Maria menghela napas sejenak. Entah untuk yang ke berapa kalinya pria itu memulai pembicaraan ini, “Nida, berulang kali kubilang. Aku bukan Fia tunanganmu.”
“Boleh aku memeriksa gesper di tanganmu itu?” ucap Nida penuh harap. Pria itu masih belum menyerah, ingin memastikan satu hal untuk yang terakhir kalinya. Gesper itu bisa saja menjadi bukti dari semua dugaannya. Dulu mereka pernah mengukir nama bersama sendiri di gesper itu. Jika gesper di tangan Maria bertulisan namanya, maka gadis itu tak bisa lagi membantah.
Tak ada seorang pun yang bisa menyanggah dari keberadaan bukti fisik.
Maria terdiam sejenak, menghela napas sejenak lalu mengangguk tanda menyerah, “Baiklah.. Gesper ini adalah segel dari energi Manna. Aku mungkin tak sadarkan diri jika melepasnya tanpa mengubahnya menjadi sihir apa pun.”
“Aku tahu.. Maaf ya, sekali ini saja,” ucap Nida memelas.
Maria akhirnya setuju, ia melepas gesper di lengan kanannya. Perlahan kedua matanya menutup lembut.
Dengan segera Nida memeriksa benda di tangan gadis itu. Kristal hijau kecil terlihat berpendar di dalamnya. Segel sihir itu sama persis seperti gesper yang ia pernah berikan dulu.
Lengannya agak bergetar, mempersiapkan diri membuka bagian dalamnya. Jantungnya bertabuh kencang,
“Ini dia..”
Jika nama Leonidas terukir di dalamnya. Maka tak salah lagi, gadis itu memang Fia tunangannya. Tapi jika tidak—,
Pria itu menggelengkan kepalanya, lalu membuka sambungan bagian dalam untuk memeriksa isinya. Sesuatu terukir di dalamnya dengan sebuah tulisan,
“Le… Lenka.” Senyum pahit kembali terukir dengan jelas. Bukti terakhir yang ia pertaruhkan ternyata tak seperti yang ia harapkan.
Mendadak ia teringat akan kejadian-kejadian sebelumnya. Baik Maria, maupun Yulia—bahkan Tyan sendiri pernah keceplosan—memanggilnya dengan sebutan Lenka.
Nida lalu memakaikan gelang itu. Tak lama bagi Maria untuk membuka matanya kembali.
“Maafkan aku..” Nida berucap dengan nada penyesalan.
“Gak apa-apa, aku senang jika ini bisa memuaskanmu.” Terasa jelas nada dingin dari ucapan barusan.
“Siapa sebenarnya Lenka?” Nida bertanya pelan, tanpa mencerna mood Maria saat ini. Tentu Nida sudah tahu jawabannya. Namun ia ingin mendengarnya langsung dari mulut Maria.
Maria tak menjawab, ia memalingkan pandangannya ke tempat lain, “Kupikir kita sudah saling mengerti.”
“Maaf…” terdapat sebuah penyesalan dalam nada bicara Nida. “Seharusnya aku sadar diri, aku belum sedekat itu denganmu.” Ia baru tersadar akan kerutan tak nyaman di wajah Maria. Nida menolak untuk menunjukkan bahwa mereka ada dalam satu frekuensi pembicaraan.
“Nggak apa-apa, Lenka cuma orang di masa lalu, gak lebih,” Maria menundukkan wajahnya sedikit. Dua mata itu terlihat sayu, seolah menggali sebuah kenangan buruk.
Terjadi keheningan.
Maria lantas membuka bibirnya walau hanya sebentar, “Dia...”
Ucapannya hanya terhenti sampai di sana.
“Dia..?” Nida berusaha memancing.
“Lupakan, aku gak mau mengingat dia.” Maria terlihat kesal. Seraya bertopang dagu, gadis itu kembali memalingkan wajahnya.
“Maaf..”
Keduanya kembali terdiam satu sama lain, beberapa menit berlalu tanpa seucap kata meluncur dari mulut masing-masing. Segalanya terasa canggung.
“Heee... aku kira Lenka itu pacar kamu.” Nida berusaha mencairkan suasana yang kaku. Berpura-pura tak tahu.
“Ahahaha..” Maria menjawab dengan tawa kecil, walau suaranya terasa seperti dipaksakan, “Sudah kubilang, semua itu hanya ada di masa lalu.”
“Lalu kamu yang sekarang?”
“Aku yang sekarang…?” Maria terlihat berusaha menerka maksud dari ucapan Nida.
“Iya, kamu yang sekarang, ada orang dekat yang bisa dibilang pacar? Apa itu namanya? Euh… Gebetan?”
Gadis itu kembali tertawa lepas. “Aku gak punya pacar. Mana ada cowok yang sanggup jadi pacar aku, bisa stres dia.”
Nida tersenyum, wajahnya teduh sekali. Persis seperti seorang ayah yang memandangi anaknya. Pria itu merasa berhasil menggiring percakapan menuju apa yang ia inginkan.
Dua tangan pria itu bergerak dengan sendirinya, menggenggam erat jemari Maria di atas meja, “Boleh aku mengisi kekosongan itu?”
Maria terhenyak, wajahnya seakan disemprot cat airbrush hingga merona kemerahan. Gadis itu sadar maksud dari perkataan lawan bicara. Tenggorokannya serasa tercekat, sulit untuk memberikan reaksi berupa kata dan ucapan, “Ta-tapi..”
“Tapi..?”
Gadis itu menghela napas sejenak, berusaha menguasai diri.
“Nida, kamu pasti masih mengira aku tunanganmu itu. Sudah kubilang, aku gak pernah bertemu denganmu. Dari kecil aku tinggal di sini, dan kau sendiri tinggal di Exiastgardsun. Kita tak pernah bertemu.”
“Tidak,” sanggah Nida. “Benda di tanganmu itu bukti jelas dugaanku dari dulu. Membuktikan kalau AKU ternyata salah,” lanjutnya dengan pandangan gamang. Ekspresi itu menyiratkan sebuah kepasrahan. “Aku cinta kamu bukan karena kamu mirip tunanganku, aku cinta kamu karena kamu adalah dirimu sendiri.”
“Nida..” Gadis itu terperangah, tak sanggup berucap apa pun.
“Kamu mau kan, menjalin hubungan yang lebih spesial daripada sekedar teman?”
Maria terlihat gundah, “Nida, aku ini Presiden, kepala sekolah, pimpinan negara dan pejabat tingkat tinggi. Kamu mau kena masalah?”
“Terus? Aku sendiri kan Raja dari Klan Lionearth. Kerajaanku itu negeri terbesar di seluruh Exiastgardsun lho. Jadi kita sama-sama cocok.” Nida membalas seraya tertawa kecil.
Maria terdiam sesaat, menimbang-nimbang keputusan.
Selama ini tak pernah ada yang selancang itu padanya. Sebisa mungkin ia menghapus semua keraguan, lalu memberikan jawabannya.
“Uhm.. Boleh.” Suaranya nyaris tak terdengar. Sebuah anggukan menegaskan jawaban.
Nida tersenyum puas, ia membelai pipi gadis itu, “Kau itu cantik, sayang sekali laki-laki se-Indonesia tidak ada yang berani mendekatimu.”
Ucapan Nida sontak membuat Maria tersipu malu. Baru kali ini ada pria berkata seperti itu.
Nuansa di sana kemudian diisi dengan keheningan. Baik Nida maupun Maria, sama-sama kikuk tak tahu harus memulai dari mana.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, Nida lantas mengajak Maria berjalan santai untuk menikmati festival, “Pemandangan di sini indah sekali, terlebih dengan jadwal tarian air mancur dan kembang api. Sayang rasanya jika kita berlama-lama di sini.”
Maria mengangguk kecil seraya menundukkan kepala. Ia menggigit bibirnya sendiri, tak tahu harus berbuat apa. Nida menarik lengannya untuk beranjak dari sana. Pria itu mendadak terasa seperti orang asing yang baru dikenal. Tak ayal, jantung Maria sukses dibuat berdebar karenanya.
Mereka keluar dari restoran seraya berpegangan tangan. Para warga terhenyak menyaksikan adegan itu. Puluhan wartawan sontak menyambar untuk menanyakan hubungan keduanya. Gadis itu hanya menjawab dengan senyum kecil.
“Maaf ya..” jawabnya singkat, seraya menyentrikkan jarinya.
Cahaya kecil berpendar, semakin terang hingga menyilaukan mata.
Orang-orang melindungi pandangan masing-masing. Maria mengeluarkan kemampuan sihir demi kepentingan pribadinya. Bersama-sama ia mengirim Nida ke sudut lain di taman kota. Sebuah tempat eksklusif di mana warga biasa tak bisa masuk sesukanya.
Keduanya muncul tak jauh dari pagar di danau kecil, tempat awal berjumpa. Terpaan angin malam membuat dedaunan di pohon terlihat bergoyang ria. Mereka lalu duduk berduaan di kursi seraya memandangi gemerlap pasar malam di tiap sudut kota.
Kerlap-kerlip cahaya terlihat jelas memantul pada iris mata biru Maria,
“Indahnya..” ucap gadis itu pelan.
“Nggak ah,” tukas Nida pelan.
Maria menoleh, wajahnya terlihat cemberut.
“Sosok hawa di sampingku jauh lebih indah dari apa pun di alam semesta.” Nida melancarkan sebuah rayuan seraya memeluk gadis itu dari samping.
“Iiih gombal,” cetus Maria agak manja. Lengannya menggapai jemari Nida yang berada di pundak, lalu menyandarkan kepala di pria itu.
Pikiran Nida melamun. Hatinya berkata bahwa tak seharusnya ia melakukan ini.
Nida bukanlah penghuni asli bumi. Cepat atau lambat ia harus kembali ke Exiastgardsun. Sementara Maria di sampingnya hanyalah satu dari sekian penghuni asli dimensi ini.
Sanggupkah Nida melepas Maria ketika tiba waktunya untuk berpisah?
Satu yang jelas, Maria tak mungkin mau meninggalkan dunia ini untuk mengikuti ke mana Nida pergi.
Nida tak ingin berpikir sejauh itu, setidaknya hanya untuk saat ini.
“Jalani saja dulu..” pikirnya dalam hati.