Catatan Tambahan : “Bagaikan Cinderella” [2]

1245 Words
Cinderella pun ditinggalkan kakaknya tercinta. “Huh! Memangnya pangeran itu kayak apa sih?! Gara-gara dia aku jadi berpisah dengan kakak!" Sang narator menyela adegan itu, “Cinderella yang tidak diizinkan pergi ke pesta dansa mulai tertarik dengan sang Pangeran, walaupun mereka tidak pernah bertemu.” Beberapa saat setelah ibu tiri dan kak Maria pergi. Cinderella semakin panik. Di saat genting itu, ia lalu memutuskan untuk menyeruput segelas teh, duduk bersila seraya berpikir bagaimana menyelamatkan kakaknya dari istana. Tiba-tiba, sebuah cahaya terang muncul dari langit. Sang peri yang diperankan oleh Yuki muncul dari langit-langit ruangan. Ia memakai pakaian serba putih lengkap dengan lingkaran di atas kepala. Pria itu mirip seperti anak perempuan dalam gaun pernikahan. Kemunculannya diikuti oleh teriakan histeris dari para fans, mereka semua berlinang air mata melihat Yuki yang begitu gorgeous dan keren. Ada juga yang sampai pingsan melihat penampilannya yang manis dalam gaun pernikahan. Sang peri berjalan mendekati Cinderella. Cinderella mengangkat kepalanya, “Kamu siapa?" Sang peri ikut jongkok lalu menuangkan segelas teh, “Aku peri yang akan menolongmu, aku akan mengabulkan satu permintaan," jawabnya dengan wajah datar. “Permintaan? Apa saja bakal dikabulkan?" sambung Cinderella sambil melahap camilan kue-kue di atas meja. “Ya, cepatlah, karena pakaian ini benar-benar tidak nyaman dipakai,” jawab Yuki malas. “Kalau begitu, aku ingin membakar istana pangeran itu sampai rata dengan tanah," Cinderella mengajukan permintaan, sembari mengambil kue dari atas meja. “Itu perbuatan kriminal," tolak Yuki, lalu menuangkan tehnya yang sudah habis, “Coba katakan yang lain, dari lubuk hatimu yang paling dalam," “Kalau begitu, aku ingin buka restoran pecel lele,” jawab Cinderella dari lubuk hati yang paling dalam. Yuki mulai jengkel dan mengacak rambutnya, ia kemudian berdiri, “Baiklah, tapi sebelumnya kau harus pergi menyelamatkan saudara tirimu dulu.” Sang peri mengayunkan tongkat sihirnya. Tirai panggung pun ditutup beberapa saat. Keadaan berganti menjadi aula istana yang dipenuhi oleh putri-putri dari seluruh kerajaan. Pangeran muda yang diperankan Nida tampak sedang duduk bersila di atas lantai, kepalanya disandarkan ke tembok untuk tidur. Ayah dari pangeran yang diperankan Adiw muncul ke atas panggung. Teriakan histeris fans-nya terdengar membahana. Beberapa dari mereka diangkut ke dalam mobil ambulans yang memang sudah disiapkan di depan sekolah. “Anakku! Ayolah, pilih salah satu dari gadis itu, mereka semua cantik-cantik." Adiw berdiri sambil berkacak pinggang di samping Nida yang sedang tidur. “Jangan ganggu aku, ayahanda. Lagi malas ah!" gerutu Pangeran. Ia malah tidur. Kemudian beberapa orang putri menghampirinya, salah satunya Sanelia. “Pangeran, berdansalah denganku.." “Enggak!" jawab Pangeran ketus. Datang lagi putri-putri lainnya menanyakan pertanyaan yang sama. “Enggak, enggak, enggak, enggaaaakkk! Denger gak siiih?! Mau dibunuh dulu ya?!" teriak Nida yang akhirnya berdiri. “Oh, kalau begitu, permisi pangeran,” Jawab putri ke-23 yang ternyata adalah Maria. “Eh? T-t-tunggu! Aku... aku..!" Wajah Nida mendadak seperti kepiting rebus, ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Adiw berbisik pelan, “Nida, kamu harus mengikuti naskah dramanya...." Nida pun kembali duduk bersila sambil menggerutu tak jelas. Sang narator menyela adegan itu, “Cinderella pun tiba di istana. Cinderella benar-benar menarik perhatian semua orang di sana." Cinderella sudah berganti pakaian ke gaun pesta berwarna hitam pekat. Dua sarung tangan dan stoking panjang yang ia kenakan juga berwarna gelap. Kostum Cinderella membuat para penonton menganga lebar, “Gila.... Cinderellanya pake baju item... wew...." Cinderella tiba di istana, pandangannya berubah tajam menyapu bersih seisi ruangan. Alih-alih berjalan mendekati pangeran, ia  malah melesat menghampiri makanan yang berjajar di atas meja, mengambil tiga potong ayam goreng lengkap dengan sambal terasi. Tanpa membuang waktu ia segera menyantap dengan lahap. Semua orang melongo. Namun narator harus lanjut membaca, “Pangeran yang melihat kecantikan Cinderella pun terpana dan jatuh cinta padanya, lalu memutuskan untuk mengajaknya berdansa." Nida mengerutkan alis, lalu menoleh ke samping panggung, di sana ada narator dengan naskah di tangan, “Woi! Masa gue harus dansa ama makhluk itu?!" Narator itu mengangkat bahu, “Meneketehe, pokoknya kamu harus ngikutin alur ceritanya." Cinderella sedang asyik makan, Pangeran muda pun berjalan mendekatinya, Cinderella melirik ke samping, “Jadi kau Pangeran itu... Mau ngajak dansa? Gak ah, malas. Gue mau makan." Lagi-lagi pikiran lain tersirat di pikiran penonton, “Sombong benar Cinderella ni....” “Siapa juga yang mau dansa sama kamu?! Huh!" Cinderella menyeringai, “Ck ck, pangeran, sebaiknya kau jujur saja, sebenarnya kamu mau berdansa dengan kakak, kan?" Cinderella menarik Maria dari tengah kerumunan. Wajah Pangeran menjadi kemerahan, “A...a..aku..." “Sayangnya, tidak kuizinkan kau berdansa dengannya.” “Apaa??!!" Suara bel berdentang keras, seolah menghentikan percakapan itu. Cinderella melihat jam tangannya, “Sudah pukul 12, aku lupa kasih makan Si Manis. Kakak, pulang yuk!" Maria mengangguk. “Tapi sebelum itu..." gumam Cinderella. Cinderella melepas sebelah sepatunya, lalu melemparnya ke arah pangeran. Sepatu itu menancap tepat mengenai kening Nida dengan ujung hak yang tajam. “Dengar ya, aku sudah memberikan yang kau inginkan, jadi jangan pernah datang ke rumahku untuk menggangguku dan kedua saudaraku." “Pukul 12 malam, Cinderella pulang ke rumahnya kembali. Sebelum pulang, ternyata Cinderella meninggalkan sebelah sepatunya. Sepatu ini pasti bisa digunakan untuk mencari gadis jelita itu,” ucap narator dengan wajah malas. Pangeran masih berguling-guling di lantai sambil memegangi kepala kesakitan. Sementara itu ayahanda memegang sepatu yang ditinggalkan Cinderella. “Pangeran, kau harus mencari pemilik sepatu ini, dia wanita idamanmu!" seru Adiw. “Gak mau!" gerutu pangeran sambil memegang keningnya. “Pangeran! Ini adalah kesempatanmu untuk bertemu lagi dengan gadis jelita itu! Kau harus mencarinya!” “Gue gak mau nikah sama manusia betina kayak gitu!" Nida menjawab ketus. Ia malah tidur sambil bersandar pada tembok. “Ayolah, anakku...!” Lalu terdengar teriakan para fans Adiw. “IYA! DENGERIN KATA-KATA ADIW!" Nida pun berdiri dengan wajah masam, “Iya deh... iya..." Seperti biasa, narator kembali berucap. “Setelah pangeran dibujuk ayahnya, ia akhirnya memutuskan untuk mencari Cinderella. Pangeran mengelilingi seisi kerajaan untuk mencari gadis yang kakinya pas dengan sepatu kaca. Sampai akhirnya ia tiba di rumah Cinderella." “Sepatu ini bukan milikku.” Maria baru saja mencoba sepatu Cinderella. Pangeran hanya duduk sambil menyilangkan lengan, ia malah tidur menyandar tembok. “Yang Mulia,  gadis di rumah ini kakinya tidak cocok dengan sepatu ini," ucap Rio seraya berhati-hati membangunkan pangeran. Nida menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, “Bukankah di rumah ini ada seorang gadis lagi? Yang hitam-hitam itu..." tanya Nida malas. “SIAPA YANG KAU BILANG HITAM-HITAM?!" Cinderella muncul, tangannya tampak memegang piring berisi makanan. “Heh, sudah kukatakan untuk tidak datang mengganggu kami! Tapi kau keras kepala sekali!"  Cinderella membentak sambil melahap makanannya. “Aku juga sebenarnya gak mau ke sini…" Nida menggerutu sambil berlinang air mata. Cinderella merangkul Maria, “Katakan saja sejujurnya kalau kau sebenarnya ingin menikahi kakak kan?" Maria pun terbengong-bengong. Wajah Nida berubah kemerahan, “Uuuuu...." “Tapi sayangnya tidak kuizinkan..." kata Cinderella, ia lalu mengajak kakaknya ng’teh. “Kamu ini apa-apaan siih?!" teriak Nida lalu menggerutu tak jelas. Cahaya terang mendadak muncul dari langit. Sang peri pun muncul diikuti teriakan histeris para fans. “Aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian..." Cinderella menoleh, “Oh, kamu lagi..." Yuki lalu duduk lesehan di samping Orchid sambil ikut ng’teh, “Karena Cinderella berhasil membawa pulang kakak-kakaknya, aku akan mengabulkan permintaannya...." “Tidak kusangka kau baik sekali, Yuki..." “Aku hanya mengikuti dialog yang ditulis KAMU.." jawab Yuki malas. Narator membacakan kalimat penutup, “Akhirnya, Cinderella bersama kakak-kakaknya membuka restoran Pecel Lele. Sedangkan pangeran diangkat menjadi Raja Klan Lionearth, eh..! Raja negeri tersebut... Ehem, dari cerita ini, kita dapat mengambil kesimpulan kalau kebahagiaan bisa kita dapatkan tanpa melalui pernikahan." Para pemeran drama keluar dan membungkuk memberi hormat. Kertas berkilauan bertaburan dari atas, diikuti oleh tepuk tangan meriah dari para penonton. Para penonton bertepuk tangan dengan perasaan bertanya-tanya. “Kok ceritanya begini sih? Bagus sih, tapi ga sesuai dengan judulnya." “Menurutku sesuai kok, kan judulnya 'Bagaikan seorang Cinderella.' " Setelah itu Orchid pun berpikir, “Perasaan dialog-dialog mereka gak ada yang sesuai dengan naskah yang kutulis... Tapi masa bodo ah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD