Nida merasakan sebuah kejanggalan.
Setiap hari selama jam pelajaran, Maria terlihat bersikap biasa saja. Sepanjang pentas kesenian pun ia tak memberikan perlakuan khusus pada orang lain maupun kepada dirinya.
Tidak, tidak. Nida bukannya ingin diperlakukan khusus.
Justru dengan bagaimana Maria bersikap normal padanya, itu menjadi suatu tanda tanya besar.
Pria itu bisa mengingat jelas insiden memalukan ketika ia nekat memasuki ruangan pribadi Maria.
Kala itu ia dipergoki oleh sang pemilik rumah— Maria sendiri. Lengan Nida belum sempat menyembunyikan celana dalam yang sedang ia periksa.
“Len,” ucapnya lirih. Sorot mata itu menyiratkan ketidakpercayaan.
Akan tetapi, alih-alih marah, dia malah terkesiap, lalu menghambur dipenuhi bahagia seraya memeluk dirinya.
“Len..!”
Jelas Nida dibuat kebingungan.
Pertama, siapa itu Len?
Kedua, kenapa iris mata Maria berwarna hijau muda? Apa dia sengaja mengenakan kontak lens?
Suara mereka masih terdengar sama, akan tetapi entah kenapa Nida bisa merasakan gadis yang tengah membenamkan wajahnya dalam pelukan ini bukanlah Maria yang ia kenal.
Sempat ia berpikir; Apakah ini Fia? Tunangannya itu memang memiliki watak manja dan agak kekanakan.
Bukan.
Ini bukan Fia. Gadis ini pasti perempuan yang berada dalam potret di kamar tersebut. Nida ingat di sana ada Arby dan Tyan yang masih mengenakan seragam SMA. Gadis berambut biru dengan mata hijau terang itu mungkin masih berusia sekitar enam belas tahun.
Jadi siapa dia sebenarnya?
Pertanyaan Nida mungkin tak akan terjawab dalam waktu dekat. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja perempuan misterius itu terlelap hilang kesadaran.
“Lho, hey? Kamu kenapa?!” Tak peduli sebagaimana Nida mengguncang-guncang bahunya, gadis itu masih saja menutup mata.
Napasnya masih ada, ia hanya tertidur lelap.
Akan tetapi, dia gagal merespons stimulus dari luar. Apakah dia mengalami penurunan kesadaran? Pingsan misalnya?
Seorang perempuan tergolek tak sadarkan diri dalam pangkuan pejaka tak berpengalaman. Hal ini tentu saja membuat Nida berpikir yang tidak-tidak. Mereka berduaan dalam kamar. Beragam bisikan jelek terasa bising memenuhi batinnya.
“Apa yang kau lakukan?” Ucapan itu terdengar dipenuhi semacam kemurkaan.
Keberadaan sesosok pria sontak saja membuat Nida bergidik. Ia sadar, dirinya tengah dipergoki dalam posisi tidak menguntungkan.
“Umm… Tyan? Aku bisa jelaskan ini,” ucap Nida panik.
“Bukan salahmu.” Lengan Arby terangkat, mencegah Tyan melakukan hal-hal yang mungkin bisa menambah runyam suasana, “Kami terlalu ceroboh sampai-sampai tak memperhitungkan kemungkinan ini.”
Ucapan Arby entah kenapa terasa lebih menyakitkan.
Dan sampai begitu saja. Nida diusir dari kediaman Maria tanpa menerima hukuman apa pun.
Sebagai pengawal pribadi Maria, tentu mereka berhak untuk bersikap over protektif. Namun Nida tak bisa memahami akan kerahasiaan yang mereka bangun di setiap waktu.
Alih-alih membawa Maria ke klinik kesehatan, mereka malah mengurung diri dalam satu ruangan, entah melakukan apa.
Merapal sihir penyembuh? Ah tidak mungkin. Mereka manusia biasa, terkena ledakan kecil pun Tyan bahkan sampai dibuat koma.
Nida tahu, itu bukan urusannya.
Pun begitu, hati kecilnya tetap tak bisa dibohongi.
Ada suatu hal janggal tentang keberadaan grup bernama Herotics ini.
…
Suara pena bergores dan gesekan kertas menjadi satu-satunya hal yang bisa Nida dengar. Di ruangan ini hanya ada dirinya, Maria, dan Tyan yang sibuk mengerjakan dokumen kenegaraan.
Nida menawarkan diri menjadi asisten Maria. Awalnya keberadaan dia ditentang oleh Tyan. Akan tetapi, gadis itu terlihat tak keberatan.
Hening tercipta antara dirinya dan Tyan. Ada semacam ketidaksukaan dari pria itu ketika dia berdekatan dengan Maria.
“Ini laporan dari Menteri Keuangan terkait arahan kebijakan fiskal tahun ini.” Tyan menyerahkan dokumen setelah mencetaknya lewat printer.
“Menurutmu bagaimana?” Maria malah bertanya.
“Mengingat resesi yang terjadi akibat krisis moneter akhir-akhir ini, ada baiknya kita menurunkan suku bunga sebagai stimulus ekonomi dalam kebijakan makro, hanya untuk jangka pendek.”
“Bagaimana dengan neraca perdagangan?” Sorot mata Maria sibuk bergerilya menelusuri rangkaian angka dan paragraf dari laporan di tangan.
“Surplus,” jawab Tyan cepat. “Ekspor di bidang karet dan biji besi olahan menjadi komoditas paling berpengaruh. Kebijakan membuka kembali perdagangan internasional merupakan keputusan bijak.”
“Tiongkok ya… sepertinya usaha kita untuk memperbaiki hubungan dengan mereka adalah keputusan tepat.”
Entah kenapa, niat Nida untuk ikut campur dalam pekerjaan Maria sepertinya berbalik menjadi situasi tak menguntungkan. Keberadaannya di sini malah terasa mengganggu, terlebih ketika ia hanya bisa mematung berusaha memahami setumpuk dokumen di sana. “Apa pula laporan dari Kemensup ini?” Kepalanya mulai terasa sakit. Sekarang ia agak menyesal karena sering kali kabur dari pelajaran tatanegara. Yuki pasti menertawakannya saat ini.
“Umm… adakah suatu hal yang bisa kubantu?” Nida terlihat memelas.
Denting kaca pecah terdengar sayup di telinganya. Suara apa itu? Oh, sepertinya perwujudan harga diri yang luruh menjadi kepingan kecil.
“Kau bisa menstempel berkas-berkas di sana.” Telunjuk Tyan mengarah pada sisi kanan dari meja Maria. Di sama terdapat setumpuk dokumen dalam beragam map terpisah.
“Aku sudah menandatangani itu semua, tolong bantu dicap ya,” ucap Maria. Pandangannya tak sedikit pun teralihkan dari layar komputer yang ditunjuk Tyan. Mereka sibuk mendiskusikan sesuatu.
Arrrrghhhh… ini akan terasa membosankan. Tapi Nida tak bisa mundur, ia harus melakukan ini demi mencipta kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengan Maria. Lengannya mulai menyisir satu demi satu dokumen untuk diberikan cap berlambang negara.
Jarum pendek pada jam dinding terasa bergerak kian cepat. Waktu terlewati begitu saja ketika seseorang disibukkan oleh suatu pekerjaan. Sekarang Nida paham bagaimana rasanya menjadi seorang b***k korporat.
Tyan tak lagi terlihat keberadaannya, ia ditugaskan Maria untuk berkoordinasi langsung secara tatap muka dengan kepala suatu instansi bernama Kemensup.
Maria melipat lengannya tinggi-tinggi, berusaha mengusir pegal yang mendera. Tugasnya untuk hari ini sudah selesai. Kini hanya ada dirinya dan Nida dalam satu ruangan tertutup. Gadis itu bertopang dagu memandangi kesibukan Nida. Senyum kecil terukir tanpa ia sadari.
Binar senjakala menyusup masuk dari jendela yang menghadap barat daya. Suasana di ruangan itu entah kenapa terasa melankolis.
“Biar kubantu,” Maria mengeluarkan satu stempel lagi, lalu meminta beberapa bagian dari dokumen yang masih menggunung.
Agak canggung dirasa, namun Nida dibuat menyerah akan bagaimana gadis itu tetap bersikeras untuk menolongnya.
Dua orang itu duduk saling bersebelahan.
Ini dia. Nida akhirnya mendapatkan kesempatan yang sedari tadi ia cari. Dalam kehidupan sehari-hari, sulit baginya untuk mencuri waktu privat sekadar untuk bercengkerama.