Malam pun tiba di hari ke tiga festival sekolah...
Cahaya bulan berpendar terang bertabur bintang, memantul pada lapisan air di danau kejauhan. Gemerlap lampu di tiap sudut bangunan seakan bersatu padu dengan binar cahaya yang ada.
Di atas gedung sekolah, terdapat Nida berbaring sendirian. Matanya terlihat gamang menelisik langit malam.
Sesaat terlintas bayangan sosok gadis berambut biru di antara gelapnya malam. Batinnya membayangkan wajah Fia tersenyum lembut. Akan tetapi, senyum itu terlihat kosong, lebih mirip seperti senyum perpisahan.
“Fia...”
Matanya tertutup pelan, membiarkan pikirannya melanglang buana jauh ke dalam alam bawah sadar. Pikirannya luruh, penuh dengan imaji sang tunangan.
Nida kembali memasuki Lucid Dream, sebuah kondisi ketika orang tersadar dalam alam mimpi.
Kini tubuhnya berada di sebuah tempat penuh dengan cahaya. Kulitnya meresapi terpaan angin kecil berembus dari hadapan. Samar ia sadari, sesosok gadis berpakaian biru muncul dari balik sinar menyilaukan mata.
Dia melayang dengan senyum manis di wajah. Tubuhnya bergerak menghampiri, tak lupa menjulurkan lengan seakan mengajak pergi.
Wajah Nida berubah seketika. Bahagia dirasa, terlihat dari wajahnya yang menjadi ceria. Rambut biru panjang dengan iris mata berkilau indah senantiasa membuatnya bahagia. Namanya Fia, cinta pertamanya di Exiastgardsun sana.
Uluran tangan semakin mendekat, Nida sontak saja menyambutnya dengan gegap gempita.
Namun sedetik setelah bersentuhan, lengan gadis itu berubah transparan bagai hologram tak nyata. Kulit halus tempat bertaut perlahan memancarkan cahaya kuning gemerlap, merambat ke seluruh tubuh, berniat menghapus keberadaannya.
Nida panik, matanya terbelalak. Gadis yang ia cintai menghilang secara perlahan.
“Nida.. ” Suara gadis itu terdengar lirih. Wajahnya menunjukkan kepedihan, walau coba disembunyikan dalam senyum yang getir.
“Tidak—” Nida berusaha menggapai. Namun tubuh gadis malah semakin menjauh, ia hanya bisa berteriak dalam keputusasaan, “FIAAA…!!”
Pria itu kemudian terperanjat dengan mata terbelalak. Napasnya cepat memburu, lengkap dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Matanya terlihat berkaca-kaca, seolah hendak meledak dalam emosi tak tertahankan. Dengan erat ia dekap kedua lututnya. Sementara batinnya hanya bisa meracau lirih memanggil nama, “Fia..”
Entah berapa lama ia tersengguk berusaha menenangkan diri. Pada akhirnya pria itu mengangkat wajah menyudahi kesedihan yang ada.
Penampilan sang raja terlihat semakin tegar lewat mimik wajah yang kian tajam. Dua mata itu berubah fokus jauh menatap ke depan. Kakinya terulur beranjak dari tembok tempat menyandar. Berdiri sejenak untuk kemudian berjalan menyusuri kompleks gedung St. Mary.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari, tak ada seorang pun yang berkeliaran selarut ini kecuali dirinya.
Ekspresi di wajah menyiratkan seorang petarung tak kenal takut. Namun sesungguhnya, pikiran dia masih belum bisa fokus. Sejuta kenangan sibuk berputar dalam kepala. Kakinya melangkah menuruni tangga menuju taman di pinggir danau.
Ia butuh waktu untuk sendiri. Jadi kakinya melangkah tanpa arah tujuan.
Seraya menyeberangi jalan raya, deretan pohon cemara tersusun rapi menyambut kedatangannya. Suasana di tempat itu begitu sunyi, hanya ada suara serangga sibuk meramaikan keheningan malam.
Kursi di samping taman, serta air mancur di bawah sorot lampu hias menyambut dalam bisu. Pria itu kemudian memutuskan untuk merenung di ujung taman. Di sana ada sebuah tanjung dengan tebing di bawahnya. Pagar kecil memanjang sebagai pembatas.
Tubuhnya disandarkan pada pagar. Sorot matanya menerawang jauh memandangi kampung air—desa yang terapung di atas danau—di penghujung jauh. Rumah-rumah itu berdiri di atas puluhan tong besi mengambang.
Kampung air itu terlihat begitu indah. Dipenuhi gemerlap lampu dari tiap rumah, seolah menyatu dengan kedipan bintang di langit malam.
Suasana itu lagi-lagi membuatnya teringat sesuatu, ketika masih SMA di Exiastgardsun.
Berduaan di sebuah vila di pinggir pantai. Bersenda-gurau di tengah malam. Semilir angin dingin berembus menambah romantis suasana. Segalanya terasa sangat sempurna, berharap perasaan itu akan berlangsung untuk selamanya.
Hari pernikahan sudah ditetapkan jauh hari, persiapan bahkan sudah berjalan di sana sini—
Namun tunangannya itu malah tiada, ia ditelan sihir terdahsyat di Exiastgardsun.
Napasnya terasa sesak. Pikirannya lagi-lagi berubah liar tak terkenali. Tanpa ia inginkan, kenangan itu senantiasa timbul tenggelam.
Waktu itu dunia dalam keadaan genting. Sesosok Monster bangkit menyapu daratan lewat satu gerakan saja. Monster itu memiliki kekuatan setara sang pencipta, induk dari kristal kegelapan, sumber dari malapetaka, serta malaikat pencabut nyawa.
Saat itu Nida tak bisa berpikir jernih, ia menyalahkan Fia atas semua hal yang terjadi. Gadis itu mengkhianatinya, merebut kristal Grievehart, dan berpindah haluan ke pihak musuh.
Padahal tidak, Fia justru berusaha untuk membantunya lewat pengkhianatan. Gadis itu berusaha untuk mendekati Magnus sang pemimpin musuh untuk melepas sumber kekuatan immortal saat mereka lengah.
Tak mempercayai orang yang ia cintai. Satu-satunya sumber penyesalan terbesar dalam hidupnya. Semua itu salahnya sendiri. Nida lepas kendali dan membiarkan dirinya dikuasai Fayth Grievehart. Dia membiarkan emosi mengelabui kebijaksanaan, kedua tangannya membantu Yuki untuk menciptakan Black Hole. Dengan harapan bisa melenyapkan Grand Ultima— monster yang hendak menghabisi segalanya. Tak sedikit pun ia peduli akan konsekuensi dari penggunaan sihir terlarang itu.
Pada akhirnya, Fia yang harus menyelesaikan tugas terakhir. Gadis itu menutup Black Hole dengan mengorbankan dirinya. Semata agar sihir itu tidak terus membesar hingga menelan seisi planet.
Isi ingatan Nida terasa kacau. Ia tak bisa memercayai pikirannya sendiri.
Selama ini ia selalu beranggapan bahwa Fia lah yang mencipta sihir terlarang itu.
Pun begitu, ia tak bisa serta merta menimpa semua kesalahan kepada Yuki. Sang penasihat kerajaan itu tak lebih dari menawarkan pilihan. Pada akhirnya, adalah Nida yang membuat keputusan.
Mata Nida berubah sayu, air mata kini meluncur tak tertahankan. Dadanya bergemuruh, menundukkan kepala, menyembunyikannya dalam lipatan tangan. Tubuhnya tersandar pada pagar pengaman.
Jadi semua itu adalah kesalahannya. Ia yang menyebabkan Fia lenyap hingga tak bersisa.
Ia penyebab utama hilangnya Fia.
Andai ia tak terbawa emosi.
Andai ia bisa berpikir jernih.
Andai ia bisa lebih mempercayai Fia dari pada egonya.
Ia tak perlu membantu Yuki untuk mencipta Black Hole. Pria itu sinting, dia lebih mementingkan mati membawa seisi negara, daripada melihat seisi planet lenyap dimusnahkan sesosok monster pembawa kiamat.
Jauh di lubuk hati, timbul semacam bibit kebencian pada salah satu sahabatnya itu.
Secarik foto lusuh senantiasa menemani dari balik saku baju. Ia memandangi gadis berambut biru di dalamnya dengan wajah teduh. Jemarinya mengusap lembaran foto dengan lembut, mulutnya tanpa sadar berucap memanggil nama, “Fia…”
“Ya?” Seseorang menjawab, entah sejak kapan dia sudah berdiri di samping Nida. Menyadarkan tubuhnya menatap pria itu.
Nida tersentak kaget seraya menoleh ke asal suara.
Kulitnya berpendar putih bersinar diterangi lampu malam. Rambut biru panjang itu tergerai memantulkan cahaya bulan. Matanya berpendar berwarna biru seperti berlian.
Sesaat hatinya senang karena keinginannya langsung terkabul.
Namun perih menyayat di saat bersamaan, tatkala mengingat kembali beberapa fakta yang ia kumpulkan.
1. Keberadaan Lenka sebagai kembaran antar dimensi dari Nida.
2. Maria dan Yulia adalah satu orang yang sama. Keduanya sama-sama mengenal Lenka sejak kecil. Yulia mengalami gangguan jiwa berupa kepribadian ganda, atau mungkin sebaliknya, Maria lah sosok asli sementara gadis bermata hijau adalah alter ego ciptaannya.
3. Adanya bukti fisik berupa album foto dan diary. Nida bahkan tak bisa menolak fakta bahwa di balik gesper Maria tidak ada goresan berisi namanya. Ukiran di sana bertuliskan nama Lenka.
Semuanya mengarah pada satu kesimpulan;
Maria hanyalah kembaran antar dimensi dari Fia.
Nida dan Maria memang resmi berpacaran. Namun baik Nida maupun Maria, sama-sama memahami bahwa mereka hanya menjadikan masing-masing pihak sebagai pelarian saja.
“Nama depanku memang Fia, tapi percayalah, aku bukan tunanganmu.” Ucapan Maria seakan menyadarkan Nida dari lamunannya.
“Aku tahu.” Nida menjawab seraya menyeka air mata. Pandangan pria itu menerawang jauh hingga batas cakrawala. Dia sengaja menghindari kontak mata.
Sejenak Maria merenung mendapati kepasrahan dari Nida.
Namun perhatiannya kini teralihkan pada indahnya pemandangan. “Cantik sekali ya..” ucapnya mengawali pembicaraan, seraya menatap kampung air di kejauhan.
Nida hanya menjawab dengan anggukan pelan. Pandangannya lagi-lagi berubah gamang. Wajahnya ia sandarkan pada lengan yang bertumpu di atas pagar.
Maria mulai tak nyaman dengan dinginnya sikap pria itu.
Keduanya lantas diam membisu. Serangga malam terus bernyanyi, menjadi latar atas kegundahan di hati.
Nida mengangkat kepalanya, berusaha memecah kebekuan, “Maria..”
“Ya..?”
“Gimana soal pemerintahan? Aku dengar saat ini kau sedang bersiap-siap memimpin perang.”
Gadis itu menatap lawan bicaranya dengan wajah yang sedih. Ia menghela napas sejenak untuk kemudian menjawab, “Nida.. Aku sengaja datang ke sini untuk tidak memikirkan itu.”
”... maaf,” potong Nida canggung, menyudahi topik yang ada.
“Tidak apa.”
Bisu lagi-lagi memenuhi udara.
Sesekali Nida mencuri pandang pada gadis di sampingnya.
Maria terlihat sedang merapikan rambut depan tergerai dihembus angin. Wajahnya sendu menikmati panorama. Pandangan itu menyiratkan aura seorang tangguh nan berwibawa. Jauh berbeda dengan dirinya yang selalu gundah dirundung masalah.
“Nida..” Maria berucap dengan suara lirih.
Mata Nida melebar. Menyadari aura penuh wibawa barusan hanyalah sekadar ilusi.
Nyatanya, gadis itu tengah sesenggukan menumpahkan emosi. Hatinya bergemuruh tiada henti, “Aku… aku bingung.. aku tak sanggup..”
Nida tak bereaksi. Ia bingung. Gadis di hadapannya seakan luruh dalam tumpahan emosi. Lengannya tiada henti menyeka air mata.
“Aku.. ingin lari.. Tapi aku tak mau mengkhianati negeri ini. Aku punya tanggung jawab besar.”
Nida terdiam sejenak, menimbang apa yang hendak diperbuat. Pria itu lalu menggenggam erat dua tangan Maria untuk menenangkannya, “Maria..” ucapnya lembut, berbisik pelan seraya menatap dalam mata biru indah miliknya.
Maria berusaha untuk tegar, napasnya perlahan mulai teratur. Isak tangisnya mulai berhenti, walau air mata tetap saja mengalir menelusuri pipi.
“Aku ada di sini. Aku akan terus membantumu… membelamu.. melindungimu..” Lengan Nida beranjak naik memegangi kedua bahu Maria. Pria itu agak menundukkan wajahnya, menyamakan posisi dengan Maria yang tak setinggi dirinya.
Maria menengadahkan wajahnya, menampakkan wajah penuh kepedihan.
Mata Nida berubah teduh, “Aku cinta padamu.”
Air mata Maria mengalir lebih deras,
“Terima kasih..” bisiknya pelan sambil tertunduk. Lengannya menjulur jauh, lalu memeluk Nida dalam isak tangis.
Nida terdiam seraya membalas pelukan. Batinnya berpikir akan sesuatu,
“Apa perasaan ini layak disebut cinta?”
Pria itu dengan lembut mencium kening Maria. Sejenak mereka saling bertatap mata.
Iris mata berwarna biru berpendar indah memantulkan gemerlap cahaya. Kemilaunya indah sekali. Di sana terlihat sosok Nida dengan tubuh tegap.
“Selamat ya, kau sukses membuatku jatuh hati,” ucap Nida pelan.
Maria sontak tersipu malu. Ia memukul-mukul d**a Nida dengan pelan sambil tersenyum manja.
Nida memantapkan hatinya, membulatkan tekad dan berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan berusaha agar takdir mengerikan yang mencengkeram Fia, tak akan terjadi pada Maria.
Janji itu di tunjukan pada dirinya sendiri, untuk tidak gagal dalam melindungi seseorang yang sangat berharga baginya.
Tidak untuk kedua kalinya.
“Ini bukanlah sebuah pelarian, hatiku memang selalu terikat pada Fia. Tak peduli dari dimensi mana dia berasal.”
Maria tak boleh menemui kemalangan yang sama dengan tunangannya di Exiastgardsun.