Keesokan harinya di St. Mary...
Nida berjalan sendirian di taman sekolah, ditemani tiupan kecil menerbangkan daun cokelat berguguran. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Taman itu terlihat sepi, semua orang berada di kelas masing-masing.
Pria itu membolos dari mata pelajaran. Pikirannya melamun teringat akan kejadian tadi malam. Ia mengubur dalam harapan dan keyakinan akan Fia tunangannya. Bukti album foto, lalu tentang namanya yang tidak terukir di gesper cokelat, serta pengakuan Maria sendiri adalah tamparan keras baginya.
Lagi pula, tunangannya adalah sosok tangguh yang selalu tersenyum untuknya. Namun Maria di sini begitu lemah. Ia bahkan menangis tersedu-sedu di hadapannya.
Meski begitu, Nida sudah bersumpah pada dirinya sendiri. Untuk melindungi Maria, demi menebus dosa di masa lalu akan ketidakmampuannya menyelamatkan Fia.
Nida kemudian teringat akan Tyan.
Pria itu entah kenapa bisa berubah menjadi kuat dalam waktu sekejap saja. Fisiknya bahkan jauh melebihi Nida.
Orang-orang dari Exiastgardsun menjadi lemah karena jumlah Manna yang sedikit. Namun Tyan dan Arby bisa menjadi sangat kuat tanpa bantuan Manna, ataupun sihir tipe doping.
“Ini buruk.” Nida tak bisa melepaskan dirinya dari prasangka terhadap Tyan. Sang ajudan itu pasti menggunakan kristal Sinclair yang didapatkan di gunung parang.
Mereka memanggilnya [kotak], sebuah artefak yang akan mengabulkan segala macam permintaan. Padahal sejatinya, kristal itu tak lebih dari manifestasi atas seluruh energi jahat di alam semesta.
Yuki mungkin mengetahui satu atau dua hal mengenai itu.
Tapi untuk saat ini, batinnya berpikir keras, mencari cara agar tidak menjadi lemah. Minimal ia bisa beraksi seperti di Exiastgardsun dulu.
“Hee.. Len, kau ingin jadi kuat, ya..” ucap seseorang.
Nida sontak menoleh ke sumber suara. Menyadari seseorang berjalan ceria di atas pagar pembatas danau, di samping kirinya.
Cantik. Itu yang pertama kali terbesit di benak Nida.
Rambut biru panjang tergerai ditiup angin segar. Wajah itu milik Maria. Namun iris matanya berwarna Hijau terang dengan pandangan setajam pedang.
Namanya Yulia, gadis misterius yang jarang sekali terlihat. Entah kenapa ia tak mengenakan gesper di lengan seperti yang Maria kenakan.
Ya, dia memang Maria, hanya saja dia mengalami kelainan jiwa. Gadis itu menganggap dirinya adalah Yulia. Masing-masing memiliki ingatan sendiri, kepercayaan, perilaku, pola pikir, juga cara melihat lingkungan dan diri mereka sendiri.
Tanpa sadar Nida mengukir senyum getir, “Kok manggil aku Lenka?” Pikirannya kembali menerawang isi album foto milik Maria. Tergelitik akan hubungan Yulia dengan pria itu. Ia berpura-pura tak tahu.
“Karena aku ingin,” jawab Yulia singkat. Ia turun dari atas pagar, rambutnya tergerai tersapu angin.
Nida menghela napas pelan. Ada suatu hal yang masih mengganjal pikirannya.
Yulia pernah menyinggung Fia di hari pertama festival sekolah. Waktu itu dia pernah berkata, “Tak heran Fia mencintaimu sejak kecil.”
Kalimat itu terasa agak mengganggu. Pemikirannya kembali goyah.
“Hmm..?” Yulia tersenyum memandangi Nida, tatapan matanya terasa gelap, jahat dan tak bersahabat. Namun gadis itu sama sekali tak mengeluarkan aura permusuhan. Ia malah terlihat riang tiap kali pandangannya mereka bertemu.
Nida membuka mulutnya, hendak bertanya sesuatu, “Apa kau..”
“Fia, kan?” sela Yulia.
Nida terperangah, gadis itu seolah mengetahui isi pikirannya. Dan dia menggunakan nama Fia, alih-alih Maria.
“Iya.. Apa kau tahu sesuatu tentang dia? Seperti apa masa lalu yang sebenarnya? Lalu apa yang kau maksud, ia mencintaiku sejak kecil? Bukannya dia baru bertemu denganku beberapa bulan yang lalu?” Nida mencecar, menumpahkan pertanyaan yang berkutat di kepala.
“Hmm.. Akan kuberi tahu, tapi kau harus mengalahkan aku dulu.” Gadis itu menjawab dengan senyum kecil. Lebih seperti seringai jahat layaknya iblis yang sedang menggoda korbannya.
“Mengalahkan?” Nida tak paham, tapi bertanya lebih lanjut pun rasanya gadis itu tak akan memberikan jawaban. Jadi satu-satunya pilihan adalah mematuhinya seraya memupuk kesabaran, “Yah, apa saja terserah kau.”
“Ikut aku.”
Nida tak banyak bertanya, ia hanya berjalan mengikuti gadis itu menuju ke gedung administrasi. Keduanya memasuki lift di sebelah kanan jalan.
Di dalam, Yulia menggesekkan sebuah kartu, diikuti dengan perubahan nyala lampu penunjuk lantai. Di bagian bawahnya muncul lampu tambahan memanjang ke bawah.
Lift yang sebelumnya hanya terhenti hingga lantai tiga bawah tanah. Kini terus turun hingga lantai B25. Itu berarti, Nida dibawa menuju bawah tanah yang kedalamannya setingkat gedung dua puluh lima lantai.
Pintu Lift terbuka, bersambut dengan lorong gelap diterangi cahaya biru berpendar. Suasananya persis seperti dalam pesawat alien.
Nida hanya memeriksa sekeliling lewat pandangan mata, seraya berjalan mengikuti langkah Yulia. Tak ada yang memulai pembicaraan, mereka membisu satu sama lain.
Tiba di penghujung lorong, mereka kini berada di ruangan luas. Panel kontrol ditempatkan di tengah-tengah ruangan, sementara sebuah portal mendengung di depannya.
“Tempat apa ini?” tanya Nida.
“Entahlah, alat teleportasi? Portal menuju dimensi lain? Terserah apa pun itu.”
“Masa kau gak tahu benda apa ini?” ucap Nida khawatir.
Yulia berbalik sambil menatap Nida, “Yang penting kita bisa bersenang-senang di sana,” godanya dengan bulu mata yang lentik, “Sehari di sana hanya berlaku delapan jam di sini.”
Ucapan gadis itu lagi-lagi membuat Nida terperangah. Teknologi ini begitu praktis, sangat berguna untuk mereka yang bekerja dikejar tenggat waktu. Begitu pikirnya.
Yulia tak menanggapi lebih lanjut, ia sibuk mengutak-atik panel untuk mencari pengaturan yang tepat.
Beberapa menit berlalu, portal di hadapan berhasil ia aktifkan. Ditandai dengan kemunculan dua batang besi menjulang setinggi dua meter. Berpendar terang diselingi percik listrik di sekeliling. Di bagian tengah benda itu terdapat selubung cahaya berbalut angin kencang.
“Ayo.” Yulia menggenggam tangan Nida untuk membawanya memasuki Portal. Keduanya lenyap bersamaan dengan hilangnya cahaya yang berpendar.
Ruangan itu kembali gelap.
…
“Udara di sini miskin Manna, cocok untuk berlatih.” Yulia mengucap datar.
Tak ada apa pun di sini kecuali hamparan beku sepanjang mata memandang.
Kosong melompong, hanya langit biru dan gumpalan es putih mengisi daratan. Dua orang itu berpindah tempat dalam sekejap menuju padang es.
“Dingiiiiin!! Kenapa kita ada di kutub!?” protes Nida panik. Tubuhnya terasa ngilu ditusuk temperatur di bawah nol derajat Celsius.
Yulia membalasnya dengan sebuah tawa kecil. Mungkin ini hanya perasaan Nida saja, tapi gadis itu terlihat lebih santai daripada sebelumnya.
Namun berbeda dengan gadis itu, Nida tak bisa santai sama sekali. Tidak ketika tubuhnya menggigil kedinginan.
Entah kenapa Yulia bersikap seolah tak merasakan apa pun. Dia tak terpengaruh oleh kondisi alam ekstrem seperti ini.
Lewat pengamatan singkat, Nida bisa menangkap aura kecil menutupi sekujur tubuh gadis itu. Selubung tipis itu mungkin melindung dari dingin yang menusuk.
“Nah Lenka, sekarang coba kalahkan aku.” Ia melangkah mundur seraya memanggil senjatanya.
Gadis itu mengusap dinding tak terlihat di hadapan, diikuti dengan kemunculan bilah tajam terbuat dari logam hitam mengilat.
Gagang pedang itu dilengkapi dengan pelatuk pistol di bagian pangkalnya.
“Gunblade!?” Nida terhenyak, senjata Yulia sama persis dengan senjata yang ia gunakan. Gunblade itu bahkan mirip dengan Gunblade milik Tyan. Apa senjata macam itu diproduksi massal di tempat ini?
“Serang aku, Lenka..”
“Maaf, namaku Nida,” sanggah Nida malas.