Tirai gorden terbuka pelan.
Celah kecil yang melebar seakan memberi jalan bagi sang rembulan untuk menerobos masuk dari angkasa.
Sesosok wanita membuka jendela seraya menutup kedua d**a. Selimut di tangan ditarik jauh meninggalkan kasur kusut di belakangnya.
Pandangannya berubah sendu. Iris mata biru itu berpendar memantulkan cahaya. Untaian rambut selembut sutera jatuh menggapai lantai, tiap helainya seakan bersinar menerangi sekitar.
Waktu menunjukkan pukul empat pagi, masa paling gelap dalam keheningan malam. Nyaris tak ada awan di angkasa, membuat taburan bintang terlihat indah berkilauan.
“Waktunya bertugas,” ucap gadis itu pelan. Pandangannya lantas teralihkan pada Nida yang masih tertidur pulas.
Ia harus pergi, melaksanakan rutinitas harian sebagai penengah perang. Inilah sisi gelap yang tak pernah ia tunjukkan.
Di zona peperangan, gadis itu berulang kali menghancurkan sendi-sendi vital yang mendukung pertikaian. Ia dijuluki sebagai Counter Guardian, karena tindakannya dirasa heroik bagi pihak yang ditindas, namun dianggap penghalang bagi mereka yang menyerang.
Hasrat paling dasar hanyalah satu, yakni menghentikan pertumpahan darah— tak peduli apa pun itu.
Tak ada yang tahu akan hal ini, terkecuali pimpinan tertinggi di pemerintahan. Berulang kali mereka memperingatkan, namun semua itu dianggap tak lebih dari angin lalu saja. Bagaimana pun juga, mereka tak punya kuasa untuk melarang.
Hari ini tak akan berbeda dengan hari sebelumnya.
Setelah merapikan diri dalam pakaian setelan kesukaannya, ia menambahkan jubah berwarna hitam lengkap dengan tudung kepala menutupi sebagian wajah. Dalam gelapnya malam, tak seorang pun bisa menebak siapa dia sebenarnya.
Gadis itu bertingkah bak seorang pahlawan super.
Pahlawan kebajikan yang beralasan, karena kemampuannya memang jauh melebihi kuasa seorang manusia normal. “Karena dalam kekuatan besar, tersimpan tanggung jawab berat.” Atau setidaknya itu yang ia pikirkan.
Sebuah ukiran lingkaran sihir tercipta di bawah kaki. Tiap garisnya berpendar temaram menerangi halaman. Semuanya teraktivasi lewat beragam rapalan mantra kuno dari zaman kegelapan. Tubuhnya mampu terkirim jauh melewati batas benua. Teleportasi instan membuatnya sanggup untuk berdiri di mana pun sesuka hatinya.
Berikutnya, dalam satu kedipan mata saja, segalanya berubah drastis bak bergantinya saluran televisi.
Kali ini ia berada di Jalur Gaza, Palestina. Suara ledakan serta rentetan deru senapan sudah menjadi bagian dari sehari-hari. Padahal, jam baru menunjukkan pukul dua belas malam. Namun tiada kata istirahat untuk para maniak kekerasan.
Intensitas gempuran semakin gencar dilakukan. Fokus Maria kali tak tertuju pada pertikaian. Ia lebih khawatir melihat rakyat jelata yang ketakutan berlindung di balik rumah perlindungan.
Amarahnya terbakar kala melihat ayah dari sebuah keluarga dipaksa keluar. Pria tak bersalah itu disembelih lehernya oleh sekelompok ekstremis agama. Mereka begitu keji membunuh sesama, hanya karena didasari oleh perbedaan keyakinan saja.
Tak ingin memberikan ampunan, Maria lantas membakar semuanya lewat rangkaian inkantasi sihir level menengah. Jeritan para teroris itu tak akan menghapus dosa mereka.
Lewat teleportasi singkat, Maria kemudian mengirim dirinya menuju bangunan paling tinggi. Di sana, ia mendapati bahwa tengah terjadi serangan masif pada kota Tel Aviv. Pasukan insurgen dengan persenjataan lengkap berhasil menerobos dinding pertahanan.
Pertempuran ini bukan hanya tentang Gaza melawan Israel saja. Karena penyerang utama, disinyalir berasal dari golongan ekstremis agama, teroris yang dikenal berulang kali mengguncang dunia. Mereka senantiasa menggunakan jalan pengecut lewat teknik cuci otak. Semuanya berujung pada dicetaknya relawan syuhada, atau biasa disebut dengan pelaku bom bunuh diri.
Maria dengan cepat melakukan teleportasi, mengirim dirinya ada di tengah-tengah kontak senjata. Keberadaannya sontak disambut dengan hujan tembakan dari kedua belah pihak.
Namun ia tak perlu khawatir. Sihir berjenis perisai tak kasat mata, Praesidio melindunginya dari berbagai arah. Bentuknya semi transparan memantulkan cahaya, mirip dengan gelembung sabun, namun kokoh tak tertembus.
Sekarang, apa yang harus dilakukan untuk menghentikan kekacauan ini?
Haruskah ia musnahkan pihak insurgen—pasukan penyerang—dari kelompok ekstremis?
Tapi di sisi lain, ia juga tak memiliki empati pada negara yang diserang. Menurutnya, negara ini berdiri di atas darah dari pihak yang sudah dijajah. Mereka tak beda dengan bangsa Eropa yang menduduki benua Amerika.
Kedua pihak itu ada di posisi yang salah, jadi lebih baik musnahkan saja mereka semua. Lagi pula, ini kesempatan bagus untuk melakukan niatnya sejak lama. Para penyerang ini tidak ada hubungan dengannya, mereka bisa dijadikan kambing hitam atas runtuhnya pemerintahan serta militer yang ada.
“Principi carus nocte custos inferni accendantur semper mihi peccatori potestatem in terra[1]...”
Mulut seksi itu mengucap mantra. Diawali dengan berpendarnya lingkaran sihir di lokasi kaki berpijak, berlanjut dengan terbakarnya bumi hingga meluas ke segala penjuru.
Maria terdiam pilu, menyaksikan geliat kesakitan mereka yang tersiksa. Batinnya meringis atas segala penderitaan itu. Bagaimana pun juga, mereka semua manusia sama seperti dirinya. Membunuh itu bukanlah perkara mudah. Tak terhitung sudah betapa beratnya beban mental yang harus ia terima. Sekali ia menciptakan sihir pemusnah, niscaya akan ada ratusan korban berjatuhan di luar perkiraannya.
Gadis itu dengan hati-hati mengontrol pembakaran yang terkendali. Ia tak ingin rakyat tak berdosa ikut menjadi korban kebrutalannya. Hanya pos militer, serta alutsista yang menjadi target. Sihir yang ia kerahkan memiliki suhu sepanas api neraka. Logam pun akan dibuat leleh karenanya.
Tapi ada yang aneh.
Kenapa tak ada helikopter di sana? Terakhir kali ia mengacau sebuah pertempuran, musuh pasti akan mengirimkan pesawat tempur beserta puluhan helikopter serbu untuk melawannya. Mereka pasti sudah melaporkan keberadaannya sejak tadi.
Lantas kenapa tak ada respons lanjutan? Apa mereka sudah mengambil pelajaran dari kontak sebelumnya? Bahwasanya, apa pun yang teknologi bisa perbantukan, semuanya dibuat tak berguna di hadapan Maria.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Batin Maria bertanya-tanya. Pertempuran itu memang hiruk-pikuk, kacau, tak terorganisir. Namun entah kenapa, di saat bersamaan kota itu juga terasa sepi.
Ternyata jawabannya disajikan semenit kemudian. Puluhan pesawat bomber terbang rendah nyaris mengenai atap gedung. Mereka memuntahkan cairan misterius dari segala penjuru.
Sedetik setelah mengenai daratan, cairan itu bereaksi brutal lewat terciptanya kobaran api yang menghanguskan.
Kota Tel Aviv terbakar sepenuhnya.
Lautan api tercipta di sana. Langit gelap di angkasa kini berubah kemerahan oleh panas membara. Suhu udara begitu tinggi hingga tak seorang pun akan selamat dari sana.
Maria berubah pucat menyaksikannya. Ia masih belum bisa mencerna tujuan utama dari tindakan musuh tersebut. Pesawat yang melakukan pengeboman adalah milik negara yang diserang.
Lantas untuk apa mereka membunuh rakyatnya sendiri?
Batin Maria semakin tersiksa. Tak peduli sekuat apa ia menutup telinga, suara jeritan anak-anak dan wanita terdengar jelas olehnya. Menangis seraya memejamkan mata pun tak sedikit pun menolongnya. Penderitaan warga tak berdosa tergambar jelas dalam benaknya, bagaimana mereka menggeliat berusaha menahan siksa.
“Kenapa..?” batinnya tak kunjung menemukan jawaban.
Tak ada waktu untuk berpikir, ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan jiwa, sebanyak apa pun yang ia bisa.
“Et frigora noctis aer divulgetur![2]”
Gelombang dingin tercipta seketika, membentuk desakan energi dinding udara. Tiap jengkal yang dilewati memupus kobaran api hingga menciptakan kesunyian.
Proses pemadaman itu sayangnya harus dihentikan, tatkala kedatangan helikopter dengan lampu sorot nyaris saja membutakan pandangan. Gadis itu lengah, rotor yang berputar kencang mengembus udara menuju daratan, menyibak tudung kepala hingga memperlihatkan wajahnya secara sempurna.
Maria berubah kalap, helikopter tempur itu tentu sudah merekam wajahnya. Ini bisa memicu kesalahpahaman. Orang-orang mungkin akan menganggap dia pelaku tunggal atas segalanya.
Dikuasai panik, Maria lantas mengarahkan jari telunjuk. Dari sana, muncul semacam proyektil bercahaya, melesat cepat hingga menghancurkan helikopter yang memergokinya.
Hal itu malah akan memperburuk suasana, mempertegas posisinya sebagai pelaku utama. Terlambat bagi Maria untuk menyadarinya.
Helikopter lain muncul mengepung, namun tak satu pun dari mereka melepaskan tembakan padanya. Mereka tahu siapa orang di bawah sana. Sosok paling berkuasa dari sebuah Negara bukanlah target yang bisa ditembak begitu saja. Pengacau misterius di tiap peperangan sudah terungkap secara sempurna.
Napas gadis itu terhenti, ia sadar apa konsekuensi yang menanti. Tanpa membuang waktu ia lantas merapal sihir untuk melarikan diri.
“Telepisca!”
…
Kembali ke Indonesia.
Dalam dinginnya udara pagi, gadis itu terlihat syok dengan wajah pucat pasi. Napasnya terengah-engah disertai cucuran keringat membanjiri.
****
Tak sampai satu hari, kehebohan pun terjadi di pemerintahan. Bukti keterlibatan Maria dalam kekacauan di timur tengah telah menjadi berita besar. Posisinya sebagai kepala Negara telah memperburuk segalanya.
Sejak awal, Indonesia sudah ada dalam posisi tak menguntungkan. Keputusan Maria untuk mengisolir serta menasionalisasi perusahaan asing telah membuat banyak pihak berang. Kesalahan fatal macam ini, tentulah akan berujung pada pernyataan perang.
Tak peduli sebagaimana detail ia menjelaskan. Pada akhirnya, bukti rekaman telah berbicara.
Di ruang rapat istana kepresidenan, gadis itu duduk sendirian menghadap para Jenderal dan wakilnya. Detik itu juga ia menyatakan mundur dari posisinya.
Sebuah keputusan yang langsung mendapat tentangan dan kecaman.
Sosok paling pertama mengucap kekecewaan adalah sang wakil presiden. bapak Joukui berusaha bijak menanggapi itu, “Bu Maria, apa yang terjadi biarlah terjadi. Saya akui itu merupakan hal yang patut disesalkan, namun mundur dari posisi di saat ini malah semakin menegaskan kesalahan.”
Para Jenderal lainnya menganggukkan kepala perlahan, “Negara kita masih berada dalam tahap pemulihan, banyak sekali faktor disintegrasi yang mengancam dari dalam. Harus diakui, Anda merupakan faktor krusial pemersatu bangsa. Selayaknya bung Karno di masa awal kemerdekaan.”
Pak Joukui kemudian menambahkan, “Kami mengerti, Anda bukanlah seseorang yang murni ingin membuat kekacauan. Dalam kekuatan besar, tersimpan tanggung jawab yang berat. Saya tidak ingin menyalahkan kebiasaan Anda bertindak sebagai pahlawan super selayaknya tokoh dalam komik. Anda memiliki kapabilitas untuk itu.”
Maria terlihat begitu depresi. Ia serasa sedang dihakimi. Sikunya bertumpu pada meja, seraya telapak tangan menutupi mata yang bercucuran air mata, “Aku memang terlibat dalam konflik itu, tapi aku tak pernah membunuh warga sipil.”
Tak ada yang merespons ucapan itu. Semua orang hening menyaksikan pimpinan mereka terisak-isak dikuasai emosi.
Pak Joukui kemudian mengucap kembali, “Anda kecewa karena dijadikan kambing hitam, kami semua mengerti. Tapi tolong pertimbangkan kembali keputusan tadi.”
Gadis itu memejamkan mata perlahan, berusaha mencari jalan keluar dari situasi itu. Mulutnya kemudian mengucap pelan, “Ada opsi untuk negosiasi?”
“Selalu ada jalan untuk itu.”
Maria kemudian mengucap keputusan, “Baiklah, saya tarik kembali pernyataan tadi. Saya akan tetap menjalani posisi sebagai pimpinan tertinggi.”
Kesuraman di ruangan itu seakan sirna dalam sekejap.
Namun ucapan Maria tak berhenti di sana. “Aku akan tetap memikul tanggung jawab, dengan satu syarat…”
Semua orang menghela napas, menanti lanjutan.
“Aku tak ingin lagi terlibat dalam segala hal administrasi. Cukuplah keberadaanku berfungsi sebagai maskot saja. Mulai dari sekarang, patuhi seluruh perintah dari Pak Joukui. Sama seperti kalian memandangnya beberapa tahun silam dalam periode sebelumnya.” Gadis itu bangkit, lantas berjalan hendak keluar dari ruangan.
“Apa yang hendak Anda lakukan?” ucap pak Joukui.
Gadis itu berbalik pelan, berusaha mengukir senyum manis. Walau sayangnya, tarikan bibir itu terlihat begitu dipaksakan, begitu getir menunjukkan semacam rasa kepasrahan, “Tentu saja, untuk menikmati masa mudaku sebagai seorang remaja.”
Ucapan itu menohok langsung pada para petinggi di sana. Mereka semua berusia di atas empat puluh tahun, jauh lebih tua dari Maria yang bahkan belum mencapai usia kepala dua. Gadis itu tak memiliki kemampuan berpolitik, juga kecerdasan tinggi untuk berbohong di hadapan publik.
Satu-satunya fungsi Maria di pemerintahan, hanyalah sebagai alat propaganda saja.
-----------------------------------------------------------------------------------
[1] Dear guardian of night and the ruler of hell, grant me the power to burn every sinner in this land
[2] The coldness of night, spread among the air