POV Fandi
"Sudah, jangan nangis. Om merasa jadi baby sitter kalau kamu nangis kayak gini."
"Om tadi ... bilang ... apa?"
Aku mengacak rambut bagian depannya. Lucu melihat wajah imutnya. Jadi kepengen ... gendong.
"Nggak ada," jawabku, "Om ... lapar!" Aku melepas pelukan, lalu menarik tangan Mayra menuju bagian belakang rumahku.
"Bukan itu yang diomongin tadi. Masalah bapak--"
"Makan dulu, baru di omongin nanti." Mayra protes sebenarnya, tapi tak kuhiraukan. Aku yakin ... ia bergidik dengan ucapanku barusan. Mana mau gadis belia seumuran Mayra, menerima suami sepertiku tanpa protes.
Mustahil.
"Makan yang banyak. Biar cepet gede," ucapku dengan mulut penuh.
"Apanya yang gede? Mayra sudah gede kali, Om."
"Dewasa maksudnya."
"Terus, kalau sudah dewasa?"
"Punya anaklah?"
"Uhuk- uhuk ... uhuk!" Mulut yang penuh ini menyemburkan makanan hingga kembali ke piringnya.
"Pelan-pelan, May ...." Aku menyodorkan kotak tisu, Mayra menyambar beberapa dan langsung mengelap mulutnya.
"Punya anak!" Mayra mengulang ucapanku.
"Kamu 'kan punya suami. Kalau sudah dewasa, terus mau apalagi?" godaku. Wajah itu ... ah, lucu!
"Nggaklah," timpalnya.
"Nggak nolak, kan?" Aku meletakkan sendok karena makanan dalam piringku sudah kosong.
"Kita 'kan cuma--"
"Buruan habiskan makanmu. Om mau menunjukkan kamar." Aku beranjak dari meja makan.
"Eh, Om. Aku kan belum selesai ngomong. Om ...." Mayra tampak tergesa-gesa menghabiskan makan siangnya. Tampak tersisa dan ia meninggalkan begitu saja. Kemudian berlari menyusulku.
Aku menaiki anak tangga. Sempat menoleh ke belakang, ternyata Mayra sedang berusaha mengikuti. Langkahnya cepat menaiki tangga, sehingga bisa menjajari langkahku.
Aku menyuruhnya membuka pintu salah satu kamar. Memberi arahan dengan gerakan bola mata. Mayra mengerti, lalu berjalan mendahuluiku.
Sedikit dorong, pintu pun terbuka. Mayra masuk tanpa ragu. Aku mengikutinya dari belakang. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Berputar-putar seperti anak kecil, dan menjatuhkan bobot tubuhnya pada ranjang.
"Luas, Om. Ini sih, bisa untuk menginap teman-temaku se-geng." Tangannya mengelus seprai dengan lembut.
"Oh, nggak bisa!" Matanya menyipit mendengar keberatanku.
"Tapi temen Mayra biasa nginap." protesnya.
"Itu di kosanmu."
"Ini 'kan kamarnya luas juga. Cukup untuk-"
"Kita berdua."
"Hah!" kejutnya. Mayra menatap penuh tanya. Ah, masa nggak paham dengan ucapanku. Masa iya mau dipertegas juga.
Aku menggeleng sambil tersenyum melihat ekspresi wajahnya yang mirip boneka panda. Jadi ... jadi gemes!
"Om ... aku ... kita?" Telunjuknya mengarah padaku, kemudian ke arahnya sendiri.
"Terus ... kamu pikir, Om mau tidur di ruang tamu? Ogah!" Aku mulai membuka kancing kemeja satu persatu. Benar-benar membukanya di hadapan Mayra. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Secepatnya, aku menyingkirkan tangan imut itu.
"Om ... mau ngapain?"
"Mau mandi. Mau barengan?" Aku hanya memastikan kalau ia akan terbiasa dengan hal ini.
"Ish--"
"Lemarimu ada di sana." Aku melangkah sambil menunjuk salah satu lemari yang berjajar.
"Kita beneran satu kamar, Om?" tanyanya masih tak percaya. Aku yang sudah berdiri di depan lemari, berbalik untuk menjawab pertanyaannya.
"Ada kamar satu lagi yang kosong. Kalau Mayra mau?"
"Iya, Mayra di sana aja! Di mana?" Mayra terlihat sumringah. Ia berdiri, bersiap ke luar kamar.
"Di ujung lorong. Pintunya agak pudar sih, catnya," jawabku sambil membuka lemari mengambil handuk.
"Nggak pa-pa. Mayra liat ke sana." Ia melesat ke luar kamar. Aku geleng-geleng kepala, sambil tersenyum. Ingin tau, bagaimana reaksinya nanti ... mungkin satu menit atau paling lama lima menit lagi.
Baru saja memasuki kamar mandi, pintu di gedor, "Om, di kunci." Suara Mayra
"Minta kuncinya sama pembantu di bawah!" Teriakku dari dalam. Menunggu beberapa detik, tak ada sahutan. Kulanjutkan acara mandi.
.
Terasa segar setelahnya. Perjalanan dari kediaman pak Hartanto tidak terlalu jauh sebenarnya, tetapi karena cuaca memang panas akhir-akhir ini membuat keringat lebih banyak yang keluar.
"Om ...!" Mayra berteriak bersamaan dengan pintu yang di tabrak hingga meninggalkan suara keras.
"Tikus ...! Om nggak ngomong!" Mayra main tubruk saja, memelukku dengan sangat erat. Ketakutan dan dan suaranya sangat panik.
"Tikusnya ada buanyak ... kecoaknya juga, Om."
Mayra tak sadar kalau aku ....
"Aaaak ...!"
Kalau aku ... hanya mengenakan handuk.
***
Sedari tadi siang hingga malam ini, Mayra hanya diam, marah lebih tepatnya.
Gara-gara insiden siang tadi, membuatnya enggan berbicara, apalagi memandangku. Berkali-kali kupanggil, tetapi tetap tak ada sahutan. Sifatnya, benar-benar kekanakan.
Usai makan malam, Mayra langsung naik ke kamar. Tak menungguku. Padahal, aku berharap ada waktu sebentar saja karena ingin membahas sesuatu yang penting. Sesuatu hal tentang Mayra dan ... masa depannya nanti.
Ia terlihat berdiri di balkon. Bagian luar kamar, menatap ke atas, ke arah bintang-bintang. Aku sengaja menghampirinya. Mayra terlihat terkejut dengan kedatanganku, tetapi terlihat nyaman-nyaman saja. Berarti tidak merasa terganggu dengan kehadiranku.
"Ada satu tempat, yang kalau kita berdiri di sana, kita bisa melihat lebih banyak bintang," ucapku. Mayra melirik dengan ekor matanya, tapi masih bergeming.
"Kapan-kapan ... Om ajak ke sana." Jelasku lagi. Sama, Mayra masih diam saja.
"Tempatnya dekat dengan kampusmu." Ia kembali melirik, "kamu bisa sering-sering ke sana."
"Untuk apa? Aku 'kan sudah nggak kuliah," ucapnya dengan nada ketus.
"Siapa bilang?" Mayra benar-benar menatapku kini. Dari arah samping, kulihat pergerakan tubuhnya menghadapku.
"Lihat ponselmu. Siapa tau ada pemberitahuan." Tanpa mendapat perintah kedua, Mayra masuk ke dalam kamar. Aku berbalik melihatnya dari kaca jendela yang tidak tertutup korden.
Senyumnya mengembang sempurna menatap layar ponsel. Berlari kecil sambil membawa senyumnya. Tiba-tiba saja menubrukku dengan sengaja. Memeluk dan menenggelamkan wajahnya di d**a.
Ada yang berdesir di dalam sana, terasa sejuk. Entah, sudah sekian lama tak pernah ada lagi sentuhan-sentuhan kecil seperti ini, setelah Rena berlalu. Pelukan seperti ini, bisikan lembut dan suara manjanya mengingatkan akan sesuatu yang ....
"Makasih ya, Om." suara Mayra menarikku kembali dari lamunan masa lalu. Matanya berbinar. Benar-benar terlihat sangat senang.
Ia melepas dekapannya dengan segera. Mundur selangkah dan tersenyum malu. Menutup wajah dengan sebelah tangannya.
Ah, gaya ABG yang malu-malu karena ketahuan tidak bisa mengontrol rasa senangnya.
"Maaf, kebablasan." Mayra berbalik sambil menahan tawa. Lucu. Kemudian masuk ke dalam.
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat penampakan lucu di hadapanku.
Aku kembali menghadap ke
luar, menengadahkan wajah. Bersitatap langsung dengan sang Dewi malam.
"Om," Mayra memanggil lagi. Aku memutar badan.
"Ya." Langkahnya terhenti tepat di hadapanku.
"Makasih sekali lagi." Mayra merapatkan tubuhnya, berjinjit dan ... cup!
What?
Ia memudurkan sebelah kaki, menutup wajah seperti yang dilakukannya tadi, beberapa menit lalu. Tetapi kini wajahnya lebih merona.
Aku sendiri jelas syok. Sampai-sampai tak menyadari kalau Mayra sudah berlari dan melompat ke atas ranjang. Ia bergumul dengan selimut, menyembunyikan dirinya di dalam sana. Malu.
Aku mengusap wajah sambil terus tersenyum. Tiba-tiba dibuat tercekat dengan tindakan ajaib Mayra.
"Ya Tuhan ... jangan-jangan Engkau memang mengirim malaikat kecil itu untuk menyegarkan malamku."
Aku sendiri masih tertawa geli sambil terus memandangi sosok yang bersembunyi di balik selimut.
Mayra mulai nakal.
Next