Clara POV
Semuanya gelap, hanya kenangan yang manis terus berputar di kepala. Moment bersama Arnol, orang yang sangat gue cintai. Dia telah membuat gue jatuh kedasar dan apa yang harus gue lakukan ?
"Clara, lo cantik banget malam ini !"
Ucapnya sembari memegang tangan gue, kami di restoran menikmati makan malam.
"Makasih Arnol !"
Jawab gue tersipu malu, genggaman tangan nya makin kuat. Gue meringis kesakitan.
"Lo cantik cocok jadi pengganti adek gue !"
Ucapnya dingin dan menusuk, semuanya berubah menjadi gelap. Seketika gue berada di sebuah cafe yang pernah gue datangi bersama Arnol.
Entah kenapa ini semua aneh.
"Cla, gue beneran sayang banget sama lo Cla. Sangat sayang... "
Gue sedikit takut, tapi gue tersenyum tulus.
"Gue juga sayang sama lo Arnol!"
Perasaan takut, gelisah semuanya hilang seketika Arnol mencium kening gue.
"Sangat sayang kalo lo terus hidup di dunia ini !"
Bisiknya ditelinga, gue merasakan hawa yang mencekam sekali. Keringat membanjiri, entah kenapa gue merasa sangat takut. Moment moment yang indah bersama Arnol terus berputar dan berputar, tetapi akhir dari moment menakutkan.
"AAA ..... !!!"
Gue menerjap nerjapkan mata menetralkan cahaya yang masuk ke dalam mata, gue diruangan yang serba putih. Tubuh gue basah karena keringat membanjiri.
Suara pintu terbuka, gue hanya diam tak bergeming.
"Cla ? Lo sadar !"
Ucap lirih seseorang sambil meluk gue, yang lain masuk dengan membawa dokter yang menurut gue asing.
Mereka berbicara sambil memeriksa gue, gue gak tau apa yang terjadi. Rasanya tubuh gue sangat lemah untuk digerakan. Tak berapa lama, dokter dan perawat keluar dari ruangan ini. Gue hanya menatap ketiga pria didepan gue dengan tatapan lirih.
"Kak ?"
Ucap gue sambil menangis, mereka tampak sangat sedih dan bergiliran memeluk gue. Mereka semua sangat menyayangi gue.
"Gue lemah, gue lemah buat bergerak!"
Gue kembali menangis dan mereka menenangkan gue. Pintu terbuka lagi dan muncul dua sosok yang sangat gue cintai, mom and dad.
Mereka memeluk, mencium, mereka seperti takut kehilangan gue. Gue seneng masih bisa melihat orang yang gue sayangi hadir disini. •••••
Sekarang gue diruang terapi untuk menerapi tubuh gue yang kaku, gue koma selama 3bulan. Coba kalian bayangin, seluruh anggota tubuh gue sulit digerakan dan gue terapi untuk mendapatkan kebebasan bergerak.
"Clara ?"
Tanya kak Demian yang sekarang kami duduk ditaman, ada gue dan ketiga kakak gue.
"Ya ?"
Kak Demian menatap gue intens
"Semua ini ulah Arnol bukan ?"
Gue mendengar pertanyaan yang menurut gue pernyataan.
"Jangan ganggu dia, gue yang akan mengurusnya !"
Ucap gue tegas dan ketiga kakak gue tampak amarahnya meluap ketika tau kalo Arnol yang membuat gue seperti ini.
"Arnol!"
Geram kak Andre menggenggam tangan nya erat.
"Udah udah, jangan meluapkan amarah kalian. Gue masih hidup dan udah punya rencana !" Mereka semua mendengar dengan seksama saat gue berbicara tentang rencana yang gue buat.
•••••
Lega, ya itu kata pertama saat keluar dari rumah sakit ini. London? Yah gue emang ada di london. Gue dan ketiga kakak gue kembali kelondon saat gue koma sebulan lamanya. Yah mereka, Arnol, kak Rizky dan Dinda serta teman teman mengetahui kalo gue udah meninggal. Ya itu salah satu rencana gue yang kebetulan udah direncanakan kak Demian sebelum kami berangkat ke london.
Gue beruntung, gue masih bisa hidup dan melihat dunia ini. Gue masih bisa membalas perbuatannya. Gue gak kaget sama perlakuan Arnol ke gue saat digudang itu, karna dari pertama gue kepuncak perasaan gue udah gak enak. Oke jangan bahas itu lagi, cinta? Itu semua lenyap kemakan benci dan dendam. Arnol, tunggu gue. •••••
1 tahun kemudian.....
Yah... Gue kembali ke rutinitas menjalankan sebuah misi besar yang diberi oleh dad kepada gue dan ketiga kakak gue.
Sekolah? Gue bersekolah selama beberapa bulan saja dan gue lulus. Kenapa bisa? Ingat, gue pintar dan sangat pintar.
Gue dan ketiga kakak gue kelondon, gue gak mau balik keindonesia sebelum misi ini selesai. Indonesia, ya gue akan kesana untuk membayar semua sakit gue.
"Leonard, take care!"
Ya, nama gue sekarang Leonard. Emang nama gue sih hehe, panggilan gue bukan clara lagi. Itu suara Marlin, dia yang mengintrupsikan gue untuk menjalankan misi. Enemy? Dia duduk disamping gue. Gue memegang pistol yang kedap suara agar orang sekitar tidak mendengar saat tembakan dilepaskan. Gue memegang pistol dibalik jaket, gue menembaknya tepat di dadanya dari balik jaket.
"Good shoot !"
Gumam gue lalu beranjak pergi begitu saja, seketika itu juga banyak orang yang heran dan kaget. Kenapa pria itu mati ? Itu ulah gue.
Gue kembali kemarkas untuk mencari informasi lagi, ketiga kakak gue juga sudah selesai dan kembali kemarkas duluan. •••••
Arnol POV
Gue senang dan sangat senang. Clara mati? Ya dia mati akibat kelamaan koma dan saat dia ingin diterbangkan kelondon, nyawanya keburu terbang. Ya gue senang.
Perasaan menyesal? Ada, menghampiri terus selama setahun belakangan ini. Tapi untuk apa gue menyesal ? Entahlah. Gue sekarang bekerja sebagai ceo di peeusahaan milik bokap gue di london. Ya gue sekarang dilondon, baru kemarin gue terbang kesini.
Gue sedikit ngeri, ngeri akan kabar yang sedang beredar. Disini, london. Ada kabar, mafia dan pembunuh bayaran yang terkenal sedang menjalankan misi misi besar. Gue jelas ngeri, bukan ngeri apanya sih kan gue udah males denger pembunuhan.
Urusan gue udah selesai di kantor ini, gue pulang ke apartement menggunakan mobil pribadi milik gue. Gue merasa lapar, gue mampir ke sebuah restoran. Gue masuk dan memesan makanan, minuman.
"Ini pesanan nya tuan !"
Kata pramu saji itu dan meletakkanya dihadapan gue. Gue melihat lihat restoran ini dengan teliti, tampilannya elegan dan..
Tunggu tunggu itu Clara ? Gue gak salah liatkan ? •••••
Clara POV
Ya sehabis ngumpul di markas, gue pulang dan seketika gue laper ya gue juga manusia. Gue mampir di restoran yang gak jauh dari markas. Gue masuk dan memesan makanan dan minuman.
Enak... Wow gue beneran laper.
Eh... Eh.. Gue ... Perasaan gue kok gak enak. Ah gue laper.
Selesai gue makan, gue bersiap siap untuk meninggalkan meja makan ini.
Saat gue mau melangkah, tangan gue dicegat seseorang. Siapa?
"Clara ?"
Gue kenal suara itu sangat kenal, gue menoleh dan dapat meredam kekagetan gue. Arnol? Yah dia devil itu.
"Clara ?"
Tanya gue heran padanya. Dia melepaskan cegatan tangannya dan sedikit terkejut.
"Lo Clara kan ?" Gue mengernyitkan dahi, gue gak heran biar dia merasa heran aja.
"What you said?"
Tanya gue lagi dan dibalas tatapan herannya.
"Sorry !"
Ucapnya seketika, dia masih melihat intens gue. Pergi gak lo devil.
"Leonard !!"
Panggil seseorang dan gue noleh, Arnol juga menoleh.
"Robert? Hey how are you ?"
Sapa gue padanya dan memeluknya, gue rasa Arnol terperangah. Robert adalah anggota mafia yang juga bisa membaca pikiran seperti Caren. Dan kebetulan dia disini.
"Im fine girl, go out with me!"
Ucapnya sambil menautkan tangannya dipinggang gue, gue biasa saja karna Robert dekat dengan gue.
"Okay!"
Ucap gue sambil berlalu pergi. Arnol, gue akan bertemu dengan lo next time, babe. •••••
Author POV
Arnol merasa heran akan seorang gadis dihadapannya, dia bukan Clara dan Clara sudah mati begitu fikirnya. Ia pun pergi dari restoran itu dengan banyak pikiran.
"Itu bukan Clara, namanya juga Leonard ya, Clara sudah mati. Ya bisa saja, ada wajah yang mirip Clara."
Gumam Arnol saat melajukan mobilnya di jalanan yang tidak begitu ramai.