Catatan Tambahan : “Pemanah [2]”

1191 Words
“Jadi jarak bukan masalah ya?” Guru panahan menggumam dalam hati, ia pun berpikir keras. “Yuki!! hebat!!!” Fans club-ku mulai teriak-teriak lagi. Mereka sepertinya tak memedulikan bahwa yang kulakukan tadi berada di luar nalar. Tembakan panah ke bulan sebenarnya bisa saja dimasukkan ke dalam Guiness World Record. Atau di ekspos ke media dan menjadi terkenal. Sepertinya aku akan dimarahi Nida. Padahal Maria menyuruhku untuk menyembunyikan identitas sebagai penyihir. Tapi perbuatanku kali ini sepertinya sudah melewati batas. Kira-kira, apa reaksi orang awam ini ketika pertama kali menyaksikan kemampuan sihir? “Efek komputer yang hebat!” Seseorang berucap sambil menatap layar besar dengan mata berbinar-binar. “Oh, jadi yang tadi itu bohongan ya?” sambut murid yang lain. “Walau tadi itu gak nyata, tapi Yuki kelihatan keren!” Eeekh, sepertinya mereka sudah salah paham. “Ya, benar! Tadi itu cuma tipu-tipu, Yuki cuma mau memperkenalkan software editing instan buatan klub komputer.” Guru panahan yang tak mau dipermalukan malah menyambut sikap polos para murid tersebut. Sepertinya identitasku masih belum ketahuan. “Yuki akting kamu hebat!!” teriak yang lain. “Yuki! Nanti malam jangan bobo dulu ya, aku mau main ke kamarmu!!!” Seorang gadis berparas manis melambaikan tangan padaku. Di sampingnya ada perempuan lain menatapku dengan mata nakal, “Yuki, kau membuatku ‘basah’.” “Eekh..” Aku kaget, bingung harus berkomentar apa. Guru panahan menepuk bahuku, pura-pura ramah sementara matanya mendelik tajam. “Target tiga apel dan tiga lingkaran sekaligus!” ucapnya menantang, “Kali ini benar-benar mati kau,” katanya dalam hati. Terdengar jelas di sanubari lewat semangatnya yang kian membara. Aku kira tembakan menuju bulan itu tantangan terakhir. Muncul pelontar apel dan target lingkaran jarak 200 meter. SRAT— SRAT— SRAT! Tiga apel terlempar di udara, kututup mataku dan mulai konsentrasi. Aliran waktu seolah melambat seketika itu juga. Kualirkan aura dan memutar lingkaran sihir kecil di pupil mataku. Mataku lalu terbuka perlahan sambil merapal mantra dalam hati, “De industria in caelum[1]” Anak panah kulepaskan. Bayangan elang api terlihat membungkus anak panah, tapi aura itu tak mungkin terlihat oleh mata guru dan para siswa lainnya. JLEB, JLEB, JLEB Semua orang terperangah, tembakanku seratus persen tepat sasaran. Sepertinya aku masih terhindar dari nilai nol. “Cih!!” Guru panahan menatapku dengan pandangan tidak sedap. Ia lalu berpikir kembali. “Oke, berhubung jam pelajaran mau habis. Akan kuberi target selanjutnya tiga kali saja.” Sampai kapan ini akan berakhir? “Target satu!” Muncul target biasa dengan jarak lumayan jauh. Guru itu masih belum kehilangan amunisi untuk memojokkanku. “Hahaha… targetnya kuganti dengan besi terkeras di sini. Biarpun tepat sasaran tapi panah kayu itu pasti remuk. Dengan begitu akan terlihat meleset. Nilai nol ada di hadapanmu wahai murid baru. Hahahahaha.” Aku bisa merasakan partikel yang lebih padat pada target, pasti ini ulah guru itu. Untuk berjaga-jaga kualirkan energi Manna yang jauh lebih besar ke anak panah hingga panah kayu itu mengeras. Sraaat— JLEB! Seperti dugaanku, target itu bukan dari kayu seperti sebelumnya. Tapi untungnya anak panahku masih menancap setengah panjang ke dalam target. “Wh-wh-what!?” ia terkaget-kaget. Bukannya memikirkan bagaimana mustahilnya kejadian itu, justru dia malah memikirkan target selanjutnya. “Target dua!!” Kemudian muncul target berikutnya di sisi lain dengan jarak cukup jauh. “Kali ini aku pake unsur yang lebih kasar. Hahahaha.” Guru panahan itu tampak bahagia. Seperti biasa tawa iblis dalam hatinya terdengar hingga otakku. Aku pun terdiam sejenak. “Baja putih…” Jenis unsur yang jauh lebih keras dari besi. Kali ini aku tak bisa menggunakan cara sebelumnya, dengan mengubah anak panah yang terbuat dari kayu rapuh menjadi keras. Aku berpikir— selama mereka tak bisa melihat aura, maka aku bebas menggunakan energi Manna apa pun. Mungkin Manna seorang Annunaki cocok, seperti gadis bermata hijau tadi. Kualirkan aura dengan deras hingga membungkus busur dan anak panah, lingkaran sihir di pupil kugerakkan berputar melakukan pembesaran. Kubidik target itu dengan tenang, tak terasa angin lembut bertiup pelan, berputar mengelilingi. Aku lalu kembali merapal mantra dalam hati, “Ventus Inter Aquilonem et Magister, in catalyst est sagitta mea![2]” SRRRAAAAAT— JLEB!! — KRATTAAKKK— BRUUKKK! Tepat sasaran. “Anj**!!!!” katanya kesal “Sekarang yang terakhir! target tiga!” Lalu muncul target yang sangat jauh, letaknya berada di atas bukit dekat rumah Maria. “Kali ini matilah kau. Target itu terbuat dari unsur terkeras dari luar angkasa. Hahahahaha.” Guru panahan berkata dalam hati, lagi-lagi diselingi tawa setan sebagai latar. Aku menatap sejenak, lalu kugunakan kemampuan zoom. Aku lihat unsur tersebut sebelumnya. Ya, itu adalah Oricalchum! Material untuk membuat ultimate weapon. Dari mana ia mendapat benda itu?! Aku yakin, sehabis ini pasti muncul target empat. Mungkin objeknya terbuat dari berlian. “Kenapa? Kalo tak sanggup silakan mundur.” Guru panahan itu meremehkanku. Dengan tenang aku mengambil anak panah lainnya. Aku pun berkonsentrasi sambil menutup mata. “Yuki!!! jangan menyerah!!!” teriak fans club-ku. Mereka sepertinya tidak mengetahui tentang target panahan yang terbuat dari Oricalchum. “Tenang aja, jarak segitu pasti mudah kok,” sahut yang lain. Di sisi lain, Sanelia masih menatapku dengan mata hijau menyala. Aku masih menutup mata. Kubayangkan diriku berada di ruang hampa, sendirian, gelap dan kosong. Lalu dalam hati… “Ultimum umbra sagittariis a nihilum, commoda me fortitudo. Placere potestatem hoc infirma sagita factus ultimum interitum.” (The ultimate shadow archer from nothingness, lend me your streght. Please power up this weak arrow become ultimate destructor) Lingkaran sihir berbentuk hexagram muncul di bawah kaki Yuki— “Praecipio vobis ut titulari potentia vacuum.” (I command you as nothingness power holder) Energi Fayth of Annunaki menyelubungi busur panah. Sekilas terlihat seperti busur besar milik para ultimate elf. Anak panah juga diselimuti energi Manna dan terlihat seperti peluru petir dengan ukiran naga di permukaannya. Aliran deras dari lingkaran sihir terisap ke dalam busur dan panah. Aku pun membuka mata. Teriakan-teriakan dari fans club-ku masih terdengar. Mata mereka tak bisa melihat lingkaran sihirku. Mereka mengira aku hanya terdiam berkonsentrasi saja. Kubidik target tanpa kesulitan. Mantra selanjutnya kurapal dalam hati. “Mortalis Sanctificaveritis[3]!” Panah kulepas. Aliran udara terhempas membentuk lorong debu di jalur panah. JLEBBBBBBB— KRAKK!!!, DHUARRRRR! Oricalchum itu tak tahan dengan kekuatan panah, permukaannya retak lalu hancur berkeping-keping. “Masih ada yang perlu kupanah?” Kulayangkan padanya tatapan dingin dengan niat membunuh. Agak jengkel aku dibuatnya. “Hiiii-hiiiiyaaaaa… Gak ada!” Ia tampak ketakutan. Aku bahkan tak mengerti kenapa dia harus berlari setelah mengatakan itu. “Yuki hebat!” para perempuan berlari menghampiriku. “Aku tak boleh melukai mereka. Aku juga tak boleh menggunakan sihir teleportasi….” Pada akhirnya aku berlari menghindari keroyokan mereka. Sesaat aku menoleh ke gadis berambut pendek bermata hijau. Dia menatapku penuh makna. Tatapannya seolah sudah mengenalku sejak lama. Namanya Sanelia, aku harus menyelidiki dia. ..... Beberapa saat kemudian, di kompleks gedung olah raga St. Mary.. Aku berhasil melarikan diri dari kejaran para penggemar, aku lalu berpapasan dengan Maria. Namun ia terlihat aneh. Matanya menyala berwarna hijau dengan tatapan datar merendahkan. Gadis itu bukan Maria. Mereka memang mirip, tapi dia bukan Maria. Gadis itu tak pernah membuat ekspresi sedingin itu di wajahnya. Dia juga bukan Sanelia. Gadis itu masih ada di lapangan  memanah. Lagi pula, murid kesayangan di praktik memanah itu memiliki rambut pendek sebahu. Seingatku Maria memiliki mata Biru redup. Lantas dia siapa? Aku menatap sosok itu dari kejauhan. Satu lagi subyek yang harus aku selidiki, “Apa Maria memiliki saudara kembar?” ---------------------------------------------------------------------- [1] Energy of the sky [2] Master of wind, be the catalyst of my arrow [3] Hollow Mortar
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD