni, jangan tanya kakak kakak gue pada kemana. Mereka semua berhenti karna kecapean, siapa suruh curang ya gak(?).
"Eh... Lo... Ce..pet banget ?"
"Iya nih... Lo ... "
"Gila..."
Mereka semua kek orang abis kena siram satu ember air, haha. Mereka bertiga kecapean banget, mereka duduk di teras villa ini yang ada kursi panjang buat nyantai sih.
"Haha siapa suruh kalian curang? Trus nih ya, gue ga akan kalah sama kalian yang udah pada tua, hahahah..."
Gue terkekeh geli sambil menjatuhkan diri dilantai, bukan pingsan tapi duduk. Gue duduk dilantai dan nyander di kaki kak Andre yang lagi duduk di kursi panjang.
Setelah beberapa waktu, rombongan, maksudnya temen temen gue sama temen temen yang lain udah pada nyampe juga.
Dinda menghampiri gue dan duduk disamping gue, sedangkan Arnol kayaknya lagi sibuk ngomong sama teman temanya. Kak Rizky ikut gabung sama duduk bersama gitulah.
"Eh, Cla lo cepet banget nyampenya?"
Belum aja gue jawab, kak Andre malah yang jawab.
"Cla pake sapu terbang, makanya cepat !"
Jawab kak Andre dengan wajah yah, abstrak. Dinda ngeliatnya aja sempet mengerutkan dahinya tapi berubah dengan senyuman. Kak Andre sama Dinda udah PDKT an lah istilahnya. Uhuy.
"Ooh!"
•••••
Gue sekarang ada dikamar, yah sebenarnya sih makan malam tapi gue nanti aja. Gue senyum senyum sendiri kek lagi ngomong sama makhluk halus aja deh haha. Enggak kok, gue lagi mikirin aja waktu dulu enggak lama sih. Waktu itu kan lagi classmeet tuh, gue inget inget itu yah. Pas pensi kan, gue duduk barisan paling depan buat nonton pertunjukkan Dinda. Pas Dinda naik kepanggung tuh, dia ngomong bukan dia yang tampil tapi orang yang istimewa buat teman deketnya maksudnya gue.
Trus tuh ya, Dinda turun dan duduk disamping gue. Pas itu juga Arnol naik ke panggung dan duduk dikursi dekat mic trus dia pegang gitar. " Ehem, gue akan nyanyiin lagu ini buat nerd gue !", kayak gitulah dia ngomong sambil nunjuk gue. Gue seneng dong dan tersenyum sok malu malu lah, yah meski tatapan tajam cabe cabean itu menghiasi pemandangan gue. Gue gak pernah dibully, karna sebelum mereka mau ngebully gue tuh yah, gue ancem duluan. Emangnya gue apaan coba(?) gue nerd, tapi bukan berarti gue harus berperan 100% nerd dong.
Alunan gitar pun berbunyi dan Arnol pun bernyanyi, sesekali dia menatap gue dengan tatapan nakal. Apaan coba maksudnya waktu itu(?) ah malu ngingat nya.
Eh eh tunggu, kenapa gue nginget moment itu ah, Clara ya ampun kenapa coba.
Tok... Tok...
Gue berdiri, berjalan mendekati pintu dan membukanya. Didepan pintu ada kak Demian dengan senyumannya.
"Eh kak?"
"Iya ini gue, makan malam yuk! Semuanya nungguin lo tuh!"
Gue mengangguk dan mengikuti kak Semian berjalan ke arah dapur, tak lupa menutup pintu kamar dulu.
Sesampai didapur, Arnol tersenyum dan menarik kursi kosong disampingnya.
"Silahkan cantik!"
Senyumnya penuh makna, kenapa ya? Apa jangan jangan! Ah Cla jangan bersangka buruk pada orang yang sedang belajar menjadi baik.
"Terima kasih !"
Gue tersenyum tipis dan duduk. Arnol meletakkan piring dihadapan gue dan mengisinya dengan makanan, dia pun menuangkan air minum. Semua pasang mata menatap kami berdua dengan tatapan ah gitulah.
"Apa an sih ngeliatnya kek gitu?"
Gue bertanya dengan nada cukup dingin, mereka terkekeh kecil dan melanjutkan aktifitas makan nya lagi. "Udah, makan gih ! Nanti gue mau ngajak lo kesuatu tempat!"
Arnol berbisik padaku dan diakhiri senyuman manisnya. Suatu tempat? Apa ini yang gue gak enak perasaan dari tadi. Gue hanya membalas senyuman darinya .
Setelah makan malam selesai kami semua berbincang bincang, sesekali bercanda canda ria. Tampak teman Arnol yang ber 6 berbincang bincang lalu mereka berdiri.
"Maaf semuanya, kami ber 6 ada keperluan mendadak dan harus pulang ke jakarta malam ini juga !"
Salah satu dari mereka berbicara, dan yang lain hanya mengangguk. Pulang malam ini(?).
"Apa keperluan nya penting? Sampai sampai harus pulang malam ini ?"
Kak Steven pun bertanya dengan raut wajah khawatir.
"Iya,dan itu sangat mendesak, kita harus pulang malam ini juga"
Jawab salah satu dari mereka
Setelah berbincang dan menyetujui hal itu, mereka ber 6 pun pulang.
Gue dan Arnol masih ada diteras villa dengan ditemani malam yang indah dan sejuk. Yang lain sudah pada masuk mengisi aktifitas mereka masing masing.
"Sejuk ?"
Tanya Arnol yang hanya gue tanggapi dengan mengangkat bahu.
"Kita jadi pergi kan ?"
Gue menatap Arnol lagi dengan bingung.
"Kemana?" "Kesuatu tempat!"
Jawabnya singkat, gue hanya mengangguk dan kami berjalan menjauhi villa.
Pertengan jalan, gue inget ada yang kelupaan.
"Oh ya! Gue lupa ngasih tau kakak kakak gue !"
Arnol tersenyum tipis di bawah cahaya rembulan.
"Udah gue kasih tau kok tadi!"
Huff syukur deh, kalo gak dikasih tau berabe deh urusannya. Gue sama Arnol berjalan sambil bertautan tangan, gue gak tau kemana Arnol membawa gue.
•••••
Author POV
Sudah hampir berjam jam Arnol dan Clara meninggalkan villa. Steven, Demian, Andre dan lainnya berusaha menelfon Clara dan Arnol tetapi tidak ada jawaban juga sesekali tidak aktif.
"Mereka berdua kemana sih ? Gue khawatir nih !"
Dinda berjalan kearah sana kearah sini dengan wajah khawatir sekali. Sedangkan yang lain juga sama khawatirnya, yang lebih khawatir adalah kakak kakak Clara.
"Kita harus mencarinya !"
Ucap Steven mantap, mereka pun bersiap siap.
"Rizky dan Dinda di villa aja, biar kalo ada apa apa gak susah. Gue, Demian dan Andre yang mencari !!"
Ucap Steven lagi dan Rizky serta Dinda mengangguk paham. Mereka bertiga pun berjalan menjauhi villa menyusuri jalan yang diterangi rembulan.
•••••
Clara POV
Sebuah gudang besar? Yah disini lah gue diajak Arnol ke suatu tempat itu.
"Gudang ?"
Tanya gue memastikan pada Arnol, gue heran kok ada gudang di puncak. Aneh sih, tapi ini ada kok.
"Ada sesuatu, masuk aja!"
Jawab Arnol dengan wajah biasa tanpa senyuman. Kenapa(?). Gue masuk mengikuti Arnol dan Arnol menutup gudang itu, didalam sini enggak gelap tapi gak terang juga sih. Ditengah tengah gudang disinari cahaya bulan yang melewati atap yang berlubang.
"Kenapa kesini?"
Tanya gue masih heran, perasaan gue gak enak.
Prok.. Prok..
"Lo ngapain ?"
Tanya gue makin heran, karna gue diajak Arnol ketengah gudang yang tersinari sinar rembulan tadi. Horror banget deh rasanya.
Arnol masih diam dan berjalan mundur, ada apa sih(?). Gue masih berdiri disini melihat tingkah Arnol selanjutnya.
Dia berdiri didepan gue, sekitar 2meter didepan gue.
Tik..
Semua lampu menyala sempurna dan menyinari setiap sudut sudut di dalam gudang ini.
Hah (?) Mereka(?)
Mereka teman teman Arnol, katanya mereka pulang kejakarta tapi kenapa(?).
Prok prok
"LO NGAPAIN ?"
Gue teriak, bukan gue takut tapi gue beneran heran dan ini apa apaan.
Arnol tidak bergeming dari tempatnya, menjawab pun tidak. Ia hanya tersenyum tipis, teman Arnol yang ber 6 maju sehingga seperti melingkari gue sama Arnol.
"Arnol ?"
Tanya gue setenang mungkin, Arnol maju beberapa langkah ke arah gue. Dia berhenti sekitar 2 langkah dihadapan gue.
Dia bertekuk lutut dan menyerahkan setangkai bunga yang ia pegang. Apa apaan ini(?).
"Apa maksud lo ?"
Arnol tersenyum manis, syukurlah. Dia berdiri masih dengan uluran tangan memegang bunga.
"Lo mau gak jadi pacar gue ?"
Gue menatap Arnol tidak percaya, dia menembak gue(?).
"Mm...."
Gue dengan hati hati berfikir keras, alunan accapela mengisi gudang ini gue memerhatikan sekeliling. Mereka menyanyi(?) ah sosweet banget ya.
"Mau gak kamu jadi pacar aku ?"
Gue menatap arnol lagi, dia memakai aku-kamu (?). Gue tersenyum dan meraih bunga itu serta menjawabnya.
"Aku mau!"
Jawab gue sambil menggenggam batang bunga itu dan menariknya dari tangan Arnol, gue mencium bunga itu dan hati gue berbunga.
"... dan menjadi objek pembalas dendam gue !!"
Arnol menodongkan pistol kearah gue, gue hanya bergeming ditempat dan menjatuhkan bunga itu kelantai.
"Lo... lo ?"
Arnol berjalan melingkar dengan langkah pelan sambil bermain dengan pistolnya.
"Gue ingin lo sebagai bayaran nyawa adik gue. Tapi.... Gue ingin lo membayarnya dengan sakit dimana mana dan akhirnya lo terluka cukup!!"
Suara Arnol terdengar dingin sekali, gue beneran sakit dan jatuh terlalu bawah.
"Pintar lo yah pintar tapi..."
"YAH GUE EMANG PINTAR SAMPE SAMPE LO UDAH MASUK KEPERANGKAP GUE!!!!"
Teriak Arnol tepat dibelakang gue, gue hanya tersenyum kecut.
"Gue kira lo udah berubah!"
Dorr !!!
"INI BUAT KEBOHONGAN KAKAK KAKAK LO !!!"
Satu tembakan di samping lutut gue, gue gak berpengaruh malah gue ketawa ya gue ketawa. Biasanya gue melawan, tapi kenapa gak bisa(?).
"Hahaahah.."
"Lo ketawa? Kenapa lo gak ngelawan ?"
Arnol mengelus rambut gue dan sedikit menariknya.
"Ketawa? Gak ngelawan? Gue udah terlanjur jatuh. Jadi, gue gak akan mengganggu acara lo ngebunuh gue. Gue juga capek didunia ini penuh kebngelawa!"
Arnol melepas tarikan tangannya dirambut gue dan berjalan berputar lagi dan terkekeh geli.
Dorr !!
"INI BUAT LO YANG NGECOBA BERMAIN DI PERMAINAN GUE !!"
Buliran air mata sukses jatuh, dan gue bertekuk lutut akibat tembakan di depan lutut gue yang menyebabkan kaki gue tidak bisa menopang beban tubuh gue lagi. Suara tertawa Arnol dan teman temanya mengisi ruangan gudang ini.
"Lo bisa nangis juga ya ?"
Bisiknya di telinga kanan gue, dia terkekeh dan melangkah berputar lagi.
"Gue juga manusia!" Lirih gue.
"GUE CINTA SAMA LO ARNOL TAYLER LOYER !!!"
Gue berteriak menghentikan ketawa mereka dan Arnol berhenti tepat di belakang gue.
"Cinta ya ?"
"Gue udah jatuh kedalam cinta yang salah!" Batin gue.
Gue gak tau apa ekspresi wajahnya, dia bergumam dan gue masih bisa mendengarnya.
Suara tertawa Arnol pecah dan seketika sunyi, gue menutup mata dan menggigit bibir dengan kuat.
Dorr !!
"Ah !"
"INI BUAT KEBOHONGAN KATA KATA LO !!"
Tembakan lain mengenai bahu kanan gue, dan darahnya pun mengenai wajah. Air mata gue mengalir deras.
Sakit.
"Mak maafin adik lo ini!", batin gue menangis mengharapkan mereka juga datang.
"Gue gak akan ngabisin waktu Cla !"
Rasa nyeri di bahu, kedua lutut ini bertambah saat mendengar suara nya menusuk. Dia bertekuk lutut dihadapan gue dan menarik dagu gue mendongkak kearah mata nya yang juga menusuk.
"Sebentar lagi rasa nyeri dan sakit lo akan hilang sayang!"
Dia menepis wajah gue, berdiri dan menodongkan pistolnya lagi.
Dorr!!!
Tembakan mengenai bahu kiri, gue meringis kesakitan. Darah berhamburan kemana mana.
Dorr !!!
Tepat mengenai d**a, gue resmi bermandikan darah walaupun wajah gue dibanjiri oleh air mata. Rasa pusing menghampiri, berputar putar mengelilingi. Di dalam ingatan gue hanya moment moment bersama Arnol beberapa bulan terakhir.
Gue berteriak teriak dengan kencang, gue merasa lemah sangat lemah, sayup sayup Arnol dan temannya menjauh.
"GUE CINTA SAMA LO !!! GUE BENERAN CINTA SAMA LO !!! Gue cin.. ta... sa.. ma.. lo... Ar.. nol !!"
Brukk !!
Tubuh gue ambruk ke lantai yang dingin, ruangan ini gelap dan gue berada dibawah sinar bulan yang sedikit redup. Gue sendirian, gue benaran sendirian.
Moment moment bersama Arnol berputar dikepala gue, pusing, nyeri, sakit semuanya berputar mengulangi moment itu. Arnol lo berhasil lo berhasil. Gue gak kuat lagi gue gak kuat....
Gue kalah.