Bab XVII

1148 Words
Author POV   Arnol melangkah keluar dari gudang itu dan tersenyum penuh kepuasan. Ia hanya tertawa kecil saat mendengar Clara berteriak dan terjatuh setelah itu tak ada lagi suara.   "Misi kita sudah selesai Arnol, sekarang apa selanjutnya?"   Tanya salah satu dari teman Arnol.   "Nih !! Ni pistol lo hancurin agar tidak ada barang bukti. Terus, lo ber 6 gebukin gue sampe pingsan!"   Mereka ber 6 terperengah kaget.   "Apa? Apa yang lo lakuin ?"   Arnol tersenyum licik dan berdiri tegap menyander ke pintu gudang yang telah tertutup.   "Agar gue keliatan baik !"   Ucapnya dingin, lalu dia melihat ke 6 temannya itu.   "Kakak kakak nya Clara pasti dateng, dia bakal nyari Clara sampe kesini. Karna mereka pasti bisa menemukan tempat ini. Jadi tunggu apa lagi? Keroyokin gue, gue gak akan ngelawan. Jadi setelah gue pingsan, lo semua kabur jadi ini seperti kejahatan bukan? Kejahatan terhadap gue sama Clara. Ingat hilangin semua barang yang merupan bukti termasuk pistol."   Setelah Arnol selesai bicara, ke 6 temannya itu membuang nafas lalu meninju Arnol dengan keroyokan. Arnol merasa kesakitan, tetapi dia merasa puas.   Bukk!!    Bukk !!   "Aww !! Haha !"   Bukk!!   Bruakk !   Arnol jatuh dengan wajah babak belur, badan pun mungkin lebam lebam. Ke 6 temannya berlari dan menghilang di kegelapan malam. Malam yang sunyi dan meredup akibat awan hitam yang menyebar dilangit malam ini menjadi saksi bisu atas kejadian yang terjadi pada antara Clara dan Arnol.   "ARNOL !"   Teriak Andre sambil berlari mendekati temannya itu, Demian dan Steven juga mendekatinya.   "Dia pingsan, dia kek dikeroyok eh, kemana clara ?? YA TUHAN !!"   Steven merasa gelisah begitu juga Andre dan Demian. Demian membuka pintu gudang itu dan melihat sayup sayup Clara dan genangan darah disekitar badannya. Demian merasa kelu dan bergetar, sperkian detik ia pun berlari dan duduk memeluk Clara.    "CLARA !!! CLARA !!!"   Teriak Demian sambil menangis, Steven dan Andre terperangah sangat kaget. Mereka berdua meninggalkan Arnol didepan dan menghampiri Alara dan Demian.   "Clara !!"   Gumam Andre lirih dan dia juga menangis melihat keadaan adiknya itu.   "Ayo cepat bawa kerumah sakit."   Ucap Steven gelisah lalu menggendong adiknya itu, Demian pun membantunya.   "Andre, lo bawa Arnol juga cepat !"   Ucap Demian sembari menelfon seseorang sedangkan Steven berjalan keluar dengan terburu buru.   "Tahan Cla tahan... Lo pasti akan selamat pasti!!"   Ucap Steven pada adiknya itu dan mencium keningnya. Ia menangis dan berjalan hampir berlari. Suasana semakin mencekam dan hujan pun turun deras, suasana yang kelam menyaksikan mereka yan terburu buru ke arah villa.   "CEPAT !!"    Teriak Demian kepada Andre yang sudah dimobil menyambut tubuh Clara.   Andre berpindah tempat ke bagian depan untuk mengendarai mobil, Steven duduk disamping pengemudi sedangkan dibagian penumpang ada Demian yang menjadi penopang Clara. Mobil melaju cepat saat hujan mengguyur deras.   Dibelakang diikuti mobil Arnol yang dikendarai Rizky dan Dinda duduk disampingnya. Dibagian penumpang, Arnol duduk menyander dengan tidak sadar. Semua barang mereka sudah beres karena Demian sudah menelfon Dinda untuk bergegas saat mengevakuasi Arnol dan Clara tadi.   "Kak ?"   Lirih Clara yang berusaha tersenyum walaupun tipis, ia menerjapkan matanya walaupun susah. Ia sadar dengan setengah kesadaran.   Demian merasa lega dan mengelus puncak kepalanya itu, Steven pun memegang tangan Clara dan mengelusnya.   "Lo akan baik baik aja !!"   Clara tersenyum lalu memejamkan matanya.   "Gue..... ber.. ha... rap!"   Ucapannya sangat lirih, air matanya nya mengalir dari kelopak matanya yang masih tertutup. Ketiga kakaknya merasa terluka melihat adiknya seperti itu.   "Ya, lo berharap. Kita semua berharap dari lo !"   Ucap Steven sambil mengelus tangan Clara, mereka hening. Mobil melaju dijalanan yang tersiram hujan deras, malam yang mencekam.   "DRE !!!"    Mobil yang dikendarai mereka oleng dan jatuh terguling di jalanan yang licin.   Bruak !!   Dan mobil itu terjatuh miring menyebabkan asap keluar dari kap mobil.   "ANDRE !!!"   Teriak Steven pada Andre yang terjepit oleh stir mobil dan kursi, suasana makin rumit.   Demian berusaha melindungi Clara dengan memeluknya dan keluar dengan hati hati, mobil yang dikendarai Rizky berhenti. Rizky keluar dengan terburu buru untuk membantu. Rizky dan Dinda turun hati hati kejurang.   Mereka membantu Andre yang terjepit, Andre meringis kesakitan. Steven tak tahan dengan bendungan air matanya, ia menangis akan keadaan kedua adiknya yang sekarat itu. Demian sudah keluar dengan Clara yang digendong sambil dipeluknya.   "Kak... sa..kit !"   Ucap Andre lirih sedangkan mereka berusaha mengeluarkan Andre, Dinda sedari tadi menangis melihat seseorang yang dicintainya terluka.    Lambat laun beberapa penduduk sekitar membantu dan akhirnya Andre terselamatkan, walaupun dengan wajah sedikit luka. Kaki kirinya patah dan tangan kirinya juga patah.   Steven dengan keadaan luka luka kecil dan beberapa lebam akibat benturan. Sedangkan Demian, ia juga terluka akibat melindungi Clara juga. Mereka akhirnya ditolong dan pergi kekota untuk menyelamatkan Clara yang lebih kritis, darahnya banyak hilang akibat beberapa tembakan dianggota tubuhnya.   Suasana hening penuh kekhawatiran pada Clara dan Andre. Kedua kakak kembar mereka juga diobati luka lukanya.   Operasi Clara sedang berlangsung sedari tadi, Steven dan Demian sangat menunggu kabar dari operasi yang berlangsung. Sedangkan Rizky dan Dinda berada di ruang rawat yang ada Andre dan Arnol dirawat. Andre mengalami patah tulang dan luka luka yang dijahit. Arnol mengalami luka lebam dan kehilang kesadarannya.   Klek !!    Pintu ruang operasi terbuka dan dokter keluar dengan pakaian operasinya.   Demian dan Steven mendekatinya dengan wajah khawatir.   "Bagaimana keadaan Clara dok?"   Tanya Steven dengan penuh kekhawatiran di nada bicaranya.   "Clara sudah melewati masa kritisnya dan akan dipindahkan ke ruang khusus. Clara kehilangan banyak darah dan itu bisa diatasi, fisiknya kuat dan itu bagus untuk dirinya. Dia terkena tembakan dibeberapa anggota tubuhnya dan yang parah dibagian dadanya. Untungnya, tidak terkena ke organ yang penting. Dia kehilangan kesadarannya yang membuat dia akan mengalami koma."   Jelas dokter itu dengan serius, Steven dan Demian tidak bergeming dari tempatnya. Wajah mereka benar benar sangat sangat kacau.   "Ya sudah saya akan mengurus sesuatu yang akan saya urus!"   Ucap dokter lalu berlalu pergi, Demian mengeluarkan handphonenya dari saku.   "Hallo Dimas, turunkan beberapa anggota mafia bagian pelacak untuk turun ke lapangan. Saya akan mengirim alamatnya, kalian harus mencari petunjuk dengan detail !"   Demian pun pergi keluar dan meninggalkan Steven sendirian dengan perasaan membara.   "Gue tidak akan memaafkan orang yang nyelakain lo sampe kayak gini ", batin Demian.    •••••   1 tahun kemudian ......   Kota london ramai dengan orang yang berlalu lalang sibuk, Andre berjalan terburu buru sedang menjalankan misi. Dia kembali kelondon dan kembali menjalan kan misi kemafiaannya.   Steven dan Demian duduk di cafe, mereka sedang mengincar seseorang yang sedang diincar. Ya mereka semua sedang dalam suatu misi besar.   Gadis itu tersenyum miring dengan pistol dibalik jaketnya. Ia menatap tajam seseorang yang disampingnya. Dia sedang mengincar .  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD