Hari berganti minggu. Insiden p*********n di tengah kunjungan presiden Tiongkok menjadi headline besar di seluruh dunia. Akan tetapi, segalanya terlihat normal bagi Nida dan Maria. Sempat beberapa kali ia melihat kedatangan wartawan untuk mengumpulkan info. Akan tetapi, keberadaan mereka semua langsung ‘dibereskan’ oleh para agen yang lain.
Sempat Nida dibuat kaget akan keberadaan ibu penjaga penjual nasi wuduk di pinggir jalan. Penampilannya sederhana, ramah-tamah, penuh welas asih kepada para murid yang kelaparan. Siapa yang menduga bahwa di balik celemek kainnya ternyata terdapat sepucuk pistol tersembunyi dengan sempurna.
Ia tak mengerti kenapa para agen ini harus menyamar menjadi orang biasa. Apakah itu untuk mengelabuhi Maria? Atau memang permintaan dari gadis itu sendiri?
Setidaknya tupoksi pekerjaan Orchid, Celine, dan Yuki sudah begitu jelas tanpa ada unsur t***k-bengek seputar penyamaran. Mereka cukup menemani Maria menjalani hari-harinya, menjaga gadis itu dari marabahaya yang mungkin datang dari arah tak terduga.
Terkadang Celine berandai-andai, tawa lepas dari gadis berambut biru itu senantiasa terlihat penuh penghayatan. Dia seakan sedang berusaha menikmati tiap detik dari masa muda. Mungkin saja segala sesuatu bisa terlewat dalam sekejap mata.
…
Dua belas ribu kilometer jauhnya dari posisi Maria.
Biru lautan lepas seakan menyatu dengan langit di penghujung cakrawala. Hari ini terlihat cerah tanpa satu pun awan.
Tyan berdiri di penghujung sebuah kapal. Angin laut meniup rambutnya yang dimodel jambul hingga bergoyang-goyang. Ekspresi wajahnya menunjukkan sendu. Tepian bibirnya tertarik sedikit, mencipta senyum getir berbalut sedih.
Terik matahari memanggang besi hingga terasa panas. Pun begitu, Tyan masih bermuram durja hingga sorot matanya terlihat semendung awan senja.
Di tangannya, terdapat secarik foto berisikan potret gadis berambut biru.
Arby muncul di belakangnya. Seperti biasa ia membetulkan letak kacamata di wajah. “Persiapan sudah selesai, kita bisa memulai ‘kontak’ kapan pun yang kau mau.”
Di samping Arby, terdapat Adiw yang sama-sama mengenakan seragam perlente—Jas hitam rapi lengkap dengan dasi—tengah menerawang lautan lepas. Pria itu mengalihkan pandangan pada Tyan sejenak. Mulutnya mengucap ragu, berusaha meyakinkan sesuatu,
“Kau yakin ingin melakukan ini?”
Tyan sedikit memberikan jeda, “Aku tak peduli akan konsekuensinya. Yang jelas, ‘dia’ harus kembali.”
“Dia belum meninggal,” sanggah Arby. “Kita bisa menyelamatkannya.”
Dalam hening itu, Arby ikut-ikutan memandangi wallpaper pada smartphone-nya. Sama seperti Tyan, ia juga menyimpan potret gadis berambut biru. Tak lelah rasanya ia pandangi iris mata hijau menawan di sana.
“Aku muak menghabiskan hari-hari dengan jalang bernama Maria.” Tyan menjambak rambutnya sendiri, terlihat dipenuhi frustrasi, “Rambut itu, wajah itu, suara itu… segalanya tentang dia membuatku mual.”
Semua orang terdiam, mengamini ucapan sang pimpinan.
Siang yang cerah tiba-tiba saja berubah mendung. Langit terlihat gelap ditutupi oleh awan tebal bertiraikan petir.
Ini aneh.
Angin mulai bertiup kencang. Gemuruh suara petir terdengar di kejauhan. Badai akan tercipta.
Lantas kenapa lautan terlihat begitu tenang tanpa satu pun ombak?
“Sepertinya ‘wahyu’ yang kau dapat itu hal sungguhan.” Arby mengucap seraya mengukir senyum tak simetris.
“Ya, bahkan detik ini dia masih berbicara langsung menuju kepalaku,” jawab Tyan. “Lucy… dia punya jawaban atas keinginanku. Di sana, aku akan membuat sebuah kesepakatan.”
Adiw tak berkomentar banyak. Entah kenapa ini mengingatkannya pada anggota WCS. Orang-orang dari organisasi itu juga mengaku dibimbing oleh semacam wahyu— suara ilahiah entah dari mana.
Ingin ia ungkapkan keraguan ini, tapi nyalinya ciut tatkala membayangkan bagaimana reaksi Tyan ketika mendapati bawahannya lancang hendak menentang. Ingin rasanya ia mengungkapkan pendapat bahwa semua ini mungkin tak lebih dari sebuah jebakan.
Di depan kapal yang mereka tumpangi, terdapat semacam pusaran udara seukuran Gedung lima lantai.
Bayangkan sebuah tornado. Namun tabung pusaran angin yang biasa menjulang tinggi kini dipaksa rebahan ke samping. Alhasil tercipta semacam lubang misterius di bagian tengahnya.
Seperti portal.
“Perjanjian akan ditulis. Kalian semua akan menanggung konsekuensinya.” Tyan membuat peringatan, “Jika ada yang keberatan, bicaralah. Kalian bebas untuk mundur.”
Tiada jawaban. Diam berarti iya. Adiw sepertinya gagal mengutarakan keraguannya.
Tyan kemudian memberi sinyal lewat gerakan tangan, memerintahkan pada Nakhoda untuk melajukan kapal menuju portal.
…
Sepanjang lorong penghubung antar dimensi, Arby tak sedikit pun bereaksi terhadap segala macam anomali.
Ada banyak makhluk aneh melayang-layang menembus benda padat. Bayang hitam itu tak terlihat sebagai ancaman, bentuknya tak lebih dari sebuah kain gelap tergerai diembus angin.
Tiada tengkorak, atau wujud suatu makhluk di dalamnya, tapi siluet itu jelas memperlihatkan bentuk sesosok manusia.
Mereka sadar, raga kasar beserta seisi kapal tengah diseret masuk ke dalam sebuah ruang tersembunyi.
“Ini kan…” Adiw terperangah, batinnya berusaha menebak-nebak.
“Alam gaib.” Arby menggumam pelan, membeo pada ucapan lirih dari suara yang terdengar dalam kepalanya. Ia masih menyembunyikan fakta bahwa entitas misterius bernama Lucy ternyata membisikkan suatu hal juga padanya.
“Di sini, Tyan akan membuat kesepakatan dengan para Reatur, faksi dari sisi bumi.” Suara itu kembali membisik.
“Aku tak peduli,” jawab Arby dingin. Ia cukup berkomunikasi lewat suara batin.
“Benar, kau tak peduli,” jawab Lucy. “Kau hanya ingin melihat dunia terbakar.”
“Dunia hanyalah setumpuk gudang dipenuhi kayu kering. Hanya butuh seseorang dengan pemantik api untuk mencipta kebakaran.”
Tyan sedikit menangkap gumam di mulut Arby. “Kau bicara sesuatu?”
Arby hanya menggeleng. Tepian bibirnya kembali mengukir senyum tak simetris.
Mereka tiba.
Reatur— kaum kuno yang sudah menghuni bumi jauh sebelum manusia pertama turun dari pohon-pohon di Afrika. Mereka tidak tinggal dalam semesta kasar seperti dunia para manusia. Tubuh mereka gelap tak memantulkan cahaya temaram. Buntal. Tinggi badannya cukup menjulang hingga Arby mengira ia melihat seekor beruang.
Tyan menjulurkan lengannya, menyentuh tepian jemari sang Reatur yang berukuran dua kali lipat darinya. Bahasa yang mereka lontarkan tak bisa dimengerti. Namun entah mengapa, Arby bisa memahami maksud dan tujuan dari setiap kalimat asing itu.
[Festival agung akan dilaksanakan pada akhir tahun dalam kalender suci sepanjang lima Millennium.]
[Miliaran jiwa harus dikurbankan. Darah akan tertumpah dalam ritual memanggil sang dewi perang.]
“Maka jadikanlah,” Arby berkomentar tanpa bersuara. Batinnya membayangkan sebuah kekacauan. Degup jantung mulai tak terkendali. Perlahan darahnya berubah mendidih. Ia terlihat bernafsu sekali.
Tiga tahun lalu, dirinya dan para sahabat lain berkorban darah dan air mata demi menyelamatkan seisi dunia. Planet ini nyaris dibuat menjadi daratan mati nan tandus akibat ancaman perang nuklir berskala global.
Akan tetapi, dunia seakan tak peduli. Padahal sebagian dari para pahlawan itu meninggal berkorban nyawa. Seluruh jasa mereka dilupakan begitu saja. Segalanya ditutupi demi alasan konyol geopolitik bernama ‘kestabilan kawasan’.
Semua orang yang ada di sini telah kehilangan keluarga, saudara, juga orang yang dicinta. Putus asa telah mendorong Tyan hingga nekat melakukan ini semua. Ia rela melakukan apa pun demi menyelamatkan pujaan hatinya.
Namun Arby berbeda dengan Tyan.
Ia tak lagi bisa melihat hal positif dari sesi dunia. Hasratnya mendambakan beragam macam kehancuran.
Dunia ini tak pantas untuk diselamatkan.
Sang Reatur kemudian memberikan sebuah gelang. Bahannya terbuat dari logam hitam legam. Gelang itu bisa dibuka menganga seperti mekanisme borgol, sekali dilingkarkan pada lengan, maka akan terkunci dengan sempurna— tak bisa dibuka kembali.
[Gunakan ini kepada sang perawan, cawan suci bagi sang dewi kehancuran.]
“Lucy,” ucap Tyan tegas. Pandangannya menerawang, mengajak bicara pada entitas yang berbisik langsung menuju pikiran. “Kau membutuhkan sebuah wadah, tubuh dengan sirkuit sihir kuat tiada tara.”
Mendadak wajah Adiw berubah pucat.
“Bantu aku mengembalikan jiwa Yulia.”