Bab XIX

3365 Words
Oh, whoa, oh oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh whoa oh oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh   Play the lotto you might win it.   It's like 25 to life so you bust out of prison.   Something's in the air, something's in the air   It's like that feeling when you're just about to kill it,   Take your last shot you know you're gonna hit it.   Somethings in the air, somethings in the air   Whoa oh oh oh oh   Something big I feel it happening   Out of my control   Pushing, pulling and it's grabbing me,   Feel it in my bones like   Whoa oh oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh whoa oh oh oh oh   Something big I feel it happening   Oh whoa oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh whoa oh oh oh oh oh   Something big   It's like that feeling when you're 'bout to win the medal,   And you worked so hard that you knew you wouldn't settle,   Hands are in the air, hands are in the air.   When they hear you when you thought they wouldn't listen,   It's like an anthem that the whole world's singing,   Hands are in the air, hands are in the air.   Whoa oh oh oh oh   Something big I feel it happening   Out of my control,   Pushing, pulling, and it's grabbing me,   Feel it in my bones like,   Oh whoa oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh whoa. Oh oh oh oh   Something big I feel it happening   Oh whoa oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh whoa. Oh oh oh oh   Something big   Whoa   Yeah, yeah   If we stomp our feet,   The ground will shake   If we clap our hands,   The walls will break   Yell so loud won't forget our names   'Cause something big is happening   Take this spark   And start a fire   Raise this up   We're feeling high   They can't tell us anything   'Cause something big is happening   Something big I feel it happening   Out of my control   Pushing, pulling, and it's grabbing me,   Feel it in my bones like   Oh oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh Oh oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh   Something big is happening whoa   Oh oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh Oh oh oh oh whoa oh oh oh oh oh oh   Something big I feel it happening whoa   ( something big - Shawn Mendes )     Alunan lagu memenuhi ruangan ini, kamar gue. Gue menatap langit langit kamar dengan perasaan aduk. Minggu lalu gue bertemu Arnol, gue senang, benci, kangen, dendam. Itulah perasaan gue sekarang ini, ini gak adil bagi gue.   Gue harus menepis perasaan itu, tujuan gue adalah membunuhnya, itu saja.   Gue akan membuat rencana yang gue buat seperti kejadian alami. Gue tidak bermain dipermainan lo, tapi di permainan gue.   "Let's play game !"    Gumam gue sambil tersenyum jahat, sebenarnya sih senyuman gue manis. Hueek.   Gue mengambil handphone yang ada dinakas.   Tut... Tut..   "Hallo ?"   Tanya seseorang disebrang sambungan telefon .   "Kak, lo bertiga dimana ?"   "Kita ada dirumah kok, mau kesini ?"   Ya, gue enggak tinggal sama mereka. Gue cuma mau mandiri dan bersikap dewasa, walaupun masih ada kanak kanak dan kenakalan hanya dengan orang terdekat saja.   "Iya gue mau kesana !"   Tuuut ....   sambungan terputus, gue segera bangun dan bersiap siap kerumah mereka.    •••••   Arnol POV   Kejadian minggu lalu itu membuat gue berfikir keras. Bagaimana bisa, ya jelas. Gue bertemu orang yang mirip dengan Clara, tapi gue masih memikirkannya, bisa saja Clara masih hidup.   "Gue akan mastiin itu bukan Clara, gue akan mencarinya!"   Gue mengambil kunci mobil dan pergi. Gue menyisiri kota london dengan hati hati, mungkin saja dia tinggal dekat restoran yang gue bertemu dengannya.   Tiiittt.......   Gue mengerem mendadak, nyaris gadis itu tertabrak. Gue turun dari mobil dan mendekatinya.   "Are you okay ?"   "Yes i am okay !"   Jawabnya masih dengan memungut belanjaanya yang jatuh berantakan, gue membantunya.   "I am sorry...."   Gue kaget dan gue beneran kaget, dia perempuan yang mirip dengan Clara.   "No problem!"   Jawabnya dengan senyuman tipis, dari tatapannya dia seperti tak mengenal gue.   "Um wait !"   Gue cegat tangannya hingga menghentikan langkah kakinya.   "What are you doing ?"   Dia melepaskan tangan nya dengan nada bicara yang dingin.   "I am sorry, um.. My name is Arnol, what your name ?"  Wajahnya tampak bingung, ia sedikit menyesuaikan keadaan dan tersenyum tipis, menurut gue itu senyuman yang membeku.   "Ooh... My name is Leonard values!"   Values? What? Values? Sekali lagi, values ?. Dia dari keluarga values? Keluarga terkaya dan luar biasa.   "Nice to meet you!"   Ucap gue sambil tersenyum canggung, dia bukan Clara, lagi pula yang gue ketahui nama Clara hanya sebatang kara. Tapi dia hanya mirip saja.   "Nice to meet you too!"   Ucapnya setelah itu dia berjalan masuk kedalam sebuah mobil. Dia berbeda, Clara sangat hangat menurut gue saat berdekatan dengannya sedangkan leonard sangat dingin. Clara, gue menyatakan kalo gue menyesal dan gue benaran jatuh ke hati lo sebelum lo berangkat ke london dan ternyata maut mengambil lo. Gue bodoh, sangat bodoh akan kemakan dendam.   Gue menarik nafas dan berjalan memasuki mobil dan berniat pulang, karna hari ini gue cuti. Gue menyesal sekaligus senang dan sakit. Gue aneh.  •••••   Author POV   Clara tersenyum sembari melihat Arnol dari kaca spion mobilnya.   "Gue senang, senang akan keterkejutan lo !"   Gumamnya lalu menancap gas mobil ke arah rumah ketiga kakaknya.   "Vue gak susah payah menemukan lo!"   Gumamnya lagi, ia pun sampai dirumah ketiga kakaknya itu.   •••••   "Lo ketemu Arnol ? Dimana dia!"   Andre sedikit mengeluarkan amarahnya dan berdiri dari meja makan. Steven menariknya duduk kembali.   "Calm down, gue yang akan urusi. Lo gak usah bantu ataupun ikut campur di rencana gue. Kita ber4 kan udah membicarakan ini!"   Ucap Clara dengan sedikit jengkel, Andre yang terdiam.   "Sudah jangan ngomong tentang Arnol lagi, kita kan disini ngumpul buat santai santai!"   Demian berbicara santai sambil menyeruput minuman yang ada didekatnya.   Ting... Tong...   Clara sedikit terlonjak, dia pun berdiri berjalan ke arah pintu   "Tunggu, biar gue aja yang buka !!!"   Andre mencegat tangan adiknya lalu berjalan mendahului Clara.  Klek   Andre sedikit kaget dan marah, tapi semua itu diredamnya dengan senyuman tipis.   "ARNOL !!"   Andre berteriak sangat kencang, Clara mendengar itu langsung berlari kearah tempat aman.   "Mobil gue!"   Ucapnya pada kedua kakaknya yang masih dimeja makan.   "Lo duduk aja, gue punya rencana!"   Ucap Demian dengan santai dan Clara hanya menuruti.   Arnol terlihat heran akan teriakan Andre tadi, dia tersenyum.   "Apa kabar ?, gue kesini cuma ingin silahturahmi saja!"   "Kapan lo nyampe di london?"   "Gue dateng sekitar seminggu lalu, gue tinggal dilondon juga ada kerjaan. Gue juga tau rumah lo nanya karyawan dikantor gue. Katanya kalian tinggal bertiga sama. Jadi gue kesini!"   Andre membawa Arnol kemeja makan, Arnol sedikit terkejut adanya Clara yang dia tahu itu leonard.   "Yes this is good project!"   "Ya good and this is project......"   Clara melihat ke arah Arnol, karna Clara tau akan keberadaan Arnol.   "Dre, itu Clara kan ?"   Andre melihat Arnol dengan berpikir keras, dia takut jika ketahuan.   "Perkenalkan, dia Leonard Values. Leonard he is Arnol "  Demian mengenalkan Clara sebagai Leonard.   "Arnol!"   Arnol mengulurkan tangan untuk berjabatan, Clara pun membalasnya.   "Leonard Values, a mafia Values !"   Ucapnya yang sukses membuat keterkejutan pada Arnol.   Arnol sedikit tegang dan melepas jabatan tangannya .   "What are you doing ?"   Bisik Steven yang sedari tadi berdiri disamping Clara. Clara hanya tersenyum tipis.   "Don't worry !"   Bisik nya membalas pertanyaan Steven berupa bisikan juga.   "Mafia Values?"  Kata Arnol masih terkejut dan menegang, ia benar benar bermandikan air keringat.   "Ya, i am a mafia Values !"   Ucap Clara sambil mendekati Arnol, menyisihkan jarak antara mereka. Arnol tidak bergerak, Clara memegang kerah baju Arnol sedikit kencang.   "Why ?"   Tanya Arnol sedikit meredam keterkejutannya, ke3 kakaknya hanya melihat perlakuan Clara saja. Suasana semakin tegang.   "Why? I was kill you boy !"   Ucap Clara dingin dan mendorong Arnol hingga terhuyung kebelakang.   "Jangan takut dan khawatir, dia hanya bercanda ! Dia adalah mafia sewaan di perusahaan gue!"   Ucap Steven sambil menarik lengan Clara kesampingnya.   Arnol sedikit merenggangkan posisinya dan menelan air liurnya dengan susah payah.   "Ya gue sedikit terkejut, dia sangat mirip dengan clara !"   Ke4 bersaudara itu saling berpandang pandangan lalu Demian pun membuka mulut.   "Leonard Values dan Clara Values adalah saudara kandung, Leonard dan Clara hanya berbeda satu tahun"  Arnol sedikit lebih terkejut.   "Clara Values?, jadi kalian.... "   Sebelum Arnol menyelesaikan bicaranya, Steven memotong nya.   "Kita ber3 bukan dari keluarga Values, kedua orang tua kami mengangkat Clara sebagai anak nya dari Clara masih kecil. Clara juga sudah tahu kalau dia bukan saudara kandung kami saat dia kelas 2 smp dan dia juga sudah menjadi mafia saat lulus Sd lalu kami semua tidak tahu. Kami ber3 baru tahu waktu Leonard datang dan kita bertiga juga sedikit kaget. Mom and dad menceritakan semuanya dan kami sudah menerima, Leonard sudah kami anggap seperti Clara dan berkerja dengan perusahaan keluarga kami!"   Jelas steven panjang lebar, dan Arnol pertama sangat terkejut dan terdiam.   "Gue ..... Ah gue berharap Clara masih hidup !"   Clara hanya melihat tajam kearah Arnol, "Dan gue berharap lo akan mati, let's start the game". Batinnya.  •••••   Andre POV   Gue sekarang ada di Italia karna ada tugas.   Gue menyusuri jalan untuk mencari markas mafia Values, gue berjalan dan tidak terasa gue udah nyampe. Sebenarnya gue ikut kak Demian dan kak Steven dari minggu lalu tapi, gue ada urusan semacam gitulah.   Gue memasuki markas dan terlihat mereka mereka sudah ngumpul. Gue berjalan dan duduk disamping kak Marlin.   Kami semua berbincang bincang tentang misi misi yang akan diselesaikan selama 1bulan ini. Gue terkejut akan misi yang menurut gue janggal, gue heran dan percaya saja.   •••••   Arnol POV   Gue harus percaya akan semua peryataan ini, kalo Clara adalah mafia, kenapa dia tidak melawan saja saat digudang. Saat gue pernah nyulik dia aja, dia ngelawan gue penuh ambisius.   "Mm.. Leonard, can you speak bahasa?"  Ya kali aja dia Clara, mungkin aja Clara gak ada sodara dan masih banyak alasan lain. Leonard tidak banyak bicara, dia sedikit diam, dingin dan tatapannya menusuk. Dia jauh berbeda dari Clara, walaupun Clara juga gitu tapi Clara berani atau yaa sedikit brutal, sedangkan Leonard, dia sedikit acuh.   "Ekhm !!"   Gue berdehem, kenapa gue jadi bandingin Clara sama Leonard ?   "Yea ?"   Jawabnya dingin.   "Mm.. Can you speak bahasa?"   Dia menoleh pada gue dan yaampun menusuk banget tatapannya.   Cupp   Gue diam mematung akibat sesuatu menempel dibibir gue, sebenarnya ini biasa biasa saja. Tapi, Leonard mencium gue dan mundur seketika.   "Aku bisa berbahasa!"   Ucapnya kemudian dan sukses membuat gue sesak nafas, kenapa gue gini sih.   "Jadi lo...!"  "Maksudnya? Aku tidak mengerti apa maksudnya 'lo'!"   Ucapnya menurut gue kek orang bingung aja, dia seketika mirip dengan Clara, ya pasti mirip, diakan sodara kandungnya. Lagipula gue udah ziarah kekuburannya Clara.   "Ekhm.. kamu kenapa cium... aku ?"   Ya gue harus pake bahasa yang baik dan benar, menyebalkan.   "Tidak, aku hanya bercanda!"   Ya ampun nih orang minta gue gibeng apa, tapi kenapa jantung gue berdegeb. Gue juga merasakan Leonard sebagai Clara.   "Oh ya, aku sangat mencintai Clara!"   Wajah Leonard tampak kilat dendam tapi dominannya heran.   "Benarkah? Jika Clara masih hidup, mungkin dia akan bahagia bersamamu!"   Kita berdua berbincang bincang tentang banyak hal, Ternyata Leonard mirip dengan Clara, awalnya menutup akhirnya membuka. Leonard gadis yang lumayan baik, tapi dia menutupi sesuatu hal mungkin. Kan gue gak tau.   •••••   Clara POV   Hueek najis, harus mandi tujuh rupa guenya yaampun.... Kenapa sih gue nyium Arnol? Huaa kenaaaapa..... Alay muncul.   "Lo kenapa ? Kok kek cacing kepanasan sih ?"  Gua menoleh kearah datangnya suara, itu kak Andre. Gue memeluknya dan mengucek muka gue kedada bidangnya yang tertutup kaos. Ya dia udah pulang dari kemaren, gue gak tau kenapa cepet banget.   "Huaa kejadiannya udah dari minggu lalu, tapi masih berasa huaaa..."   Gue merengek dan yaah kek cacing kepanasan gitu.   "Ihh.. Lo kenapa? Kejadian apa coba ?"   Kak Andre menatap gue intens, dia tampak heran juga.   "Gue... nyium Arnol !!"   Ucap gue berseru, dan dihadiahi tatapan membunuh kak Andre. Mampus. Gue hanya menatapnya tidak enak.   "What?"   Yaah selepas itu gue disiksa sama kakak kandung sendiri, yah taulah.  •••••   Gue sekarang ada di italia, kenapa? Kata kak Andre sih gue disuruh ngegantiin dia disana. Hadeuh. Gue ada di sebuah cafe ditepi jalanan dan gue duduk di dekat kaca, otomatis gue merhatiin orang berlalu lalang.   Misi, gue sedang menjalankannya sekarang. Yap, sasaran di kunci, dia memasuki cafe yang sekarang gue tempati dan dia duduk disebrang tempat duduk gue. Dia tampak sedang sibuk dengan gadgetnya, btw any way, ini cafe miliknya.   Gue berdiri dan mendekatinya, gue duduk di kursi yang berhadapan dengannya.   "Hai william ?"   Gue mengulurkan tangan dan tersenyum tipis dan ia membalas jabatan gue dan tersenyum. William? Ia seorang yang akan gue bunuh, kenapa? Dia adalah ketua mafia Italia. Dibalik pembunuhan ini, ada sebuah alasan.   "Hai... Girl, what your name ?"   Yaps, gue satu satunya mafia yang tidak dikenal, tapi nama gue terkenal yah bisa saja.   "My name is ..... Chloe Alexander "   "Nice to meet you Chloe!"   "Nice too meet you too William!"   Dia gak curiga karna nametag nya menempel di jas nya.   Kami berbincang cukup lama, gue gak sabar membunuhnya. Gue memegang pistol di balik jaket gue dan ...  "Don't try it girl !!"   Dia memegang tangan gue dan berbisik ditelinga gue dengan dingin, dia mengambil pistol dibalik jaket gue. Cengkamannya kuat dan membuat mata gue membulat saat dia berbisik lagi.   "Matikan alat pelacak ditubuhmu, matikan alat pendengar, semuanya matikan. Atau kamu akan mati disini !"   Dia mundur dan duduk dengan memegang pistol punya gue, dia bisa berbahasa?.   Gue mematikan semua peralatan ditubuh gue, yaps rencana B. Dia mencekam gue dan dia membawa gue kebelakang cafe ini, what? kamar?.   "Apa yang akan anda lakukan ?"   Dia menutup pintu kamar ini dan menguncinya, dia menyandarkan gue dipintu itu dan kedua tangannya mencekam kedua tangan gue di samping kanan-kiri kepala gue. Dia sangat dekat, dia mendesak tubuh gue.   "Jangan terlalu formal girl, aku ingin menikmati tubuhmu b***h !!"   Gue bener benci nih orang, gue akan tunggu lo mati.   "b***h?, you like a devil !!"   Dia hanya tertawa garing dan mencium tengkuk gue, gue mendesah, bukan mendesah keenakan tapi mendesah ingin lepas dari desakannya.   "LEPAS !!!"  Gue berteriak dan mendorongnya, dia terduduk di tempat tidur dan dia tertawa suka. Dasar iblis.   "Kenapa girl ?, kau tak tahan akan kenikmatan ? Hm ?"   Dia membetulkan rambutnya, emangnya dia perfect? Ciih. Gue merampikan baju gue yang berantakan dan menatap nya tajam, gue mendekatinya bersikap seperti nakal. Gue sekarang di atas tubuhnya. Kenapa gue begini?, gue mafia.   "Akhirnya kau tidak tahan bukan ?"   Gue tersenyum kemenangan akan ke geerannya.   "Gue.. Yaa gue gak tahan akan kenikmatan lo !"   Ucap gue sembari meraba d**a bidangnya dan melumat bibirnya. Dia keenakan dan gue menjauh darinya dan berdiri di dekat pintu, dia terbaring melihat gue heran.   "Hanya itu ?"  Dia duduk dan membetulkan bajunya, dia memegang kepalanya seperti kesakitan. Hidungnya mengeluarkan darah, kuping dan mulutnya juga keluar darah. Dia panik dan seperti orang gila.   "Aaaa... Apa... Yang. AAA BITCH....!!"   Dia berteriak dan terbaring lagi dengan lemas, dia. Dia mati dengan darah yang masih keluar dari telinga, mulut dan hidungnya. Mati mendadak. Rencana B berhasil.   Gue keluar dari kamar itu, gue menguncinya lagi. Tidak lupa tadi gue mengambil pistol gue lagi, gue berjalan menjauhi cafe itu. Jangan heran, rencana B hanya beberapa kali gue lakukan. Gue memakai sesuatu dibibir dan dalam mulut, itu beberapa dari kiss maut lainnya.   3...   2..   1.   Duaarrr !!!!   Gue tersenyum kemenangan dan dihadapan gue ada kak Steven, kak Demian, dan beberapa anggota mafia yang mungkin ingin menyelamati gue karna semua alat ditubuh gue mati.   "Mission completed!"   Ucap gue tersenyum dan semua tersenyum, kami semua memasuki mobil dan kembali ke markas.  •••••   "Kita semua panik karna semua alat lo dimatiin, sebelum itu juga si William mengancam lo Cla. Gue seneng lo selamat dan semua yang ada disini senang "   Ucap kak Demian dan memeluk gue, gue tersenyum. Kak Demian melepas pelukkannya, gue menatap orang orang yang ada di markas ini dengan semangat dan tersenyum.   "Never be lose!"   Ucap gue dan berdiri, gue melihat kak Demian dan kak Steven. Mereka mengerti dan semua mengerti, gue akan melanjutkan misi selanjutnya.   Mafia Values tidak pernah diincar oleh hukum, karna Mafia Values hanya membunuh mafia, gangster, penjahat internasional dan sejenisnya untuk kebaikan. Misi kami bukan sembarang misi.   Gue sekarang menuju ke restoran, gue menjalankan misi sekalian makan malam. Gue juga manusia, ingatkan?.   "Thanks!"   Ucap gue pada pramusaji yang meletakkan makanan yang gue pesen sedari tadi, ya gue udah duduk manis mendengar percakapan sekumpulan mafia..... Itu mafia Blackstone, mereka incaran gue karna mereka intinya. Terdengar mereka berbicara dengan serius dan jelas ditelinga gue, ya mereka mengincar gue?, tapi lucunya mereka tidak mengenal muka gue kan lucu. Haha. Eh ini lagi misi bukan ngelucu.   Gue sengaja berjalan melewati meja yang mereka tempati dan gue sengaja menyenggol kursi seseorang yang menurut gue wakilnya, gue terjatuh dan mereka semua melihat gue. Salah satu dari mereka membantu, dia adalah Ray wakil mafia Blackstone. Ya gue tersenyum malu, rekayasa, gue berdiri dan pura pura keseleo.   "Are you okay girl?!"   Yah... Gue akan membuat mereka lenyap dari dunia ini, Clara! Lo pasti bisa.  •••••   Arnol POV   "Dre ? Leonard belum pulang ?"   Tanya gue ke Andre, ya gue dirumah Andre malahan sering sudah seminggu yang lalu sejak Leonard pergi, katanya urusan mafia. Kak Demian dan kak Steven mengurus perusahaan di amerika katanya. Kata Andre.   "Lo suka sama dia ?"   "Apaan sih lo!!, gue kan nanya. Kalo gue tertarik sama dia emangnya kenapa?"   Andre melihat gue dengan heran, ya gue tertarik pada Leonard.   "Lo gak takut sama Leonard, dia mafia!!"   "Lah, lo juga gak takut sama Leonard?"   Andre tampak frustasi, biarin.  "Gue jelas gak takut, karna dia udah gue sayang sama kek Clara sebagai sodara kandung nah lo ?"   "Gue? Gue cinta sama Clara, tapi gue gak tau dia mafia. Dan gue tertarik pada Leonard, gue suka sama dia dan gue anggap kayak Clara seperti gue gak tau dia itu seorang mafia walaupun iya!"   Gue tulus bicara seperti ini, yah gue suka sama Leonard. Clara? Biarkan itu terkubur bersama masa lalu, sekarang Leonard gak akan gue sia siain seperti Clara. Gue inget kata Andre dulu sebelum ke london, kalo Clara gak beneran cinta sama gue mana mungkin dia menutupi kalo gue yang buat dia kek gitu. Gue menyesal, dia benaran cinta sama gue. Coba aja gue gak nganggap dia juga mengikuti permainan gue, gue gak akan seperti itu dengannya. Penyesalan gak ada guna, gue akan doain lo Cla. Gue akan bilang sebenarnya pada waktu yang tepat.   Gue gak kerja, karna gue males. Gue berdiri dan melihat Andre yang masih berfikir.   "Gue mau ziarah ke kuburan adek lo, Clara!"   Gue menepuk bahu Andre dan dibalas senyuman. Gue keluar dari rumah Andre dan menuju kepemakaman.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD